
...•••••••••••••••...
...Dari awal kita memang sebuah kesalahan, maka nya semesta tak mengizinkan kita tuk bersatu. Sudah lah, ikuti saja apa yang semesta inginkan......
...•••••••••••••••...
...***...
Arinta menatap kearah Renata yang sudah tertidur pulas. Setelah mengobrol untuk beberapa waktu. Ibu mertuanya itu pamit untuk tidur terlebih dahulu. Mungkin beliau letih memikirkan suami nya yang ada diluar kota.
Lalu Arinta tersenyum saat melihat dengan lekat wajah cantik wanita tersebut. Pantas saja anaknya memiliki wajah yang limited edition. Orang ibu nya memiliki wajah yang hight quality. Walau umur sudah tak lagi muda. Namun kecantikan yang dimiliki Renata tidak pernah lekang. Benar-benar awet muda. Mana mungkin Ayah mertuanya bisa selingkuh kalau memiliki istri seperti itu. Jika pun benar, berarti Xavier adalah pria bodoh bin tol*l.
Drrt drrt
Arinta tersentak ketika mendengar ponselnya bergetar. Lalu cewek itu menoleh dan mengambil benda pipih yang terletak di atas nakas samping tempat tidur.
Keningnya yang mulus langsung berlipat saat melihat nama si penelpon.
"Laily", gumam Arinta lalu menggeser panel hijau dan meletakkan ponselnya kesamping telinga.
"Halo?", sapa Arinta ragu. Mengapa Laily menelponnya semalam ini.
"Arintaaa...."
Arinta menjauhkan sedikit ponselnya ketika mendengar teriakan yang memekakkan telinga. Untung saja Renata tidak terbangun karena itu.
"Jangan teriak-teriak Lai, udah malam", tegur Arinta lalu terdengar suara cengengesan dari seberang.
Kemudian suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Membuat Arinta melihat layar ponselnya. Apakah Laily sudah memutuskan sambungan itu secara sepihak.
"Halo, Laily?", panggil Arinta untuk memastikan.
"Maafin gue Rin", ujar Laily tiba-tiba.
Arinta mengernyitkan keningnya, "Untuk apa?."
"Bokap gue pasti tadi kesana kan", kata Laily yang membuat Arinta bungkam. Hal itu lah yang membuat suasana hatinya hancur hari ini.
"Gue berani sumpah Rin, bukan gue yang nyuruh Bokap kesana. Apa pun yang dibilangnya, gue mohon lo jangan percaya. Dia cuma-"
"Dia bilang kamu belum bisa move on", sela Arinta yang membuat keadaan kembali hening. Dan beberapa detik kemudian terdengar helaan nafas panjang dari seberang. Arinta tersenyum miris, sepertinya itu benar.
"Jujur Rin, gue emang belum bisa move on. Seberapa jauh pun gue pergi dari kalian, gue tetap enggak bisa lari dari kenangan. Terlalu indah Rin buat dilupain. Gue cuma manusia biasa dan cewek yang lemah terhadap perasaannya. Gue bingung mau hidup kayak gimana. Rasa ini terl-"
"Aku bisa kembalikan dia buat kamu", Arinta menyela cepat yang membuat Laily tertawa pelan. Sungguh, Arinta ikut sedih mendengar Laily yang seperti sudah tidak lagi memiliki semangat hidup. Bahkan cewek itu bingung harus bagaimana menjalani hidupnya.
"Gue emang belum bisa move on. Tapi satu yang lo tau, gue udah rela. Gue relain Reagan buat lo dengan ikhlas lahir batin."
"Mungkin kamu udah ikhlas, tapi orang lain belum tentu bisa", gumam Arinta pelan seraya menerawang kewaktu perbincangan antara Reagan dan Ayah Laily tadi sore.
"Lo bilang apa Rin?, gue enggak denger. Lo ngomong apa kumur-kumur sih", gerutu Laily membuat Arinta tersentak. Ia lupa jika panggilan itu masih terhubung.
"Ah, enggak ada. Aku enggak ada ngomong apa-apa", balas Arinta dengan gugup.
"Jangan sering ngelamun, nanti anak lo lahir autis. Amit-amit Rin, ya ampun amit-amit."
Arinta tertawa pelan, teori dari mana itu.
