
...••••••••••••••...
...Doa adalah satu-satunya jalan untuk menyampaikan rindu sekarang.......
...••••••••••••••...
...***...
Apa arti sesungguhnya dari hidup?. Mencapai kesuksesan. Mempunyai harta yang takkan habis tujuh turunan. Memiliki keluarga yang harmonis dan tenteram. Atau dikenal oleh banyak orang.
Berbicara tentang kehidupan tidak akan pernah ada habisnya. Seperti ujung bumi yang belum di tentukan pasti tempatnya. Dan seperti laut yang tidak tau kapan akan kering, sekering-keringnya.
Bumi hanya lah tempat persinggahan sementara sebelum kita benar-benar pulang ke rumah yang sesungguhnya.
Manusia layaknya seperti bunga dandelion yang mudah terbang karena hembusan sang angin. Bertahan bagi yang kuat. Dan menghilang bagi yang lemah. Menjalankan hari demi hari dengan selalu memikirkan, kapan semua ini akan berakhir?. Apakah ada kata usai di dalamnya?. Kapan?, Apakah ketika malaikat maut menyapa, atau ketika hari kehancuran itu tiba.
Tapi bagi Reagan, hari kehancuran itu telah tiba empat tahun yang lalu. Bunga dandelion yang ada dalam genggamannya telah habis tertiup angin. Menyapu habis telapak tangannya, hingga tak ada satupun yang tersisa. Hanya ada tangkai layu yang menjadi kenangan. Dan Reagan berjanji akan menyimpan kenangan itu di palung terdalam hatinya.
Agar tak ada yang mengusai apalagi menghapuskan kenangannya itu.
Daun-daun mati beterbangan karena didorong oleh hembusan angin. Sangat rapuh dan layu.
Hingga sekuntum bunga kamboja putih jatuh mengenai Reagan. Lantas cowok itu mengambilnya, tersenyum miris menatapnya sebelum meletakkan bunga itu ke samping sebuket bunga lili putih yang dibawanya.
"Udah empat tahun", ujar Reagan lirih dengan mengelus batu nisan yang tertulis nama malaikatnya itu.
Tuhan begitu cepat mengambilnya. Padahal Reagan belum banyak melakukan banyak hal untuknya. Ada banyak yang ingin Reagan ceritakan dan tunjukkan.
Reagan benar-benar merindukan pelukan hangat dan nasihat dari malaikatnya itu.
"Maaf", Reagan menjeda ucapannya. Menghela nafas guna mengusir sesak di dada, "Belum bisa memberikan segalanya. Membalas semua yang telah diberikan dan semua perjuangan yang dilakukan", lanjutnya dengan suara yang bergetar. Reagan menyesali dirinya yang belum sempat menghabiskan banyak waktu dengan beliau.
"Hiks, hiks."
Reagan menoleh kesamping nya, dimana seorang wanita tengah menunduk menangis. Ia tau jika orang itu adalah segalanya bagi wanita itu. Walau tidak ada hubungan darah yang mengikat, tapi ada cinta yang menyatukan. Dan cintanya itu telah jauh terkubur di dalam tanah sana.
Lalu Reagan menarik tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya. Mengusap pundaknya yang bergetar sambil berbisik lirih, "Don't cry."
"Cantik, angan angis", terdengar suara cadel nan imut yang mencoba menghibur. Membuat Reagan tersenyum dan menoleh kearah laki-laki kecil yang berdiri di samping kirinya. Mengusap lembut kepala putranya itu. Jika saja anaknya itu sudah paham, mungkin ia juga akan ikut menangis. Tapi sayang, bocah laki-laki berumur lima tahun itu belum tau apa arti dari kata kehilangan.
"Kenapa gak boleh nangis?", tanya Reagan pada putranya itu. Mutiara hatinya yang diperjuangkan dengan sangat keras.
"Ntik hujan tulun", jawabnya dengan bibir mungilnya yang bergerak lucu.
Reagan tertawa pelan. Andai saja malaikatnya ada disini dan melihat bagaimana pintar dan menggemaskan nya Argan Kaivaro Allandra, putra satu-satunya.
