Brittle

Brittle
Suami saya!



...•••••••••••••...


...Bunda kalau lagi cemburu tambah gemesin......


...•••••••••••••...


...***...


"Kakak cantik bentar lagi mau punyak dedek ya?."


Arinta melirik ke bawah. Dimana seorang bocah laki-laki sedang berdiri sambil mengelus perut buncitnya.


Lantas cewek itu tersenyum dan mengusap rambut anak tersebut, "Iya, doain dedek nya semoga keluarnya mudah ya", ujarnya dengan kalimat yang bisa dimengerti oleh anak berusia empat tahun sepertinya.


"Keluarnya dari mana Kakak?", tanya anak tersebut dengan menatap polos Arinta. Membuat calon ibu itu menipiskan bibirnya. Dengan kalimat apa dirinya harus menjelaskan pada lelaki kecil itu.


"Eum, dari-"


"Dedek nya nanti bakal keluar dari tempat yang dinamakan surga", sela Reagan sambil berjongkok dihadapan anak tersebut.


"Berarti Aji juga keluar dari surga dong?."


Reagan tersenyum tipis, "Iya, semua anak itu datangnya dari surga. Dan Aji juga dari surga."


"Tapi kalau Aji datangnya dari surga, terus kenapa Mama Aji malah pergi ke surga?", pertanyaan polos Aji yang membuat Arinta dan Reagan terdiam seribu bahasa.


"Kata orang, Mama udah capek sama Aji. Karena Aji bandel", tambah Aji dengan nada lirihnya seraya menundukkan kepalanya.


Arinta yang melihat itu lantas tak bisa mencegah air matanya turun. Membayangkan seorang anak berusia empat tahun hidup di tempat yang dimana segalanya harus berbagi. Arinta bersyukur karena Tuhan memberikan nya dua Ibu serta Ayah yang masih lengkap.


"Mama Aji bukan capek. Tapi Allah terlalu sayang sama Mama Aji, maka nya Mama Aji dipinjam sebentar sama Allah", ujar Reagan sambil mengelus kepala Aji.


"Aji bisa ketemu Mama?", tanyanya dengan mata yang berbinar.


Reagan mengangguk, "Iya, tapi Aji harus jadi anak yang baik. Selalu doa kan Mama supaya Aji bisa ketemu Mama di surga."


"Seriusan, Om?"


Reagan mengangguk lagi.


"Hore!. Cinta!, Aji bisa ketemu Mama nanti", teriak Aji girang sambil berlari menghampiri anak perempuan yang sebaya dengan nya.


"Aji diantar kesini oleh tetangganya setahun yang lalu", celetuk Bu Rini, selaku pengurus panti asuhan. Yang membuat pasangan muda itu menatapnya penuh.


"Ayah nya kemana?", tanya Arinta kemudian.


Bu Rini terlihat tersenyum tipis, "Kata tetangganya, Ayah Aji itu penjudi berat. Dan udah dua tahun ini beliau pergi meninggalkan Aji dan Mama nya. Sampai Istrinya meninggal pun Ayah Aji gak pulang-pulang. Mama Aji pun gak punya kerabat disini. Wanita malang itu merantau kesini", ujarnya panjang lebar. Membuat Arinta menganggukkan kepalanya paham. Tuhan, mengapa takdir kejam sekali untuk anak yang masih kecil itu. Sungguh, Arinta merasa kasihan dengan Aji. Bahkan anak itu masih menginginkan untuk bertemu dengan Ibu nya. Keinginan nya yang membuat Arinta menitikkan air mata. Siapa yang tidak tau kalau sangat mustahil untuk bertemu dengan orang yang telah mati. Tapi Arinta berdoa, jika Aji bisa bersatu dengan Ibu nya di surga kelak.


Dengarkan lah ya Allah.


"Udah Rin?", Vina datang menghampiri Arinta dan Reagan. Mommy nya itu baru saja selesai memberikan beberapa bingkisan untuk anak-anak yang sangat berharga itu.


Hari ini tepat tujuh bulan kandungan Arinta. Waktu berlalu dengan cepat, sehingga Arinta tidak sabar untuk segera bertemu dengan baby twins nya. Dan untuk mengucapkan syukur karena Tuhan telah memberikannya dan anaknya kesempatan untuk bersama hingga detik ini. Arinta memilih untuk merayakannya bersama anak-anak panti. Ia ingin berbagi kebahagiaan nya dengan malaikat-malaikat kecil yang memiliki nasib kurang baik itu.


Arinta mengangguk, "Udah Mom."


"Kakak cantik udah mau pulang?", Aji datang menghampiri Arinta dengan berlari kecil. Sangat menggemaskan. Arinta yakin kalau Aji adalah seorang anak yang pintar. Terbukti dengan gaya bicaranya yang tidak seperti anak seusianya. Sangat bijak dan lucu melihat mulut kecil itu berceloteh.


"Iya. Aji harus jadi anak yang baik ya biar bisa ketemu Mama. Jangan lupa doa kan dedek supaya sehat terus sampai waktunya keluar", sahut Arinta sambil mencubit gemas pipi gembul Aji.


