
...••••••••••••••...
...Melihat mereka tersenyum lebar saja sudah membuat beban yang ada dipundak terasa ringan.......
...••••••••••••••...
...***...
Arinta menatap sendu kearah langit biru yang cerah diatas sana. Suasana hatinya yang tadi kalut berangsur membaik setelah Arinta menelpon Laily. Arinta memberitahukan sahabatnya itu kalau hari ini adalah hari pernikahannya. Tidak seperti yang diduga, Laily malah berseru kegirangan, dan mengucapkan beribu doa dan selamat untuknya dan Reagan. Namun Arinta paham jika ada tangis dibalik tawanya yang menggelegar.
Sekali lagi Arinta ucapkan jika dirinya sangat bersyukur memiliki Laily dan Gina didalam hidupnya. Kemana lagi dapat dicari sahabat seperti mereka. Laily dan Gina adalah definisi dari sahabat sejati.
Arinta memejamkan matanya ketika suara bariton yang mengucapkan ijab qobul diruang depan terdengar tegas dan mantap bergema keseluruh penjuru rumah.
"Saya terima nikah dan kawinnya Arinta Zarvisya Deltava binti Zhein Arkansas Deltava dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Arinta membuka matanya dan melihat kearah perutnya yang terbalut kebaya pengantin. Entah kebetulan atau tidak, Arinta merasa sejak kedatangan bayi kecil itu kedalam hidupnya selalu saja datang kejutan-kejutan yang tak terduga.
Dari orang tua kandungnya, menjadi seorang ibu, dan kini ia telah resmi menjadi seorang istri dari laki-laki yang tak pernah diharapkan nya untuk menjadi suaminya. Dan hebatnya lagi hari ini adalah hari dimana umurnya baru tepat tujuh belas tahun. Memang terlalu kebetulan.
"Rinta ayo kebawah, Reagan dan yang lainnya nunggu kamu."
Arinta mendongak menatap Vina yang berdiri diambang pintu kamar. Lalu mata cewek itu bergulir menatap seantero kamarnya yang telah disulap menjadi kamar pengantin. Cantik, sangat cantik. Tapi sayang, Arinta tidak berniat untuk mengagumi itu saat ini.
"Ayo sayang", Sinta dan Vina terlihat berjalan memasuki kamar dan berdiri disisi kanan dan kirinya. Menggandeng kedua tangannya. Menggiring Arinta untuk segera turun kelantai satu kediaman Deltava. Ya, mereka menggelar pernikahan dirumah orang tua kandungnya. Rumah yang baru saja dibeli Vina dan Zhein setelah memutuskan untuk menetap di Indonesia.
Arinta menuruni undakan anak tangga satu-persatu dengan semua mata tertuju kearahnya. Dan membuat suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara langkah kakinya dan kedua wanita yang berjalan disampingnya. Serta suara perhiasan dikepalanya yang ikut bergerak ketika Arinta berjalan.
Reagan berdiri ketika Arinta telah sampai didepannya. Menyambut tangan Arinta untuk digenggamnya. Menatap kagum kearah perempuan yang kini telah resmi menjadi istrinya. Arinta terlihat sangat memukau dan mempesona dalam balutan baju pengantin.
Sementara itu Arinta menatap sebentar wajah Reagan yang terlihat sangat tampan hari ini. Ketampanan cowok itu bertambah berkali-kali lipat dengan tuxedo putih dan rambutnya yang disisir rapi kebelakang. Kemudian dengan gerakan pelan Arinta mengambil tangan Reagan, mencium punggung tangan suaminya. Dan disusul dengan Reagan yang mencium lembut kening istrinya. Setelah itu terdengar suara tepuk tangan dan siulan heboh, siapa lagi pelakunya jika bukan teman-teman laknatnya Reagan.
Arinta dan Reagan memandang satu sama lain. Menyelami netra masing-masing. Masih tidak menyangka jika mereka menikah diusia yang masih sangat belia. Memikirkan apakah mereka mampu menjalani kehidupan rumah tangga dengan segala problematika nya nanti. Walau ini hanya pernikahan sementara, seperti kata Arinta.
Namun Reagan tidak akan membiarkan itu terjadi. Baginya ini adalah pernikahan pertama dan terakhir dalam hidupnya. Dan Arinta tentu saja wanita yang telah dipilih Tuhan untuk menua bersamanya.
Mulai detik inilah, kehidupan pernikahan mereka dimulai.
...***...
Setelah selesai akad. Reagan dan Arinta langsung menggelar resepsi kecil-kecilan dirumah Zhein. Yang hanya dihadiri oleh para sahabat, keluarga, tetangga terdekat serta beberapa guru dan staff Allandra. Untuk meyakinkan opini Xavier beberapa waktu yang lalu.
Arinta duduk setelah menyalami para tamu yang hadir. Mengusap punggungnya yang terasa pegal. Bayangkan saja jika selama 20 menit Arinta berdiri menyalami tamu yang hadir. Untung saja ia tidak menggunakan high heels. Kalau tidak, bisa-bisa copot kakinya.
Reagan yang melihat itu lantas merapatkan duduknya kearah Arinta serta memposisikan tangannya dibelakang punggung cewek tersebut. Lalu dengan gerakan pelan tapi pasti Reagan mengusap punggung istrinya. Mencoba mengurangi rasa sakit yang dialami Arinta. Tapi justru hal itu malah membuat Arinta menatap horor kearahnya. Sepertinya cewek itu tengah malu sekarang. Namun Reagan tak menggubrisnya. Ia terus mengusap punggung Arinta dengan pandangan lurus menatap tamu-tamunya.
