Brittle

Brittle
Jangan menyerah



...•••••••••••••••••...


...Mulai sekarang dan seterusnya, kamu tidak lagi kunamai sebagai harapan......


...••••••••••••••••••...


...***...


Gina mengendarai mobil dengan kecepatan yang lumayan, jika ia membawanya dengan kecepatan tinggi, takut dua orang tua yang berada dibelakangnya akan terkena serangan jantung mendadak.


Tadi disaat Gina dan Reagan pergi kerumah Arinta. Orang tua gadis itu mengatakan jika Arinta izin kepada mereka untuk pergi menginap ke rumah Gina. Setelah Gina mengatakan kalau Arinta tidak ada dirumahnya, Deri dan Sinta memutuskan untuk ikut mencari Arinta bersama Gina. Kemana perginya anak gadis mereka malam-malam begini.


Sedangkan Reagan, cowok itu berboncengan dengan Raka menggunakan motor, diikuti Saka yang juga turut berpencar mencari.


Deri menghela nafasnya seraya menatap kejalanan disampingnya, matanya bergulir mencari, berharap jika anak perempuannya ada ditepi jalan. Tapi nihil, tidak ada sosok mungil yang dicarinya. Bahkan orang-orang yang berlalu lalang pun bisa dihitung. Malam-malam begini, siapa yang mau berkeliaran di jalanan jika tidak ada kepentingan.


Deri menyalahkan dirinya yang tidak bisa mengetahui apa masalah Arinta. Gadis itu sudah tidak seterbuka dulu dengannya.


Deri memutar kembali kilasan kejadian dikamar Arinta. Ia terkejut disaat dirinya sudah berhasil mendobrak pintu dan mendapati putri nya yang tergeletak pingsan dilantai kamar. Satu jam Arinta pingsan dan setelah bangun dengan manja ia meminta Deri untuk memeluknya tidur sampai jam sembilan malam. Lalu setelah itu Arinta meminta izin untuk menginap dirumah Gina, tanpa mau menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya. Tapi yang membuat Deri gelisah adalah testpack yang ia temukan dikamar Arinta, Deri tak tau punya siapa benda itu. Tapi ia bukanlah seorang yang bodoh, namun ia juga takut jika pemikirannya itu adalah benar.


"Arin", gumam Deri sambil memejamkan matanya. Kemudian ia merasakan sapuan halus ditangannya, disaat ia membuka mata, senyuman manis menenangkan dari istrinya yang ia dapati.


"Semuanya pasti baik-baik aja", ujar Sinta dengan lembut.


Deri menghela nafas panjang. Ya, ia berharap semoga semuanya baik-baik saja.


Gina menghentikan mobilnya didepan sebuah toko yang buka 24 jam, setelah melihat Raka dan Saka berhenti disitu. Kemudian Gina dan kedua orang tua Arinta segera keluar dari dalam mobil.


"Gimana?", tanya Gina tak sabaran kepada Reagan. Namun bukan cowok itu yang menjawab, Raka yang mendahului memberitahu.


"Kata ibuk itu, dia tadi lihat cewek yang masuk kedalam gedung itu", Raka menunjuk gedung tua yang berada diseberang, "Terus dia samperin, tapi cewek itu diam aja. Jadi ibuk ini takut dan ngira kalau cewek itu hantu. Ya lo pahamlah dengan people plus 62. Semuanya disangkut pautkan dengan hal-hal berbau mistis. Siapa tau si cewek itu bisu ya kan, atau dia habis diperkosa jadi trauma dekat-dekat sama orang", sebuah pukulan mendarat dikepala Raka setelah ia mengucapkan hal konyol tersebut. Siapa lagi pelakunya jika bukan kembaran laknatnya.


Raka mengelus kepalanya dan memandang sinis Saka, "Setan", umpatnya.


Saka mengangkat bahunya, "Bukannya gedung itu, gedung- Argh, sialan!", Saka segera berlari menuju gedung tersebut. Ketika mengingat jika gedung itu adalah gedung yang ditunjuk Raka disaat mereka duduk ditepi jembatan, setelah menggagalkan rencana bunuh diri Arinta. Saka berharap jika Arinta tidak melakukan hal bodoh lagi.


