
...••••••••••••...
...Kamu manis, tapi sayangnya terlalu sulit untuk ditaklukkan.......
...••••••••••••...
...***...
Arinta membuka matanya. Hal yang pertama ditangakap netra nya adalah wajah damai Reagan yang berada dekat dengannya. Wajah itu benar-benar sebuah mahakarya Tuhan yang sangat aesthetic.
Jika saja Reagan dan Arinta bukan dipertemukan karena kejadian itu. Dan Reagan bukanlah anak dari pemilik sekolah. Juga bukan pacar dari sahabatnya. Mungkin sekarang Arinta lah yang mengejar cowok tersebut. Mungkin juga Arinta akan tergila-gila terhadap Reagan.
Namun sayang, semua itu hanya lah angan-angan semata.
Kini cowok yang menjadi idola di seantero Allandra itu adalah suaminya. Orang yang pertama dilihatnya ketika ia membuka matanya di pagi hari. Dan juga orang terakhir yang dilihatnya saat ia ingin menutup mata dimalam hari. Tapi mirisnya tidak ada cinta diantara mereka. Poin yang sangat besar.
Arinta sedikit menjauhkan wajahnya agar dapat melihat dengan lebih jelas pahatan wajah Reagan. Lalu Arinta menatap menyeluruh wajah yang sempurna tanpa cela tersebut. Bahkan setitik noda pun tidak ada. Benar-benar sangat mulus. Arinta jadi meragukan jika Reagan itu bukan cowok tulen.
Namun detik kemudian Arinta menggelengkan kepalanya. Menepis pikiran jahat tersebut. Mana mungkin Reagan jelek, kalau orang tuanya seperti Renata dan Xavier. Bahkan Ayah mertuanya itu masih terlihat tampan di usianya yang sudah memasuki kepala empat. Bibit keluarga Allandra memang tidak perlu diragukan.
Arinta menatap intens alis Reagan. Membuatnya kembali teringat pada kejadian waktu mereka MOS dulu.
..."Sok cantik lo. Orang miskin aja belagu banget sok-sokan sekolah disini."...
..."Bahkan uang masuknya aja enggak sebanding dengan tubuh lo itu."...
..."Gue jadi curiga kalau lo menggunakan tubuh sialan lo itu buat masuk nih sekolah. Siapa yang lo goda?, kepala sekolah?, ketua yayasan?, atau pemilik sekolah?. Lacur!"...
...Arinta menggelengkan kepalanya. Tidak membenarkan apa yang disebutkan oleh murid-murid perempuan tersebut....
..."A-aku enggak ada goda siapapun. A-aku murni dapat beasiswa."...
..."Beasiswa lo itu pasti hasil hubungan dengan orang. Makanya lo bisa keterima disini. Ngaku aja deh lo. Dan kenapa lo tadi pake peluk-pelukan segala dengan Kak Darrel. Genit banget sih lo."...
..."Sok cantik."...
...Arinta menggelengkan kepalanya lagi. Menunduk agar mereka tidak dapat melihat cairan bening yang sudah keluar dari matanya. Arinta tidak ingin mereka tambah mengejeknya. Bukan, bukan niatnya untuk memeluk kakak kelas tersebut. Arinta hanya tidak sengaja terinjak tali sepatunya dan Kak Darrel yang mereka katakan itu juga tidak sengaja lewat dan menolongnya....
..."Dasar lacur. Huuu", teriak murid-murid perempuan itu secara bersamaan. Membuat Arinta menutup matanya ketika mereka hendak melemparinya dengan kaleng bekas....
..."Lo lihat dia ngangkang dimana?."...
...Arinta membuka matanya saat tidak merasakan apapun. Dan ia terbelalak kaget saat mendapati sebuah punggung lebar yang membelakangi nya....
..."Jawab!."...
...Arinta terperanjat kaget saat orang tersebut membentak kepada tiga murid perempuan yang membully-nya barusan....
..."Bokap lo yang dipanjatnya?, atau pacar lo?. Muka aja yang mulus, tapi akhlak nol. Makanya mulut itu digosok, jadi enggak bau sampah. Katanya orang kaya", ketusnya membuat ketiga orang itu menunduk ketakutan, "Udah pergi sana!. Nungguin apa lo?, sorry gue enggak punya uang receh", tambahnya yang langsung membuat para biang onar tersebut berlalu pergi....
...Arinta cepat-cepat menundukkan kepalanya saat cowok itu hendak berbalik menghadapnya. Seperti kata mereka tadi, wajahnya tidaklah cantik dan Arinta tidak ingin membuat penolongnya itu ketakutan setelah melihat wajahnya....
..."Guna nya mulut itu buat bicara. Kalau enggak digunain, mending lo sumbangkan pita suara lo ke orang yang membutuhkan!", ujar cowok itu datar dan sedikit ketus....
