Brittle

Brittle
Dekat



...••••••••••••••••••...


...Bukan niat awal ku untuk menyakitimu Namun, keputusan akhir takdir lah yang mendekatkan mu padaku......


...••••••••••••••••••...


...***...


Reagan mematikan ponselnya setelah sambungan itu terputus. Ia tersenyum menyeringai menatap rumah bercat putih yang dijadikan klinik kandungan tersebut. Namanya aja yang klinik kandungan, tapi Reagan tidak sebodoh itu untuk mengartikan semuanya. Reagan tersenyum puas tatkala hal yang ia tunggu-tunggu akhirnya pun tiba.


Mobil Polisi datang beriringan memasuki kawasan gang tersebut dengan bunyi nya yang ciri khas. Lebih dari sepuluh Perwira Polisi turun dan mengepung rumah yang dijadikan tempat aborsi ilegal itu.


Setelah berbincang sebentar dengan salah seorang Polisi guna mengkonfirmasikan bahwa dirinya lah yang melapor, Reagan langsung mengitari rumah tersebut. Mencari seseorang yang sudah berani membuat emosinya memuncak.


Kemudian cowok itu menatap seorang cewek yang terlihat panik dan takut. Lantas ia menarik tangan cewek tersebut dan Membawanya ke sisi belakang rumah. Meluapkan emosinya kepada cewek yang tengah menunduk takut dihadapannya.


"Ngapain lo disini?", Reagan geram disaat pertanyaannya tidak dijawab.


"Lo mau bunuh anak gue?, ARINTA!", Arinta mendongak dengan mata yang membelalak. Menatap Reagan yang sepertinya marah besar. Tamatlah riwayatnya kali ini. Lalu Arinta kembali menunduk dengan memainkan tangannya secara gelisah. Biarkan saja lah cowok itu mau mengatakan apa.


"Lo bisu?, hah?", Reagan menggertakkan gigi disaat Arinta hanya diam saja seperti patung.


"Lo pembunuh!."


Deg


Arinta mematung, jantungnya terasa berhenti berdetak. Tanpa bisa dicegah, air matanya jatuh turun mengenai lantai ubin yang dipijaknya. Pembunuh, satu kata yang mampu membuat Arinta kehabisan nafas. Dirinya dikatakan seorang kriminal.


Lalu sedetik kemudian Arinta tertawa pelan, membuat Reagan menatap heran kearah cewek yang masih menunduk itu. Didalam otak nya, ia berpikir apakah Arinta sudah kehilangan kewarasannya karena ia bentak tadi. Atau cewek itu sudah dirasuki salah satu penghuni dirumah ini. Mengingat jika telah banyak nyawa yang melayang ditempat itu.


Arinta mendongak dengan mata yang memerah, membuat Reagan bergidik ngeri.


Plak


"Kamu yang pembunuh, kamu udah bunuh mental aku secara perlahan. Kamu udah hancurin segalanya. Lalu tanpa rasa bersalah kamu ninggalin bangkai gitu aja. Kamu anggap aku ini apa?, cuma kamu disini yang manusia?, cuma kamu yang punya perasaan?. Aku juga punya, aku ini manusia. Disini hancur lebur kalau kamu tau, dan pecahannya malah menusuk kedalam luka yang berdarah. Sakit......", lirih Arinta diakhir kalimatnya seraya menunjuk bagian dada kirinya. Meremasnya, mencoba menghentikan sesuatu yang terasa sakit didalam sana.


Arinta menghapus air matanya kasar, "Kamu adalah manusia pertama berwujud binatang yang pernah aku jumpa", sarkas nya dengan sarat kebencian disetiap kalimatnya, "Jangan pernah ikut urusan aku, kamu itu bukan siapa-siapa, jadi tolong sadar diri", Arinta berbalik berniat meninggalkan tempat yang sebentar lagi akan disegel oleh Polisi. Namun, sebuah lengan lebih dulu mencekalnya. Membuat Arinta kembali menghadap cowok brengs*k tersebut.


"Udah marah-marahnya?", tanya Reagan dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya. Jujur, entah mengapa hati Reagan sakit mendengar penuturan Arinta tadi yang terlihat sangat terpuruk. Ia juga tidak bermaksud memanggil Arinta pembunuh. Emosinya yang memuncak lah yang membuat Reagan mengeluarkan kata-kata kasar tersebut. Tak ada sedikitpun niat dihatinya untuk menyakiti perempuan. Sebab Reagan sadar, dirinya juga terlahir dari seorang perempuan.


Arinta menatap tak bersahabat kearah Reagan, "Rasa benci aku ke kamu enggak akan pernah ada habisnya, termasuk sama anak haram ini", Arinta menunjuk perutnya. Tanpa cewek itu sadari, ia sudah kembali membangkitkan sesuatu yang sudah padam tadinya.


Cup


Reagan mencium Arinta tepat dibibirnya. Membuat Arinta kehabisan nafas dibuatnya. Cewek itu menatap kearah mata Reagan yang terpejam. Dari guratan wajah nya, Arinta paham jika Reagan tengah marah. Namun, Reagan tak punya hak untuk marah kepadanya. Ia bukan siapa-siapa Reagan, dan Reagan bukan siapa-siapa untuknya.


Reagan menjauhkan wajahnya dari Arinta. Menyeringai puas sambil mengelus pelan bibir bawah Arinta yang saat ini tengah berdiri mematung.