Arinta mendengus dan memilih mengabaikan. Menganggap jika Reagan adalah seorang jasa pijat. Arinta menatap Sinta dan Vina yang tengah mengobrol dengan tamu seraya sesekali tertawa. Lalu Arinta menatap Deri yang tersenyum kepada tamu yang menghampiri pria tersebut. Lantas lengkungan sabit di bibir Arinta tidak dapat dicegah untuk terbit. Ia merasa bahagia melihat senyuman itu hadir diwajah orang tuanya. Beban yang ada dipundaknya terasa ringan seketika
"Selamat ulang tahun."
Arinta mendongak kaget menatap Reagan yang juga tengah menatapnya. Percaya tidak percaya, Arinta melihat Reagan tersenyum lebar kearahnya. Senyuman itu terasa sangat tulus.
"Makasih", Arinta memalingkan wajahnya ketika jantungnya terasa berdegup lebih cepat. Mengapa cowok itu pake senyum segala coba. Seram tau.
Berselang beberapa detik Arinta mengepalkan tangannya diatas paha ketika perutnya terasa keram. Mungkin karena ia terlalu lama berdiri. Dan baju yang dikenakannya juga membuat Arinta risih. Hal itu tentu saja tidak lepas dari pengamatan Reagan yang sedari tadi menatap wajah Arinta dari samping.
Lalu Reagan memanggil Gina yang tengah menyantap makanan.
"Apaan?", Gina menatap kesal Reagan yang sudah mengganggu acara makan nya.
"Arinta capek, gue bawa dia ke kamar dulu. Lo bilang sama Bunda buat handle nih acara", Reagan berdiri dan menarik tangan Arinta.
"Yaudah, pergi sana. Tapi ingat, awas macam-macam lo ya setan."
"Terserah gue lah, udah halal juga."
"Bacot", Reagan menyela ucapan Gina. Dan berniat menggiring Arinta untuk segera ke kamar. Namun Arinta melepaskan cekalan tangan Reagan.
"Apa sih, acaranya belum selesai juga", Arinta menolak untuk ikut dan memilih untuk duduk kembali.
"Ck, keras kepala. Teman lo tuh", Reagan menatap Gina.
"Emang", sahut Gina dan berjalan mendekat kearah Arinta, "Rin, apa yang dibilangin si kunyuk satu itu emang bener. Lebih baik lo istirahat dulu."
"Tapi Gin-"
"Enggak ada tapi-tapian. Reagan, gendong bini lo ke kamar", titah Gina.
Reagan mengangguk dan menggendong Arinta ala bridal style. Pekikan histeris Arinta tentu saja membuat semua pasang mata menatap kearah mereka. Arinta menyuruh Reagan untuk segera menurunkannya. Tapi cowok itu tidak menggubrisnya dan memilih melangkah menuju kamar mereka yang ada dilantai atas.
"Reagan enggak sabaran amat elah."
"Yang lembut Reagan!, jangan sampai kami mendengar suara kasur bergoyang", Zidan menimpali ucapan Riko. Lalu bersiul menggoda kepada Arinta dan Reagan yang telah memasuki kamar.
Reagan meletakkan Arinta dengan hati-hati diatas ranjang. Memperlakukan wanitanya bak porselen yang mudah retak dan pecah.
"Aku bisa jalan sendiri tadi", Arinta mengambil gelas berisi air yang disodorkan oleh Reagan.
Reagan duduk disamping kaki Arinta yang diselonjorkan, "Jangan gubris para penghuni kebun binatang itu. Anggap aja angin lalu", balasnya.
"Eh kamu mau ngapain!", Arinta menahan tangan Reagan yang ingin menyingkap ujung gaun yang dikenakannya keatas.
Reagan menatap Arinta sebentar lalu menyingkirkan tangan cewek itu.
"Aku tau kamu capek", ujar Reagan dan mulai memijit kaki Arinta. Membuat Arinta terdiam menatap Reagan sembari minum.
Merasa enak Arinta lantas meletakkan gelas tersebut keatas nakas. Kemudian menyandarkan kepalanya dikepala ranjang seraya memejamkan mata.
Arinta membuka matanya ketika merasa perutnya dielus lembut. Ia merasa Dejavu dengan adegan ini.
"Jangan rewel ya anak Papi. Kasihan Bunda, sayang", gumam Reagan yang dapat didengar Arinta.
Arinta mengernyitkan keningnya, merasa ada yang salah dengan ucapan Reagan barusan.
"Gimana sih kamu, Papi itu pasangannya Mami, Bunda pasangannya Ayah. Jangan suka nukar-nukar deh."
Reagan berhenti menciumi perut Arinta dan mendongak menatap istrinya tersebut, "Aku maunya dipanggil Papi, emangnya kamu mau dipanggil Mami?."
"Enggak mau. Bunda lebih terasa keibuannya."
"Tapi aku udah panggil Ayah dengan Xavier. Masak aku juga harus dipanggil Ayah dengan anak aku. Papi aja deh, lebih modern."
"Enggak mau. Bunda itu lebih terasa tau."
"Kok kamu sewot, emangnya kamu udah sayang sama dia?"
Arinta terhenyak. Meneguk salivanya, ada apa dengan dirinya hari ini.
"Terserah kamu lah. Mau Papi, Ayah, Abi. Enggak ada hubungannya dengan aku juga", ujar Arinta dingin dan beranjak dari duduknya. Berjalan kearah kamar mandi yang ada didalam kamar.
Reagan tersenyum miris menatap pintu kamar mandi yang telah tertutup rapat. Sepertinya PR Reagan banyak sekali setelah ini. Tidak hanya membuat Arinta mencintainya, Reagan juga harus membuat perempuan yang telah dinikahinya itu bisa menerima anak yang tengah dikandungnya.
Huft, semoga saja Reagan bisa.
...~Rilansun🖤....