
...•••••••••••••••••...
...Semua orang pasti bisa bahagia, namun terkadang takdir memberikannya dengan cara yang berbeda-beda.........
...•••••••••••••••••...
...***...
Reagan menatap langit yang gelap tanpa ada satupun bintang yang menemani. Sepi, dengan udara dingin yang mencekam. Gerimis turun tiada hentinya dari tadi sore. Membuat semua orang lebih memilih duduk berdiam diri dirumah menikmati waktu bersama keluarga.
Tapi disini, Reagan duduk sendirian ditengah gelapnya kamar tanpa ada satupun penerangan. Setelah adu jotos dengan Ardean dikantin. Cowok itu memilih untuk langsung pulang kerumahnya. Tak peduli sudah berapa kali ia bolos dalam sebulan ini. Saat ini Reagan hanya perlu menjernihkan pikirannya dalam beberapa waktu.
Sebab perkelahiannya dengan Ardean adalah suatu hal yang tak lazim. Dari keempat temannya, yang paling Reagan segani adalah Ardean. Karena cowok itu selalu ada kapanpun Reagan membutuhkan. Dan terhitung ini adalah pertikaian mereka yang kedua setelah lima tahun lamanya. Jadi Reagan merasa sedikit bersalah walau lebih banyak kesalnya kepada Ardean.
Lepasin kalau lo cuma bisa buat dia sakit, karena bidadari kayak dia enggak pantes buat iblis kayak lo. Dan gue masih waras untuk enggak menyia-nyiakan cewek baik kayak dia
"Sialan", umpat Reagan seraya meninju kasur yang ada disampingnya. Kalimat yang diucapkan Ardean itu selalu berputar-putar dikepala Reagan. Membuatnya tak habis memikirkan perihal itu terus-menerus.
Kemudian pandangan cowok itu teralih menatap benda tipis panjang yang ada diatas nakas disampingnya. Reagan mengambil benda yang sudah terletak lebih dari seminggu diatas nakas kamarnya itu. Cowok itu lupa mengembalikannya, dan mungkin siempunya juga lupa kalau ponselnya masih ada bersamanya.
"Alay!", gumam Reagan ketika melihat galeri ponsel Arinta yang berisi foto-foto cowok. Dari yang lokal, Korea hingga Barat, semuanya lengkap. Reagan tak menyangka jika si cupu itu juga salah satu penggemar berat cogan-cogan yang nyaris memenuhi galeri ponsel cewek itu. Bahkan foto Arinta dapat dihitung dengan jari.
"Apaan. Ganteng-an gue juga", cibirnya tak suka. Lalu entah apa yang merasuki Reagan, cowok itu tiba-tiba mengambil gambar dirinya sendiri dan menyimpannya di galeri ponsel Arinta. Setelah itu Reagan membandingkan fotonya dengan cowok-cowok tersebut. Senyumannya merekah puas ketika merasa dirinya lah yang paling tampan diantara semuanya.
Ketika Reagan ingin melihat-lihat lebih banyak isi galeri tersebut. Namun terdengar ketukan di pintu kamarnya membuat Reagan mengumpat. Tidak bisakah membiarkan dirinya tenang untuk beberapa saat.
"Mas."
Tok tok tok
Terdengar suara Bik Surti dari luar yang memanggilnya. Lantas Reagan meletakkan ponsel itu diatas nakas seraya menghidupkan lampu nakas.
"Kenapa Bik?", sahut Reagan tanpa bergerak sama sekali dari ranjangnya.
"Dipanggil Bapak mas", jawab Bik Surti
Reagan menghela nafasnya dan bangkit membukakan pintu, "Kenapa?", tanyanya dengan berdiri diambang pintu.
Bik Surti tak langsung menjawab. Wanita paruh baya itu menatap kedalam kamar anak majikannya tersebut. Dan kaget melihat kamar Reagan yang gelap. Takut cowok itu melakukan hal yang aneh-aneh.
"Mau tidur mas?", tanya Bik Surti.
Reagan menggeleng dan menutup pintu kamarnya.
"Ayah ada dimana?", tanyanya.
"Di ruang kerja mas."
