
...••••••••••••••...
...Enggak mudah buat kamu untuk membiasakan diri dan juga enggak mudah buat aku untuk membuat kamu terbiasa......
...••••••••••••••...
...***...
Arinta tersenyum menatap seseorang yang tengah tertidur dengan lelap disampingnya. Entah sudah berapa lama Arinta melakukannya, ia pun tidak tau.
Semenjak Arinta membuka matanya dan mendapati wajah damai Reagan dihadapannya, sejak saat itulah Arinta mengamati mahakarya Tuhan yang sempurna tersebut.
Bahagia, satu kata yang dapat mendefinisikan suasana hatinya saat ini. Arinta bahagia karena Reagan ada disampingnya sekarang. Ranjangnya tak lagi kosong. Tidak seperti biasanya cowok itu yang akan selalu pergi diawal pagi untuk ke kantor. Dan hanya meninggalkan Arinta dengan sebuah sticky note diatas bantal.
Mengingat itu membuat Arinta mendengus keras. Menyebalkan.
"Kamu pasti capek", gumam Arinta sambil mengelus bawah mata Reagan yang tampak menghitam. Suaminya itu pasti sudah bekerja sangat keras. Arinta jadi merasa bersalah karena telah mencurigai Reagan yang tidak-tidak.
"Enggak capek setelah kamu kasih energi tadi malam", Reagan membuka matanya dan tersenyum menatap Arinta yang terlihat kaget. Buktinya cewek itu langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Membuat Reagan terkekeh geli.
"Malu?, udah telat sayang", ujar Reagan dan menarik pinggang Arinta untuk lebih mendekat padanya. Tentu saja tanpa melukai perut buncit yang berisi baby twins itu.
"Si-siapa yang malu", Arinta merutuki kegugupannya. Ya, Arinta malu mengingat permainan mereka yang panjang tadi malam. Mengapa juga Reagan harus berbicara tentang perihal itu. Yang berlalu biarlah berlalu, kenapa harus diingat kembali.
Reagan menyeringai, "Seriusan enggak malu?", tanyanya yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Arinta yang masih bersembunyi dibalik selimut, "Kalau gitu kita lanjutin aja gimana?", bisik Reagan sensual.
Blush
Pipi Arinta terasa memanas. Apakah Reagan tidak lelah. Kenapa cowok itu memiliki tenaga yang begitu kuat. Arinta saja rasanya ingin terus berbaring di ranjang sepanjang hari ini.
"Gimana Bunda?", bisik Reagan lagi. Ia ingin tertawa setelah mendengar suara detak jantung Arinta yang kuat, "Bunyi jantung kamu sampai ke telinga aku Arin", tambahnya.
Arinta yang mendengar pun itu lantas sontak memegang dadanya yang terasa berdebar. Sangat kuat, hingga Arinta ingin pingsan rasanya. Apakah ini tidak terlalu berlebihan.
"Bun-"
"Stop Reagan!", Arinta membuka selimutnya dan menatap nyalang Reagan yang malah tersenyum menyeringai kearahnya. Jika cowok itu terus menggodanya, Arinta tak yakin jika jantungnya masih tetap berada di tempat.
"Kamu itu-"
Cup
Reagan menyela ucapan Arinta dengan mencium sekilas bibir istrinya itu. Reagan merasa Arinta benar-benar sudah menjadi miliknya saat tadi malam. Ia merasa Arinta telah sungguh berada di dalam pelukannya, dan Reagan pastikan jika cewek itu tidak akan bisa melepaskan pelukan tersebut apapun yang terjadi.
"Pagi Bunda", ujar Reagan dengan senyuman lebarnya sambil mengelus lembut perut buncit Arinta.
Arinta memalingkan wajahnya yang terasa panas, "Enggak sopan", celetuknya atas tindakan Reagan yang tiba-tiba menciumnya.
"Itu masih dalam batas sopan", sahut Reagan, "Tapi bagi aku ini masih sopan juga kok", tambahnya seraya mengedipkan sebelah matanya.
Arinta melotot saat merasakan tangan Reagan yang merayap ke dadanya dari balik selimut. Arinta baru ingat kalau ia tidak mengenakan pakaian apapun di dalam.
"Papi nakal!", Arinta menepis tangan Reagan lalu melilitkan badannya dengan menggunakan selimut. Membuat Reagan tak tahan lagi untuk tertawa.
"Bunda gemesin", balas Reagan seraya mencium gemas bibir Arinta. Membuat cewek itu mengatupkan bibirnya kedalam. Agar Reagan tidak bisa menciumi nya lagi.
Reagan tertawa, "Janji gak lagi, udah jangan gitu bibirnya. Jelek tau, kayak monyet."
Heh, mulut sialan. Istri sendiri dikatain monyet, emang enggak ada akhlak si Reagan.
"Akhlak eobseo", balas Arinta dengan wajah yang datar menatap Reagan.
Reagan mengernyitkan dahinya, "Hah?, bakso?."
Arinta memutar bola matanya, "Ndas mu bakso."
Reagan yang tak paham pun hanya bisa menghela nafas dan menarik Arinta untuk mendekat.
"Sakit enggak semalam?", tanya Reagan pelan yang membuat Arinta membelalakkan matanya. Pertanyaan macam apa itu.
"Reagan kamu-"
"Aku nanya serius Arin", ujar Reagan dengan mimik wajah yang tampak serius.
Arinta menelan saliva nya. Apakah Arinta harus benar-benar menjawabnya. Ah, ya Tuhan Arinta malu.
"Rin", panggil Reagan saat tak mendapat respon dari cewek tersebut.
Reagan langsung memeluk Arinta seraya bergumam, "Maaf."
