
...•••••••••••••••...
...Hati tolong jangan lemah, sebab aku lelah menyembuhkan mu yang selalu patah......
...••••••••••••••••...
...***...
Suara riuh dari klakson mobil menjadi musik pengiring purnama yang sedang bergelayut manja dilangit malam. Kerlap-kerlip lampu kota dan bintang sangat lah indah bila ditatap jauh kedalam samudra. Langit malam yang Sydney miliki mampu membuat siapa saja yang menatapnya berdecak kagum. Kota yang dijuluki sebagai kota pelabuhan itu memang memiliki pesona dan keunikannya tersendiri.
Tapi bagi seorang Reagan, langit malam saat ini tidak cukup mampu menghilangkan kegundahan yang menghantuinya. Padahal bulan sedang terang-terangnya diatas sana, seolah sedang menari bersama bintang-bintang. Dan ditambah dengan suguhan hamparan permadani biru yang memiliki seribu pesona dihadapannya pun tidak mampu membuatnya tersenyum lebar.
Reagan menerawang jauh kedalam kegelapan. Cowok itu tengah berpikir apakah keputusan yang telah ia ambil ini benar. Ia yakin jika diluar sana ada seseorang yang tengah merintih kesakitan. Bukannya Reagan tak ingin mencari, namun dirinya takut dengan kenyataan yang ada. Katakanlah Reagan pecundang, pengecut, atau bajing*n. Apa pun itu. Ia takkan menampik, sebab Reagan pun menyadari setelah kejadian itu ia memang sudah berubah menjadi laki-laki bodoh yang tidak berguna.
Reagan yang terlalu takut kehilangan orang yang disayanginya membuat ia harus menerima gelar sebagai cowok yang tak bertanggung jawab.
Cintanya lah yang mendorongnya untuk berbuat seperti itu. ia tak ingin menyakiti hati perempuannya, walau ia harus menyakiti hati perempuan lain diluaran sana.
Reagan memang bukan tipe yang romantis, tapi percayalah ia adalah tipe yang setia, yang rela melakukan apa pun untuk seseorang yang berarti dalam hidupnya. Menjaganya hingga keriput telah memenuhi wajah sampai waktunya yang perlahan habis ditelan penyakit.
Dan Reagan telah berjalan selangkah untuk menggapai semua itu. Tapi sekali lagi, apakah semua ini benar.
"Apa gue bisa bahagia sama Laily?", tanya Reagan terhadap dirinya sendiri. Cowok itu sudah menyukai Laily sejak lama, mereka dulu pernah satu SMP.
Reagan yang terlalu kaku pada waktu itu pun tidak menyadari perasaannya. Sampai ia paham jika ia telah jatuh hati terhadap Laily, tapi pada saat itu nasib Reagan sungguh malang. Niatnya ingin mengungkapkan perasaan harus diurungkan, sebab Laily yang sudah pindah keluar kota tanpa mengabarinya terlebih dahulu. Dan Reagan merasa jika ia ditinggal pada saat sedang sayang-sayangnya, dan itu sungguh menyakitkan.
Pada saat itu Reagan seperti orang gila yang frustasi. Sebab Laily adalah cinta pertamanya, Cinta monyetnya. Seseorang yang mengenalkannya pada perasaan yang tak pernah sama sekali ia singgahi.
Bahkan, Reagan pernah sampai jatuh sakit. Bagaimana tidak, tanpa komunikasi ia ditinggalkan begitu saja. Dan setelah bertahun lamanya, gadisnya kembali lagi dihadapan nya. Pada saat itu, Reagan berjanji jika ia tidak akan lagi melepaskan cintanya. Reagan akan menggenggam nya hingga tangan nya lelah dan berdarah.
"Gue pasti bisa bahagia. Setelah bunda, hanya dia yang gue cintai dan sayangi. Enggak akan ada kupu-kupu lagi yang boleh hinggap diatas singgasana gue. Enggak akan ada. Cukup satu kesalahan", ujar Reagan seperti janji sehidup semati. Lalu ia memejamkan matanya, menikmati belaian lembut sang angin pada wajahnya. Reagan mengingat kembali bagaimana terkejutnya kedua orang tuanya disaat ia mengatakan jika dirinya ingin menikah.
"Ayah, Bunda", Reagan memanggil kedua orang tuanya yang sedang berpelukan mesra didepan sofa ruang keluarga.
Lalu dengan satu tarikan nafas ia mengatakan niatnya yang membuat jantung sang Bunda ingin lompat keluar seketika.
"Aku mau nikah."
"Nikah?, Kamu tau enggak apa yang kamu bilang?, kamu kira itu apa?, mainan?", sarkas Renata dengan berkacak pinggang.
"Tidur aja masih ileran, sok mau nikahin anak orang. Mau dikasih makan apa?, batu", tambah Xavier dengan sinis.
Reagan membuka matanya dan menghela nafas ketika mengingat perjuangan nya meyakinkan kedua orang tuanya jika niatnya bukanlah main-main. Sehingga berakhir dengan ia berada disini untuk meminta restu dari keluarga besar Ayahnya.
"Woi, calon nganten. Masuk, udah malam", panggil Renata dari dalam kamar sang putra.
Reagan menoleh dan memutar kedua bola matanya, Bundanya itu salah pergaulan atau memang gaul. Ia heran dari segi mana yang membuat sang Ayah bisa tertarik pada Bundanya, "Iya" jawab Reagan singkat dan masuk kedalam kamarnya setelah menutup pintu balkon terlebih dahulu.
Sekarang biarkanlah semuanya mengalir sesuai alur yang telah diatur oleh Tuhan.
...***...