"Jangan ingkari janji kak", gumamnya sambil terus berlari.


Kelima orang yang masih berdiri disitu, lantas menatap bingung kearah Saka.


"Woi, lo yang perkosa cewek itu ya?", teriak Raka asal yang sekali lagi mendapat pukulan dikepala dari Ayah nya.


Saka berbalik tanpa menghentikan larinya, "Kak Rinta!", teriaknya.


Raka mengerutkan keningnya mencoba mencerna apa yang dibilang Saka. Lalu ia langsung mengutuk otaknya yang lamban memahami sesuatu. Raka terkadang bingung, mereka kembar, memiliki banyak kesamaan, terlahir dari tempat yang sama, pernah berbagi rahim untuk hidup. Tetapi mengapa otak Saka itu lebih encer dari pada dirinya. Ah, ia selalu kesal jika memikirkan hal itu.


"Apa yang dimaksud Saka?", Gina menepuk pundak Raka lumayan keras, membuat cowok itu meringis kesakitan.


"Ah elah kakak macho santai dong", Gina memutar bola matanya malas, giliran Laily dipanggil cantik, ia dipanggil macho. Jika saja Raka tau kalau Gina itu adalah most wanted girl nya Allandra, kelar hidupnya.


"Apa maksud Saka, Raka?", tanya Deri membuat Raka tak berani lagi bertele-tele.


"Dulu Raka pernah bilang sama kak Rinta, kalau gedung itu adalah tempat yang lebih cocok buat tamatin hidup dari pada sungai", ujar Raka sambil menundukkan kepalanya.


Deri membelalakkan matanya, "Bunuh diri?", gumamnya dan ia langsung berlari menyusul Saka. Deri juga tau kalau Arinta pernah ingin bunuh diri, tapi Deri tidak pernah menyangka jika putri satu-satunya itu akan mengambil tindakan konyol itu lagi.


"Sialan, gue selalu ditinggal", umpat Raka ketika melihat mereka semua berlari menyusul Saka.


"SAKA!", Deri berteriak memanggil putranya.


Saka berbalik dan menghampiri kedua orang tuanya.


Sementara itu Reagan tak menghentikan larinya, ia terus berlari menaiki anak tangga tanpa menghiraukan apa yang terjadi disekitar nya. Kini satu yang ia pikirkan, anaknya. Jika apa yang Gina bilang itu adalah benar, maka Reagan tak akan mengizinkan Arinta melukai anaknya. Persetan dengan cara kehadirannya yang salah, itu tetaplah anaknya, darah dagingnya.


Reagan menatap nyalang kearah pintu rooftop yang terbuka. Sepertinya apa yang Raka bilang itu adalah benar. Kemudian Reagan berjalan mengendap-endap, ia tak boleh gegabah, taruhannya adalah nyawa anaknya sendiri.


Cowok itu membelalakkan matanya menatap seorang gadis yang berdiri di atas dinding pembatas sambil merentangkan kedua tangannya. Pantas saja ibuk-ibuk yang tadi ketakutan. Melihat gaun putih polos yang dikenakan Arinta dan rambut hitam sepunggungnya yang tergerai, siapa saja pasti akan bergidik ngeri dan mengira jika gadis itu adalah makhluk astral.


Reagan mendekati gadis tersebut, ia berlari ketika melihat Arinta yang sudah siap menjatuhkan dirinya kebawah.


Grep


Reagan memeluk Arinta dari belakang. Mencegah gadis itu untuk melakukan tindakan sesat tersebut. Disaat Reagan mendengar gumaman kata maaf dari bibir Arinta, Reagan merasa menjadi pria yang paling bejat di muka bumi. Seharusnya bukan Arinta yang meminta maaf, ia lah yang seharusnya meminta maaf sambil berlutut memohon ampun.