"Tapi kata Papi kamu, kamu enggak mau keluar dari kamar dalam sebulan ini. Emang iya Lai?, jangan nyiksa diri gitu", ujar Arinta lirih. Jika benar begitu, Arinta akan sangat merasa bersalah.
"Enggak ada gitu, Bokap gue melebih-lebihkan. Gue rasa Bokap gue punya bakat jadi aktor deh", sahut Laily sambil terkekeh pelan membuat Arinta juga ikut tertawa. Cewek itu memang seperti virus yang mudah menular.
"Kalau gue enggak keluar-keluar, udah mati gue dari lama. Karena gak makan-makan. Jangan percaya apa yang di bilang beliau. Anggap aja Bokap gue itu orang tua yang masih gak rela anaknya ditinggal gitu aja."
Arinta menatap langit kamarnya. Mengingat gurat wajah Deri yang murka saat tau kalau dirinya tengah hamil. Walau Ayah nya itu tidak pernah menunjukkan amarahnya. Tapi Arinta selalu melihat jika pria itu akan mengepalkan tangannya kalau Arinta membahas tentang Reagan waktu itu.
"Atas nama Bokap, gue minta maaf Rin", ujar Laily tulus serta merasa bersalah. Untung saja ia diberitahu sama Mami nya kalau Papi nya datang ke apartemen Reagan hari ini. Kalau tidak, Laily tidak akan tau apa-apa.
"Aku juga mau minta maaf sama orang tua kamu. Tolong sampein ya, maaf karena udah buat anak gadis mereka gagal nikah. Maaf udah buat keluarga kamu jadi malu. Maaf karena udah pisahin kamu dari Reagan. Maaf untuk segalanya. Tapi satu yang harus kamu tau Lai, aku sayang, sayang banget sama kamu. Perumpamaan nya, jika kamu kecelakaan dan butuh banyak darah. Aku rela, aku rela ngasih seluruh darah yang aku punya supaya kamu dapat hidup. Mungkin kita enggak punya hubungan darah apa-apa. Tapi kamu udah aku anggap kayak kakak aku sendiri. Bahkan perasaan ini lebih besar dari hubungan keluarga. Iya kan?", Arinta menghapus sebulir air matanya yang jatuh.
"Iya. Gue relain Reagan buat lo supaya lo dan baby bisa hidup bahagia. Gue lebih milih lo ketimbang cowok yang gua cinta. Gue sayang lo kan Rin?", tanya Laily yang membuat Arinta menangis. Mengapa mereka berdua sangat emosional.
"Maaf, maaf", gumam Arinta.
"Jangan minta maaf, belum lebaran juga. Doain gue ya Rin, supaya bisa cepat-cepat lupain laki lo. Karena lucu aja enggak sih, gue masih mikirin cowok yang bahkan udah jadi suami sahabat gue sendiri. Kayak pelakor, tapi gue bukan pelakor kan Rin?."
"Bu-bukan", sahut Arinta sambil menghapus air matanya yang terus turun, "Tapi pelakor itu apa?", tanya nya kemudian yang membuat Laily mengucap.
"Pelakor itu predator yang siap memangsa suami orang lain. Maka nya lo harus ikat Reagan bener-bener. Entar di pelet sama kucing liar."
Arinta terdiam. Gimana mau diikat kalau objeknya aja enggak ada.
"Udah dulu ya Rin. Ngantuk nih. Lo juga harus cepat tidur ya. Enggak baik buat lo dan baby. Sehat-sehat terus ya. Bye cintaku. Muach."
"Bye", balas Arinta sambil tersenyum. Dari apa hati Laily terbuat sehingga bisa selapang itu. Padahal hubungan nya dengan Reagan bisa terbilang cukup lama. Tapi dia bisa dengan ikhlas merelakan Reagan untuk sahabatnya. Benar-benar malaikat tak bersayap. Semoga Laily bisa mendapatkan segala yang terbaik ke depannya.
Arinta memalingkan wajahnya kearah jendela. Menatap gelapnya malam diluar. Lalu Arinta mengulurkan tangannya. Seolah menggapai bulan yang ada diatas sana.
