
...•••••••••••••••••...
...memang ada sukar ketika kita memulai semuanya dari awal......
...••••••••••••••••••...
...***...
Seminggu telah berlalu dan semuanya tak lagi sama. Janji yang telah Arinta ucapkan, ia buktikan dengan perubahan pada dirinya.
Arinta tak ingin kembali seperti ia yang selalu polos dan senantiasa dibully. Ia juga tak ingin menetap menjadi orang bodoh yang terus menangisi takdir. Jika pun ingin menangis, cukup dirinya, Tuhan dan semesta yang mendengar.
Tapi semoga saja tangisan pilu tak lagi menghampirinya. Biarkan lah ia tertawa lepas dengan kebahagian yang mengudara.
"Gue yang antar kak Rinta. Enggak pake koma, pakainya titik yang hitam banget", Raka merebut paksa tangan kanan kakaknya dari genggaman Saka dan membawa Arinta kearah motornya yang terparkir dihalaman rumah.
Arinta yang sedari tadi melamun pun tersentak karenanya.
"Kak Rinta sama gue", ujar Saka dengan tekanan disetiap kalimatnya. Lalu ia menarik tangan kiri Arinta.
"Enggak boleh", tolak Raka dan menarik lebih kencang tangan kanan Arinta.
Saka menyeringai, lalu dengan satu sentakan tubuh mungil Arinta telah berada dalam dekapannya, "Apa lo?", Saka mengangkat kedua alisnya menantang. Raka yang tak terima pun, kembali berusaha merebut tangan Arinta.
"Stop", teriak Arinta ketika kedua adiknya itu ingin kembali menarik-narik dirinya. Dikira ia itu apa?, boneka?. Kalau tangan nya putus bagaimana.
"Hari ini Kakak sama Saka. Besok sama kamu, oke?", Arinta mengusap kepala Raka seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya yang sedang merajuk.
Raka menghembuskan nafasnya, kemudian ia melihat sinis kearah Saka yang tersenyum menyebalkan.
"Yaudah. Hati-hati", Raka tersenyum dan mengecup puncak kepala kakak perempuan tersayang nya itu, "Lo jangan bawa kencang-kencang. Nanti kakak gue masuk angin", peringatnya kepada Saka.
Saka memutar kedua bola matanya, "Kakak gue juga kali", ia mengenakan helm kepada Arinta lalu membantunya untuk naik keatas motor.
"Lo jalan duluan. Gue ikutin dari belakang. Mana tau lo bawa kak Rinta bolos", ujar Raka sambil menghidupkan mesin motornya.
Arinta menggelengkan kepalanya. Raka itu memang lebih posesif. Tapi cowok itu jarang sekali menunjukkannya, sebab Raka itu lebih suka berbicara daripada bertindak. Beda halnya dengan Saka, ia lebih suka bertindak dari pada banyak bicara. Mereka itu memang kembar, punya banyak persamaan tapi juga punya banyak perbedaan.
"Terserah", Saka menghidupkan mesin motornya dan berlalu terlebih dahulu dengan diikuti Raka dibelakangnya. Orang tua mereka sudah lebih dulu pergi bekerja. Jika tidak, mungkin Raka sudah dilempar dengan panci oleh Ibunya. sebab Sinta paling benci keributan di pagi hari, pamali katanya.
"Pegangan. Entar jatuh", Saka melingkarkan tangan Arinta kepinggangnya dan memasukkannya kedalam saku jaket miliknya. Arinta tersenyum dan bersandar dipundak lebar Saka, ia paling suka diperlakukan seperti ini. Kedua adiknya itu memang sangat romantis dan memanjakannya. Arinta jadi tak rela si kembar tumbuh besar dan menikah, lalu pergi meninggalkannya begitu saja.
"Awas kakak gue lecet, woi", teriak Raka dari arah belakang.
Saka memutar kedua bola matanya sambil melirik sekilas kearah Raka dari kaca spion.
"Kalian itu kenapa berantem terus sih?, Enggak capek apa. Kakak aja yang lihatnya capek tau", ujar Arinta dan turun dari atas motor Saka ketika mereka telah sampai di pelataran parkir sekolah. Jarak rumah Arinta dengan sekolah memang tidaklah terlalu jauh.
