
...•••••••••••••••...
...Dibiarkan bukan berarti tak peduli, dibebaskan bukan berarti melepaskan. Hanya saja kini aku sedang berusaha memaklumi apa yang telah terjadi......
...••••••••••••••••...
...***...
Tok tok tok
Reagan menekan bel rumah tersebut seraya mengetuk pintu jati besar yang terpampang dihadapannya. Ia menatap pintu dengan ukiran itu dengan tatapan kosong.
Tak lama kemudian, pintu besar itu terbuka dan menampilkan wanita paruh baya yang masih cantik walau sudah ada keriput yang menghiasi wajahnya. Reagan menunduk canggung dan mencium telapak tangan ibu dari kekasihnya tersebut.
"Eh, Reagan?. ayo masuk nak", ajak Yulira dengan senyuman ramahnya.
"Enggak usah Tante. Aku bentar aja kok", tolak Reagan halus seraya tersenyum sopan.
"Yaudah, kalau gitu Tante panggilin Laily nya dulu ya", pamit Yulira sambil menepuk pelan pundak Reagan.
Reagan mengangguk dan mengambil duduk di kursi yang ada di depan teras setelah melihat Yulira kembali masuk kedalam rumahnya. Cowok itu memejamkan matanya seraya menghela nafas panjang. Reagan menjadi dilema setelah mendengar ucapan Arinta kemarin malam, disaat ia hampir saja kehilangan anaknya, dan kini ia kesini berharap semoga beban dihatinya dapat terangkat sedikit setelah melihat senyuman manis dari gadis pujaan hatinya.
"Reagan!", pekikan senang gadis tersebut mampu membuat lengkungan sabit dibibir Reagan terbit.
"Sini. Aku bawain martabak manis untuk kamu", titah Reagan menyuruh gadis itu untuk duduk disampingnya.
Laily patuh dan mengambil duduk tepat disamping Reagan, walau ada sebuah meja kecil sebagai penghalang.
"Makasih. Kamu kenapa malam-malam kesini?, lukanya gimana, udah sembuh?", tanya Laily dan meletakkan sekotak martabak itu dipangkuannya. Semalam cowok itu menelponnya disaat ia sudah ingin tertidur, dan ia diberitahu jika Reagan ikut tawuran dan wajahnya babak belur. Pada saat itu Laily ingin sekali menemani cowoknya itu, tetapi Reagan langsung mencegahnya dengan alasan sudah malam.
"Lumayan. Lagipula enggak sesakit waktu kamu ninggalin aku", jawab Reagan dan menggenggam tangan Laily.
"Ah, kamu mah. Aku merasa bersalah nih."
Reagan tertawa dan mengelus rambut Laily yang sedang menunduk, "Yaudah aku minta maaf."
"Yang seharusnya minta maaf aku, karena aku udah ninggalin kamu", cicit Laily yang terdengar serak.
Reagan mengangkat dagu Laily dan melihat mata hitam tersebut yang sudah berkaca-kaca. Lalu Reagan mengecup kedua kelopak mata Laily, membuat gadis tersebut memejamkan matanya menikmati kelembutan dari sang kekasih.
"Aku udah lupain semuanya", Reagan menghapus bulir air mata yang turun, walau pun sedikit, tetap saja Reagan tak suka.
"Yakin?", tanya Laily memastikan.
Reagan mengangguk dan mendorong meja kecil tersebut kedepan, lalu ia merapatkan kursinya kearah Laily.
"Iya, yakin", jawab Reagan dan meletakkan kepalanya kebahu Laily.
Laily mengusap lembut rambut coklat gelap Reagan, dengan matanya yang terfokus kearah wajah tampan cowok itu yang masih memar disana-sini, "Kamu jangan ikut tawuran kayak gitu lagi. Yang dirugikan itu diri kamu sendiri. Gimana kalau nyawa kamu yang hilang?, kamu enggak mikirin orang-orang disekitar kamu apa?, kamu enggak mikirin aku?. Jangan tawuran lagi, aku enggak suka", omel Laily panjang lebar.
"Reagan!, kamu dengerin aku enggak sih?", Laily kesal ketika cowoknya itu tidak merespon sama sekali ucapannya.
"Iya-iya", jawab Reagan sekenanya dengan mata yang terpejam.