"Enggak perlu minta maaf", cicit Arinta. Ia merasa semakin tersentuh dengan tindakan Reagan. Mengapa cowok itu harus tercipta begitu sempurna. Walau terkadang menyebalkan.
"Kenapa?", tanya Reagan sambil menatap wajah Arinta.
"Ya karena itu udah kewajiban aku lah", jawab Arinta ngegas. Ia merasakan aroma yang tidak mengenakkan.
Reagan menyeringai, "Karena itu kewajiban kamu dan itu juga hak aku. Boleh enggak aku minta hak aku lagi?", tanyanya dengan menaik-turunkan alisnya menggoda.
Nah kan, Arinta sudah menduganya. Reagan tidak akan pernah bisa serius dengan suasana yang ada. Dasar perusak suasana.
"Kamu mau nyelakain anak kamu Reagan?", Arinta menatap flat suaminya itu.
"Eh emangnya baby twins kenapa?, kamu sakit perutnya?, kenapa enggak bilang dari tadi", cerocos Reagan sambil mengambil kaos nya dan memakainya secepat kilat, "Ayo ke dokter", Reagan mengulurkan tangannya kearah Arinta sambil menggenggam kunci mobil.
"Mau kemana?", tanya Arinta datar. Reagan itu terlalu berlebihan. Alay.
"Kuburan, ya rumah sakit lah. Ayo, nanti debay nya kenapa-kenapa gimana?."
"Aku sama debay nya baik-baik aja Reagan, kamu berlebihan tau enggak."
Reagan menghela nafas lega. Jantungnya hampir copot tadi saat Arinta bilang begitu. Reagan takut kedua anaknya kenapa-kenapa.
"Jadi kenapa bilang gitu, aku pikir perut kamu beneran sakit", gumam Reagan sambil merangkul Arinta.
Arinta tersenyum tipis, "Ya kalau kita ngelakuinnya sering nanti debay nya bakal terganggu", sahutnya sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Reagan. Membahas masalah itu entah mengapa terdengar sangat sensitif.
Reagan terkekeh, "Kamu anggap serius ternyata, aku canda doang padahal", ujarnya yang membuat Arinta mencubit pelan perut cowok tersebut. Berani-beraninya ngerjain Arinta.
"Bunda nafsu-an banget kayaknya", frontal Reagan.
Arinta mendongak dan mendelik tak suka kearah Reagan. Itu mulut kalau ngomong emang enggak pernah di filter dulu.
"Hehehe, canda sayang."
Arinta mendengus dan beranjak dari ranjangnya. Berjalan kearah kamar mandi dengan selimut yang melilit seluruh tubuh. Membuatnya sulit untuk berjalan.
Reagan yang melihat itu lantas menggelengkan kepalanya. Kemudian Reagan berjalan mendekat dan menggendong Arinta dengan tiba-tiba membuat cewek itu memekik tertahan.
"Berat banget kayaknya minta tolong", ujar Reagan sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Arinta terdiam. Minta tolong katanya?, yang ada Arinta akan terus di goda diatas ranjang. Jika tak di akhiri, maka mereka tidak akan bisa sarapan.
"Kamu enggak kerja?", tanya Arinta.
Reagan menatap istrinya itu, "Enggak, hari ini kan kita ke sekolah. Dan aku juga mau habisin waktu sama cewek yang suaminya sibuk kerja tapi malah dikira selingkuh", balasnya.
Arinta menatap bersalah Reagan. Dirinya merasa sangat berdosa sekarang, "Maaf."
Reagan tersenyum dan mencium kelopak mata Arinta yang sudah berkaca-kaca. Istrinya itu memiliki jiwa yang sangat melankolis. Hatinya terlalu rapuh.
"Untuk apa?."
"Karena aku udah enggak percaya sama kamu", cicit Arinta pelan.
"Kamu bukannya enggak percaya sama aku, tapi kamu justru enggak percaya sama diri kamu sendiri. Kamu bertanya pada diri kamu apa yang kurang dengan kamu, sampai aku bisa selingkuh. Iya kan?", tanya Reagan dan dibalas Arinta dengan sebuah anggukan kecil, "Cukup kamu percaya sama diri kamu sendiri, kalau enggak ada wanita lain yang bisa berdiri di samping aku. Disaat itulah kamu benar-benar merasa kalau udah menggenggam aku. Kalau kamu enggak bisa percaya diri sendiri, gimana kamu mau percaya sama aku", tambah Reagan sambil mencium sekilas kening Arinta.
"Paham?."
Arinta menganggukkan kepalanya.
"Aku tau Rin, semuanya terlalu cepat bagi kita. Enggak mudah buat kamu untuk membiasakan diri dan juga enggak mudah buat aku untuk membuat kamu terbiasa. Tapi kita bisa menjalankannya. Cukup percaya satu sama lain. Bisakan Bunda?", Reagan meletakkan Arinta diatas closet yang tertutup.
"Bisa Papi", sahut Arinta dengan kepala yang tertunduk. Seperti seorang anak yang tengah di nasehati oleh Ayah nya.
Reagan tersenyum lalu mengangkat dagu Arinta agar menatapnya, "Enggak ada yang bisa buat aku selingkuh dari kamu. Cuma kamu yang cantik, yang lainnya jelek", ujarnya. Kemudian mencium bibir Arinta dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Setelah raga mereka berdua bersatu tadi malam, Reagan memutuskan untuk menyatukan juga hatinya. Memberikan seluruh hatinya hanya untuk istrinya, Arinta Zarvisya Deltava seorang. Tidak akan ada lagi bayang-bayang masa lalu yang akan menghiasi perjalanan masa depan mereka kelak.
...~Rilansun🖤....
👇Anak bunda Renata yang suka banget bikin Arinta jantungan.