Brittle

Brittle
Demam



...•••••••••••••••...


...Semua orang itu baik, sebab kita sama-sama dilahirkan dalam keadaan yang suci dan bersih........


...•••••••••••••••...


...***...


Grep


"Arin", Arinta membelalakkan matanya ketika Reagan memeluk dirinya dari belakang. Mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar.


"Brengs*k", Saka mendekati Reagan. Cowok itu hendak melayangkan satu lagi pukulan kearah Reagan. Namun langsung dicegah lebih dulu oleh Deri. Pria itu menatap intens putranya, memberi isyarat jika Saka lebih baik diam terlebih dahulu. Mau tidak mau Saka akhirnya hanya bisa berdiam diri menatap Reagan yang masih memeluk Kakaknya.


"Gue minta maaf. Gue tau gue salah, tapi gue mohon jangan benci gue. Semuanya udah benci sama gue, lo jangan ikutan. Jangan juga benci sama dia", Reagan menyentuh perut Arinta. Membuat tubuh cewek itu menegang seketika. Sementara Saka dan Raka, saudara kembar itu hanya bisa mengepalkan kedua tangan mereka. Menatap tajam kearah Reagan.


"Modus lo murahan Bambank", celetuk Raka yang mendapatkan pelototan tajam dari Sinta.


"Dia enggak salah. Yang salah gue, Papa nya", racau Reagan sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher Arinta.


"Jangan benci gue sama anak kita Arin. Dia masih kecil, enggak bakal sanggup nahan kebencian lo itu."


Deg


Arinta membelalakkan matanya dan memutar balikkan tubuhnya menghadap Reagan. Arinta tidak percaya jika Ketua Osis sekolahnya yang terkenal galak dan dingin itu, bisa menangis juga.


Lalu entah apa yang merasuki Arinta hingga ia berani menghapus air mata Reagan. Membuat semua orang yang ada disana menatap tak percaya cewek tersebut.


Reagan tersenyum dan memandang sayu kearah Arinta. Kemudian tanpa aba-aba cowok itu kembali memeluk Arinta dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher cewek yang tengah mengandung anaknya tersebut, "Jangan benci gue", racaunya.


"Dia demam", ujar Arinta seraya menatap Reagan yang memeluknya sambil terus meracau. Merasakan area lehernya yang hangat karena suhu tubuh Reagan yang panas.


"Antar ke Dukun kalau gitu", sahut Raka asal yang membuat Saka menabok kepala kembarannya itu.


"Yah", Arinta menatap Deri. Meminta pendapat apa yang harus dilakukan nya sekarang.


Deri menatap Arinta sekilas. Lalu beralih menatap kearah kedua putranya, "Raka, Saka, bawa dia masuk kedalam kamar Arinta", titahnya membuat Saka dan Raka menatap tak percaya Deri.


"Dia tinggal disini boleh, tapi untuk tidur dikamar Kak Rinta, big no!", protes Saka tak terima.


"Jadi kamu mau urus dia yang sakit?", tanya Deri membuat Saka bungkam.


"Ibu kan ada", ujar Raka. Deri menatap tajam kearah putranya itu dan menjitak kepalanya. Membuat Raka meringis kesakitan.


"Enak aja, Ibu itu enggak boleh nyentuh cowok lain selain Ayah. Untung aja kalian itu anak, kalau enggak udah Ayah habisin. Berani-beraninya megang-megang Ibu", sinis Deri kepada Saka dan Raka. Membuat keduanya menganga tak percaya. Berarti selama ini Ayah nya itu tidak pernah tulus menyayangi mereka. Bahkan menjadikan mereka berdua saingan cinta. Ayah nya itu memang sesuatu.


Sedangkan Sinta, wanita itu langsung mencubit pinggang suami nya. Membuat Deri menjerit tertahan. Cubitan Sinta itu lebih pedas daripada jalapeno.


"Sakit sayang", keluhnya yang membuat Sinta memutar bola matanya, jengah.


"Yah", tegur Arinta ketika kedua orang tua nya itu malah menunjukkan kemesraannya didepan nya. Bukannya memberikan solusi.


"Saka, Raka!", panggil Deri setelah sadar bahwa putri nya masih menunggu diri nya.


"Huh", dengus kedua cowok tersebut. Kemudian mereka berdua menarik Reagan dan memapahnya kearah kamar Arinta.


"Yang bener megang nya", celetuk Sinta melihat kedua putra nya itu seperti tidak ikhlas memapah Reagan.


Deri mendekati Arinta setelah menutup kembali pintu rumah nya.


"Udah masuk sana", ujarnya sambil mencium kening putri kesayangan nya tersebut.


"Kalau butuh bantuan Ibu, bangunin aja ya", tambah Sinta seraya tersenyum mengelus lembut rambut Arinta.


Arinta mengangguk, "Rinta masuk dulu", ujarnya dan berjalan kearah kamarnya.


"Kenapa kamu biarin dia tidur sama Arinta?", tanya Sinta kepada Deri setelah Arinta menutup pintu kamar nya.


Sinta kembali mencubit pinggang Deri, "Kamu bisa serius enggak sih", kesalnya.


