Brittle

Brittle
Salah paham



...__________________...


...Kata kamu aku belum bisa berdamai dengan semua yang terjadi. Tapi nyatanya kamu saja masih menyesali masa lalu.......


...__________________...


...***...


Arinta membalikkan badannya ke kiri dan kanan dengan gelisah. Lalu ia membuka matanya seraya berdecak kesal. Mengapa matanya tidak mau diajak berkompromi. Malam sudah sangat larut, namun matanya masih tetap saja terbuka lebar.


"Mata, ayo kita tidur", Arinta menutup paksa kedua matanya dengan tangan. Sebenarnya Arinta sudah sangat mengantuk. Tapi entah karena apa ia tidak kunjung bisa tidur.


"Ah, terserah kalian lah. Mau tidur apa enggak", omel Arinta kepada matanya yang tidak mau terpejam juga. Matanya bandel.


Lalu Arinta menoleh kearah sampingnya yang kosong. Meraba tempat yang biasanya diisi oleh Ayah dari anak yang dikandungnya. Setelah pertengkaran mereka semalam, Reagan pergi entah kemana. Dan cowok itu baru pulang setelah tak lama Gina pergi dari apartemen sesudah menemaninya semalaman. Mungkin Reagan tidak ingin menjelaskan apa-apa pada siapapun saat ini.


Dan beruntungnya Gina pun tidak banyak bertanya perihal semalam. Sahabatnya itu hanya bertanya apakah ia sudah makan atau belum. Dan menemaninya bercerita, untuk mengalihkan rasa sedihnya.


Dimana lagi dapat dicari sahabat seperti Gina. Yang sangat pengertian dan selalu ada disaat Arinta membutuhkannya.


"Maaf", gumam Arinta merasa bersalah sambil mengelus bantal yang biasanya dipakai oleh Reagan.


Lalu cewek itu dengan perlahan-lahan berusaha menutup matanya.


Sedetik


Dua detik


Tiga de-


"Argh", Arinta menjambak rambutnya dengan frustasi.


"Kalau disuruh tidur itu ya tidur. Jangan bandel", Arinta mengomeli sambil menunjuk matanya sendiri. Kemudian Arinta memilih untuk duduk dan bersandar pada kepala ranjang.


Arinta meringis tatkala perutnya terasa sedikit keram. Mungkin ini penyebabnya tidak bisa kunjung tidur. Semenjak hamil, Arinta memang sudah terbiasa perutnya dielus jika ingin tidur. Itu bermula dari Sinta, hingga Arinta kecanduan dan menjadi terbiasa.


Tanpa pikir panjang lagi, Arinta bangkit dan membuka pintu kamarnya. Menuruni anak tangga dengan pelan. Lalu berhenti tepat di depan kamar yang kata Reagan kuncinya telah hilang.


Arinta menggigiti kukunya gugup sebelum membuka pintu kamar tersebut dengan pelan. Entah dari mana Reagan menemukan kunci pintu yang katanya hilang itu.


Lalu Arinta menatap menyeluruh kearah kamar yang di tempati Reagan. Setelah pulang tadi pagi, cowok itu tidak mengatakan apapun kepadanya. Bahkan tidak sepatah kata pun. Reagan yang dingin semakin dingin dan cuek. Sepertinya cowok itu benar-benar marah. Sangat menyeramkan.


Arinta berjalan mendekat kearah punggung lebar yang membelakangi nya itu.


"Kebiasaan, tidur enggak pakai baju", gumam Arinta yang melihat Reagan dalam keadaan shirtless. Apakah cowok itu tidak pernah mengalami yang namanya masuk angin.


Kemudian Arinta memejamkan matanya ketika Reagan berbalik. Berdoa di dalam hati semoga Reagan tidak bangun. Lantas Arinta membuka matanya saat tidak mendengar suara apa pun.


Menghela nafas lega melihat Reagan yang masih terjaga dalam tidurnya.


Tanpa membuang waktu lagi Arinta segera berjalan mengitari ranjang. Naik perlahan kearah sisi kiri ranjang. Dan membaringkan tubuhnya tepat di samping Reagan.


