
...••••••••••••••...
...Jika kamu sudah mencintainya kelak, dan kamu merasa bosan. Pada saat itu jangan mengatakan langsung kepadanya, katakan saja kepada saya. Maka saya akan membawanya pulang.......
...••••••••••••••...
...***...
"Kamu beneran serius sama Arinta?."
Reagan menoleh kearah Deri yang baru saja melontarkan pertanyaan tersebut. Terdiam sejenak, sebelum mengangguk dengan mantap. Ya, dirinya serius. Sangat serius.
"Bagus lah kalau gitu", Deri menyeruput teh nya seraya memandang kearah televisi yang menampilkan pertunjukkan pertandingan bola.
Setelah selesai mengadakan resepsi. Vina beserta Zhein meminta untuk semua orang dapat menginap dirumahnya. Tentu saja mereka semua menyetujui nya, hitung-hitung sebagai reuni setelah sekian tahun. Tak terkecuali kedua pengantin baru tersebut.
"Sekarang didalam hidup kamu, bukan hanya ada kamu sendiri. Udah ada anak dan istri, jadi kamu enggak boleh egois. Kamu itu sekarang kepala keluarga, bukan lagi bocah berandalan yang mau pulang dan pergi sesuka hati. Dan tamat sekolah nanti kamu langsung kerja ditempat Ayah. Laki-laki sejati itu enggak akan terima uang orang lain untuk nafkahin keluarganya", ujar Xavier dengan wajah datar seperti biasanya.
Reagan meneguk salivanya. Setiap ucapan yang selalu keluar dari mulut Ayah nya itu seperti pisau yang siap menikamnya kapan saja.
"Denger enggak kamu?", tanya Xavier lagi melihat Reagan yang hanya diam tak bergeming.
"Denger", Reagan mengangguk patuh.
Xavier menepuk pundak putranya, "Good boy", ujarnya seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
Kini hanya tersisa Reagan dan Deri yang duduk diruang keluarga. Menikmati cemilan seraya menonton pertandingan sepak bola. Zhein yang awalnya bergabung, harus pergi sepuluh menit sebelumnya. Karena ada kerjaan yang harus dikerjakannya.
Hening, kedua laki-laki berbeda generasi itu larut dalam pikiran masing-masing. Hanya suara televisi yang terdengar dan kegaduhan Raka yang tak terima kalah dalam bermain game dengan Saka. Mengumpati saudara kembarnya dengan segala umpatan yang bisa disebutnya.
"Walaupun saya bukan Ayah kandungnya, tetapi saya tetap adalah Ayahnya. Setidaknya saya adalah orang pertama yang akan memeluknya disaat dia sedih, bukan kamu. Saya orang yang pertama kali menggenggam tangan nya disaat dia jatuh ketika belajar berjalan, bukan kamu. Dan saya yang pertama merawatnya, bukan kamu. Jadi kamu enggak punya hak untuk nyakitin dia", Deri menatap Reagan yang menundukkan kepalanya.
"Kamu hanya lah laki-laki asing yang memaksa masuk kedalam kehidupan putri saya. Kamu tau, disaat Arinta mengatakan kepada saya kalau dia tengah hamil. Saya adalah orang yang paling terpukul. Karena saya menjaga dia seperti saya menjaga kehormatan saya. Pada saat itu, saya merasa telah kehilangan seluruh kehormatan yang saya punya. Dan itu karena kamu. Karena kamu saya kehilangan senyuman putri saya. Karena kamu juga Arinta jadi tertutup dengan saya. Asal kamu tau, disaat Arinta mencoba untuk bunuh diri waktu itu. Saya merasa sedang hidup didalam ambang kematian. Disaat kamu menjadi seorang Ayah nantinya kamu akan paham dengan kalimat, menjadi bodoh hanya agar putriku tertawa lepas. Menjadi Ayah dari seorang putri adalah anugerah yang tak terkira."
