
...••••••••••••••••...
...Bukan masalah memaafkan, tapi menghilangkan bekas luka tidak cukup dengan kata maaf saja.......
...••••••••••••••••...
...***...
Deri memandang sedih kearah putrinya yang sedang duduk termenung dihalaman teras depan rumah. Sudah dua hari berlalu sejak kejadian itu terjadi, dan baru kali ini Arinta berani keluar dari dalam kamarnya. Tetapi yang sangat Deri sayangkan, putrinya itu perlahan mulai berubah dari kepribadian aslinya. Arinta yang biasanya ceria dan menawan, kini berubah menjadi gadis pendiam dan tertutup. Oleh sebab itu Deri merasa gagal. Ia merasa tak mampu membuat lengkungan sabit itu agar tetap terjaga.
"Semuanya butuh waktu", Sinta mengelus lembut lengan kekar suaminya. Ia tau jika didalam hati pria yang telah mengucapkan ikrar bersamanya itu sedang berkecamuk. Dan Sinta juga tau, jika Deri menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang telah terjadi.
"Arin kecilku", gumam Deri tanpa membuang pandangannya dari punggung rapuh itu.
"Arin kecilmu sekarang sudah dewasa", sahut Sinta dan tersenyum memandang kearah Arinta.
Deri menautkan alisnya bingung, dan menoleh kearah Sinta, "Apa maksud kamu?", tanyanya.
Sinta melihat kerah Deri dengan masih tetap tersenyum. Belum sempat ia menjawab, teriakan nyaring dari luar lebih dulu menyelanya.
"Kak Rinta, yuhu. Raka yang paling ganteng pulang dengan membawa sejuta kebahagiaan", teriak Raka membuat Saka memutar bola matanya malas melihat kelakuan kembarannya yang seperti anak kecil itu.
"Ini untuk kak Rinta yang paling cantik", Raka memberikan satu kantung plastik hitam yang berisi asam jawa, lalu ia juga memberikan sebotol air yang membuat Arinta mengernyit heran.
"Ini apa?", tanya Arinta sambil melihat isi air tersebut yang tampak keruh.
"Itu asam jawa sama air sungai", jawab Raka dan ingin mengambil duduk tepat disamping kakaknya, tapi sudah keduluan oleh si kerak es batu.
Lantas Raka memandang sengit kearah Saka yang duduk dengan santai sambil membuka kulit asam jawa dan memberikannya kepada Arinta.
"Enak aja lo ya. Kalau mau cari muka itu usaha sendiri lah", Raka langsung merebut semua asam jawa yang ada diatas meja dan memeluknya posesif.
"Yang manjat tadi siapa?", tanya Saka santai sambil bersidekap tangan didada.
"Monyet", jawab Raka asal, "Tapi kan yang jaga-jaga supaya nggak ketahuan si bule nyasar kan gue", tambahnya membuat Saka mengangkat bahunya acuh tak acuh
"Jangan terlalu lama diluar, udah sore", ujar Saka dengan mengelus lembut kepala Arinta.
"Cih, sok perhatian", celetuk Raka sinis yang dibalas Saka dengan mengangkat bahunya dan berlalu masuk kedalam rumah.
"Dasar jigong lumba-lumba", teriak Raka kesal.
Arinta menghela nafasnya melihat kelakuan kedua adik kembarnya. Sepertinya tidak ada hari tanpa adu mulut. Ia yang ingin menenangkan diri dari semua masalah yang terjadi, harus diurungkan karena kehadiran kedua adiknya.
"Jadi ini untuk apa Raka?", tanya Arinta menunjuk botol yang katanya berisi air sungai.