"Kamu tau kenapa aku tak pernah mengungkapkan. Karena aku takut, aku takut mencintai kamu dengan baik sampai melupakan diri ku sendiri dengan begitu buruknya. Kamu terlalu sempurna hingga membuat aku enggan untuk jatuh. Biar saja lah perasaan yang sedikit ini terkubur lebih awal. Sebelum ia membesar dan membuat kita repot. Cukup menjadi bintang yang kecil saja, jika sudah mampu menerangi. Jangan ingin menjadi matahari yang besar, jika tak ingin terbakar", Arinta menurunkan tangannya. Lalu menoleh ke sampingnya. Menatap Renata yang damai dalam tidurnya. Kemudian Arinta mengambil sebelah tangan Renata dan meletakkannya di atas perutnya.
Memejamkan mata seraya bergumam, "Dari awal kita memang sebuah kesalahan, maka nya semesta tak mengizinkan kita tuk bersatu. Sudah lah, ikuti saja apa yang semesta inginkan. Pasrah saja kalau tak ingin pusing dengan memikirkan takdir Tuhan."
...***...
Reagan berdiri dari duduknya saat sudah tak mendengarkan apapun dari dalam. Setelah Renata dan Arinta memasuki kamarnya. Reagan memutuskan untuk duduk didepan pintu. Menunggu kedua wanita itu tidur. Lalu ia bisa menyelinap dengan mudah setelah itu.
Walau mereka sedang perang dingin. Tapi Reagan tidak ingin istrinya dimonopoli oleh siapapun. Bukan kah Reagan pernah mengatakan tidak ada yang boleh memonopoli Arinta. Tak terkecuali sang Bunda.
Reagan berjalan mengendap-endap kearah Renata. Menjauhkan tangan Bunda nya dari atas perut Arinta dan sedikit menggeser kan tubuh Renata ke tepi ranjang dengan pelan.
Lalu Reagan berjalan mengitari ranjang. Menghampiri Arinta yang tidur di sisi kiri ranjang. Cowok itu sedikit membungkuk kan badannya. Menggendong Arinta dan memindahkan istrinya itu sedikit ke tengah. Dan membaringkan tubuhnya di samping Arinta.
"Kamu beneran udah suka sama aku?", gumam Reagan seraya menyingkirkan anak rambut Arinta yang mengganggu pandangannya menatap wajah cantik wanitanya itu.
Reagan mendengar semua ucapan Arinta tadi. Dari cewek itu berbicara dengan Laily lewat telpon sampai ungkapan Arinta yang membuatnya sedih sekaligus senang. Arinta sudah menyukainya walau pun itu masih diujung rasa.
"Enak banget buat nyerahin aku gitu aja ke orang lain. Cuma kamu kayaknya yang berani ngejual aku", Reagan menarik sedikit hidung Arinta. Membuat cewek itu meringis namun kembali tertidur dengan lelap.
"Aku juga enggak se-sempurna itu sampai membuat kamu takut untuk jatuh cinta sama aku", Reagan memeluk Arinta sambil mengelus sayang perut istrinya itu.
"Mungkin kita berawal dari kesalahan. Tapi enggak ada kesalahan yang enggak bisa diperbaiki. Semuanya ada jalannya. Jangan cepat pasrah Bunda", ujar Reagan lagi sambil mencium sekilas bibir Arinta. Lalu cowok itu menyusupkan kepalanya ke leher jenjang milik Arinta. Mencari posisi nyamannya sebelum menjemput mimpi.
...***...
"Rin tadi pagi Bunda kok tidurnya ke tepi banget ya. Padahal kan posisi Bunda dekat sama kamu."
Uhuk uhuk
Reagan meraih gelas berisi air yang ada di dekatnya. Lalu meminumnya hingga tandas. Sial, Reagan lupa untuk memindahkan Bunda nya lagi setelah ia keluar dari dalam kamar menjelang subuh.
"Kok bi-"
"Bunda tidurnya rusuh kali", ujar Reagan datar. Berusaha menutupi kegugupan yang ada.
"Enak aja. Bunda itu tidurnya elit ya, kayak Aurora."
"Hm, iyain biar gak dikutuk", balas Reagan yang membuat Renata mendelik kearah putra satu-satunya itu. Sudah tunggal, tapi kelakuannya buat pusing naudzubillah.
Arinta memicingkan matanya menatap Reagan. Mengapa gestur tubuh cowok itu terlihat sangat mencurigakan. Pasti ada yang enggak beres.
...~Rilansun🖤....