Reagan mengangguk dan tanpa berkata apapun segera berlalu dari hadapan wanita paruh baya itu. Cowok itu memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana seraya menuruni anak tangga dengan santai. Reagan sudah tau apa yang ingin dibahas Ayahnya itu. Pasti tidak jauh-jauh dari kejadian hari ini.
Ceklek
Reagan membuka ruang kerja Xavier dan mendapati Ayahnya itu tengah memangku Ibunya sambil bercumbu mesra.
Reagan memejamkan matanya dan menutup kembali pintu itu dari luar dengan sangat keras sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring.
Brak
"Sialan!", umpatnya pelan. Lalu cowok itu menyandarkan tubuhnya didepan pintu. Memberi waktu untuk sepasang kekasih tersebut. Seperti ini sudah makanan sehari-harinya sejak ia masih kecil. Orang tuanya itu memang tidak tahu tempat. Dimana saja jadi.
"Masuk!"
Reagan masuk setelah sepuluh menit menunggu diluar pintu. Cowok itu berjalan santai kearah Ayahnya yang duduk dikursi kerjanya. Menjatuhkan bokongnya dikursi didepan Xavier seraya mengedarkan pandangannya mencari sang Ibu. Setelah mendengar suara air dari kamar mandi. Reagan pun menatap sepenuhnya kearah Xavier.
"Kenapa?", tanya Reagan berbasa-basi. Padahal ia sudah tau apa topik pembicaraannya dengan Xavier nantinya.
"Maksudnya apa?", Xavier menyodorkan ponselnya kepada Reagan. Yang langsung diambil oleh cowok itu dan membaca pesan yang ditunjukkan Ayahnya.
Xavier menghela nafasnya, "Mau jelasin?", tanyanya datar.
Reagan menatap Xavier sebentar lalu menjawab, "Masalah anak muda."
Xavier mengangguk-anggukkan kepalanya, "Karena cewek?."
Reagan memalingkan wajahnya ketika Xavier menatap remeh dirinya, "Lebih tepatnya karena anak."
Xavier tertawa. Merasa lucu mendengar putranya yang baru berusia 18 tahun menyebut tentang anaknya sendiri.
"Udah tau itu anak kamu, tapi masih enggak mau tanggung jawab?", Xavier dengan cepat kembali mengubah mimik wajahnya dengan datar.
Reagan menghembuskan nafas ketika tahu kemana arah pembicaraan Xavier, "Enggak semua bentuk tanggung jawab itu menikah."
"Jadi kamu mau anaknya tanpa mau ibunya?. Kamu pikir kita hidup di negara mana?, yang bebas punya anak tanpa ada suatu ikatan pernikahan. Ini Indonesia Reagan, masyarakat disini sangat tabu membahas soal hamil diluar nikah. Kamu enggak pikir gimana menderitanya dia mendapatkan hinaan dan caci-makian. Kalau anak kamu udah besar nantinya, apa kamu enggak takut anak kamu dipanggil anak haram?!."
"Tapi Reagan enggak cinta dia Yah. Reagan enggak mau habisin sisa hidup dengan orang yang enggak Reagan cintai. Disini Reagan juga hancur Yah. Cewek yang Reagan cintai pergi ninggalin Reagan gitu aja!", jawab Reagan dengan suara yang sedikit meninggi.
"Kamu satu orang kan yang ninggalin kamu?, Lalu dia?, mungkin udah banyak orang yang lemparin dia pakai telur, mencaci maki dia dengan kata-kata yang merusak mental. Kamu itu egois!, kamu cuma mikirin susahnya kamu, tapi kamu enggak mikirin susah orang yang udah kamu rusak!"
Xavier memalingkan wajahnya ketika melihat kegundahan yang sangat nyata didalam netra coklat terang yang sama persis seperti Renata. Sebejat apapun Reagan, tetaplah anaknya, darah dagingnya. Melihat terpuruknya Reagan, membuat hati Xavier terasa sakit.
"Nikahin dia!", ujar Xavier tiba-tiba membuat emosi Reagan membuncah seketika.
Prang
Reagan menjatuhkan vas bunga yang ada diatas meja kerja Xavier dengan kasar. Cowok itu berdiri seraya menatap tajam Ayahnya.
