Brittle

Brittle
Abortion?



...••••••••••••••••...


...Terkadang ada rasa hancur yang sulit untuk dijelaskan.......


...•••••••••••••••...


...***...


Arinta turun dari angkot setelah membayar sejumlah uang kepada pak supir, dan memasuki gerbang sekolahnya. Pagi ini ia menggunakan angkot untuk berangkat ke sekolah. Bukan karena tak ada satu pun orang yang bersedia mengantarkan nya, justru Arinta sendiri lah yang menolak untuk diantar.


Tadi pagi, disaat Arinta sarapan, ia memuntahkan segala makanan yang masuk kedalam mulutnya, alhasil tidak ada asupan sedikit pun yang masuk kedalam perutnya, selain air putih. Dan hal yang paling membuat Arinta jengkel plus kesal adalah perutnya yang akan bergejolak disaat ia berdekatan dengan kedua adik kembarnya dan Ayahnya, sehingga berakhir dengan dirinya yang berangkat ke sekolah menggunakan angkutan umum.


Bukan karena apa-apa, Arinta hanya sedikit takut ketika menaiki kendaraan umum. Entahlah, mungkin karena Arinta yang jarang bersosialisasi dengan orang lain, selain orang-orang disekitarnya, membuat ia sedikit parno.


Dan sepertinya, Arinta harus mengalahkan ketakutannya itu untuk beberapa minggu kedepan, dan itu semua karena makhluk kecil yang tengah meringkuk nyaman didalam perutnya.


Ini sungguh sangat menyusahkan.


Brak


"Maaf-maaf", Arinta membungkuk memungut paper bag seseorang yang tidak sengaja ia tabrak tadi, dalam hati Arinta selalu merapalkan beribu doa, semoga orang yang ia tabrak ini tidak akan mencaci-maki nya. Mengingat jika tidak ada warga Allandra, selain kedua sahabatnya itu yang menyukainya, membuat Arinta sangat was-was.


"Tumben naik angkot."


Arinta mendongak, dan menatap lega kearah orang tersebut. Arinta sangat bersyukur, karena orang yang ia tabrak tadi adalah sahabatnya, Gina. Jangankan mencaci-maki, Gina tidak pernah sekali pun marah kepadanya, kecuali disaat gadis itu mengetahui bahwa dirinya telah dirusak.


Tapi sepertinya dugaan Arinta itu salah, jika dilihat-lihat, air muka yang ditunjukkan Gina berbeda dari yang sebelumnya saat berhadapan dengan dirinya. Arinta sering melihat raut wajah dingin dan tanpa ekspresi itu, tapi Arinta rasa dirinya adalah pengecualian.


Dan sepertinya, Gina telah marah kepada nya lagi.


"Kenapa naik angkot?", tanya Gina sekali lagi.


Arinta menunduk, "Mual", jawabnya pelan.


Gina mengernyit bingung, apa hubungannya mual dengan naik angkot. Namun, sedetik kemudian Gina paham bahwa sahabatnya itu kini bukanlah Arinta yang lagi sama, ada sebuah nyawa lain yang telah hidup ditubuh mungil sahabatnya itu. Ketika mengingat itu membuat emosi Gina menaik seketika, bukan kesal karena sang jabang bayi, tapi kesal dengan cara bayi itu bisa hadir.


Gina mengulurkan tangannya meminta paper bag yang didekap oleh Arinta. Tetapi sepertinya cewek itu tidak berniat mengembalikannya, terlihat dari bagaimana Arinta memeluknya dengan sangat erat.


"Punya siapa?", tanya Arinta melupakan jika dirinya tadi ketakutan dengan kemarahan Gina.


Gina terdiam sebentar, sedetik kemudian ia mengukir sebuah senyum tipis melihat Arinta yang menghirup rakus kedalam paper bag.


Anak lo emang jahil banget Rin, batin Gina.


"Punya gue, ambil aja kalau mau", Gina menarik pelan lengan Arinta yang masih asik menghirup rakus sesuatu yang ada didalam paper bag.


"Makasih Gina", Arinta mengikuti langkah Gina dengan tersenyum senang. Sepertinya ia berhasil menemukan cara untuk mengatasi perutnya yang terus saja bergejolak ketika mencium sesuatu yang tidak nyaman di indra penciuman nya.


"Aunty dukung kamu baby", gumam Gina kepada dirinya sendiri.


Arinta yang berada disampingnya, tentu saja dapat mendengar itu. Lantas ia menatap bingung kearah sahabatnya tersebut.


...***...


"Rinta, pulang nanti temani gue ya fitting baju, selera lo itu lebih bisa dipercaya dari pada si someone", Laily melirik kearah Gina, membuat Arinta tertawa pelan.


Kedua sahabatnya itu, memang tiada hari tanpa pertikaian. Kini mereka sedang jam kosong, Guru yang seharusnya masuk sedang berhalangan, sehingga membuat mereka merdeka selama dua jam kedepan.


"Yang waras ngalah", ujar Gina ketika merasa dirinya menjadi bahan gunjingan Laily.


Laily mengangkat bahunya acuh, "Whatever"


"Maaf Lai, aku enggak bisa", tolak Arinta, mengingat jika dirinya harus pergi ke suatu tempat setelah pulang sekolah nanti.


"Lo harus ingat, Arinta itu bukan sendirian sekarang, enggak bisa lo suruh-suruh seenaknya lagi", timpal Gina membuat suasana diantara mereka berubah seketika. Laily paham apa yang dimaksud oleh Gina, ia baru saja diberitahu semalam. Laily sudah sangat penasaran karena gelagat aneh yang ditunjukkan Arinta belakangan ini, ditambah dengan mual-mual yang acap kali dialami oleh sahabatnya itu, membuat ia mendesak bertanya kepada Arinta dan Gina. Laily yakin ada suatu hal yang telah disembunyikan darinya, dan betul saja dugaannya. Tetapi ia tak menyangka jika musibah yang menimpa Arinta dapat sebesar itu.