"Berani lo pergi ketempat kayak gini lagi, gue bakal buat lo hamil anak kembar nantinya", bisik Reagan ditelinga Arinta. Membuat cewek itu gelagapan dan mendorong kasar tubuh besar Reagan.


"Gila!", umpat Arinta dan memalingkan mukanya. Reagan mengangkat bahunya acuh, lalu menarik Arinta untuk segera pergi dari Rumah Klinik ilegal tersebut. Bulu kuduk nya berdiri jika berlama-lama ditempat itu.


"Enggak!", tolak Arinta. Lalu mengeluarkan ponselnya dari tas, mencoba memesan sebuah ojek online. Namun, dengan gesit ponsel itu telah berganti tempat ke tangan Reagan lalu memasukkan nya kedalam saku celana abu-abunya. Membuat Arinta berdecak kesal.


"Naik atau gue gendong", Arinta mendengus sebal, lalu berusaha naik keatas motor sport Reagan dengan susah payah. Entah tubuhnya yang memang pendek atau jok motor itu yang terlalu tinggi.


"Pegang aja", Reagan menunjuk pundaknya, menyuruh Arinta memegangnya sebagai tumpuan. Tetapi, cewek itu sama sekali tidak menghiraukan titah Reagan. Mengapa Arinta sangat keras kepala. Reagan berdecak dan turun dari motornya. Lalu cowok itu mengangkat Arinta dan mendudukinya di jok belakang motornya. Membuat Arinta terpekik dan terbelalak tak percaya.


"Kepala batu", ujar Reagan, lalu menaiki kembali motornya.


Daripada kamu bajing*n batin Arinta.


"Pegang yang erat. Entar lo terbang dibawa angin, badan lo tepos soalnya", Arinta melotot mendengar ucapan Reagan yang tajam. Mengapa cowok itu terlihat sangat menyebalkan. Ralat, Reagan itu memang sangat-sangat menyebalkan.


Arinta memilih mengabaikan, ia memegang erat bagian belakang yang ia duduki. Reagan yang melihat itu dari spion, lantas mendengus. Cewek itu memang sangat keras kepala, mungkin lebih keras kepala Arinta daripada batu.


Brum


Reagan menancap gas tiba-tiba. Membuat Arinta hampir saja terjungkal kebelakang. Kemudian Reagan tersenyum puas melihat kedua tangan yang melingkar erat diperutnya.


"Lo meluknya terlalu erat, mau bunuh gue?", pertanyaan Reagan sontak membuat Arinta melepaskan lilitan tangannya diperut Reagan. Namun, dicegah Reagan dengan menahan tangan Arinta agar tetap memeluknya.


"Nanti jatuh", ujar Reagan. Kemudian Arinta dengan canggung menjatuhkan kepalanya dipunggung lebar yang terbalut seragam sekolah itu.


Arinta merasa ini adalah untuk pertama kalinya mereka dekat tanpa ada adu mulut dan air mata. Seperti dekat dalam artian yang sebenarnya. Walau diawali dengan beradu emosi terlebih dahulu.


Reagan menatap jalanan dengan tatapan yang sulit diartikan. Dalam pikirannya selalu berputar pertanyaan, kapan semua ini akan berakhir, kapan semuanya akan bisa selesai dengan ending yang bahagia, tanpa ada yang terluka. Tapi itu mustahil, salah seorang dari mereka pasti akan terluka jika semuanya berakhir.


Sementara itu, Arinta tercenung disaat merasa jika dirinya tidak lagi merasa mual. Tapi tadi pagi dengan jelas perutnya pasti akan bergejolak ia berdekatan dengan seorang laki-laki. Untung saja driver ojek online nya tadi adalah seorang perempuan.


Walaupun terdengar aneh, tapi itu nyata di alaminya. Ah, entahlah. Arinta bingung dibuatnya.


"Disini aja", ujar Arinta ketika melihat motor Reagan yang hendak memasuki Gang rumahnya.


"Tapi masih jauh", sahut Reagan, lalu menghentikan motornya tepat didepan gang.


Arinta mengernyit tak suka, ketika mengetahui Reagan yang telah tau rumahnya. Pasti karena malam mereka mencari dirinya itu. Sudahlah, yang penting cowok itu tidak bertamu kerumahnya saja itu sudah cukup. Lalu Arinta turun dari motor sport milik Reagan dengan cowok itu yang memberikan uluran tangannya membantu Arinta untuk turun.


"Dirumah pasti ramai", ujar Arinta yang berhasil membuat Reagan bungkam. Cowok itu paham, jika saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk datang kerumah Arinta. Semuanya pasti sangat membenci dirinya.


"Hati-hati", Arinta mengangguk dan berjalan menjauh memasuki Gang rumahnya.


"Hoodie gue simpan baik-baik!", teriak Reagan. Arinta berhenti dan melihat hoodie hitam yang ia kenakan. Lalu Arinta berbalik menatap Reagan yang tersenyum menyebalkan kearahnya. Arinta berpikir jika hoodie ini adalah milik Gina, karena gadis itu yang membawanya dan memberikan pada Arinta tadi pagi. Arinta mengutuk dirinya, ketika telah paham dengan arti dari senyuman aneh Gina tadi pagi.


Merasa malu, Arinta pun lantas berlari meninggalkan Reagan yang berteriak panik. Sebab didalam perut cewek itu ada anaknya, dan sebuah goncangan akan sangat berbahaya untuk si kecil.


Sepertinya cewek itu memang sangat berniat untuk membunuh anaknya.


...~Rilansun🖤....