Arinta terkejut saat merasakan pelukan erat diperutnya. Cewek itu membalikkan badannya melihat orang yang telah lancang tersebut. Namun, ia langsung ditarik turun dan dipeluk dengan eratnya. Arinta merasa jika pelukan ini hampir sama dengan hangatnya pelukan Deri.


"Maaf, maafin gue", gumam Reagan diceruk leher Arinta.


Arinta membelalakkan matanya mendengar suara yang familiar tersebut dan dengan gerakan refleks Arinta memukul punggung Reagan dengan kedua tangannya yang terkepal erat.


"Lepasin!", Arinta memberontak dan mencoba mencegah air matanya untuk turun. Tapi nihil, buliran-buliran tersebut terus saja berlomba-lomba untuk turun dengan mendesak.


"Maafin gue, please", Reagan tambah mengeratkan pelukannya, membuat Arinta berhenti memberontak. Arinta menangis didada Reagan.


"Hiks, kamu jahat, bajing*n, pecundang, iblis, hiks, kamu udah hancurin hidup aku. Kamu dan anak sialan ini–"


Cup


Arinta bungkam ketika Reagan dengan beraninya mencium bibirnya. Arinta bisa merasakan ada kemarahan dan penyesalan dimata Reagan. Seharusnya ia yang marah disini, jelas dirinya adalah korban.


Reagan sedikit menggerakkan bibirnya di bibir Arinta yang terkatup rapat. Cowok itu menatap nyalang ke mata Arinta. Entah dorongan dari mana ia berani mencium Arinta, mungkin ego nya sebagai seorang Ayah yang tak menerima jika Arinta mengatai anaknya. Reagan menerima jika dirinya yang dicaci maki, tapi untuk anaknya, ia tak akan menerima itu.


Reagan menjauhkan dirinya, menatap Arinta yang mematung, "Jangan bawa pergi anak gue", tekannya.


Bugh


"Jadi lo bajing*n yang udah ngerusak kakak gue", Saka memukuli Reagan tiba-tiba membuat cowok itu kehilangan keseimbangannya.


Sebenarnya Saka dan yang lainnya sudah berada di rooftop ketika Reagan memeluk Arinta. Mereka semua kecuali Gina, berfikir jika itu hanya tindakan yang mencegah Arinta untuk menjatuhkan dirinya kebawah. Tapi setelah mendengar penuturan Reagan, mereka paham jika laki-laki yang selama ini dilindungi Arinta adalah Reagan.


Bugh bugh


Saka memukuli Reagan membabi buta. Sementara itu Arinta langsung dipeluk oleh Deri dan Sinta. Raka mencoba menghentikan Saka, gantian dong, ia kan juga ingin memukuli Reagan. Sedangkan Gina, gadis itu menyadar di dinding sambil menatap sepupunya yang sengsara. Salah sendiri, udah ngerusak anak gadis orang tapi malah mau tunangan sama orang lain. Mana kedua orang itu sahabatnya lagi.


"Bangs*t, gue seneng banget", seru Raka kegirangan dan gantian memukuli Reagan.


Reagan pasrah, tidak ada niat melawan. Reagan sadar, jika ia salah. Kalau pun mati, ia akan tenang. Setidaknya Reagan udah melindungi anaknya tadi, dan ia juga sudah merasakan bagaimana rasa memeluk anaknya.


"Berhenti Raka!", ujar Arinta serak. Ia berjalan mendekati Reagan yang telah babak belur. Lalu Arinta memangku kepala Reagan ke atas pahanya, membuat semua orang yang berada disana menjadi bingung dan terheran-heran.


Arinta menyobek ujung gaun nya, lalu menyeka darah diujung bibir dan pelipis Reagan.


"Kak Rinta!", teriak Saka murka, tapi tidak dihiraukan Arinta.


Reagan membuka matanya dengan susah payah dan menatap bingung kearah Arinta.


Arinta yang paham pun langsung berujar dengan datar, "Kamu mau anak ini kan, kalau gitu kamu harus hidup."


...~Rilansun🖤....