
...••••••••••••••...
...Pada akhirnya yang terluka ingin kembali jatuh cinta......
...••••••••••••••...
...***...
"Berhenti."
Reagan mematikan mesin mobilnya tepat didepan sebuah warung yang tak jauh dari sekolah mereka. Lalu beralih menatap Arinta yang duduk disampingnya.
"Kenapa?, kamu mau sarapan lagi?", tanya Reagan bingung.
Arinta mendongak, "Enggak", jawabnya singkat dan berniat membuka pintu mobil, namun Reagan lebih dulu mencekal tangan istrinya tersebut.
"Nanggung", ujar Reagan dan mengunci pintu mobil dari dalam. Reagan paham jika Arinta tidak mau terlihat berjalan berduaan bersama nya. Memangnya kenapa sih, seharusnya Arinta itu bersyukur karena dapat menikah dengan cowok nomor satu di Allandra. Sementara Reagan kan adalah most wanted and prince charming nya Allandra.
Sedangkan Arinta, cewek itu hanya bisa menghela nafas dan menyandarkan punggungnya dengan pasrah. Arinta malas untuk berdebat dengan Reagan di pagi hari begini. Kalau kata orang tua, itu hanya akan membuat hari kita menjadi sial.
Reagan tersenyum tipis melihat Arinta yang penurut hari ini. Jika saja itu terjadi setiap hari. Betapa damai nya hidup Reagan.
Kemudian cowok itu kembali menghidupkan mesin mobilnya. Melesat kearah sekolahnya yang sudah tampak didepan mata.
Setelah Reagan memarkirkan mobilnya dan membuka kunci pintu mobil tersebut. Arinta menoleh kearah Reagan yang menatap bingung dirinya.
"Kamu jangan turun dulu. Setelah lima menit aku turun, baru kamu boleh turun", titah Arinta yang membuat Reagan mengernyitkan keningnya.
"Lah ngapain aku lama-lama didalam mobil. Enggak mau", tolak Reagan.
Arinta menatap tajam suaminya tersebut, "Kalau kamu enggak mau, kita enggak usah turun."
Reagan menoleh cepat kearah Arinta dengan menyeringai, "Kalau gitu kita ngapain didalam mobil?, gimana kalau kita bolos aja hari ini?", ujarnya yang langsung membuat Arinta memukul kepala cowok tersebut.
"Mesum!"
"Mesum itu adalah tempat letaknya peninggalan-peninggalan bersejarah", celetuk Reagan membuat Arinta menatap flat dirinya.
"Ha. ha. ha. ha."
Reagan terkekeh kecil seraya mengacak rambut Arinta, melihat istrinya itu yang tertawa dengan wajah yang datar.
Arinta mendengus kasar dan membuka pintu mobil. Namun Reagan dengan cepat mengambil tas Arinta yang cewek itu letakkan diatas pahanya.
"Kenapa lagi sih", semprot Arinta melihat Reagan yang menyandang tas nya dipundak sebelah kanan dan tas cowok tersebut dipundak sebelah kiri.
"Udah, pergi sana", ujar Reagan menyuruh Arinta untuk keluar terlebih dahulu.
"Tapi tas-"
"Aku yang bawa", sela Reagan.
Arinta memutar bola matanya jengah. Dan bersiap-siap untuk turun, namun lagi-lagi Reagan menginterupsi nya. Membuat Arinta merutuki cowok tersebut didalam hatinya.
"Apa lagi Reagan", Arinta berusaha mengontrol emosinya agar tidak meledak. Sepertinya berhadapan dengan Reagan lebih menyulitkan daripada meladeni Raka yang usil bin jahil.
Reagan tak menjawab, cowok itu justru mengulurkan tangan kanannya kearah Arinta. Membuat cewek itu mengernyit heran.
"Kenapa?, minta jajan?, aku enggak ada duit", ujar Arinta.
Reagan tertawa dan menarik kepala Arinta. Mencium lembut kening istrinya. Membuat cewek itu membeku seketika.
Mengapa Reagan selalu bertindak dengan mendadak.