"Dianya aja yang ngajak gelut terus", sahut Saka dan membantu Arinta melepas helm. Tidak lupa ia juga merapikan rambut Arinta yang sedikit berantakan.
"Udah woi. Mau telat nih", teriak Raka yang berada digerbang sekolah Arinta.
"Berisik banget sih adik kakak satu itu" ujar Saka.
Arinta terkekeh, "Adik kamu juga itu."
Saka menghela nafasnya, "Males banget. Yaudah aku berangkat dulu ya", Saka mencium kening Arinta dan setelah mengenakan helm, ia langsung menancap gas meninggalkan pekarangan SMA Allandra.
Arinta tersenyum dan melambaikan tangannya pada kedua adiknya. Setelah mereka tak terlihat, Arinta membalikkan badannya berniat berjalan kearah kelasnya. Namun sebuah teriakan dari arah belakang membuat tubuhnya membatu.
"Arinta!"
Arinta memejamkan matanya dan dengan perlahan tapi pasti ia memutar tubuhnya menghadap orang tersebut.
"Gue kangen banget sama lo", Laily memeluk Arinta erat, "Gue bawain oleh-oleh nih. Tapi nanti aja ya dikelas", ujarnya sambil menunjuk paper bag yang ada ditangannya.
Arinta tersenyum lalu mengangguk sekilas.
"Gimana sama pertunangan kamu?", tanya Arinta sebisa mungkin tenang.
"Pertunangan gue-"
"Nih bekal kamu", Reagan tiba-tiba berdiri disamping Laily dan memberikan kotak bekal kearah cewek tersebut.
"Oh iya, tadi aku lupa. Untung kamu ingetin", Laily tersenyum yang dibalas dengan senyuman tipis dan elusan dikepalanya dari Reagan.
Pemandangan itu tak luput dari kedua mata Arinta. Sudah tiga kali mereka bertemu, tapi tak pernah sekali pun Arinta melihat senyuman dan sikap manis itu. Arinta berharap jika tanah yang dipijaknya sekarang dapat menelan tubuhnya dan menghilang dari hadapan dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu. Arinta menundukkan kepalanya, ketika merasakan kedua matanya memanas.
"sialan", umpat Arinta dan memejamkan matanya, agar berlian itu tidak mengembun dan jatuh menjadi cairan yang membasahi pipinya.
"Eh Rin, gue belum kenalin lo-"
"Aku ke kelas duluan ya. Aku baru ingat kalau hari ini ada piket", ujar Arinta sambil menunduk. Lalu dengan sedikit berlari ia pergi meninggalkan dua orang yang berpotensi menghancurkan benteng pertahanannya perlahan-lahan.
"Kenapa sih dia?. Aneh", gumam Laily dan mengajak Reagan untuk melangkah ke kelasnya.
Ba**rusan dia nangis?, apa jangan-jangan....dia orangnya?, batin Reagan dan memikirkan kembali kejadian dimalam hujan itu. Cowok itu mencoba mencocokan semua puzzle yang ada diotaknya.
"Enggak, enggak mungkin dia", gumam Reagan sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa sih?, aku ngomong dari tadi nggak didengerin", ujar Laily kesal. Panjang lebar sudah ia berbicara, tapi sama sekali tak direspon oleh cowok yang sebentar lagi menjadi tunangan nya itu.
"Hah?, enggak. Aku enggak apa-apa", Reagan tersenyum berusaha meyakinkan Laily.
"Beneran?"
Reagan mencium puncak kepala Laily, "Iya."
Laily tersenyum malu, "Ini disekolah Reagan", ujarnya sambil melihat sekeliling mereka yang banyak dengan siswi-siswi Allandra yang berbisik ria satu sama lain.
"Biarin, enggak usah dipikirin", Reagan menggenggam tangan Laily, lalu melenggang dengan santai.
"Awas!", teriak seseorang dan memisahkan mereka berdua dari belakang. Kemudian orang tersebut, berlari dengan kencang.
"Woi, hati-hati dong", teriak Laily kesal, "Eh, yang barusan itu Gina?", lanjutnya setelah melihat orang tadi memasuki kelasnya.