Raka menoleh, "Untuk kak Rinta lah. Kata Saka Kak Rinta udah enggak suka lagi sama asam jawa, lebih suka air sungai. Makanya aku bawa kedua-duanya, mana tau mood kak Rinta berubah-ubah kan. Aku ini adik yang terbaik kan", ujarnya sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
Arinta memutar bola matanya. Semenjak kejadian ia yang ingin bunuh diri di sungai tempo hari, Arinta selalu menjadi bahan bualan kedua adiknya. Ia merasa menyesal karena sudah memikirkan cara yang konyol dan sesat itu.
"Siapa bilang?, kakak masih suka asam jawa kok. Saka itu ngaco", bantah Arinta dan membuka kulit asam jawa, lalu memakan empat biji sekaligus.
Raka menelan ludahnya. Ia pernah bertanya, mengapa kedua kakaknya sangat menyukai buah yang berwarna coklat dan rasanya yang sangat kecut itu. Tapi selalu jawaban klise yang ia dapat, bahwa semua orang memiliki selera yang berbeda-beda.
"Ho'oh, si kerak es batu—", ucapan Raka terpotong dengan suara teriakan seseorang yang tidak berada jauh dari rumahnya. Sontak cowok itu langsung melototkan matanya dan menarik Arinta beserta asam jawanya untuk masuk kedalam rumah.
"RAKA!, KELUAR KAU!", terdengar suara berat dengan menggunakan aksen Batak dari luar rumah.
Raka mengelus dadanya, "Hampir aja", gumamnya dan memandang seluruh orang yang berada diruang tamu. Berbagai macam tatapan dilayangkan padanya. Tapi ia tidak peduli, selagi Ayah nya itu masih belum berbicara ia masih belum takut.
Raka berjalan kearah jendela dan mengintip sedikit dari celah yang ada.
"Aku laporkan ke polisi baru tau rasa kau ya. Enak aja mencuri asam Jawa aku. Masih kecil sudah suka maling kau, besar mau jadi apanya kau?. *******?", omel pria berbadan kekar tersebut.
"KELUAR KAU RAKA!."
"Berisik amat sih lo Mulyono. Apa hubungannya asam Jawa sama ******* coba?, enggak pernah sekolah lo?", lagi-lagi Raka hanya berani mengumpat dibalik pintu yang tertutup. Sebenarnya bisa saja Raka meminta baik-baik dengan pria yang tak jelas sukunya itu. Tapi baginya mengganggu Mulyono itu ada kesenangan tersendiri.
"Kalau cowok ngomongnya diluar", celetuk Saka yang duduk menyaksikan drama yang dibuat adiknya itu.
"Diam lo. Gue lagi mengamati situasi ini. Jangan berisik!", ketus Raka tanpa menoleh kearah Saka.
"RAKA KELUAR TIDAK KAU!"
Sinta menggelengkan kepalanya takjub. Anak laki-lakinya yang satu itu memang sedikit unik dan berbeda, "Lagian kamu sih, suka banget nyari gara-gara sama pak Yono."
"Biarin aja Bu. Lagian dia aneh sih, masa namanya kayak orang Jawa, bahasanya Batak, wajahnya mirip bule dan lahirnya di Jakarta, kan ajaib", balas Raka dengan masih mengamati pak Mulyono yang sedang mengomel-ngomel didepan rumahnya.
"Emangnya apa hubungan latar belakang dia sama lo?. Enggak ganggu juga", sahut Saka.
"Iya kan gue penasaran. Tau aja lo, kalau jiwa detektif gue meronta-ronta pengin tau apa asli suku dia."
Arinta menghela nafasnya. Itulah Raka, berani berbuat tidak akan berani bertanggung jawab. Sifat itu yang tidak disukai Arinta dari Raka. Karena menurutnya seorang laki-laki itu harus mempunyai rasa tanggung jawab.
Arinta memilih untuk keluar dari rumah. Raka tidak akan mau keluar sebelum pak Mulyono pergi, dan itu tidak sopan untuk seorang yang berpendidikan seperti mereka. Lalu Arinta berjalan menghampiri pak Mulyono yang berada diseberang pagar yang hanya memiliki tinggi sebatas pinggang orang dewasa itu.
