Brittle

Brittle
He is mine



...•••••••••••••••...


...Tamu tidak akan bisa masuk, jika tuan rumah tidak membukakan pintu untuknya.......


...•••••••••••••••...


...***...


"Arinta, Gina. Kalian berdua boleh keluar", titah wakil kepala sekolah sambil menjatuhkan dirinya dikursi kebesarannya. Akhirnya ia dapat duduk dengan tenang setelah wali murid pergi beberapa menit yang lalu.


Setelah pemilik sekolah keluar dari ruangan komite. Wakil kepala sekolah langsung membatalkan pencabutan beasiswa Arinta. Walau ditentang oleh beberapa wali murid. Namun, harus bagaimana lagi. Jika benar muridnya itu adalah menantu dari Xavier. Salah satu orang yang memiliki kuasa. Maka tidak akan ada yang bisa mengusiknya. Bisa-bisa pekerjaan nya yang menjadi ancaman.


Arinta mengangguk, "Terima kasih buk. Kalau gitu saya pamit dulu", cewek itu mengambil tangan Gina dan berniat keluar dari ruangan yang hanya tersisa Wakil kepala sekolah, Bu Ira, Gina dan dirinya.


Reagan?, cowok itu langsung pergi ketika mendengar keputusan dari Wakil kepala sekolah. Pergi begitu saja tanpa pamit kepada siapapun. Memang benar-benar kloningan Xavier. Angkuh.


"Tunggu Arinta", panggil Bu Ira yang mengurungkan niat Arinta untuk membuka pintu.


Arinta berbalik dan menoleh kearah Bu Ira yang terlihat berjalan kearahnya, "Ada apa buk?."


Bu Ira tersenyum sambil mengelus kepala Arinta, "Saya enggak nyangka, kalau saya udah mau jadi nenek diumur 30-an", ujarnya yang berhasil membuat pipi cewek itu memerah seraya menunduk malu.


Guru perempuan itu lantas tertawa dan tanpa diduga tiba-tiba menangis. Membuat Arinta dan Gina saling memandang satu sama lain.


"Saya minta maaf buk", cicit Arinta merasa bersalah. Kehamilannya memang sudah membuat banyak masalah untuk orang sekitarnya. Seharusnya dia tak hadir, itu hanyalah kecelakaan satu malam.


Bu Ira tertegun melihat tubuh Arinta yang bergetar. Lantas guru tersebut memeluk tubuh anak didiknya itu, "Kamu enggak salah sayang. Saya cuma terharu aja. Kamu bentar lagi udah mau punya anak tapi saya jodohnya juga belum keliatan", Bu Ira terkekeh pelan seraya melepaskan pelukannya, "Jaga cucu saya baik-baik ya. Saya udah enggak sabar dengar si kecil panggil saya nenek", lanjutnya sambil tertawa melihat Arinta yang blushing.


Arinta tersenyum sopan, "Saya pamit buk", Ia tak bisa lama-lama membahas soal itu, sebab hatinya sangat terusik mendengarnya.


Bu Ira mengangguk dan membiarkan kedua anak didiknya itu keluar.


Gina menutup pintu ruangan komite dan menatap Arinta yang bersandar pada dinding seraya memejamkan matanya. Gina paham jika Arinta belum bisa menerima kehadiran nyawa lain didalam tubuhnya. Tapi bagaimana pun, itu adalah anaknya. Tidak bisa diabaikan untuk waktu yang lama.


"Udah ayok ke kantin", ujar Gina membuat Arinta membuka matanya.


"Gugurin boleh enggak sih?"


pletak


Gina memukul pelan kepala Arinta membuat cewek itu menyengir.


"Sampai aja gue tau. Gue bunuh lo Rin", Gina menunjukkan kepalan tangannya kearah Arinta. Rencana Arinta yang ingin mengaborsi anaknya dulu, sudah diketahui oleh Gina dari Reagan. Dari situlah sepupunya meminta Gina untuk selalu menemani Arinta pergi kemana pun. Gina sempat curiga jika Reagan sudah mulai menyukai Arinta. Namun, dengan tegas cowok itu mengatakan kalau ia hanya peduli dengan anak yang dikandung Arinta.