...Arinta hanya mengangguk sambil menatap sepatu Converse yang digunakan cowok tersebut. Dan terkejut ketika mendapati setitik noda darah dilantai. Apakah cowok itu terluka?....
..."Kamu enggak apa-apa?", tanya Arinta tanpa melihat orang yang berdiri didepannya....
...Merasa tak ada jawaban Arinta pun lantas menghela nafasnya dan berujar, "Makasih."...
...Cowok itu tidak membalas. Ia berlalu pergi menghampiri temannya yang berteriak memanggilnya barusan....
...Sebelum benar-benar pergi, Arinta mendongakkan sedikit kepalanya. Menatap wajah orang yang menolongnya tadi. Dan benar saja dugaannya, pelipis kanan cowok itu terluka. Sepertinya terkena goresan tajam dari kaleng bekas tersebut....
..."Makasih Reagan", gumam Arinta dengan menyebutkan nama cowok tersebut yang di dengarnya ketika teman cowok itu memanggilnya....
"Makasih", ujar Arinta sambil mengelus pelan alis Reagan yang waktu itu terkena kaleng minuman. Setelah kejadian itu Arinta terus mencari tahu tentang Reagan. Ia mencari tahu sendiri, sebab pada masa itu Arinta belum mempunyai teman sama sekali. Dan Arinta menyerah mencari tahu informasi mengenai Reagan ketika ia tahu kalau cowok itu adalah anak pemilik sekolah. Dan sepertinya Reagan sangat terkenal dikalangan murid perempuan.
Arinta langsung minder dan memutuskan untuk berhenti. Dan sialnya pada waktu itu Arinta sudah mulai sedikit memiliki perasaan terhadap Reagan. Arinta sangat tidak mau mengakui hal tersebut.
"Ck", Arinta berdecak saat beralih menatap bibir Reagan. Mengapa benda itu lebih merah daripada miliknya. Padahal Arinta rasa putihan ia dibanding Reagan. Tapi mengapa?. Sepertinya Tuhan sangat pilih kasih.
"Kenapa?, mau rasa?."
Arinta terlonjak kaget saat melihat mata Reagan yang terbuka dan menatap kearahnya. Jangan lupakan senyuman om-om pedofil itu.
"Se-sejak kapan kamu bangun?", tanya Arinta gagap. Sudah berapa kali ia kepergok seperti ini.
Reagan mendekat kearah Arinta. Dan meletakkan tangannya dibelakang kepala Arinta ketika cewek itu ingin menjauh, "Sejak kamu natap ini", bisik Reagan sambil menunjuk bibirnya, "Kamu mau coba?."
"Najis!", Arinta mendorong dada Reagan untuk menjauh darinya. Lalu turun dari ranjang dan berjalan kearah kamar mandi. Tolong, nafasnya ngos-ngosan ini.
"Padahal udah rasa yang lain. Masa yang ini enggak mau", celetuk Reagan.
Arinta membelalakkan matanya dan membalikkan badannya menatap horor Reagan. Mengapa ucapan cowok itu terdengar sangat ambigu.
"Mau enggak?", Reagan menaik-turunkan alisnya menggoda Arinta.
"Coba sendiri sana", ketus Arinta seraya melemparkan kaus Reagan.
Lalu Reagan memakai kaosnya dengan cepat sambil berujar, "Mana bisa sendiri. Enggak enak dong."
"Kalau aku sumbangin, nanti kamu enggak bisa dengar suara aku manggil nama kamu lagi."
Arinta memejamkan matanya. Mengapa cowok itu banyak omong sekali pagi ini. Apa Reagan salah mimpi tadi malam. Jangan-jangan suaminya itu masuk kedalam mimpi orang lain dan mereka bertukar roh.
"Pergi aja sana!"
"Enggak bisa dong. Nanti kalau aku pergi entar kamu jadi janda. Aku ini limited edition loh Rin."
"Berisik", ketus Arinta dan menghentakkan kakinya berjalan kearah kamar mandi. Sepertinya Reagan memang sudah bertukar roh.
"Bunda. Sini dulu", Reagan memanggil Arinta yang membuat cewek itu membalikkan badannya dengan kesal.
"Apa lagi?!"
"Sini dulu", Reagan melambaikan tangannya menyuruh Arinta untuk mendekat.
Arinta mendengus dan tak urung berjalan kearah Reagan dengan malas.
Kemudian Arinta menaikkan sebelah alisnya setelah berdiri dihadapan Reagan, "Hm?."
Reagan melirik sekilas Arinta lalu menarik dengan tiba-tiba pinggang istrinya tersebut. Membuat Arinta membelalakkan matanya kaget.
"Eh kamu mau ngapain!", Arinta menahan tangan Reagan yang hendak menyingkap ujung gaun tidurnya.
Reagan mendongak, "Mau nyapa anak aku", sahutnya dengan ekspresi sok polos.
