Brittle

Brittle
Menantu?



...••••••••••••••••...


...Salah satu kebiasaan manusia yang tidak bisa dilepaskan adalah menghina orang tanpa tau apa sebabnya......


...••••••••••••••••...


...***...


Pria tampan berwajah asing itu berjalan mendekati Arinta yang masih terdiam ditempat. Mengelus kepala cewek itu, membuat Arinta membelalakkan mata karena kaget. Melihat itu, pria dengan stelan mahalnya tersebut terkekeh dan mencubit pelan pipi Arinta.


Sedangkan Arinta, cewek itu hanya bisa terpaku dengan apa yang dilakukan pria yang tak dikenalnya tersebut. Pria yang mengklaim jika dirinya adalah menantunya. Mungkinkah pria tersebut adalah seorang pasien RSJ yang kabur.


"Menantu saya enggak boleh ditindas", bisik pria tersebut membuat bulu kuduk Arinta meremang seketika. Bukan apa-apa, tetapi jika benar orang yang dihadapannya ini adalah orang gila. Maka segala resiko bisa saja dilakukan kepada dirinya. Membayangkannya saja sudah membuat Arinta bergidik ngeri.


"Si-siapa yang menantu bapak?", Arinta memberanikan diri bertanya. Sebab dari tadi hanya menantu dan menantu yang ia dengar dari mulut pria tersebut. Namun, bukannya menjawab. Pria tersebut hanya tersenyum sambil mengelus kepala Arinta. Lalu menatap menyeluruh semua orang yang ada disana. Hingga tatapannya jatuh kearah wanita paruh baya yang tengah berdiri sambil menunduk.


Lantas pria itu berjalan kearah wakil kepala sekolah tersebut dan dengan angkuhnya mengusir wanita itu dari kursi utama. Dan duduk di kursi tersebut dengan satu kaki yang diangkat. Benar-benar dominan.


Itu siapa sih?, Ganteng banget.


Udah punya istri gak sih dia?, Kalau duda mah saya mau mendaftar jadi ibu tiri.


Dengar-dengar, dia itu yang punya ini sekolah.


Gayanya keren banget astaga, udah kayak sugar daddy.


Kalau kata anak jaman sekarang. Nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustai.


Yang jadi istrinya beruntung pake banget itu.


Terdengar bisik-bisik dari para ibu-ibu wali murid. Yang membuat seorang laki-laki memutar bola matanya malas.


Arinta menoleh kesamping kirinya ketika merasa seseorang mendekatinya. Seseorang yang membuat Arinta berteriak konyol tadi.


"Kenapa kamu disini?", Arinta bertanya dan mengalihkan pandangannya kedepan, "Mau lihat gimana hancurnya aku?. Enggak usah, sejak pertama kali aku dekat kamu. Kamu udah berhasil buat hidup aku hancur sehancur-hancurnya. Berantakan tanpa sisa", Arinta melirik laki-laki tersebut sambil tersenyum miris dan kembali mengalihkan tatapannya kedepan. Matanya sakit jika melihat laki-laki itu.


Reagan terhenyak dengan senyuman terluka Arinta. Ya, laki-laki itu adalah Reagan Zarvio Allandra. Dan pria yang duduk angkuh didepan sana adalah Ayahnya. Reagan memutuskan untuk memanggil Xavier kesekolah ketika melihat Arinta yang dilempari oleh para wali murid tadi. Walaupun Reagan adalah anak pemilik sekolah. Tetapi ia tidak punya hak sama sekali untuk bertindak. Statusnya di Allandra sama seperti pelajar lainnya yang menuntut ilmu.


Jika ditanya mengapa Reagan melakukan ini semua. Bukan karena ia sudah mempunyai perasaan terhadap Arinta. Tetapi ada perasaan tak rela ketika melihat cewek itu dibully seperti itu.


Reagan menatap wajah Arinta dari samping, "Hidup gue juga hancur kalau lo tau", sahutnya membuat Arinta menatap kaget cowok tersebut.