Namun, hati siapa yang tahu. Perasaan bisa berubah seiring berjalannya waktu.


"Bunuh aja. Hidup cuma menunggu malaikat Izrail datang juga enggak ada gunanya", Arinta menatap kedepan. Koridor sudah ramai dengan siswa-siswi yang berlalu-lalang.


"Walaupun enggak ada tujuan. Setidaknya syukuri hidup yang udah dikasih sama Tuhan. Untung setiap napas yang kita hirup enggak diminta bayaran. Udah dikasih hidup, rejeki, keluarga dan itu semua Tuhan enggak minta imbalan apapun. Hanya satu yang Tuhan mungkin pinta dari kita. Beribadah kepadanya dengan tulus. Tapi kebanyakan manusia yang tau menerima namun tak tau berbalas. Sesimpel itu permintaan Tuhan, tapi kadang kita lupa untuk melakukannya", ujar Gina panjang lebar. Ia bosan setiap kali mendengar Arinta yang selalu menyerah dengan hidupnya. Semudah itu Arinta berkata ingin mati. Katanya hidup itu sebuah lelucon apa?.


Arinta terhenyak. Gina itu sekali berbicara panjang memang sangat mengena dihati.


Gina menatap kearah Arinta yang termenung. Bukan maksudnya menyindir, tetapi Gina tidak suka dengan sifat Arinta yang satu itu. Mudah menyerah.


"Udah ah. Gue laper nih", Gina menarik tangan Arinta untuk segera berjalan menuju kantin.


"Eh, tapi kamu bukannya izin?", tanya Arinta sambil berjalan disamping Gina.


Gina menoleh, "Enggak jadi. Gue takut lo pergi kemana-mana sehabis pulang sekolah", sindirnya membuat Arinta berdecak kesal.


"Tapi kamu enggak capek apa?, piala kamu gimana?"


Gina memicingkan matanya kearah Arinta, "Lo kok banyak tanya?, kenapa?, lo enggak senang gue dateng?", tanya Gina curiga.


Arinta menggelengkan kepalanya, "Bukan, bukan gitu a-"


"Dikeluarin ya lo?, makanya kalau lagi hamil tuh dirumah aja. Enggak usah sekolah. Jadi aib aja tau nggak?", cerca Diva yang tiba-tiba berdiri dihadapan Arinta dan Gina. Tentu saja lengkap dengan antek-anteknya.


Arinta menunduk takut. Ia masih trauma dengan kejadian beberapa waktu lalu. Membunuh secara verbal itu sangat berbahaya. merusak mentalnya secara perlahan.


"Oh, gue baru tau kalau lo itu sebenarnya perhatian banget. Kenapa enggak lo aja yang dirumah?, istirahatin tuh mulut. Hati-hati, kebanyakan ngomong bisa buat stroke. Habis itu......koit deh", balas Gina dengan menyunggingkan senyuman miringnya.


Diva mengeram marah sambil mengepalkan tangannya, "Lo–"


"Sorry ya guys. Arinta suka mual kalau dekat-dekat sama orang yang enggak dikenal. So, kita duluan", Gina menyela ucapan Diva dan menarik tangan Arinta untuk segera pergi dari hadapan cewek-cewek rusuh tersebut.


Namun, Laily mencekal tangan Arinta ketika cewek itu berjalan melewatinya.


Arinta menoleh menatap Laily, "A-aku enggak pernah mau reb–"


"Tamu enggak bakal masuk, kalau tuan rumahnya enggak buka pintu dengan sukarela", ujar Gina yang mendengar cercaan Laily untuk Arinta. Kemudian cewek itu merangkul Arinta untuk segera berlalu. Namun sebelum benar-benar pergi Gina menoleh kebelakang. Menatap ketiga sekawan tersebut dengan pandangan penuh intimidasi. Memperingati lagi untuk tidak mencari gara-gara dengan Arinta.


...***...