Kepala kecil itu terlihat mengangguk semangat, "Nanti Aji minta sama Allah, semoga dedek sehat terus sampai keluar."


"Aji boleh cium dedek, kakak cantik?", Aji bertanya dengan mata bulat hitam nya yang menatap polos Arinta.


Arinta menganggukkan kepalanya.


Aji berteriak heboh dan langsung mencium perut buncit Arinta, "Sehat-sehat terus ya dek. Kalau udah keluar jangan lupa ketemu sama Aji ya. Nan-, aduh", ucapannya terhenti saat merasakan tendangan kecil dari dalam perut.


"Kakak cantik, dedek nya kok gerak-gerak. Kenapa kakak cantik?, perutnya sakit ya?. Dedek jangan nakal, kasihan kakak cantik", celoteh Aji saat melihat wajah Arinta yang meringis kesakitan.


"Dedek nya gak nakal, tapi dedek nya senang karena bisa ketemu Aji", sahut Reagan.


"Aji juga senang ketemu kakak cantik, Om dan dedek. Juga sama Oma dan Opa", Aji menunjuk kearah Xavier, Renata, Sinta, Deri, Vina dan Zhein yang berdiri berdampingan.


"Aji manggil kakak ini, kakak cantik. Masa manggil kakak, Oom. Seharusnya panggil kakak ganteng", protes Reagan saat mendengar anak itu memanggilnya dengan sebutan Om lagi. Apa wajahnya terlalu tua untuk disandingkan dengan Arinta. Sampai-sampai tidak pernah ada yang menduga kalau ia adalah suami dari bumil satu itu.


"Tapi kata Umi, laki-laki itu gak suka dipuji. Yang suka dipuji itu cewek", balas Aji membuat Reagan mendengus.


"Ya udah, panggil Abang aja."


"Tapi kan Om badannya udah besar. Kalau Abang itu kayak Abang Rizki, badannya masih kecil", Aji menunjuk seorang laki-laki yang sepertinya masih berusia sepuluh tahun.


"Ya udah Om aja deh", sahut Reagan dengan muka masam. Membuat Arinta menahan tawanya. Mengapa Reagan itu ngebet sekali mau dipanggil Kakak. Enggak sadar diri, padahal bentar lagi mau punya anak sendiri. Masih untung dipanggil Om, kalau dipanggil Kakek kan gawat.


"Aji sehat-sehat terus ya, Kakak pulang dulu. Nanti kakak datang lagi sama dedek nya yang udah keluar", ujar Arinta sambil mengusap rambut anak tersebut.


Aji lantas tersenyum lebar dan mengangguk dengan cepat.


"Dadah", Arinta melambaikan tangannya kepada anak-anak panti asuhan sebelum keluar dari tempat itu.


"Makasih banyak ya Bu, Pak, udah mau berkunjung dan memberikan kepada anak-anak. Semoga Ibu dan anaknya sehat-sehat terus sampai melahirkan. Dan semoga nanti dedek nya jadi anak yang berbakti kepada orang tua dan orang sekitarnya", ujar Bu Rini dengan senyuman tulus nya.


Setelah berbasa-basi sebentar, Arinta langsung masuk ke dalam mobil Reagan. Berjalan di depan yang disusul kemudian oleh mobil orang tuanya.


"Sakit banget perutnya?, mau ke dokter", tanya Reagan dengan tangan yang mengelus perut Arinta. Istrinya itu tadi terlihat sangat kesakitan sampai membuat keringat dingin nya keluar.


Arinta menoleh kearah Reagan, "Aku tanya semalam sama dokter Ayu, kata nya gak apa-apa. Itu hal yang wajar, karena rahim semakin membesar dan tekanan pada perut pun semakin kuat. Ditambah anak kamu itu aktifnya kebangetan", sahutnya sambil memejamkan mata lelah.


"Tenang-tenang ya di dalam sayang", Reagan mencium sejenak perut Arinta ketika lampu merah. Lalu kembali ke posisi semula saat lampu sudah kembali hijau.


"Kamu yakin gak mau kuliah?", celetuk Reagan membuat Arinta membuka matanya.


"Enggak", jawab Arinta singkat dan mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Ya, Arinta sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi sekolahnya. Ia ingin fokus kepada anak dan suaminya. Arinta mau menjadi seorang ibu dan istri yang sesungguhnya untuk keluarga kecilnya. Dan Arinta tidak ingin waktunya terbagi.


"Aku gak ngelarang kamu buat kuliah. Kamu bisa-"


"Aku gak mau kuliah. Kan ada kamu yang nyari duit, atau kamu gak mampu buat ngehidupin aku?", tantang Arinta membuat ego Reagan sebagai laki-laki terluka.


"Siapa bilang gak sanggup. Menara Eiffel kamu minta pindahin ke sini pun aku juga sanggup", balas Reagan dengan angkuh.


"Kalau Bunda minta bulan, Papi sanggup gak ambilin?", tanya Arinta seraya mengerlingkan matanya kearah Reagan.


"Apapun yang Bunda minta", jawab Reagan yang terdengar sedikit malu, membuat Arinta terkekeh geli.


