
...•••••••••••••••...
...Jika kamu tidak tahu cara menghargainya, maka belajar lah untuk melepaskan nya........
...••••••••••••••...
...***...
Matahari telah begitu tinggi menyingsing. Cahaya nya masuk ke celah yang ada, menerpa salah satu wajah makhluk Tuhan yang sangat indah. Membuat sepasang bulu mata lentik itu terbuka secara perlahan. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke netra.
Reagan, cowok itu duduk menyandar dikepala ranjang. Menatap menyeluruh ke seantero kamar yang hening tanpa ada siapapun. Lalu, tatapan cowok itu jatuh kearah jam yang menggantung di dinding. Benda bulat berukuran sedang itu menunjukkan pukul 08:00 tepat. Membuat Reagan membulatkan matanya. Sudah selama itu kah ia berada dirumah orang.
Sadar jika itu bukan rumahnya. Lantas Reagan bangkit dari duduknya dan merapikan tempat tidur yang telah ditempatinya semalaman. Cowok itu lalu keluar dari dalam kamar, setelah memastikan jika ruangan tersebut telah rapi. Tapi memang pada dasarnya kamar Arinta itu rapi dan bersih. Jadi tidak banyak yang bisa ia lakukan.
"Reagan, udah bangun?"
Reagan tersentak ketika mendapati Deri dan Sinta yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Keduanya menatap Reagan lekat, membuat cowok itu mengangguk canggung. Menjawab pertanyaan yang dilontarkan Sinta.
Lalu setelah itu Deri pergi berlalu dari ruang tamu. Ayah dari tiga orang anak tersebut berjalan menuju halaman belakang rumahnya.
Reagan terkesiap saat Deri tidak membalas sapaannya. Ketika Pria itu melewatinya. Hal tersebut tentu saja menambah rasa canggung dan sedikit rasa bersalah dihati Reagan.
"Sarapan dulu yok", Sinta menepuk pundak Reagan yang masih terpaku kearah Deri. Ia paham jika Deri sudah sangat keterlaluan. Namun Sinta juga mengerti kalau Suami nya itu masih memiliki rasa amarah terhadap Reagan. Sinta akui Reagan memang bersalah. Bahkan ketika melihat wajah cowok itu, ingin sekali rasanya Sinta mengetuk kepala Reagan dengan sapu. Tapi, cowok itu juga manusia, sudah hak nya untuk diperlakukan seperti manusia lainnya.
Sinta yakin, jika semua yang telah terjadi adalah suratan takdir Tuhan untuk putri tercintanya.
Reagan menatap Sinta, "Ah, iya Tante", lalu cowok itu mengusap tengkuknya seraya bertanya dengan canggung, "Eum, boleh pinjam kamar mandi nya Tan?."
Sinta tersenyum sambil mengangguk, "Boleh. Kamu tinggal lurus terus belok kiri, tepat disamping dapur", instruksi nya memberitahu.
"Makasih Tan", Reagan lalu berjalan kearah kamar mandi sambil melihat sekeliling rumah. Mencari seseorang yang kamar nya ia pakai semalam. Namun nihil, sosok mungil itu sepertinya sedang tidak ada dirumah.
Setelah sepuluh menit lebih, Reagan keluar dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya.
"Sini, sarapan", ajak Sinta yang tengah menyiapkan makanan diatas meja.
Dengan langkah kaki yang gontai, Reagan menghampiri Sinta yang sedang mengaduk segelas susu.
"Duduk."
Reagan mengangguk dan menarik kursi lalu duduk dengan canggung. Sudah numpang tidur, sekarang ia juga menumpang makan. Benar-benar memalukan. Jika Xavier tahu mungkin Reagan akan dicap sebagai aib keluarga.
Sinta menyodorkan segelas susu kearah Reagan, "Ayo, dihabisin ya."
Reagan menatap Sinta yang berdiri disampingnya. Pantas saja Arinta memiliki sifat yang sangat baik. Ibu nya saja seperti malaikat.
"Makasih Tan", ujar Reagan tulus.
Sinta mengangguk, "Dihabisin", setelah mengatakan itu Sinta berlalu memasuki dapur. Meninggalkan Reagan yang menikmati sarapannya seorang diri dalam hening.
Beberapa menit kemudian Sinta kembali dengan secangkir kopi. Bersamaan dengan Reagan yang baru saja menghabisi sarapannya.
"Udah siap?", tanya Sinta berbasa-basi.
Reagan mengangguk.