Revo menatap Riko yang tengah asik dengan ponselnya sendiri lalu kembali menatap layar ponsel yang ada didalam genggamannya.


Namun, merasa ada yang janggal. Revo pun kembali menoleh kesampingnya. Menatap heran Riko.


"Kenapa lo?", tanya Revo


Riko menoleh sambil mencebikkan bibirnya. Seperti anak kecil yang tengah menahan tangisan, "Sedih gue."


"Kenapa?"


"Naruto sama Spongebob udah pada meninggal."


"Udah lama bambang", Revo menabok kepala Riko.


"Tapi gue taunya baru sekarang, gimana dong."


Revo memutar bola matanya, "Jadi lo sedih karena itu?", tanyanya lagi.


Riko menggeleng, "Bukan."


"Terus apa geblek."


"Gue sedih karena lo enggak mati-mati", balas Riko dengan santainya sambil tetap melihat ke layar ponselnya.


Revo membelalakkan matanya.


Nih bocah emang benar-benar minta ditampol.


Berusaha sabar Revo pun kembali bertanya, "Jadi lo doain gue mati?."


Riko mendongak dan mengerjapkan matanya seraya menatap polos Revo, "Emang boleh?"


Revo mengangguk-anggukkan kepalanya, "Boleh, boleh banget."


Riko tersenyum dan berniat meraih tubuh Revo untuk dipeluk, "Maka–"


Bugh


Belum sempat Riko memeluk Revo. Cowok itu lebih dulu jatuh terbanting dilantai rooftop. Siapa lagi pelakunya jika bukan Revo Zafran Alvino. Cowok yang anti banget dipeluk-peluk sama orang lain kecuali perempuan.


Riko bangkit seraya meringis mengelus pinggangnya yang terasa mau patah. Lalu tatapannya jatuh kepada Reagan yang baru saja datang. Dengan langkah tertatih Riko berjalan kearah Reagan.


"Huhuhu sakit. Gan-gan lihat tuh si Revo busuk masa aniaya Riko anak mama Siska yang tampannya tiada tara ini", adu Riko kepada Reagan yang hanya menatap datarnya. Lalu dengan tak berperasaan nya, Reagan malah mendorong tubuh Riko sehingga cowok itu terpental kebelakang. Dan Reagan berjalan mendekat kearah Ardean, Zidan dan Revo yang sibuk sendiri dengan ponsel masing-masing.


Riko bangkit dan menatap nanar kearah keempat temannya.


"Dean", panggil Riko yang sama sekali tidak dipedulikan Ardean. Lalu cowok itu beralih memanggil Zidan yang juga sama tidak merespon.


Merasa putus asa Riko berteriak membuat keempat cowok itu menatap kearahnya, "HUWAAAA, MAMA."


Riko berhenti berteriak ketika merasa dirinya ditatap oleh keempat manusia didepannya.


"Apa lo?", tanya Riko dengan muka songong-nya yang minta ditabok.


Melihat tidak adanya reaksi dari teman-temannya. Riko pun kembali berteriak menyedihkan, "Awas lo pada kerumah gue ya. Enggak gue bukain pintu. Minggu depan mama gue pulang dari Jepang. Awas kalian minta oleh-oleh ya. Awas aja!"


Ardean, Zidan, Revo dan Reagan sontak mengangguk bersamaan membuat Riko bertambah geram.


Riko memalingkan wajahnya dan berbalik badan hendak keluar. Namun,


Brak


Siapa sangka dinding pun tidak berbaik hati kepadanya hari ini. Riko mengelus keningnya yang terasa berdenyut dan berbalik menatap teman-temannya. Melihat wajah Revo dan Zidan yang menahan tawa membuat Riko kesal setengah mati.


"ENGGAK TEMAN!", teriak Riko dan segera pergi dari hadapan keempat temannya. Terdengar ketawa yang terbahak-bahak setelah Riko menutup pintu rooftop dengan kencang.


"Kawan laknat", gumam Riko seraya mengelus pinggang dan keningnya yang terasa sakit.


...~Rilansun🖤....