Reagan mendongak menatap Ayah mertuanya dari samping. Mata pria dewasa itu terlihat berkaca-kaca. Reagan tidak menyangka jika sosok Deri yang dingin dan pendiam, akan sangat melankolis bila menyangkut putrinya. Beruntung nya Arinta memiliki Ayah seperti beliau.
"Hanya satu yang saya minta ke kamu Reagan. Jika kamu sudah mencintainya kelak, dan kamu merasa bosan. Pada saat itu jangan mengatakan langsung kepadanya, katakan saja kepada saya. Maka saya akan membawanya pulang. Saya tak ingin dia tersakiti untuk kesekian kalinya. Padahal Arinta yang akan menjalani rumah tangganya, tapi saya yang selalu ketakutan. Saya takut dia terluka, saya takut dia enggak nyaman, dan saya takut dia merasa kesepian. Air mata putri saya itu berharga Reagan. Jadi jagalah dia sekuat yang kamu bisa, tapi saya mohon jangan lukai dia semau kamu", ujar Deri panjang lebar.
Reagan terdiam sejenak sebelum menjawab, "Saya janji Yah, tidak akan ada alasan untuk saya menyakiti nya kelak. Saya akan menjaganya, menghormatinya, dan menyayanginya sampai ajal menjemput. Jika saya mengingkari saya rela mati ditangan Arinta Yah", sahut Reagan terdengar seperti janji sehidup semati.
Deri tersenyum tipis, "Saya enggak yakin, Arinta mampu membunuh kamu. Tapi saya pegang janji kamu. Kamu tau kan, cowok itu yang dipegang adalah kata-katanya. Jangan sampai kamu membuat kaum kamu malu karena kamu mengingkari nya", ujarnya lalu berdiri dari duduknya.
"Jangan begadang", Deri menepuk pundak Reagan dan berjalan melewatinya.
Reagan mengangguk dan menatap lurus kearah televisi yang masih menyala.
"Gue janji enggak akan buat air mata lo turun Rin, kecuali untuk suatu hal yang bahagia."
...***...
Reagan membuka pintu kamarnya dengan pelan. Mendapati Arinta yang tertidur membelakangi nya. Sepertinya perempuan itu sangat kelelahan.
Kemudian Reagan berjalan mengendap-endap. Takut membangunkan istrinya yang tengah tertidur pulas. Reagan duduk ditepi ranjang, membuka kaos yang dikenakannya dan melemparnya secara asal kearah sofa yang ada didalam kamar.
Reagan membaringkan tubuhnya disamping Arinta yang dibatasi dengan satu buah bantal guling dan sebuah sticky note diatasnya.
Cowok itu tersenyum geli ketika membaca tulisan tangan Arinta.
...Siapa yang melewati batas ini, kaki nya kurapan besok pagi. Aamiin...
...***...
Reagan mengernyitkan keningnya ketika merasa tidurnya terusik, lalu cowok itu membuka matanya. Terbelalak ketika melihat Arinta yang mengambil tangannya dan meletakkannya diatas perut cewek itu. Sepertinya Arinta tidak sadar, terbukti dengan matanya yang masih terpejam. Dan sepertinya Arinta sudah terbiasa dengan hal itu.
Lalu tanpa aba-aba Reagan menarik Arinta kedalam pelukannya. Membenamkan wajah istrinya di dada bidangnya seraya mengelus lembut perut Arinta. Lihatlah, siapa yang melewati batas saat ini.
Reagan mengusap rambut Arinta dan melayangkan satu kecupan di keningnya, "Bantu gue penuhin janji gue Rin. Beri gue kesempatan buat masuk kedalam hati dan kehidupan lo."
Dan dengan senyuman lebar diwajahnya, Reagan kembali memasuki alam mimpinya. Diluar tengah hujan, dan beruntungnya Reagan malam ini bisa memeluk guling yang dapat menghangatkan tubuhnya.
...***...
Matahari naik dengan kicauan burung yang mengiringi. Silauan cahayanya yang menerangi bumi menggantikan gelapnya malam yang menemani.
Arinta mengerutkan alisnya ketika merasa silau menusuk matanya.