Arinta bisa melihat ada binar kesedihan yang sangat mendalam dimata Reagan. Terluka dan kosong. Tetapi disini, Arinta lah yang menjadi korban. Dan selalu korban yang memiliki luka paling banyak.


Arinta membuang pandangannya. Ia bukanlah sosok yang berbelas kasih terhadap orang yang telah melukainya. Rasa simpatinya telah mati ketika cowok itu merenggut paksa kehormatannya.


Sedangkan Reagan, cowok itu tersenyum masam. Entah berapa banyak luka yang ia toreh dihati cewek yang berdiri disampingnya itu. Lalu pandangannya beralih ketika mendengar suara gebrakan meja.


Brak


"Lalu kenapa kalau dia hamil?, Sah-sah saja bukan kalau perempuan hamil. Emangnya anda semua tidak pernah sekolah?, pantas saja ucapannya seperti anak-anak yang ada di jalanan", ujar Xavier datar plus sinis. Emosinya memuncak ketika mendengar hinaan dari seorang wali murid untuk calon menantunya.


"Ta-tapi Pak. Dia tidak menikah, tentu saja itu menjadi suatu aib untuk sekolah", balas wakil kepala sekolah dengan takut. Bagaimana tidak, yang duduk dihadapannya itu adalah orang yang memiliki sekolah tempat ia bekerja. Salah-salah bicara, pekerjaannya yang menjadi taruhan.


"Anda hidup dizaman apa sih?, masih saja menerima sesuatu tanpa bukti?. Benar-benar bodoh", sarkas Xavier membuat semua orang yang ada disana terkejut. Itu mulut apa bon cabe. Pedes banget.


"Memangnya menantu saya tidak boleh hamil?, terus siapa yang akan memberikan saya cucu?. Kamu?", Xavier menunjuk salah satu wali murid perempuan yang dari tadi menatapnya, "Emang masih berfungsi?", tanyanya ambigu membuat wanita paruh baya yang ditunjuk pun merasa malu seketika.


"Menantu?", celetuk Bu Ira. Guru tersebut menoleh kearah Arinta. Menanyakan apakah yang dimaksud pria tersebut adalah benar. Tetapi setahunya anak didiknya itu belum menikah. Bahkan Arinta adalah murid yang terkenal dengan anti sosial.


"Iya. Dia adalah menantu saya. Istri dari putra saya", Xavier menunjuk Arinta dan Reagan secara bergantian. Membuat kedua remaja itu saling memandang satu sama lain.


Reagan mengumpat dalam hati. Ayahnya itu selalu saja bertindak sesukanya. Boleh saja jika pria tua itu ingin memanggil Arinta sebagai menantunya. Tetapi jangan menyebut cewek itu sebagai istrinya. Itu adalah pembohongan publik.


"Mereka menikah tujuh bulan lalu", tambah Xavier dengan santai.


"Tetapi bukankah peraturan sekolah tidak membolehkan peserta didik untuk melakukan pernikahan dini?", tanya salah satu wali murid.


"Oh ada ya?, kalau gitu saya ubah. Memperbolehkan peserta didik untuk melakukan pernikahan dini, asalkan itu bukan hasil dari pergaulan bebas", ujar Xavier dengan pandangan terarah kearah Reagan. Seolah tengah menyindir anaknya tersebut. Membuat Reagan meneguk salivanya. Ayahnya itu benar-benar sesuatu.


Xavier menatap seluruh wali murid yang berbisik-bisik, "Kenapa?, keberatan?, boleh saja jika ingin mengeluarkan anak anda dari sekolah ini. Saya tidak kekurangan uang jika sekolah ini harus ditutup", ujar Xavier dengan angkuhnya. Membuat semuanya terdiam hening.


Jika mereka mengeluarkan anaknya dari sekolah ini, sama saja dengan menghancurkan masa depan anaknya dan tentu saja sudah membuang uang yang telah mereka keluarkan selama ini dengan sia-sia. Karena Allandra adalah salah satu sekolah swasta yang telah menjangkau tingkat internasional. Tentu saja akreditasinya sudah tidak diragukan lagi.


