Brittle

Brittle
Menyadari



...•••••••••••••••••••...


...Jangan menarik ulur hati, sebab jika terlanjur tertarik kau tidak akan bisa melepaskan nya lagi......


...••••••••••••••••••...


...***...


🎶Tinggal di istana, keluarga baru


Sekolah khusus kerajaan


Dunia ajaib pun menungguku


Aku senang sekali (Sofia pertama)


Cari tau jadi keluarga raja (Sofia pertama)


Cari jalan setiap hari bertualang


Inilah waktu ku......


Inilah diriku......


"SOFIA PERTAMA."


"Berisik anjim", Revo menabok kepala Riko dan Zidan yang berteriak dengan nyaring sambil menyerukan lirik terakhir film Disney yang sangat disukai Riko tersebut.


"Santai elah", Riko mengelus kepalanya yang terasa berdenyut. Memangnya ia salah bernyanyi, lagi pula cewek-cewek yang ada disekitarnya malah terlihat mengagumi suaranya barusan.


Jangan tanya mengapa Riko bisa menyukai kartun Disney tersebut. Bukan hanya Sofia the first, bahkan ia hampir menyukai seluruh tokoh princess yang ada di Disney. Jika disuruh mengulang kembali kisah princess yang ditontonnya, maka dengan sigap ia akan menceritakannya. Coba saja disuruh ulang apa yang dipelajari tadi dikelas, maka nol jawabannya. Orang kerjanya molor terus sih.


"Tau. Sensi amat, PMS mas?", tambah Zidan. Cowok itu sebenarnya tidak menyukai kartun sama sekali, tapi karena Riko sering bercerita dan mengajaknya untuk nonton bersama. Jadi ya gitu, ia mulai menyukai film-film Disney. Tapi ingat, tidak semuanya. Ia masih malu kali dengan tato yang ada di punggungnya.


Revo mengangkat bahunya acuh, "Kalian enggak punya lagu yang elit dikit apa?."


"Itu elit kok. Lo aja yang nggak tau."


"Hei Bambang, umur udah mau habis juga, nontonnya masih yang gituan."


"Daripada lo, nontonnya ku menangis melepaskan kepergian di-"


"Diem lo nyet", Revo langsung melempar kulit kacang yang habis dimakan nya kearah Riko. Mulut ember dasar.


Reagan menatap kosong kearah Revo, Riko dan Zidan yang bertengkar tentang tontonan siapa yang paling bagus.


Pikirannya masih berputar kedalam kejadian dua hari yang lalu, yang membuatnya tidak bisa tidur dengan pulas. Pertanyaan yang Gina lontarkan kepadanya seakan menjadi panah yang tajam menancap dihatinya. Mengapa ia menelpon gadis itu pagi-pagi sekali?, jawabannya adalah karena Reagan ingin tau hati siapa yang telah dirusaknya.


Namun, jawaban itu masih abu-abu.


"Lo kenapa sih?", tanya Ardean ketika melihat wajah Reagan yang terlihat sangat putus asa. Seperti suami yang kehilangan istrinya.


"Iya, muka lo dari kemaren-kemaren bentuk pantat ayam tau enggak?", celetuk Riko yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Reagan.


Mulut gue emang enggak tau kondisi


"Lo ada masalah?, cerita kekita kali. Walaupun kita sedikit enggak waras, Tapi kita masih bisa berpikir kok. Ya enggak?", Zidan merangkul Revo, namun langsung ditepis kasar oleh cowok yang memakai anting tersebut. Mana anting nya cuma sebelah lagi.


"Lo aja, gue enggak."


Zidan mencebikkan bibirnya, "Enggak solid lo ah."


"Solid sama lo?, ogah gue. Auto masuk RSJ gue kalau lama-lama sama lo", balas Revo. Antara mereka bertiga. Riko, Zidan dan Revo. Ya, Revo lah yang lumayan. Lumayan enggak malu-maluin.


Ardean memutar bola mata jengah, "Shut up dude", ujarnya dengan sedikit tekanan, membuat mereka langsung bungkam.


"Jadi, lo ada masalah apa?."


Reagan menatap Ardean yang bertanya barusan, lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah ketiga temannya yang lain.


Mungkin mereka akan mendengarkannya bercerita, tapi Reagan tak yakin bisa mendapatkan solusi yang baik. Terlebih Riko dan Zidan, pasti ada aja solusi nyeleneh yang mereka sampaikan.


Dengan berpikir matang, Reagan berdiri dan melangkahkan kakinya kearah pintu kantin. Ya, ia memilih tidak menceritakan kepada teman-temannya. Belum waktunya untuk ia bercerita.


"Huanjir, dia malah pergi seenak jidatnya?."


"Emang si ice bear enggak ada akhlaknya."


"Sebel ih sama mas Reagan, udah ditungguin juga. Kan gue punya solusi yang bagus untuk setiap masalah dia. Dari sakit gigi hingga sakit hati, gue ada obatnya", jangan tanyakan siapa yang berceloteh paling panjang dan alay itu. Sudah pasti Riko Surya Ibram, jawabannya.


...***...


"Eh, kamu kok disini?", tanya Laily yang baru saja keluar kelas bersama Arinta dan Gina.


Reagan tak langsung menjawab, ia lebih memilih memandang seorang gadis yang berada disisi kanan Laily.


"Re?", panggil Laily lagi dengan menyentuh lengan cowok yang terpaku dihadapannya itu.


"Ah, iya. Apa?", Reagan mengalihkan atensinya kearah Laily.


