Brittle

Brittle
Sick



...•••••••••••••••...


...Seberapa besar pun rintangannya, tapi jika itu mampu membuat kamu tersenyum lepas. Maka aku bersedia menghadapinya......


...•••••••••••••••...


...***...


"Re", Arinta memanggil Reagan yang tengah tertidur dengan pulas. Lalu ia mendengus saat tak mendapatkan respon apapun.


"Reagan!", panggil Arinta lagi sambil mengguncang pelan lengan kekar Reagan.


Reagan yang tadinya tidur tidak menghadap ke arah Arinta langsung menoleh dan bergumam tanpa membuka matanya. Membuat Arinta jengkel plus kesel ingin memukul wajah damai tersebut. Respon seperti apa itu.


"Sayang", rengek Arinta yang tetap tidak digubris oleh cowok tersebut.


Arinta mendengus lalu lebih mendekatkan badannya kearah Reagan. Dan berteriak di telinga suaminya itu dengan keras, "Reagan!."


"Apa sih Bun?", tanya Reagan sambil menatap sayu Arinta yang ada dihadapannya.


"Enggak bisa tidur", ujar Arinta dengan muka yang memelas.


"Hm", sahut Reagan lalu kembali bersiap untuk tidur. Namun Arinta menahan mata Reagan dengan jarinya agar tetap terbuka.


"Gak bisa tidur Reagan", Arinta merengek seperti anak kecil yang tidak dikasih mainan.


"Nih, bantal guling ada", Reagan memberikan satu bantal guling kepada Arinta untuk dipeluk. Tapi Arinta malah membuang bantal tersebut ke bawah.


"Enggak mau!", seru Arinta.


Reagan menghela nafasnya, "Terus maunya apa sayang?", tanyanya dengan lembut.


"Mau peluk", Arinta mampautkan bibirnya seperti anak-anak yang tengah merajuk.


"Iya itu bantal guling ada", Reagan mencoba sabar. Menghadapi ibu hamil itu harus ekstra hati-hati, kalau tidak jangan harap untuk bisa tidur di dalam kamar.


"Enggak mau. Aku maunya kamu, aku mau dipeluk sama kamu. Kamu!", ujar Arinta dengan lantang walau ia sempat malu untuk mengatakannya.


Lalu Reagan tersenyum menyeringai, "Tadi malam katanya aku bau", ujarnya. Awalnya Reagan kesal dengan permintaan Arinta untuk tidak tidur memeluk istrinya itu malam ini. Dengan alasan kalau Reagan bau. Padahal Reagan udah mandi dengan kembang tujuh rupa tadi. Tapi Arinta tetap tidak mau berdekatan dengannya. Namun Reagan memaklumi jika itu bukanlah keinginan Arinta. Itu pasti ulah dari dua malaikat kecilnya.


"Ish, itu kan anak kamu yang bilang", protes Arinta tak terima. Tadi ia memang mengatakan kalau Reagan itu bau sampai-sampai membuatnya mual seketika. Tapi setelah beberapa jam, Arinta tidak bisa memejamkan matanya. Ia tiba-tiba ingin tidur dipeluk oleh Reagan seperti biasanya.


Reagan tersenyum, "Ya udah, sini", ujarnya sambil menarik pinggang Arinta untuk mendekat. Lalu memeluk erat istrinya itu seraya mengelus perut buncit Arinta. Namun Reagan tersentak ketika merasakan suhu tubuh Arinta yang panas.


"Kok panas?, kamu sakit?", tanya Reagan khawatir.


Arinta menyusupkan wajahnya ke dada bidang Reagan sambil menjawab, "Enggak."


"Tapi badan kamu panas banget, Rin. Aku panggilin dokter ya", tambah Reagan seraya mengelus surai hitam milik Arinta.


"Enggak usah, aku ngantuk banget", tolak Arinta dengan halus.


Reagan menghela nafas pendek. Mulai sudah mode on kepala batunya, "Tapi-"


"Aku ngantuk Reagan", sela Arinta yang bersikukuh tak ingin diperiksa.