"Selamat belajar my wife", Reagan menjauhkan tubuhnya dan menatap Arinta yang sepertinya masih mematung.
Lalu cowok itu mengusap pipi Arinta yang memerah. Sepertinya Reagan tau satu lagi kebiasaan Arinta. Pipi dan telinga istrinya itu akan memerah apabila sedang tersipu malu. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
"Kamu cantik kalau lagi blushing kayak gini", bisik Reagan ditelinga Arinta yang membuat Arinta tersentak kaget.
"Bullshit", Arinta mendorong tubuh Reagan dan segera membuka pintu mobil. Lalu membantingnya dengan keras.
Reagan tersenyum menatap punggung Arinta yang menjauh, "My wife", gumamnya. Mengucapkan sekali lagi panggilan yang Reagan pun tak sadar jika dirinya lah yang mengucapkan itu. Ucapan tersebut spontan keluar begitu saja.
...***...
Reagan menumpu kedua tangannya dipagar pembatas. Menatap lamat sosok mungil yang mengenakan seragam olahraga dibawah sana.
Hari ini setelah upacara, kelas XII MIPA-1 tidak kedatangan guru yang seharusnya mengajar di jam ini. Sehingga mereka bebas untuk tiga jam kedepan. Padahal sebentar lagi mereka akan ujian kelulusan. Tapi gurunya selalu saja bolos.
🎶Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anak ku
Membuka mata... dan tertidur di sampingku
Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu...
Reagan berdecak mendengar Zidan yang bernyanyi dengan suara sumbang nya. Pacar aja belum punya, tapi lagu nya kayak yang udah yes aja.
Kemudian Reagan menoleh kesamping nya. Disaat merasa orang yang berdiri disebelahnya itu sama sekali tidak bersuara.
"Jangan dilirik bro, my wife itu", celetuk Reagan ketika melihat arah pandang Ardean yang terarah ke Arinta.
Ardean menatap Reagan datar lalu kembali memandang Arinta yang tengah berolahraga di tengah lapangan.
"Lo merasa ada yang janggal enggak?", tanya Ardean yang tertuju untuk Reagan.
Cowok itu terdiam sebentar sebelum menjawab, "Enggak ada."
"Arinta lagi ngapain?", tanya Ardean lagi.
"Olahraga", jawab Reagan singkat.
"Terus?"
"Terus apa?", Reagan menatap Ardean bingung. Mengapa cowok itu banyak bertanya sekali hari ini.
Ardean memutar bola matanya. Reagan itu tidak bisa dibilang bodoh, karena cowok itu lah yang paling banyak menyumbangkan piala untuk Allandra. Namun untuk dibilang pintar....Ah entahlah.
"Lo enggak takut anak lo kenapa-kenapa?."
Pertanyaan Ardean membuat Reagan tersentak. Cowok itu terdiam sebentar sambil menatap lamat wajah Ardean yang berdiri disampingnya. Kemudian setelah tersadar, Reagan segera berlari seraya berseru panik, "Astagfirullah my wife. Anak gue, ya Allah."
Revo, Zidan dan Ardean menatap cengo Reagan yang berteriak heboh seraya berjalan menuruni tangga. Sepertinya tadi pagi Reagan lupa membawa image nya sebagai cool boy.
"Kayak nya sebentar lagi Antartika akan segera mencair", celetuk Revo dengan gitar di pangkuannya. Sebagai pengiring Zidan yang bernyanyi.
Riko?, cowok itu sudah terbang ke alam mimpinya sejak dikabarkan kalau guru mereka berhalangan hadir. Cowok seperti Riko memang harus banyak tidur, sebab masih dalam masa pertumbuhan.
"Pada akhirnya yang terluka ingin kembali jatuh cinta", ujar Ardean yang membuat Zidan dan Revo menatap kearah cowok tersebut.
...***...
Arinta menoleh kebelakang ketika merasa ada yang mencolek bahunya. Matanya melebar saat melihat Reagan berdiri tepat dibelakangnya.