Arinta menatap lamat wajah suaminya itu. Lalu dengan gerakan pelan mengambil sebelah tangan Reagan dan meletakkan nya di atas perutnya, "Kata kamu dosa kan larang-larang anak ketemu sama Ayah nya. Nah, sekarang anak kamu lagi pengin ketemu. Bukan aku loh ya, jadi jangan kegeeran", cerocos Arinta lalu memejamkan matanya yang sudah terasa sangat berat itu. Tak berapa lama, Arinta akhirnya bisa dengan sempurna menjemput alam mimpinya.


Setelah merasa tidak ada pergerakan dan suara. Lalu Reagan langsung membuka matanya. Tanpa Arinta sadari, sedari tadi Reagan tidak lah benar-benar tidur. Dari awal Arinta masuk ke dalam kamar dan mengomeli dirinya karena tidak memakai baju. Reagan mendengar semua keluh kesah istrinya tersebut.


Sebenarnya Reagan juga tidak bisa tidur. Bagaimana bisa tidur jika Reagan belum mencium anaknya.


Pada awalnya Reagan berniat untuk menghampiri Arinta dikamar mereka. Namun siapa sangka, malah cewek itu duluan yang menghampirinya. Sepertinya pesona yang dimilikinya memang tiada tanding.


"Udah salah masih enggak mau minta maaf. Dasar kepala batu", gumam Reagan dan menarik Arinta kedalam pelukan nya. Menelusup kan tangannya kedalam piyama yang dikenakan Arinta. Dan mengelus sayang perut Arinta dimana anaknya berada.


"Untung ada si baby", Reagan menarik sudut bibirnya. Anaknya memang adalah sebuah berkah.


Lalu Reagan menyingkirkan rambut Arinta yang menutupi wajah cantiknya. Mengelus lembut pipi istrinya sebelum mencium lembut kening Arinta.


"Jangan kayak gini terus ya. Aku juga manusia, terkadang aku enggak bisa nepatin janji. Makanya aku mohon sama kamu, coba terima aku dan anak kita. Supaya aku bisa nepatin janji aku sama baby, buat kasih Bunda untuk dia", tambah Reagan dan mencium pipi sebelah kiri Arinta.


"Kamu memang nguji kesabaran aku, tapi sayangnya ngangenin."


Reagan lalu memejamkan matanya. Jika saja Arinta tidak menghampirinya, mungkin terhitung sudah dua malam ia tidak bisa tidur.


...***...


Arinta kira setelah mereka tidur kembali disatu ranjang yang sama. Mereka sudah berbaikan. Namun Reagan, dari pagi sampai sekarang tetap dingin dan cuek terhadapnya. Apa cowok itu menunggunya untuk meminta maaf terlebih dahulu?.


Oleh karena itu Arinta berinisiatif memasakkan makanan kesukaan Reagan. Setelah bertanya kepada Renata terlebih dahulu tentunya. Walau Arinta sempat diledek oleh ibu mertuanya tadi.


"Enggak tau siapa mbak. Tapi kayaknya akrab banget sama mas Reagan. Tapi itu mbak-"


Arinta mengernyitkan keningnya menatap Bi Ina yang terlihat gugup, "Itu apa Bik?."


Bi Ina memainkan jarinya sambil menatap ragu majikannya tersebut, "Ngomongnya itu loh, agak kasar", jawabnya dengan sedikit berbisik.


Lipatan di kening Arinta bertambah setelah mendengar itu. Lalu dengan rasa penasaran yang tinggi, Arinta melepas celemek nya dan memberikannya kepada Bi Ina.


"Tolong lanjutin ya Bi", ujar Arinta dan melangkahkan kakinya keluar dari dapur setelah membawa nampan berisi minuman serta camilan untuk tamunya yang tidak diketahuinya itu.


"Gara-gara kamu Laily sekarang jadi kayak gini."


Arinta menghentikan langkahnya. Jantung nya berdetak dengan sangat cepat setelah mendengar nama Laily dibawa-bawa. Merasa semakin penasaran siapa gerangan nya orang tersebut. Arinta lantas mempercepat sedikit langkahnya.


"Saya tau om. Saya minta maaf, saya juga menyesali ini terjadi. Kalau aja hal ini enggak terjadi mungkin saya dan Laily sudah bertunangan sekarang."