"Cium dong Oma cantiknya, biar gak nangis lagi", ujar Reagan dan menggendong Argan untuk mendekat kearah Renata.
"Don't clay, beauty", Argan mencium lembut pipi Renata. Membuat wanita paruh baya itu tersenyum lalu menghapus air matanya.
"Oma gak nangis, cuma kelilipan", alibi Renata.
"No!, Oma bohongin Algan. Angan bohongin Algan Oma, Algan itu butan anak kecil lagi", protes si kecil tak terima dengan menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. Tanda peringatan.
Reagan terkekeh, "Kalau udah besar itu ngomongnya lancar", sahutnya yang menarik perhatian Argan.
"Algan udah lancal kok", ujarnya dengan ekspresi wajah yang sangat menggemaskan.
"Masa?, coba bilang Argan", Reagan tersenyum jahil.
"Algan."
"Errrr."
"Elll."
"Masih kecil", ujar Reagan sambil menarik hidung mungil putranya.
Renata yang melihat itu lantas menarik senyuman tipis. Andai saja orang itu hadir disini dan melihat kebahagiaan yang nyata ini.
Dua laki-laki berbeda generasi itu lantas menganggukkan kepalanya dan menyatukan kedua telapak tangannya. Menundukkan kepala dengan khusyuk. Mengirim doa pada orang yang sudah tenang di atas sana.
Lalu semuanya hening. Hanya terdengar suara angin yang bergemuruh di telinga. Sebelum suara cadel itu kembali terdengar berucap.
"Papi, Algan lindu Bunda", ujarnya yang terdengar sendu. Sarat dengan penuh kerinduan yang kentara.
Reagan tersenyum tipis dan mengelus pelan pipi Argan.
"Papi juga", lirih Reagan membuat Renata tersenyum. Laki-laki kecilnya kini sudah beranjak menjadi seorang Ayah dan suami yang bertanggung jawab. Renata bersyukur karena Reagan dapat bertemu dengan cinta sejatinya.
Merasa ingat akan sesuatu, Reagan sontak merogoh saku bagian dalam jasnya. Mengeluarkan surat kecil berwarna putih dengan hiasan bergaya vintage. Lalu meletakkannya tepat di depan batu nisan tersebut.
"Semuanya berjalan dengan sangat cepat. Banyak hal yang sudah terjadi. Akhirnya kebahagiaan hadir setelah empat tahun berlalu. Akan ada lagi suara suka cita dimana-mana. Tenda biru kini sudah berganti menjadi tenda pernikahan yang megah. Tapi sayang, kamu gak ada didalam kebahagiaan itu. Kamu gak bisa ikut melepas dia", ujar Renata panjang lebar dengan mata yang terfokus pada nama di batu nisan itu. Air matanya kembali turun mengalir begitu saja.
"Xavier", bahu Renata bergetar saat nama itu keluar dari mulutnya, "Ka-kamu baik-baik aja kan disana?. Jangan ca-cari bidadari cantik disana", tambahnya dengan terbata-bata.
Reagan langsung menarik Renata ke dalan pelukannya. Membuat tangis wanita itu pecah di dalam pelukan putranya.
"Jangan nangis Bunda, nanti Ayah sedih", Reagan mencoba menenangkan Renata dengan mengelus punggungnya yang bergetar hebat.
"U-udah empat tahun, tapi Bu-bunda belum bisa ikhlas."
"Ssstt, Bunda gak boleh gitu. Nanti Ayah gak tenang disana. Bunda harus ikhlas", sahut Reagan. Tanpa sadar air mata itu turun perlahan dari pelupuk matanya. Ia pribadi pun masih tidak menyangka jika Ayahnya begitu cepat meninggalkan mereka semua. Padahal Reagan belum sempat menghabiskan banyak waktu dengan Ayahnya. Terakhir ia bercerita dengan Xavier adalah ketika dirinya duduk di bangku SD. Pada saat Reagan masih bisa duduk di pangkuan Ayahnya. Kini jangankan pangkuan, senyumannya pun tidak akan pernah lagi Reagan lihat.