"Kalau gitu Tante boleh minta tolong enggak?."
"Boleh bawain ini ketempat Om?", tanya Sinta dengan sungkan.
Reagan menoleh sekilas kearah kopi yang ada dinampan. Lalu cowok itu mengangguk. Mengantar kopi saja sangat lah mudah. Hitung-hitung sebagai balas budi nya kepada keluarga tersebut yang telah bersedia menampungnya satu malam.
"Sini Tan", Reagan mengambil alih nampan.
Sinta tersenyum simpul, "Makasih ya."
Reagan mengangguk singkat lalu pamit kepada Sinta untuk menuju ketempat dimana Deri berada.
Cowok itu membuka pelan pintu belakang yang tertutup. Lalu mendapati Deri yang tengah duduk dikursi panjang yang berada didepan sebuah kebun kecil.
Reagan melangkahkan kakinya kearah Deri dengan perasaan yang campur aduk. Walau ini sudah pertemuan kedua kali diantara mereka. Tapi mungkin ini adalah pertama kalinya mereka akan mengobrol untuk waktu yang lama.
Reagan meletakkan kopinya disamping Deri "Kopi Om", ujarnya.
Deri menoleh kearah Reagan sebentar lalu mengambil gelas yang berisi kopi itu dan menyeruputnya pelan.
"Duduk", titah Deri saat melihat Reagan yang hanya diam berdiri.
Reagan mengangguk dan menduduki dirinya disamping Deri yang tengah meminum kopinya.
Hening.
Keduanya terdiam tanpa ada yang berniat membuka suara. Sibuk dengan pemikiran masing-masing. Dan hal tersebut berlangsung lima menit lamanya.
"Ini udah kedua kalinya kamu tidur dengan anak saya", ujar Deri dengan masih menyeruput perlahan kopinya. Tanpa memandang kearah Reagan sedikitpun.
Reagan terkesiap. Cowok itu menundukkan kepalanya, "Saya minta maaf Om."
Deri tersenyum miring, "Sayangnya kata maaf dari kamu enggak bisa balikin Arin saya seperti semula."
Reagan terdiam seribu bahasa.
"Kalau kamu enggak tahu cara menghargainya, maka belajar lah untuk melepaskannya. Karena anak saya itu bukan cewek-cewek club yang biasa kamu jumpai", sindir Deri yang membuat Reagan meneguk salivanya payah. Pria itu sudah salah paham, walaupun Reagan sering pergi ke club. Tapi tidak pernah sekali pun ia bermain dengan cewek-cewek penghibur yang ada disana. Reagan masih sadar akan dosa.
"Saya salah Om."
"Kamu enggak salah. Saya yang salah, karena saya enggak bisa menjaga anak saya dari bajing*n seperti kamu. Laki-laki itu akan dihargai apabila ia bisa memperlakukan perempuannya dengan baik", sarkas Deri membuat Reagan semakin menciut. Tapi ia laki-laki, ucapan seperti itu tidak akan membuatnya berkecil hati.
"Saya akan tanggung jawab Om", tegas Reagan sembari menatap Deri.
Deri mengangkat sebelah sudut bibirnya, "Bagus kalau gitu. Karena anak saya itu ada harga dirinya. Kalau kamu mau bersamanya, nikahin. Kalau kamu enggak mau, lepaskan. Saya masih sanggup kok untuk merawat anak dan cucu saya", ujar Deri seraya bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Reagan yang masih terpaku dengan ucapannya.
Apakah makna dari ucapan Deri barusan adalah ia boleh menikahi Arinta?. Benarkah, Reagan kira jika Deri akan memukulnya terlebih dahulu. Walau tadi pria itu sempat mengatai dirinya dengan kata-kata yang menyakitkan. Tapi Reagan bisa terima, sebab dirinya memang lah bersalah.
"TUNGGU SAYA NANTI MALAM OM!", teriak Reagan setelah membulatkan tekadnya. Cowok itu meyakinkan diri bahwa dirinya yang sudah berbuat dan dirinya pula yang harus bertanggung jawab. Reagan juga enggak mau kalau anak nya kelak memanggil orang lain dengan sebutan Papa.
Tanpa berbalik Deri menyahuti ucapan Reagan, "Tepat waktu."
Reagan tersenyum. Sepertinya keluarga Arinta tidak seburuk yang ada dipikirannya. Harmonis dan sangat menyayangi satu sama lain. Benar-benar sebuah keharmonisan yang banyak didambakan semua orang.
...~Rilansun🖤....