Deg


Arinta kembali menghentikan langkahnya. Ia tau suara itu. Arinta sangat mengenalinya. Suara yang telah menemaninya selama lebih dari sebulan ini.


"Mbak, kenapa mbak?", Bi Ina mengguncang pelan pundak Arinta yang terlihat mematung. Niatnya ingin memberikan ponsel yang Arinta tinggal kan berdering. Malah mendapati majikannya berdiri termenung di dinding pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga.


"Mbak", tegur Bi Ina sekali lagi membuat Arinta tersentak dan menatap linglung wanita paruh baya tersebut.


"Hm, iya Bi kenapa?."


Bi Ina tersenyum tipis, "Bibik yang seharusnya tanya, mbak kenapa?."


"Enggak apa-apa Bi. Tolong disajikan ya Bi. Tiba-tiba kebelet nih", Arinta memberikan nampan tersebut kepada Bi Ina. Lalu berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan pembantunya itu.


"Loh mbak, ini ponselnya gimana?", ujar Bi Ina kepada Arinta yang telah berlalu memasuki dapur.


Sementara itu, Arinta langsung menutup pintu dapur nya. Menyandar disana seraya menatap kearah lantai.


"Kata kamu aku belum bisa berdamai dengan semua yang terjadi. Tapi nyatanya kamu aja masih menyesali masa lalu yang udah terjadi", gumam Arinta sambil tersenyum miris.


...***...


"Jadi kamu mau gimana sekarang?. Anak saya itu udah cinta mati sama kamu. Sampai-sampai dia enggak mau keluar dari kamarnya dalam sebulan ini. Kalau terjadi apa-apa kamu harus tanggung jawab sama anak saya", ujar Papi Laily dengan pandangan murka kearah Reagan.


Reagan yang tadinya memasang muka bersalah. Langsung berubah menjadi datar saat Papi Laily mengancamnya. Reagan adalah orang yang paling anti diancam. Ia tidak suka di jengkal.


"Mau bagaimanapun saya dan Laily itu udah berakhir. Sekarang saya udah punya istri dan sebentar lagi anak. Saya adalah laki-laki yang sudah berkeluarga", tegas Reagan.


"Ceraikan istri kamu!, anak saya bisa kok jadi Ibu buat anak kamu", sahut pria paruh baya itu. Membuat Reagan mengepalkan tangannya. Sekarang Reagan baru tau dari mana sifat egois Laily itu berasal.


"Tapi saya enggak mau anak Om yang menjadi Ibu untuk anak saya. Kalau enggak ada lagi yang perlu dibicarakan, silahkan pergi dari sini. Saya bukan orang nganggur yang bisa ditemui kapan saja", balas Reagan dengan tak sopan. Enak saja anaknya dipermainkan seperti itu. Hanya satu yang boleh menjadi Ibu dari anaknya. Dan itu adalah Arinta, istri sekaligus ibu kandung anaknya.


"Kurang ajar ya kamu-"


"Saya akan sopan bila anda juga sopan. Saya yakin, Laily pasti enggak tau kalau anda datang ke rumah saya", sela Reagan. Ia yakin jika Laily tidak mengetahui perihal Papi nya yang datang ke apartemennya. Setelah sehari menikah, Laily menelponnya dan mendoakan pernikahan nya dengan Arinta. Walau Reagan sadar, jika suara Laily bergetar saat itu. Namun Reagan juga yakin kalau Laily sudah ikhlas melepaskannya.


Hal itu tinggal bagaimana cara Laily untuk move on darinya.


Dengan raut wajah yang merah padam. Papi Laily pergi dari apartemen Reagan tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Mas, ini minumnya- loh kok udah pergi aja?", Bi Ina kaget saat tidak mendapati tamu itu lagi.


"Orang kaya mah dia. Enggak level dengan minuman kita", balas Reagan membuat Bi Ina tersenyum, "Oh iya Bik, Arin mana?."


"Mbak di dapur mas", jawab Bi Ina.


Reagan mengangguk dan berjalan kearah dapur apartemennya.


...~RilansunšŸ–¤....


Makin ribet ya mereka. Btw janlup like ya. Semoga yang like ujian hidupnya lancar:)