"Pak maafin adeknya Rinta ya. Kalau bapak marah karena Raka udah nyuri asam jawanya bapak. Ini Arinta balikin aja asam jawanya, dan maaf tadi udah ada yang Arinta makan", Arinta memberikan kantung plastik itu sambil meringis malu.
"Tak usah nak. Ambil aja untuk kau, aku ikhlas. Cuma, aku tidak suka dengan cara si Raka mengambil punyaku", ujar pak Mulyono dengan lembut.
Arinta tersenyum tipis, "Makasih banyak ya pak. Sekali lagi maafin Raka adik Rinta ya pak", balasnya dan menyalami tangan pak Mulyono.
"Duh, kau ini sudah cantik, baik lagi. Ku jodohin dengan Albert mau?."
Arinta yang mendengarnya sontak terkesiap. Menikah?, bolehkah?.
"Teman saya udah ada jodohnya pak", celetuk seseorang dari arah belakang pak Mulyono.
Arinta menghela nafas lega ketika tau jika itu kedua sahabatnya. Jujur, ia bingung ingin menjawab apa pertanyaan atau promosi pak Mulyono tadi. Untunglah ada Gina yang membantunya menjawab. Kemudian setelah berbincang-bincang sedikit dengan pak Mulyono. Akhirnya pria paruh baya itu pergi dari hadapan mereka semua.
"Kalian ngapain kesini?", tanya Arinta sambil mempersilahkan kedua sahabatnya untuk masuk.
"Ya untuk jenguk lo lah. Nih, pudding untuk lo", sahut Laily dan memberikan sebuah bingkisan kepada Arinta.
"Eh, ada bidadari", celetuk Raka yang baru keluar dari dalam rumah dan menghampiri Arinta beserta sahabatnya yang duduk dikursi yang ada didepan rumah.
"Eh ada dedek Raka. Apa kabarnya ganteng?", tanya Laily yang sebelas dua belas dengan Raka.
"Kabar baik kakakku. Udah punya husband belum nih?", tanya Raka yang ditanggapi Laily dengan tertawa.
Arinta memanggil Saka sebelum perbincangan dua makhluk astral itu melebar kemana-mana hingga malam. Dan setelah Raka diseret masuk oleh Saka. Arinta membuka bingkisan tersebut dan melihat pudding coklat didalamnya.
Gina yang peka melihat ekspresi Arinta setelah mengetahui isi bingkisan tersebut langsung berujar dengan datar, " Lai lo lupa, kalau si Rinta enggak suka coklat."
Laily menoleh kearah Arinta, "Eh, iya gue lupa. Maaf ya Rin, soalnya si Reagan yang dinginnya ngalahin Antartika aja suka coklat. Jadi gue heran, kok lo yang kalem kayak gini enggak suka sama sekali dengan makanan yang paling banyak digilai ini", ujar Laily panjang lebar.
Arinta tersenyum tipis, "Enggak melulu semuanya manis, masih ada banyak rasa. Seperti asam, pahit dan hambar. Tapi mengapa seseorang yang menyukai suatu hal yang manis dianggap baik dan lembut, dan mengapa suatu hal yang pahit selalu dicap sebagai sesuatu yang buruk. Padahal sebenarnya jamu itu lebih bermanfaat dari pada kue tar", sahut Arinta dengan menerawang ke langit senja yang indah diatas sana. Kini tak hanya asam, ia juga menyukai sesuatu yang pahit. Ujian hidup misalnya.
Laily dan Gina saling memandang. Mengapa mereka merasa jika Arinta sedikit berubah dari sebelum-sebelumnya. Sedikit lebih pendiam dan.... sensitif.
Arinta sontak mengerjapkan matanya ketika mendengar teriakan sang Ibu yang menyuruhnya dan sahabatnya untuk masuk.
...~Rilansun🖤....