"Ngapain kamu disini?", Arinta bertanya dengan suara rendah. Dengan memperhatikan sekitar, Arinta menarik Reagan untuk berdiri ditepi lapangan. Arinta tidak suka menjadi pusat perhatian. Namun Reagan, menyebutkan nama cowok itu saja sudah bisa menjadi pusat perhatian. Terlalu famous.
"Kamu kenapa olahraga?, enggak ingat kalau lagi bunting?", tanya Reagan ketus.
Arinta menaruh telunjuknya dengan gemas dibibir Reagan. Menyuruh cowok itu untuk tidak berbicara soal yang sangat sensitif tersebut. Walau sebagian guru sudah mengetahui jika Arinta sedang hamil. Tapi tidak banyak anak murid yang mengetahuinya. Mereka hanya percaya dengan rumor yang dikatakan Laily, Bianca dan Diva beberapa waktu lalu.
Terlebih sekarang Arinta sudah mengenakan seragam sekolah yang sedikit longgar. Untuk saat ini Arinta tidak ingin menjelaskan apapun kepada orang-orang. Setidaknya hanya untuk beberapa bulan lagi. Sampai hari kelulusannya tiba.
Pernah ada teman kelasnya yang bertanya mengapa Arinta memakai seragam yang longgar. Mungkin mereka curiga kalau rumor tersebut benar.
Tapi Arinta beruntung karena memiliki Gina yang dapat mengatasi segalanya.
"Enggak mungkin aku bilang sama bapak tuh kalau aku lagi hamil dan enggak bisa ikut olahraga. Kamu gila?!", sarkas Arinta.
"Kan bapak tuh juga udah ta-"
"Shut up Reagan", bisik Arinta sambil menggeram marah.
"Reagan!, ngapain kamu disana?", teriak pak Adi dari tengah lapangan yang membuat semua mata tertuju kearah mereka berdua.
Reagan menatap Arinta seraya tersenyum tipis. Cowok itu menaikkan sebelah alisnya. Bertanya kepada Arinta apa yang harus dijawabnya. Dan Arinta hanya menggeleng kecil sambil menatap memohon Reagan.
Reagan menghela nafasnya, "Saya ada perlu sebentar pak. Lima menit", balasnya dengan menunjukkan kelima jarinya.
"Oke. Habis itu masuk kelas."
Reagan mengangguk singkat. Lalu anak kelas X MIPA II kembali berolahraga setelah pak Adi berteriak keras. Membuat mereka yang masih menatap Arinta dan Reagan tersentak kaget
Arinta mendongak menatap Reagan yang juga menatapnya, "Udah pergi sana", usir Arinta dengan ketus.
Reagan tersenyum tipis, "Jangan olahraga kalau capek. Berhenti aja ya, kasihan baby nya", ujarnya lembut sambil mengusap puncak kepala Arinta. Dan satunya lagi mengusap sayang perut Arinta yang sudah sedikit membuncit. Untung saja posisi Arinta membelakangi lapangan. Jadi tidak ada yang mengetahuinya. Walaupun ada, sudah ada Gina yang akan mengatasinya.
Arinta mendengus dan membuang pandangannya. Arinta merasa jantungnya akan melompat keluar dari tubuhnya saat ia berdekatan dengan Reagan. Cowok itu sangat berdampak untuk kesehatan jantungnya. Dan itu tidak bagus.
"Iya-iya. Udah sana pergi", Arinta mendorong sedikit tubuh Reagan.
"My fierce wife", ujar Reagan yang membuat Arinta melotot tajam kearahnya.
Reagan terkekeh. Mencium lembut kening Arinta secepat kilat sebelum cewek itu melemparkan sepatunya kearah Reagan.
Arinta menggelengkan kepalanya. Apakah itu Reagan yang pertama kali bertemu dengannya. Cowok yang memaki dirinya, disaat Arinta tak sengaja menabraknya. Cowok yang bersumpah tak akan menikahinya, padahal Reagan lah yang membuat kesalahan.
Apakah setiap cowok ganteng itu bebas melakukan apapun. Mengapa Tuhan begitu tidak adil.
...~Rilansun🖤....
My fierce wife ><