Reagan melihat sekilas kearah kelas Laily, "Udah mau sampe kan?. Aku pergi duluan ya, ada briefing sama anak OSIS hari ini", ujarnya dan mengelus kepala Laily.
"Yaudah, enggak apa-apa", Reagan tersenyum dan berlalu dari hadapan Laily.
"Kenapa dia harus lari?", gumam Laily dan berjalan cepat kearah kelasnya yang sudah tampak dimata.
Brakk
Gina menendang pintu kelasnya, lalu dengan kasar ia meletakkan tasnya diatas meja Arinta.
Semua isi kelas dibuat kaget oleh kebar-baran Gina barusan. Mereka tau jika Gina itu tomboy dan pemberani, tapi mereka tidak pernah melihat Gina berbuat seperti itu. amengingat jika pembawaan gadis itu yang dingin dan pendiam.
"Kamu kenapa?", tanya Arinta khawatir dan memegang pundak Gina tapi langsung ditepis kasar oleh cewek tersebut.
"Jawab gue dengan jujur. Dia kan orang nya?", tanya Gina dengan lantang yang membuat Arinta dan seluruh kelas kaget.
Arinta menelan saliva nya. Gina terlihat sangat menyeramkan sekarang, "Siapa?, aku enggak paham apa yang kamu maksud", jawab Arinta dan membuang pandangannya kesamping, asalkan tidak menatap mata Gina yang tajam seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Gina menggertakkan giginya, lalu ia mencengkram kedua pundak Arinta yang membuat sang empunya meringis, "Jawab dengan jujur", ujar Gina dengan penuh tekanan di setiap kalimatnya.
"Aku enggak—"
"Jawab gue Arinta. Dia orangnya kan?, gue enggak buta, gue udah lihat semuanya digerbang tadi. Sekarang lo jawab gue, apa susahnya sih jawab gue?", bentak Gina.
"Susah!. Karna kamu udah buka luka yang berusaha aku tutup!," jawab Arinta dengan berteriak. Ia tak lagi mempedulikan sekitarnya yang sudah ramai.
"Kalian ngapain sih?", Laily menyela dan melepaskan cengkraman tangan Gina dipundak Arinta, "Enggak malu apa?, udah besar masih aja ribut", tambahnya.
Gina menganggukkan kepalanya, "Oke. Kalau lo nggak mau beritahu gue siapa orangnya. Gue bakal cari tau sendiri, and see what i'll make", ujarnya dengan tersenyum sinis.
"Bubar!. Lo kira gue lagi main sirkus?", sarkas Gina dan berjalan kearah pintu kelasnya ketika kerumunan orang-orang tadi telah pergi.
"Woi, Gin ceritain ini ada apa?", teriak Laily.
"Ll tanya sendiri sama kawan lo yang bodoh itu", sinis Gina dan keluar dari kelasnya.
Laily menoleh kearah Arinta sambil mengernyit. Setahunya Arinta dan Gina itu tidak pernah berkelahi. Tidak seperti dirinya dan Gina yang tiada hari jika tak beradu mulut.
"Ini kenapa Rin?", tanya Laily sambil membantu Arinta untuk duduk kembali.
Arinta menghela nafasnya, "Nanti aja ya. Aku lagi capek", lirihnya dan meletakkan kepalanya ke lipatan tangan diatas meja.
Laily dengan paksa pun mengangguk. Padahal ia sudah mati penasaran, begitu banyak pertanyaan dikepalanya yang tengah mengantri untuk dijawab. Tapi sebagai teman yang pengertian, ia akan memberikan Arinta sedikit ruang untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Laily yakin jika masalah ini tidaklah sesederhana berebut lipstik.
Kenapa kamu harus kembali?, kenapa kamu nggak musnah aja. Kamu buat aku berada dalam begitu banyak masalah. Aku benci kamu Reagan. gumam Arinta dalam hatinya, dengan sebisa mungkin ia tak ingin menangis. Tapi apalah daya, ia sudah mengingkari janjinya.
Namun, Arinta tegaskan jika air matanya ini bukan untuk cowok brengs*k itu. Melainkan untuk pertengkaran pertamanya dengan Gina.
...~Rilansun🖤....