Reagan yang melihat itu tak mampu untuk menahan senyumnya. Kemudian Reagan meletakkan tangannya diatas wajah Arinta, menghalau sinar matahari yang masuk. Dan istri kecilnya itu kembali tidur dengan lelap tanpa tau jika hari sudah pagi. Sudah berulang kali Sinta dan Vina mengetuk pintu kamarnya. Menyuruh mereka untuk turun dan sarapan.
Namun Reagan tak menjawab, ia malah mengelus rambut Arinta. Menjaga agar istrinya itu terlelap dengan nyenyak. Mengamati wajah cantik Arinta dengan jarak dekat. Sampai kedua kelopak mata itu terangkat dengan perlahan dan terbuka dengan sempurna.
"Morning", ujar Reagan melihat Arinta yang masih mengucek-ngucek matanya seraya mencebikkan bibir bawahnya.
Arinta yang merasa jika suara itu bukanlah suara Sinta. Lantas melototkan matanya menatap orang yang terbaring disampingnya.
"Kyaaa, baju kamu kemana?", Arinta langsung duduk dan memeriksa apakah bajunya masih lengkap. Dan menghela nafas lega kemudian mengetahui jika tidak ada yang copot sehelai benang pun dari tubuhnya.
"Tadi malam panas banget, jadi dilepas", sahut Reagan dan ikut duduk.
Arinta menarik selimut, menutupi tubuhnya ketika melihat Reagan yang beringsut kearahnya.
"Ka-kamu mau ngapain", Arinta gugup saat Reagan memegang kakinya dan meletakkannya diatas paha cowok tersebut.
"Aku lagi ngecek, kaki kamu kurapan enggak. Kan sayang kaki semulus ini ada koreng nya", ujar Reagan dan tersenyum miring menatap Arinta.
Sementara itu Arinta langsung melihat kearah bantal guling yang sudah tergeletak naas diatas lantai.
Sial.
Arinta memejamkan matanya dan menyibak selimut dengan kasar. Turun dari kasur, berniat untuk ke kamar mandi. Namun Reagan menarik tangan Arinta tiba-tiba. Memeluk perut perempuan itu dan memberikan kecupan-kecupan disana. Membuat Arinta melotot kaget.
"Eh, kamu ngapain", Arinta berusaha mendorong kepala Reagan. Tapi cowok itu malah memeluk Arinta dengan erat. Membenamkan wajahnya diperut wanitanya.
"Lagi nyapa anak aku lah", balas Reagan dan kembali menciumi anaknya yang ada didalam perut Arinta, "Good morning to my baby", sapanya dan mengelus sayang perut Arinta.
Arinta tertegun. Reagan akan benar-benar menjadi orang yang berbeda bila dihadapan anaknya. Sepertinya suatu saat nanti Reagan akan menjadi sosok Ayah yang mencintai anaknya. Tapi Arinta tidak akan bisa menjadi Ibu yang baik. Arinta sadar, bahwa dirinya akan sangat egois jika menyangkut cita-citanya. Ya, Arinta akui jika dirinya sangat ambisius dan terobsesi. Lalu bagaimana bisa ia menyayangi suatu hal yang telah menghalangi cita-citanya.
Seharusnya pagi ini ia berada disekolah dan mengikuti pelajaran. Bukannya menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik.
"Lepas", Arinta melepaskan pelukan Reagan diperutnya dan berjalan memasuki kamar mandi setelah melemparkan kaos Reagan kearah cowok tersebut.
Reagan itu, apakah ia tidak sadar jika roti sobek yang ada diperutnya itu dapat membuat Arinta berdosa. Arinta masih belum terbiasa sarapan dengan roti sobek. Jadi dirinya agak sedikit canggung.
...~Rilansun🖤....
*Dengan kekuatan seluruh alam, sy memanggil seluruh pemga(pembaca gaib) untuk dapat memberi like dan coment😂. untuk segalanya sy ucpkn Grazie🖤♥️💛💚💙❤️💜