"Jangan. pernah. ikut. campur. urusan. gue!", Reagan menekankan setiap kalimatnya. Serta merubah kata ganti dirinya menjadi lo-gue. Membuat Xavier menatap tajam kearah putranya. Ini pertama kalinya Reagan melawan dirinya segitunya.
Renata keluar dari kamar mandi dan membulatkan matanya seraya menutup mulutnya terkejut. Menatap pecahan yang ada dilantai lalu menoleh kearah suami dan putranya secara bergantian.
"Kenapa ini Reagan", tanya Renata mencoba mengelus lengan putranya. Namun langsung ditepis kasar oleh Reagan. Membuat Renata kaget. Walau marah, Reagan tidak pernah bertindak kasar seperti itu terhadap dirinya.
Merasa tak rela istrinya diperlakukan seperti itu, Xavier berdiri seraya membentak keras putranya, "REAGAN!"
Reagan hanya memalingkan wajahnya. Tak kuat melihat air mata yang turun dari mata Bundanya. Ia merasa menjadi anak yang sangat durhaka sekarang.
"Masalah Reagan, biar Reagan sendiri yang selesaikan. Reagan bukan bocah belasan tahun yang masih mengadu ke orang tuanya. Reagan udah gede, bentar lagi udah mau punya anak", ujar Reagan dan segera melangkah pergi keluar dari dalam ruang kerja Ayahnya.
Cowok itu tak mau berada lebih lama disana dan menyakiti kedua malaikatnya dengan tindakan dan perkataannya. Biarkan ia merenungkan hidupnya. Keputusan apa yang ingin cowok itu ambil untuk jalan hidupnya, hanya dirinyalah yang paling tahu.
...***...
"Ibu", Arinta memanggil Sinta yang telah memejamkan matanya. Malam ini ia ingin sekali tidur dengan ibunya. Dan hal itu tentu saja membuat Deri tak terima. Karena biasanya jika Arinta ingin tidur memeluk Sinta, selalu membawa serta dirinya. Tetapi malam ini berbeda.
Sinta membuka matanya dan menatap Arinta, "Kenapa, hm?"
Arinta cemberut dan menunjuk kearah perutnya yang terasa keram. Merasa paham, Sinta pun tertawa pelan. Lalu dengan sigap Wanita itu mengelus lembut perut putrinya.
"Cucu Oma nakal ya. Udah malam enggak juga tidur-tidur", kelakar Sinta yang tidak ditanggapi Arinta. Hal itu terlalu sensitif untuk dibahas.
"Ibu", panggil Arinta, "Apakah perempuan yang udah dinodai masih bisa bahagia?", pertanyaan tiba-tiba yang membuat Sinta menatap intens putrinya serta pergerakan tangannya diperut Arinta menjadi terhenti.
Beberapa detik kemudian, Sinta kembali mengelus perut Arinta seraya tersenyum menjawab, "Percayalah kalau Semua orang pasti bisa bahagia, namun terkadang takdir memberikannya dengan cara yang berbeda-beda. Begitupula dengan Rinta, mana tega Tuhan membiarkan putri ibu yang cantik ini terus hidup dalam kesedihan."
"Emang kamu sekarang enggak bahagia?", tanya Sinta balik.
Arinta menatap Sinta dan menggelengkan kepalanya, "Rinta selalu bahagia kalau ada Ibu dan Ayah", jawabnya dengan menenggelamkan wajahnya di dada Sinta.
Arinta menanyakan itu karena ia tiba-tiba mengingat tentang perkelahian Reagan dan Ardean hari ini yang ia ketahui dari Alya. Dan cewek itu mengatakan kalau kedua laki-laki itu berkelahi karena dirinya. Tentu saja hal itu membuat Arinta kaget. Sebab tidak ada satupun niatnya untuk menghancurkan pertemanan orang lain. Karena ia merasakan sakitnya dimusuhi oleh sahabat sendiri.
Dan sepertinya Arinta harus mulai menjauh dari Ardean. Sebab nampaknya Tuhan tidak mengizinkan seseorang hadir dalam hidupnya.
...~Rilansun🖤....