"Ya udah, tidur", ujar Reagan pasrah dengan tangan yang aktif mengelus rambut dan perut Arinta. Agar istrinya itu tidur dengan sangat lelap.


Arinta bergumam, namun ia teringat dengan sesuatu dan lantas mendongak menatap Reagan, "Kamu enggak nyesel nemenin aku malam ini?", tanyanya membuat Reagan menatap bingung Arinta.


"Nyesel kenapa?", tanya Reagan balik dengan kernyitan di dahinya.


"Kamu enggak ikut pergi prom night malam ini, padahal itu sekali dalam seumur hidup. Ditambah itu perayaan terakhir kamu di masa-masa sekolah. Kalau kamu mau pergi, pergi aja. Aku bukan tipe istri yang ngekang suaminya kok", ujar Arinta merasa bersalah. Malam ini sekolah mereka memang mengadakan prom night setelah pengumuman kelulusan kemarin dengan seluruh murid Allandra mendapatkan nilai terbaik. Tapi Reagan memaksakan dirinya untuk tidak pergi dan memilih menemani Arinta di apartemen. Padahal kan ada Bi Ina untuk menemaninya, kalau memang itu yang dikhawatirkan oleh Reagan.


Kemudian Reagan tersenyum, betapa beruntungnya ia memiliki istri pengertian seperti Arinta, "Kamu juga, kenapa enggak mau pergi?, kalau kamu takut mereka tau tentang baby, kan bisa pakai gaun yang longgar", sahutnya.


Arinta menunduk lesu, "Pesta kayak gitu bukan gaya hidup aku", gumamnya.


"Sama, itu juga bukan gaya hidup aku."


Arinta lantas mendongak, "Tapi itu sekali seumur hidup."


"Kan di SMP pernah", sahut Reagan santai.


Arinta memandang malas Reagan, "Tapi itukan beda ganteng."


Reagan terkekeh, "Sama kok Bun."


"Daripada aku disana gak jelas, mending tidur sama kamu disini. Lebih bermanfaat. Lagipula kalau aku emang pergi dan kamu sakit kayak gini, gimana?, siapa yang bakal meluk kamu?, siapa yang bakal ngelusin baby?, Siapa yang-"


"Iya-iya kamu bener", sela Arinta lalu kembali menyusupkan wajahnya ke dada bidang Reagan. Mengapa suaminya itu sekarang terdengar seperti Sinta saja. Berbicara tanpa henti.


"Lagian aku enggak bisa jauh-jauh dari kamu", bisik Reagan tepat di telinga Arinta. Membuat cewek itu merona seketika. Benar kan, Reagan itu memang perusak suasana.


"Berisik", gumam Arinta sambil mencubit pelan roti sobek Reagan. Membuat calon Ayah itu tertawa. Melihat Arinta malu-malu seperti itu memang sangat menyenangkan.


...***...


Arinta membuka matanya dengan pelan. Mendongak, menatap Reagan yang tengah tertidur dengan pulas. Lalu Arinta mendudukkan tubuhnya. Menyandar pada kepala ranjang sambil mengambil gelas berisi air di atas nakas samping tempat tidur. Entah mengapa ia merasa sangat haus, serta seluruh mulutnya yang terasa sangat panas.


"Kok bangun?."


Arinta menoleh kearah Reagan yang menyipitkan mata menatapnya. Lalu dengan jiwa yang belum terkumpul sempurna, Reagan ikut duduk di samping Arinta.


"Haus?."


Arinta mengangguk dan kembali meletakkan gelas yang telah kosong tersebut.


"Masih panas badannya?", tanya Reagan seraya mengarahkan telapak tangannya ke kening Arinta. Kemudian Reagan dibuat kaget oleh suhu tubuh Arinta yang semakin panas, "Tambah panas Rin, aku telpon dokter ya", ujar Reagan khawatir. Lalu cowok itu hendak mengambil ponselnya guna menghubungi dokter keluarga Allandra. Namun Arinta lebih dulu mencekal tangannya.