"Tapi kan aku pake terusan. Gila ya kamu", Arinta paham jika Reagan sudah terbiasa melakukan hal rutin tersebut di pagi hari. Dan kebiasaan cowok itu yang langsung menyentuh perutnya. Arinta sudah melarang Reagan untuk melakukan hal itu. Tapi Reagan selalu saja memiliki alasan yang sukses membuat Arinta bungkam. Katanya, biar lebih dekat dengan anaknya.
Arinta membiarkan itu karena ia biasanya memakai setelan piyama. Tapi hari ini Arinta tengah mengenakan gaun tidur. Tidak mungkin, Reagan akan....Argh sial.
"Mau nyapa anak sendiri dikatain gila. Aneh kamu", Reagan berusaha mencekal tangan Arinta. Dan cowok itu melotot saat Arinta menyilangkan kedua kakinya. Membuat Reagan tidak bisa menyingkap gaun sialan tersebut.
"Buka enggak?"
"Enggak."
"Aku robek nih."
"Robek aja."
Reagan menghela nafasnya, "Kamu dosa loh Rin ngelarang seorang Ayah buat ketemu dengan anaknya."
Arinta memutar bola matanya malas, mengapa itu terdengar seperti anaknya sudah lahir saja.
"Aku aduin Mommy sama Ibu nih", Reagan mengambil ponselnya dan menunjukkan benda itu kearah Arinta.
Kemudian Arinta mencebikkan bibirnya dan berdiri seperti biasa. Ia tidak ingin mendengarkan omelan kedua bidadari nya itu. Pasti mereka akan memarahinya. Terutama si mommy, sebab wanita itu tidak setuju dengan rencananya untuk bercerai. Walau pada saat itu mengatakan mendukungnya apapun yang terjadi. Namun setelah menikah, Vina selalu saja memberikan nya usulan-usulan yang menjerumus untuk mendekatkan hubungannya dengan Reagan.
"Good girl", Reagan tersenyum miring dan menyingkap ujung gaun tidur yang dikenakan Arinta.
Arinta langsung memalingkan wajahnya saat tau apa yang tengah ditatap Reagan. Bolehkah Arinta membunuh suaminya itu sekarang. Hal ini lebih memalukan daripada yang tadi malam.
"Mesum", celetuk Arinta membuat Reagan tersadar dan buru-buru mencium perut Arinta dimana anaknya berada.
Sial, kalau gitu gue enggak usah nyapa si baby pagi ini.
Reagan meneguk salivanya dengan susah payah, "Mesum itu tempat penyimpanan barang-barang bersejarah", sahutnya asal.
"Enggak lucu. Sekali lagi kamu kayak gini, aku pastiin ini pagi terakhir kamu bisa nyapa dia", tegas Arinta sambil menurunkan kembali gaun tidurnya.
Reagan mendongak dan tersenyum ketika melihat pipi dan telinga istrinya yang memerah, "Kamu manis, tapi sayangnya terlalu sulit untuk ditaklukkan", gumamnya yang masih bisa didengar oleh Arinta.
"Arin", panggil Reagan pelan.
Arinta menoleh, "Hm?"
"Makasih."
"Untuk?", tanya Arinta dengan kernyitan di dahinya.
"Ciuman tadi malam", goda Reagan yang membuat Arinta melotot tajam.
Reagan terkekeh pelan.
"Makasih karena udah buat aku paham kalau semua hal yang ada didunia ini enggak bisa didapatkan dengan mudah. Terkadang perjuangan dibutuhkan didalamnya. Dari kecil aku udah terbiasa mendapatkan semua yang aku mau. Sekalipun itu soal cinta, walau aku harus nunggu untuk waktu yang lama. Tapi cuma kamu yang berani ngebentak aku, maki dan cuekin aku. Karena kamu juga aku paham apa itu arti sebuah pengorbanan. Pas Laily ninggalin aku waktu itu. Aku enggak berani ngejar dia, aku cuma bisa diam dikamar nunggu dia kembali lagi. Waktu itu aku takut dia akan semakin jauh dari aku. Dan aku sempat pasrah. Tapi aku janji sama kamu, aku enggak akan pernah nyerah. Dan aku mau bilng makasih juga, berkat kamu stok kesabaran yang aku punya semakin banyak", ujar Reagan panjang lebar dengan seulas senyum tulus dibibir nya.
Arinta mengerjapkan matanya dan berbalik pergi kearah kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Arinta masih belum bisa mencerna ucapan Reagan. Atau memang dirinya yang tak ingin mencerna.
"Arin."
Arinta memejamkan matanya. Berulang kali sudah ia tidak jadi masuk kedalam kamar mandi.
"Sekali lagi kamu manggil, aku pastikan kamu bakal dapat mobil", sahut Arinta kesal.
"Kalau maunya hati kamu gimana."
Arinta berbalik dan melemparkan sendal kamarnya kearah Reagan yang sedang tersenyum ala-ala om pedofil.
...~Rilansun🖤....