"Maafkan Reagan Ayah", gumamnya lirih dengan mata yang terpejam. Mengingat kembali dimana masa buruk itu menghampirinya. Mereka yang sedang merayakan ulang tahun pertamanya twins langsung tak bergeming saat mendapatkan kabar kalau pesawat yang dinaiki oleh Xavier jatuh.
Momen yang seharusnya penuh tawa berubah menjadi derai air mata dalam sekejap. Reagan masih ingat saat Renata pingsan berulang-ulang kali karena tidak percaya jika suami tercintanya telah tiada.
Pada saat itu lah Reagan paham apa itu arti kehilangan. Walau ia tidak terlalu dekat dengan Xavier. Tapi sekalipun Reagan tidak pernah membayangkan bagaimana jika Ayahnya itu pergi untuk selamanya.
"Bu-bunda rindu Ayah", Renata berujar lirih membuat hati Reagan seakan ikut tersayat.
Hanya Tuhan lah yang tau bagaimana kuatnya cinta antara Bunda dan Ayahnya itu. Sampai membuat Renata rela meninggalkan tanah air serta keluarganya demi menemani suaminya disini. Sebab Xavier yang pernah berkata, kalau suatu saat dirinya sudah tiada maka ia ingin jasadnya dikuburkan di tanah kelahirannya. Dan mereka semua memenuhi wasiat pria itu.
"Doa adalah satu-satunya jalan untuk menyampaikan rindu. Hanya doa yang menjadi perantara Bunda dan Ayah sekarang", timpal Reagan.
"Bunda harus bertahan demi twins."
Renata menganggukkan kepalanya dan melepaskan pelukannya. Menoleh kearah cucunya yang berdiri diam menatap mereka.
"Sekarang hidup Bunda cuma buat twins, setidaknya sampai Bunda ketemu lagi dengan Ayah", ucap Renata dan menarik Argan ke dalam pelukannya.
"Bunda bakal hidup lama sampai Argan punya anak nantinya", sahut Reagan sambil mencium lembut rambut Renata yang tertutup selendang putih.
"Oma, Algan lapel", celetuk si kecil membuat Reagan dan Renata menatap gemas Argan yang memegang perutnya.
"Ya udah kita pulang", ujar Renata lalu mendekat kearah batu nisan, berbisik lirih berharap suaminya itu mendengarkan, "Baik-baik disana Ayah. Bunda rindu."
Setelah mengatakan itu, Renata segera pergi dari sana dengan membawa serta Argan. Padahal sudah setiap hari ia pergi ke makam suaminya. Namun ia tetap saja tidak bisa mengontrol diri.
Reagan yang melihat itu lantas mengulas senyum tipis. Paham akan perasaan Bunda nya.
"Ayah. Yang tenang disana, semoga Ayah di tempatkan di surga-Nya yang terindah", ujar Reagan seraya mengelus nama Xavier yang terukir indah di batu nisan.
Lalu cowok itu mendekatkan wajahnya ke batu nisan tersebut, "Ayah, Rea juga rindu", bisiknya lirih. Dengan memanggil dirinya menggunakan panggilan kecil yang dulu diberikan oleh Xavier. Tapi karena itu terdengar seperti nama perempuan, makanya Reagan melarang Xavier untuk memanggilnya seperti itu.
Lalu setelah itu Reagan berdiri. Memandang sejenak pohon kamboja yang menaungi kuburan Ayahnya. Menoleh kearah undakan tanah itu dengan senyuman. Kemudian cowok itu beranjak pergi meninggalkan peristirahatan terakhir malaikatnya.
Melewati satu-persatu makam yang mungkin suatu saat akan menjadi tempat peristirahatan terakhirnya juga. Dan menghampiri Argan serta Renata yang sudah duduk manis di dalam mobilnya.
...~Rilansun🖤....
Si kecil yang gak mau dipanggil anak kecil👇 Jangan panggil aku anak kecil Papi.