"Iya ibu negara. Enggak ikut tawuran lagi, janji", sela Reagan, bisa sakit telinganya kalau tidak dihentikan. Dalam hati Reagan selalu menggumamkan kata maaf untuk Laily. Reagan tau jika ia sudah berbohong. Ia selalu berpikir bagaimana jika Laily tau kalau luka diwajahnya bukan hasil dari tawuran, melainkan mahakarya yang dibuat oleh sahabat cewek itu sendiri. Mungkin Laily akan memekik histeris seperti Bundanya, apalagi jika Laily tau sebab akibatnya, bisa saja cewek itu pingsan tak sadarkan diri.
Laily tersenyum, "Maaf ya tadi aku belum sempat jengukin kamu. Banyak tugas soalnya."
Reagan tadi memang tidak pergi ke sekolah. Cowok itu ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu untuk saat ini. Lagipula itu sekolah milik Ayah nya, ya santai sajalah.
"Enggak apa-apa", Reagan ingin tertidur rasanya menikmati sapuan lembut dikepalanya. Sangat nyaman dan menenangkan. Jika saja saat ini yang mengandung anaknya adalah Laily, mungkin Reagan menjadi laki-laki yang sangat beruntung dan bahagia didunia. Tapi sayang, takdir Tuhan berkata lain.
"Kamu besok sekolah?", tanya Laily.
"Enggak tau", jawab Reagan singkat. Jujur, Reagan belum siap untuk bertemu dengan Arinta, ia pun belum siap jika disuruh untuk bertanggung jawab saat ini. Pecundang?, whatever.
"Yaudah kamu masuk gih, udah malam", Reagan menegakkan kembali badannya.
"Kamu pulang nya langsung kerumah ya, jangan kelayapan lagi", peringat Laily dengan tegas membuat Reagan terkekeh pelan.
"Enggak janji."
"Reagan....", rengek Laily.
"Iya-iya", Reagan bangkit dari duduknya dan mencium puncak kepala Laily, "Masuk gih", titahnya.
"Aku tunggu kamu pergi dulu", tolak Laily untuk masuk.
"Aku enggak bakal pergi sebelum kamu masuk kerumah."
"Yaudah kalau gitu kamu enggak usah pergi."
"Laily", tegas Reagan membuat Laily memajukan bibirnya sebal. Kemudian cewek itu bangkit dari duduknya dan menghentakkan kakinya berjalan masuk kerumah. Namun sebelum Laily masuk, Reagan mencekal lengan Laily terlebih dahulu.
Cup
"Good night my dear", ujar Reagan setelah mencium kening Laily sekilas.
"Too my honey", Laily mengecup bibir Reagan secepat kilat, lalu segera berlari masuk kedalam, meninggalkan kesan yang menggemaskan bagi Reagan.
Setelah pintu jati besar itu tertutup rapat, baru Reagan pergi meninggalkan pekarangan rumah Laily menggunakan motor sport miliknya. Lalu metaliknya membelah jalanan ibu kota yang masih sedikit ramai. Kapan sih memangnya jalanan itu sepi, tunggu semua populasi makhluk hidup didunia ini musnah, baru bisa jalanan kosong melompong.
"Maaf", gumam Reagan ketika motornya masuk kesebuah gang kecil. Maafnya tersebut ditujukan kepada Laily, sekali lagi ia berbohong dan mengingkari janjinya untuk segera pulang.
Kemudian Reagan menghentikan motornya tepat didepan rumah minimalis bercat putih. Ia menatap rumah tersebut dengan pandangan yang sulit diartikan. Didalam sana, tepatnya didalam perut seorang cewek, anaknya telah tumbuh berkembang. Darah Reagan berdesir disaat ia menyentuh anaknya untuk pertama kalinya. Dari situ ia selalu ingin menyentuh anaknya lagi dan lagi. Tetapi Reagan belum siap untuk menemui Ibu dari anaknya.
Reagan masih saja berharap jika semua ini adalah fatamorgana. Ditambah dengan pertunangan nya yang akan diselenggarakan tiga hari lagi. Membuat pikirannya sangat kacau. Ingin rasanya ia lari saja dari semua ini. Persetan dengan kata orang kalau laki-laki itu harus bertanggung jawab. Jika ia belum memiliki seseorang yang berarti dalam hidupnya, mungkin tak masalah. Tapi saat ini Reagan sudah punya seseorang yang yang harus ia jaga hatinya.
Reagan kembali menghidupkan mesin motornya. Memutar balik menuju ke rumah Riko, untung saja orang tua cowok itu masih berada diluar negeri. Jadi Reagan bebas untuk menginap dirumah kawan nya itu.
Tanpa Reagan sadari, ada seseorang yang tengah menatapnya terus menerus melalui celah jendela sedari tadi.
"Kamu memang pecundang",gumamnya.
...~Rilansun🖤....