"Jangan", Arinta menggelengkan kepalanya lemas.


Reagan menghela nafas panjang, "Terus gimana?", tanyanya dan menarik kepala Arinta untuk bersandar padanya.


"Enggak mau ke dokter. Mau nya sama kamu aja."


"Reagan mata aku panas, gigi aku juga panas, hidung aku juga nih, gak bisa nafas", keluh Arinta sambil memejamkan matanya yang terasa panas, "Kalau kamu jadi duda, jangan cari istri baru lagi ya, entar kita gak ketemu di surga", tambah Arinta yang membuat Reagan berdecak.


"Ngomong apaan sih", Reagan mencium puncak kepala Arinta. Entah apa yang dipikirkan oleh istrinya itu sampai-sampai bisa berbicara seperti itu.


"Masih panas?", tanya Reagan kemudian.


Arinta menganggukkan kepalanya dengan lesu.


"Kamu mau apa?."


"Ayah", jawab Arinta singkat.


Reagan tersenyum, sepertinya Arinta sangat dekat dengan Deri, "Kamu mau ketemu Ayah?", tanyanya memastikan.


"Iya", biasanya jika Arinta sakit akan selalu ada Deri yang memeluknya. Dan pelukan Ayah nya itu memang sangat ampuh, sebab esoknya harinya bisa dipastikan Arinta akan langsung sembuh.


"Ya udah, kita pergi ke rumah Ayah", ujar Reagan membuat Arinta menatap tak percaya suaminya itu.


"Serius?."


Reagan mengangguk. Lalu mencium sekilas kening Arinta. Apa yang tidak dilakukannya untuk ibu dari anak-anaknya itu. Sebesar apapun rintangannya, jika itu adalah hal yang bisa membuat Arinta tersenyum, maka Reagan akan berusaha untuk memenuhinya.


Semoga saja Arinta lekas sembuh setelah bertemu dengan Ayah nya.


"Kamu tunggu sini dulu, aku ambilin jaket", titah Reagan lalu berjalan kearah lemarinya mengambil jaket milik Arinta dan mengenakannya pada tubuh Arinta yang terlihat sangat rapuh.


"Ayo", Reagan menggendong Arinta ala bridal style. Kali ini tanpa pemberontakan, Arinta dengan nyaman menyandarkan kepalanya di bahu Reagan. Ia tidak punya energi untuk protes dan berdebat dengan Reagan.


Setelah pamit dengan Bi Ina mereka keluar dari apartemen dengan Arinta yang masih dalam gendongan Reagan.


...***...


Setelah kurang dari dua puluh menit perjalanan. Mereka akhirnya sampai di depan rumah minimalis bercat putih tersebut.


Reagan menyuruh Arinta untuk mengetuk pintu, karena kedua tangannya digunakan untuk menahan tubuh Arinta.


Tok tok tok


Untuk beberapa saat tidak ada sautan dari dalam. Sebelum suara yang sangat dirindukannya itu terdengar menyahuti.


"Sia-", Deri terperanjat kaget melihat anak dan menantunya yang berdiri di depan rumahnya pada malam selarut ini, "Loh Arin?, kenapa?", tanyanya bingung tapi dengan mimik wajah yang khawatir setelah melihat Arinta yang tak berdaya dalam gendongan Reagan.


"Sakit rindu mau ketemu Ayah", Reagan yang menjawab dengan senyuman tipis andalannya.


"Astaga", Deri tersentak saat merasakan suhu tubuh Arinta yang panas, "Ayok masuk", ujarnya mempersilahkan.


"Ayah", panggil Arinta saat Deri usai menutup pintu.


"Kenapa sayang?", tanpa aba-aba Deri langsung mengambil alih Arinta dari Reagan. Menggendong putrinya yang langsung memeluk erat lehernya.