"Langsung pulang?", tanya Reagan kemudian sambil melirik sekilas kearah Arinta.


"Mampir ke supermarket dulu. Aku mau belanja bulanan", jawab Arinta.


Reagan mengangguk dan mengemudikan mobilnya sampai ke supermarket.


Lalu Reagan turun terlebih dulu, mengitari mobilnya dan membantu bumil itu untuk turun.


Setelah Reagan mengambil satu buah troli belanja, Arinta lantas berjalan didepan suaminya itu. Mengintruksikan apa saja yang akan diambil oleh Reagan. Sampai telinga nya yang nyaring menangkap sebuah kalimat yang sangat menusuk ke relung hatinya.


"Duh, adek nya baik banget sampai mau nemenin kakak nya buat belanja."


"Iya Bu, ganteng lagi. Cocok banget jadi menantu Ibu."


Arinta mendelik tak suka kearah sepasang anak dan ibu yang berada tak jauh darinya. Enak saja ia dibilang Kakak Reagan. Apa mata kedua orang itu sudah katarak. Bahkan Aji yang masih kecil saja tau mana yang lebih muda. Dan apa tadi, ingin mengambil suaminya?. Hell, langkahi dulu mayat tiga Ibu dan Ayahnya serta twins dan Gina.


Kemudian Arinta menoleh kearah Reagan yang menatapnya seraya tersenyum. Sepertinya cowok itu mendengar percakapan ibu dan anak tersebut.


"Kenapa kamu senyum-senyum?!", ketus Arinta tak suka.


"Lah enggak boleh senyum emang?", Reagan menaikkan sebelah alisnya. Menatap jahil Arinta yang sedang cemburu.


"Gak boleh!", sahutnya lalu mengambil kacamata beserta masker yang ada di dalam tasnya. Dan memakaikannya kepada Reagan.


"Kenapa pakai kacamata hitam sih, ini-"


"Jangan protes!. Mau tidur di luar?", ancam Arinta yang membuat Reagan bungkam seketika. Lalu mereka melanjutkan kembali acara belanja Arinta yang tertunda dengan Reagan yang pasrah mengikuti apa kata istrinya.


Setelah selesai Arinta menarik Reagan untuk segera pergi ke kasir. Tidak ingin suaminya dimakan oleh virus-virus yang meresahkan.


Sesampainya di depan kasir pun banyak yang berbisik jika Reagan sebagai adiknya. Hello, mata sebelah mana yang mereka gunakan sehingga mengira jika dirinya adalah kakak Reagan.


Kemudian mata Arinta tak sengaja menangkap dua sosok yang tadi membuat darah tingginya naik tengah berjalan kearah meja kasir.


"Mas", Arinta memanggil Mas penjaga kasir yang tengah menghitung barang belanjaannya.


"Iya mbak, ada yang bisa saya bantu?", tanya Mas kasir dengan senyuman profesional nya.


"Mas, suami saya ini ganteng ya kan. Kayak artis Thailand yang lagi viral itu. Bahkan ganteng-an suami saya lagi", ujar Arinta tiba-tiba dengan menekan kalimat suami. Supaya calon-calon kaylampir bisa sadar dan segera mundur.


Mas kasir yang mendengar itu lantas menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bagaimana mungkin dia mengatakan cowok lain ganteng. Yang ada dia dikatakan banci dan memiliki kelainan seksual.


Sedangkan Reagan, cowok itu hanya menggelengkan kepalanya sambil membayar belanjaan. Arinta itu memang pencemburu akut. Bisa dipastikan sehabis mereka pulang, cewek itu akan memarahinya dan mengajak perang dingin. Walau pun begitu, Reagan tetap suka melihat Arinta yang cemburu padanya. Itu tandanya Arinta sangat mencintai dirinya.


"Sekarang emang lagi musim ya ngambil suami orang. Maka nya ibu-ibu harus hati-hati sama suaminya. Cowok itu mah kalau liat yang bening aja langsung nyosor. Apalagi yang bahenol", Arinta melirik Reagan saat mengingat kembali perihal sekretarisnya itu.


Reagan yang merasa ditatap pun lantas menoleh, "Kenapa Bun?", tanyanya.


Arinta mendengus, "Gak ada!", ketusnya, "Udah ayo", lanjutnya seraya menarik tangan Reagan saat cowok itu sudah selesai membayar. Arinta tidak ingin wajah suaminya ditatap secara gratis begitu. Walau sudah memakai masker, tapi mata Reagan tetap saja terlihat. Dan mata tajam sekaligus teduh itu lah yang menjadi daya tarik dari seorang Reagan.


"Bunda kalau lagi cemburu, tambah gemesin", goda Reagan saat membantu Arinta menggunakan sealt-belt.


"Gak mem-"


Cup


"Udah dong jangan marah, jadi pengen cium nih", bisik Reagan membuat Arinta membelalakkan matanya. Tidak peduli dimana dan kapan, Reagan pasti akan selalu mengambil kesempatan untuk menciumnya. Dasar.


...~Rilansun🖤....


Daya tarik ibu-ibu👇



SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 🤗💞