Laily mengerutkan keningnya, "kamu kenapa?."


"Enggak apa-apa."


"Lo kenapa disini sat?", ketus Gina membuat Reagan memandang sinis kearah sepupunya itu.


"Salah kalau gue nyamperin tunangan?"


Gina mendengus, sedangkan Laily langsung blushing seketika. Arinta?, gadis itu hanya diam membisu semenjak kehadiran si biang masalah dalam kehidupannya itu.


"Kamu udah makan?, aku mau kekantin nih. Barengan?", Laily merangkul manja tangan kekar calon tunangannya tersebut.


Reagan mengelus kepala Laily, "Kamu aja. Aku baru dari kantin tadi, habis ini mau ke kelas."


"Oh yaudah. Aku pergi duluan ya", Laily mengajak kedua sahabatnya itu untuk berjalan kearah kantin.


"Tunggu", Reagan menghentikan mereka, dan memegang salah satu tangan Arinta, membuat Laily dan Gina saling berpandangan dengan bingung.


"Nama lo Arinta?", tanya Reagan sambil melihat jika kedua tangan cewek itu tidak memakai gelang yang sama seperti punya Laily dan Gina.


Arinta gelagapan, ia takut sekaligus gugup,"I-iya", jawabnya sambil menunduk. Ia takut jika cowok brengs*k dihadapannya ini mengatakan apa yang telah terjadi diantara mereka. Jujur, Arinta belum sanggup dimusuhi oleh kedua sahabatnya.


Kemudian Arinta mengangkat kepalanya ketika merasakan sapuan halus ditelapak tangannya. Ia menatap tepat dimanik coklat terang yang juga tengah menatap dirinya.


Mereka saling memandang tanpa menghiraukan keadaan sekitar, menyelami mata masing-masing mencoba mencari kedamaian didalamnya. Namun bukan kedamaian yang Arinta dapatkan, tapi kecemasan dan rasa bersalah yang ia lihat didalam netra cowok blasteran tersebut.


Arinta melepaskan tangannya dari cekalan Reagan. Cukup, ia tak sanggup lagi menatap mata itu lebih lama. Itu hanya akan menyakitkan hatinya dan mengingatkan dirinya akan kejadian malam itu.


"Kenapa sih?", tanya Laily kepada Reagan, ia merasa cowok itu sedikit aneh hari ini.


Reagan melirik sekilas Laily, "Enggak ada", lalu tanpa pamit ia pergi dari hadapan ketiga cewek yang memiliki sangkut paut dalam hidupnya itu.


"Kenapa sih sepupu lo?"


"Lah mana gue tau, kan tunangan lo", jawab Gina sambil tersenyum tipis kearah punggung Reagan yang telah hilang ditikungan.


...***...


"Hai asam Jawa", Laily mengambil duduk tepat disamping Arinta. Setelah mengisi perut di kantin. Gina dan Laily segera menghampiri Arinta yang duduk sendirian dibawah pohon taman belakang sekolah. Arinta memang tidak ikut ke kantin, katanya cukup sekali waktu itu saja.


Arinta melirik sinis kearah Laily, "Aku masih marah sama kamu tau."


"Hehehe, ya maaf atuh", Laily menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan cengiran bodoh andalannya.


Arinta menghela nafasnya dan memalingkan muka kearah lain. Ia masih kesal dengan Laily, cewek itu mengatakan jika asam Jawa Australia itu memiliki rasa yang berbeda. Rupanya, itu cuma asam Jawa biasa yang sering ia makan. Sebenarnya Arinta juga salah sih, udah tau itu namanya asam Jawa, mana ada namanya asam Australia.


"Lo juga sih Lai. Udah tau asam Jawa itu seperti kehormatan dia sendiri, lo malah bercandain. Auto ngambek jadinya", cerocos Gina.


"Yee, itu gara-gara lo juga nyet. Kalau lo enggak pakai acara merajuk semalam itu. Gue kan enggak perlu bohongin si Arinta."


"Lah kok gue yang salah?."


"Emang lo yang salah!."


Arinta memandang jengah kearah dua orang yang masih berdebat itu. Masalahnya yang bermula dari asam Jawa. Namun malah merambat ke dress dan tas. Entah punya siapa itu, Arinta pun tidak tau.


"Jadi kamu tunangannya kapan Lai?", tanya Arinta tiba-tiba, membuat kedua orang itu menghentikan perdebatan unfaedah nya.


"Akhir bulan ini sih katanya, lagipula acaranya itu privasi banget dan sederhana. Kata calon pamer gue, kita itu masih sekolah. Jadi enggak usah buat acara gede-gede, entar gue disangka nikah karena kecelakaan lagi", jawab Laily sambil tersenyum-senyum sendiri.


Kecelakaan.....


Arinta menggangukkan kepalanya paham. Ia memandang lurus kedepan ketika mendengar kata kecelakaan. Entah untuk keberapa kalinya, lagi-lagi Arinta menertawakan dirinya sendiri. Ia celaka, tapi belum diobati. Luka itu hanya dibalut perban, tanpa diberi obat.


Akhir bulan ini, berarti itu dua minggu lagi. Setelah itu Arinta berharap ia dapat memulai semuanya dari awal dengan tenang, tanpa harus takut cerita itu dibuka. Karena jika Reagan menikah, otomatis semua cerita kelam itu ikut terkubur bersama kebahagian. Baik Reagan, maupun Arinta.


...~Rilansun🖤....