"Arinta?, kenapa?", Sinta baru keluar dari kamarnya lalu langsung menghampiri Arinta dengan wajah yang penuh dengan sarat kekhwatiran. Sepertinya Arinta memang seorang tuan putri di rumah ini.


"Sakit", sahut Deri singkat. Kemudian membawa Arinta kedalam kamarnya tanpa berkata apa-apa.


Sinta yang melihat itu lantas menggelengkan kepalanya. Rasa sayang Deri ke Arinta tidak perlu diragukan lagi keasliannya.


Lalu Sinta menoleh kearah Reagan yang sedari tadi berdiri menyaksikan.


"Bu", Reagan mengambil sebelah telapak tangan Sinta dan menyalimnya dengan sopan.


Sinta tersenyum sambil menepuk pundak Reagan, "Kamu malam ini nginap disini aja. Arinta kalau lagi sakit emang gitu, gak mau lepas dari Ayahnya. Harap maklum aja ya", ujar Sinta mencoba menjelaskan. Takut menantunya itu marah dan tak terima atas tindakan Arinta. Mengingat jika cewek itu sudah menjadi seorang istri kini.


Lantas Reagan mengangguk paham, "Iya Bu."


Sinta tersenyum, "Ya udah pergi tidur gih, kamar Arinta kosong tuh. Kalau ada perlu, panggil Ibu aja ya."


Sekali lagi Reagan menganggukkan kepalanya.


"Ibu tinggal ya", pamit Sinta dan berjalan kearah kamarnya.


Setelah pintu kamar Mertuanya itu tertutup. Reagan langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Arinta yang telah diketahuinya. Sebab Reagan yang pernah tinggal di tempat itu satu malam. Disaat dirinya dilanda demam juga.


Reagan membaringkan tubuhnya diatas ranjang Arinta. Menatap langit-langit kamar yang bernuansa monokrom tersebut.


Tidak seperti kamar anak perempuan lainnya, kamar Arinta lebih terasa sepi. Hanya ada beberapa boneka diatas ranjang. Selebihnya tidak ada hiasan apapun. Segitu suram kah hidup Arinta.


Namun Reagan langsung menepis pikirannya tersebut. Mana mungkin Arinta memiliki hidup yang menyedihkan jika mempunyai keluarga hebat seperti ini.


Lalu Reagan menghela nafasnya sebelum bersiap memejamkan matanya. Walau ia tau jika tak bisa tidur bila tak ada Arinta di sampingnya. Terdengar berlebihan emang, tapi itulah kenyataannya.


Belum genap lima menit Reagan memejamkan matanya. Sebuah ketukan di pintu kamar membuatnya kembali membuka mata. Dan berjalan kearah pintu.


"Kenapa Yah?", tanya Reagan bingung setelah melihat Deri yang berdiri di depan pintu dengan Arinta dalam gendongannya.


"Ayah yang dimaksud Arin itu, bukan Ayah. Tapi Ayah dari anak-anaknya", ujar Deri. Putrinya itu terus meracau dalam tidurnya. Memanggil Ayah terus-menerus, padahal Deri sudah memeluknya dengan erat dan melayangkan beberapa kecupan di kepala Arinta. Namun cewek itu tetap tidak bisa tenang.


Reagan tersenyum dan mengambil tubuh Arinta dari gendongan Deri.


"Jaga dia baik-baik", Deri menepuk sekilas pundak Reagan seraya tersenyum tipis. Membuat Reagan tak percaya, memang bukan pertama kalinya Deri tersenyum padanya. Namun Reagan rasa itu adalah senyuman pertama yang terlihat tulus.


"Siap Yah", seru Reagan.


Kemudian Deri kembali masuk kedalam kamarnya.


"Bunda suka banget ngerepotin orang", gumam Reagan sambil mencium sekilas kening Arinta yang sudah tidak lagi meracau dalam gendongannya.


Sepertinya dua malaikat kecilnya itu tak ingin membiarkan Papi nya tidur sendirian.


...~Rilansun🖤....


Syg twins bnyk"💞