Deri meringis seraya mengelus pinggang nya yang terasa perih, "Pedes banget", omelnya membuat Sinta menatapnya tajam.


Pria tiga anak itu lantas menghela nafas, "Aku rasa dia udah sadar dengan kesalahan yang udah diperbuat nya. Sebenarnya disini dia itu juga korban. Hanya saja takdir mereka berdua yang mempertemukan keduanya dengan cara yang kurang tepat. Ya, anggap aja itu kesempatan untuk dia", jelas Deri dan segera menarik Sinta untuk masuk kedalam kamar mereka.


Semua orang itu baik. Saya yakin itu.


...***...


"Kalian tetap disini?", tanya Arinta kepada Saka dan Raka yang sedang menatapnya. Keduanya berdiri di sisi kiri ranjang. Sedangkan Arinta duduk disamping tubuh Reagan yang tengah tertidur diatas kasurnya.


Saudara kembar itu lantas mengangguk dengan kompak. Membuat Arinta memutar bola matanya malas. Kedua adiknya itu memang terlalu berlebihan jika menyangkut dirinya. Tapi Arinta juga tidak berani apabila ditinggalkan satu ruangan bersama Reagan. Iblis itu mungkin bisa kapan saja menerkamnya.


"Yaudah, Kakak mau ambil kompresan dulu."


"Enggak usah, biar Raka aja", ujar Saka membuat Raka menatap tak senang kearah kembaran nya.


Arinta mengangguk dan menatap Raka yang keluar dari kamarnya sambil mengomel-ngomel tak jelas.


"Kalian tidur dimana kalau tetap disini?", tanya Arinta lagi seraya membetulkan selimut yang dipakai Reagan.


"Enggak tidur", jawab Saka dingin. Sebenarnya ia masih tak suka melihat Arinta yang begitu perhatian terhadap Reagan. Walaupun ia tau kalau Kakak nya itu memang baik terhadap semua orang.


"Enak aja. Lo kira gue Kelelawar", sahut Raka datang dengan membawa baskom berisi air beserta handuk kecil.


"Lo mau biarin si setan buat Kak Rinta nangis lagi?", tanya Saka membuat Raka otomatis menggeleng.


"Nama nya Reagan Saka", ujar Arinta membuat Saka memutar bola matanya.


Kemudian Arinta mengambil baskom dan handuk kecil tersebut dari Raka. Lalu dengan telaten cewek itu memasukkan handuk kedalam baskom dan memerasnya. Kemudian meletakkan nya diatas dahi Reagan.


"Arin", panggil Reagan dengan mata yang terpejam.


Arinta tersentak. Ia mengira jika Reagan terbangun. Namun ternyata cowok itu hanya mengigau didalam tidurnya.


Kemudian tanpa aba-aba Arinta mendaratkan tangannya diatas kepala Reagan. Mengelus rambut cowok itu dengan sedikit kaku. Ajaibnya, Reagan yang tadinya masih terus meracau memanggil nama nya, langsung berhenti seketika.


Arinta menatap lekat wajah Reagan sambil terus mengusap rambut cowok itu. Menatap alisnya yang tebal dengan proporsi yang rapi. Seperti dibentuk dengan pensil alis. Lalu pandangannya beralih kearah bulu mata Reagan yang lentik. Bahkan mengalahkan bulu matanya yang notabenenya perempuan. Hingga hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang merah seakan-akan cowok itu menggunakan lipstik. Sepertinya Tuhan sedang bersenang hati ketika menciptakan Reagan. Visualnya memang seperti dewa-dewa mitologi Yunani kuno.


Tak salah jika Reagan menyandang gelar most wanted boy dan prince charming nya Allandra. Cowok itu benar-benar salah satu contoh kebaikan Tuhan.


"Ekhem."


Arinta tersentak. Ia lupa jika didalam kamarnya ini masih ada Saka dan Raka. Lantas cewek itu menoleh kearah kedua adiknya yang sedang menatap tajam dirinya. Membuat Arinta menghela nafas panjang.


"Matanya", tegur Arinta membuat Saka dan Raka mendengus.


"Enggak usah dekat-dekat", protes Saka.


"Yaudah kamu sini yang jagain", balas Arinta membuat Saka menolehkan wajahnya kesamping.


"Malas."


Arinta menggelengkan kepalanya dan kembali menoleh kearah Reagan. Cewek itu mengambil handuk tersebut dan kembali mencelupkan nya kedalam baskom lalu meletakkan nya lagi diatas dahi Reagan.


"Arin", Arinta mendengus melihat Reagan yang kembali mengigau. Sebab dirinya tak lagi mengelus kepala cowok itu. Segitu manja nya kah Reagan ketika sakit. Benar-benar big baby.


Kemudian Arinta tersenyum ketika melihat alis Reagan yang mengerut. Serta bibir cowok itu yang melengkung kebawah. Seperti bocah yang sedang menangis.


"Kamu itu lebih imut kalau lagi tidur tau", ceplos Arinta yang membuat Saka dan Raka membelalak tak percaya.


Barusan itu Arinta kah yang mengatakannya.


...~Rilansun🖤....