"Assalamualaikum, Rinta pulang" ujar Arinta lalu melihat ke sekeliling ruang tamunya yang sepi. Sepertinya kedua adik kembarnya itu belum pulang dari sekolah.
"Ayah dimana Bu?", tanya Arinta sambil membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin.
Sinta menoleh, "Eh, kamu kapan pulang. Kok Ibu enggak dengar", jawabnya dan kembali fokus dengan masakannya.
Arinta meminum air dingin yang baru saja dituangnya, lalu melirik kearah sang Ibu. "Barusan aja, Ibu terlalu fokus mungkin. Oh ya Bu, Ayah dimana?", tanya nya lagi.
"Ayah kamu ada dihalaman belakang", sahut Sinta tanpa menoleh.
"Kalau gitu Rinta ketempat Ayah ya Bu. Masakin Rinta setoples bawang goreng, sembunyikan untuk Rinta aja ya", Arinta berjalan kearah Sinta dan mencium pipinya sekilas, lalu berjalan kearah halaman belakang.
Arinta melihat punggung lebar yang membelakanginya itu. Pundak yang telah begitu banyak memikul beban itu tampak sedikit menurun, namun tidak menghilangkan kegagahannya. Ayahnya itu memang sangat tampan, baik dari belakang mau pun depan. Arinta yakin, disaat Ayahnya masih muda pasti begitu digilai banyak wanita.
"Ayah.....", panggil Arinta sambil memeluk ayahnya dari belakang, membuat Deri membalikkan badannya.
"Kenapa Arin nya Ayah?", tanya Deri lembut dengan mengelus puncak kepala sang putri.
Arinta memejamkan matanya dan mengingat lagi kejadian yang sangat menggores hatinya tadi.
"Baru tunangan sih. Nikahnya habis kita lulus dan semoga itu gue siap. Soalnya gila banget nikah muda. Gue masih mau ngejar almamater putih gue kali."
Kilasan balik itu membuat Arinta membuka lebar-lebar matanya dengan nafas yang memburu. Bahkan perkataan itu sudah lama diucapkan, tapi sakitnya masih sama dengan awal didengar. Bagai ribuan panah yang tepat sasaran menancap di jantungnya. Ingin mengambil nyawanya dengan gerakan yang sangat cepat. Tanpa memberikan nya jeda sedikitpun.
"Ayah...., di-dia jahat Ayah. Dia pergi gitu aja. Pecundang, dia pecundang Ayah. Bahkan bajing*n saja belum cukup untuk mendeskripsikan sifatnya. Dia harus masuk neraka Ayah, cowok kayak dia enggak pantas hidup", ujar Arinta panjang lebar dalam pelukan hangat ayahnya.
Deri menghela nafas. Kenapa putrinya kembali seperti ini lagi, "Siapa yang pantas mati sayang?, Siapa yang kamu maksud?", tanya Deri lembut sambil mengusap perlahan punggung putrinya yang bergetar.
Arinta menjinjitkan sedikit badannya lalu menyandarkan kepalanya diatas pundak Deri, "Di-dia ayah. Dia mau tunangan. Dia jahatkan ayah?", bisik Arinta lirih, seolah tak ingin ada yang boleh mendengarnya selain ia dan Ayahnya.
Deri membelalakkan matanya, baru kali ini putrinya itu mau membicarakan soal laki-laki yang telah merusaknya tersebut, "Tunangan?" tanya Deri memastikan.
Arinta mengangguk membenarkan.
Deri memejamkan matanya ikut merasakan bagaimana perihnya hati sang putri saat ini, "Yaudah, yang pentingkan Ayah ada disini. Enggak usah harapin dia datang peluk Arin, Ayah yang akan selalu peluk Arin. Walau ada panah yang mengarah ke kita, Ayah enggak akan melepaskan pelukannya. Ayah akan memeluk Arin sangat erat, supaya Arin enggak kena panahnya. Biar Ayah aja yang luka, jangan Arin nya Ayah", ujar Deri menenangkan Arinta yang sudah menangis meraung-raung.
"Hiks, Ayah akan selalu peluk Arin?", tanya Arinta disela-sela tangisnya.
"Selalu. Sampai Arin bosan, sampai Ayah dijemput ajal. Ayah akan peluk Arin seerat- eratnya", jawab Deri sambil mengeratkan pelukannya ditubuh rapuh Arinta, "Arin jangan nangis lagi, nanti Ayah juga ikutan nangis. Arin mau Ayah diejek sama Ibu karena udah enggak ganteng lagi?", Deri mencoba mengalihkan kesedihan sang putri.
"Jangan nangis, biar Rinta aja. Ayah enggak ganteng lagi kalau nangis", sahut Arinta.
Deri tersenyum, "Kalau gitu senyum dong biar Ayah tambah ganteng", celetuknya melepaskan pelukannya pada tubuh sang putri, lalu menarik kedua sudut bibir Arinta dengan jari telunjuk dan jempolnya yang besar.
Arinta tersenyum sambil menguraikan air mata, kemudian ia kembali memeluk laki-laki yang menjadi cinta pertamanya di muka bumi ini, "Tolong peluk Rinta ayah", pinta Arinta lirih.
Mendengar itu Deri mengeratkan pelukannya sambil berusaha menenangkan putri kecilnya yang sedang menangis.
Seperti sepuluh tahun silam disaat Arinta terjatuh dari atas tempat tidur dengan kaki yang keselo. Dan untuk itu gadisnya itu menangis seharian, menyalahkan kasurnya yang tak kuat menampung tubuhnya yang kecil. Dan saat ini Arintanya menangis seperti itu, bukan karena kasur. Tetapi karena seorang lelaki bejat yang tak bermoral.
...~Rilansun🖤....