"Tetapi Pak. Arinta baru saja mengakui jika dirinya memang hamil diluar nikah", sahut wakil kepala sekolah membuat Xavier menggertakkan giginya. Ini semua karena anak bodohnya itu.


Arinta yang sedari tadi menjadi penonton yang tidak tau apa-apa terkejut ketika melihat Xavier berjalan kearahnya. Sudah berapa kali dihari ini ia terkejut. Bisa-bisa Arinta mati muda jika terus begini.


"Menantu saya ini sedang ada sedikit masalah dengan suaminya. Memangnya anda semua tidak pernah bertikai dalam rumah tangga?. Apalagi mereka baru berumur belasan tahun. Masih labil-labil nya", Xavier tersenyum tipis mengelus kepala Arinta. Lalu menatap sinis kearah Reagan yang menatap datar dirinya.


"Jadi jangan pernah lagi menghina menantu saya", peringatan Xavier terhadap semua orang yang ada di ruangan komite sekolah.


"Jaga cucu saya baik-baik", bisik Xavier ditelinga Arinta. Membuat Arinta mati kutu ditempat.


Sekali lagi Xavier mengelus kepala Arinta dan kemudian merapikan jasnya sambil berjalan kearah Reagan yang berdiri disamping Arinta.


Xavier menepuk pelan pundak Reagan, "Karena kamu, saya harus berbohong. Kamu tanggung dosa saya", bisik Xavier dan berjalan melewati Reagan menuju pintu hendak keluar.


Reagan menatap punggung Ayahnya dengan pandangan datar. Ayahnya masih marah, Reagan tahu itu. Kesalahannya besar, tidak mungkin Ayahnya memaafkan dirinya secepat mungkin.


"RINTA!", teriakan seseorang bersamaan dengan suara pintu yang terbuka secara kasar dari luar. Menampilkan seorang gadis yang berjalan tergesa-gesa menghampiri Arinta.


"Rin lo enggak apa-apa?", tanya Gina sambil memeluk erat Arinta.


Arinta menggelengkan kepalanya dan melepaskan pelukan mereka. Lalu menatap penampilan Gina dari atas sampai bawah.


"Kamu baru siap turnamen?", tanya Arinta melihat Gina yang belum menukar baju karate nya sama sekali.


Gina melirik penampilannya lalu menganggukkan kepala, "Gue dapat pesan dari cowok berengsek itu", Gina menatap sinis kearah Reagan, "Katanya lo mau dikeluarkan dari sekolah. Jadi gue tinggalin piala sama pelatih gue disana dan langsung kesini demi lo", jawab Gina dengan tampang datarnya. Membuat Arinta tersenyum tipis. Kebaikan apa yang telah ia perbuat, sehingga bisa mendapatkan sahabat yang baik dan tulus seperti Gina.


"Dimana sopan santun kamu Gina?", tanya Xavier yang berdiri didekat pintu keluar. Untung saja tadi ia sempat mengelak disaat keponakannya itu membuka pintu secara kasar. Kalau tidak, sudah cacat muka tampan nya.


Gina terlonjak kaget dan berbalik badan menatap pamannya, "Eh, Om?. Maaf enggak nampak", ujarnya sambil menundukkan kepala. Sudah ia bilang bukan, jika Ayah Reagan adalah salah satu orang yang ditakutinya.


Xavier bergumam, "Jaga menantu saya baik-baik Gina", ujar Xavier dan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan orang-orang yang menatap takjub sekaligus takut.


Sementara itu, Gina mengerjapkan matanya mencerna apa yang barusan dibilang oleh Xavier. Lalu menatap penuh tanda tanya kearah Arinta dan Reagan yang kompak membuang pandangan kesembarang arah.


Gina mendengus dan mengumpat. Emang pasangan serasi.


Jadi, disini ada yang bisa tolong jelaskan kepadanya.


SIAPA YANG MENANTU DARI PAMAN NYA?


...~Rilansun🖤....