Laily menatap iba kearah Arinta yang sedang menunduk setelah mendengar penuturan dari Gina, "Maaf ya Rin, gue lupa", ujar Laily pelan sambil menggenggam tangan Arinta yang berada diatas meja.


Arinta mendongak dan memberikan seulas senyum menyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Emang siapa sih Rin, Daddy nya baby lo?", tanya Laily seraya berbisik pelan, supaya tidak ada teman kelas lainnya yang mendengar.


Deg


Arinta mematung seketika, pasokan udara serasa menipis disekitarnya. Seperti ada ribuan tangan tak kasat mata yang meremas kuat dadanya, membuat ia kesulitan untuk bernafas.


Gimana kalau aku bilang orang itu adalah calon tunangan kamu?.


Ingin sekali Arinta menyuarakan jawabannya itu, tetapi ia masih sangat menghargai persahabatan yang ada diantara mereka, dan Arinta tak ingin merusak hubungan itu.


Gina menatap geram kearah Arinta yang diam mematung, jika saja Arinta tadi tidak memintanya berjanji untuk tidak mengatakan siapa orang yang telah merusak sahabatnya itu. Sudah pasti Gina mengatakan dengan lantang siapa laki-laki brengs*k itu kepada Laily.


Arinta menghela nafas, "A-aku enggak kenal orangnya."


"Enggak apa-apa, enggak usah pedulikan dia lagi, kita ada disini, dan kita bakal bantuin lo merawat si baby", Laily mengelus lembut pundak Arinta sambil tersenyum hangat, membuat Arinta semakin merasa bersalah.


Bagaimana jika Laily tahu kalau Reagan lah dalang dari semua penderitaan nya, apakah gadis itu masih akan tersenyum hangat kepada nya, atau malah memusuhinya habis-habisan. Entahlah, membayangkan dirinya dimusuhi Laily saja sudah membuat Arinta ingin mati rasanya, bagaimana jika itu memang benar terjadi.


Dia enggak bakal ngerebut apa pun dari kamu Lai, karena dia enggak akan hidup dengan lama, batin Arinta.


Arinta tersenyum, lalu melirik kearah Gina yang langsung membuang muka darinya. Arinta menatap nanar gadis bersurai coklat sepundak tersebut, ia paham jika Gina sangat marah kepada dirinya yang bodoh ini, tapi apalah daya, ada sebuah kata persahabatan yang mengikat antara dirinya dan Laily.


Semoga saja keputusannya ini benar, Arinta adalah tipe orang yang akan melakukan apapun untuk yang namanya persahabatan, walau harus mengorbankan dirinya.


...***...


Arinta melambaikan tangannya kepada mobil Gina yang akan meninggalkan pekarangan sekolah. Jam pulang sekolah telah bergema ke seantaro Allandra, dan tadi Gina sempat menawarkan untuk mengantarnya pulang daripada dirinya yang naik angkot. Namun, Arinta menolak keras dengan alasan jika ia mual dengan aroma mobil Gina. Dan untung saja sahabatnya itu percaya kepada dirinya.


Sedangkan Laily, gadis itu sudah pasti numpang dengan Gina. Walau pun mereka sering berkelahi, tetapi tidak ada satu pun orang yang tau betapa kuatnya rasa peduli diantara mereka berdua.


Arinta memastikan sekali lagi jika mobil Gina benar-benar telah pergi, baru ia memesan sebuah ojek online. Arinta ingin pergi ke suatu tempat, dan yang pastinya kedua sahabatnya itu tidak ada yang boleh tau, karena bisa-bisa mereka berdua menggagalkan rencana yang telah diatur Arinta.


Reagan menatap heran kearah seorang cewek mengenakan masker yang tengah berboncengan dengan seseorang yang berjaket hijau khas tersebut, hal yang paling membuat Reagan heran adalah hoodie hitam yang dikenakan cewek itu, masalahnya hoodie itu miliknya, terbukti dengan tulisan Allndr's yang terpampang jelas dibelakang hoodie tersebut.


Reagan menatap parkiran sekitarnya, memastikan keberadaan sepupunya. Tetapi nihil, mobil sepupunya sudah tidak ada diparkiran. Lalu siapa yang pergi dengan ojek tersebut, jelas-jelas hoodie itu Reagan titipkan kepada Gina dan meminta gadis itu untuk membawakan nya hari ini.


Tanpa pikir panjang, Reagan segera menghidupkan motornya dan mengikuti cewek yang menggunakan hoodie nya itu, untung saja Reagan belum kehilangan jejak mereka.


Reagan mengernyit heran disaat motor tukang ojek itu memasuki kawasan yang lumayan sepi, lalu berhenti disalah satu rumah yang sepertinya dijadikan tempat klinik. Mata Reagan membelalak saat membaca palang yang ada didepan rumah tersebut.


Klinik Kandungan.


Sekarang Reagan tau siapa cewek yang menggunakan hoodie nya itu.


Arinta, gadis cupu nya Allandra.


"Lain kali kamu jangan sampai kebablasan lagi."


Reagan mengalihkan atensinya kepada kedua sejoli yang tak berada jauh darinya, Reagan mencerna ucapan yang baru saja ia dengar, dan muka nya langsung merah padam saat tau tempat apa yang telah dikunjungi cewek itu.


"Sialan", umpat Reagan murka saat melihat Arinta memasuki rumah klinik tersebut.


...~Rilansun🖤....