Brittle

Brittle
End



...•••••••••••••...


...Semesta memang terkadang suka sebercanda itu, mendatangkan rasa dengan tiba-tiba dan meninggalkan asa tanpa aba-aba...


...•••••••••••••...


...***...


"Makasih", ujar Reagan kepada pelayan yang baru saja meletakkan pesanannya diatas meja.


Pelayan pria tersebut mengangguk seraya tersenyum lalu pergi dari hadapan Reagan untuk melanjutkan pekerjaannya.


Reagan, cowok itu mengaduk-aduk Americano miliknya sembari melirik jam tangan yang dikenakannya.


Setelah pulang dari rumah Arinta tadi. Reagan langsung menelpon Laily untuk dapat bertemu. Dan cewek itu menyetujui. Namun sudah sepuluh menit berlalu dan orang yang ditunggunya pun belum kunjung tiba.


Merasa khawatir, lantas Reagan mencoba menghubungi nomor Laily. Tapi setelah melihat seseorang yang baru saja masuk kedalam kafe, Reagan langsung menutup telponnya. Orang yang ditunggunya sudah hadir. Duduk dihadapannya dengan senyuman manisnya seperti biasa. Cewek itu selalu bisa membuat orang nyaman bila didekatnya.


"Hai, sorry ya telat. Kamu udah nunggu lama?."


"Enggak lama", jawab Reagan terkesan dingin yang membuat Laily tersentak. Cowok didepannya itu seperti orang yang berbeda. Reagan itu memang terkenal dingin dan jutek. Tapi, Reagan tidak pernah menunjukkan sifatnya itu bila bersama dengan Laily.


Laily memejamkan matanya. Menepis pikiran-pikiran buruknya terhadap Reagan. Mungkin saja cuma perasaannya semata.


Lalu cewek itu menyeruput Affogato yang sudah dipesankan Reagan untuknya. Lihatlah, cowok itu masih saja mengingat minuman favoritnya, "Makasih ya udah di pesanin", ujarnya dengan masih tersenyum lebar.


Reagan mengangguk.


Setelah itu terjadi keheningan diantara mereka selama dua menit. Reagan yang tak tau harus dari mana mengutarakan isi hatinya. Sedangkan Laily yang canggung terhadap situasi yang ada. Keduanya larut dalam lamunan masing-masing.


"Reagan."


"Laily", panggil keduanya dengan kompak. Membuat suasana bertambah canggung.


Reagan menatap Laily yang juga tengah menatapnya, "Lo duluan."


Deg


Laily mematung ketika mendengar sebutan untuknya dari Reagan. Sepertinya dugaannya benar. Reagan yang ada didepannya bukanlah Reagan yang ia kenal dulu. Cowok itu telah berubah.


Mengapa Reagan berubah sangat cepat. Entah waktu yang terlalu cepat atau cowok itu yang terlalu tak sabar untuk melupakannya.


Padahal terakhir kali mereka bertemu. Semuanya masih baik-baik saja. Reagan masih berbicara dengannya menggunakan panggilan aku-kamu. Dan sekarang mendadak berubah menjadi gue-lo?. Sesingkat itukah waktu.


Mungkin itu terlihat sepele. Tapi itu sangat bermakna untuk Laily.


"Kamu aja yang duluan", Laily menundukkan kepalanya. Mengaduk-aduk minumannya. Hatinya menjadi merasa takut dengan apa yang akan diucapkan Reagan nanti.


Reagan menghela nafas panjang lalu membuang pandangannya kesamping jendela, "Gue minta maaf. Gue tau gue salah, tapi gue enggak bisa elak takdir. Mungkin ini takdir gue", Reagan mengalihkan atensinya kearah Laily yang masih menunduk, "Tapi sayang, enggak ada lo didalamnya Laily", tambahnya.


Laily memejamkan matanya seraya menelan salivanya susah payah. Bukan ini yang ingin didengarnya.


"A-apa maksud kamu?", tanya Laily terbata-bata. Berharap jika apa yang dipikirkannya berbeda dengan maksud Reagan.


"Lo cantik, baik, pintar. Masa depan lo cerah Lai", jawab Reagan yang tak sesuai dengan keinginan Laily.


"To the point Reagan", tegas Laily setelah melihat cowok itu terlalu bertele-tele.


Reagan menatap jalanan diluar. Cowok itu berperang dengan batinnya. Ia takut apa yang diucapkannya akan menyakiti Laily. Tapi bila tidak diucapkan sampai kapan semua masalah ini akan berakhir.


"Gue tau, disaat lo ninggalin gue di ballroom hotel waktu itu. Hubungan kita udah berakhir. Tapi gue mau memperjelas nya sekarang. Gue enggak mau ada kesalahpahaman kedepannya nanti."


Senyuman itu kembali terbit dibibir Laily setelah mendengar ucapan Reagan. Apakah cowok itu ingin mengajaknya balikan?. Memperjelas hubungan mereka kembali.


"Maksud kamu, kita bal–"


"Kita cukup sampai disini", potong Reagan membuat senyuman itu kembali surut. Laily merasa dunianya runtuh seketika. Jantung nya berhenti berdetak. Harapan hidupnya seperti hilang tanpa jejak. Ia tidak bodoh untuk dapat mengartikan segalanya.


Cowok didepannya itu terlihat mengangguk.


Laily memejamkan matanya. Berharap ketika ia membuka mata semuanya baik-baik saja. Seperti tidak ada yang terjadi.


"Lo pasti bisa temuin cowok yang bakal buat lo lebih bahagia."


Laily membuka matanya dan menatap terluka Reagan, "Kalau aku mau nya kamu?", lirihnya pelan membuat Reagan terhenyak.


"Lo bukan jodoh gue Laily", ujar Reagan dingin.


"Why Reagan?. Kita udah jalin hubungan dari SMP. Walau pernah terpisah, tapi kamu tetap cinta sama aku. Dan cuma karena masalah satu malam kamu mau ninggalin aku?."


Reagan membuang pandangannya kesembarang arah. Hatinya masih tak sanggup melihat Laily yang terluka begitu.


Ya Tuhan, dosa apa yang dimilikinya. Hingga ia bisa menyakiti dua orang perempuan sekaligus.


"Kamu masih marah sama aku, karna aku tinggalin dihari pertunangan kita?", Laily mencoba menggapai tangan Reagan. Namun cowok itu langsung menepisnya dengan halus.


Kemudian Reagan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan Laily.


"Terus kenapa?. Soal anak itu?. Kita bisa ngerawat nya Reagan. Sekarang udah ada jasa baby sitter. Semuanya lebih gampang."


"Gue mau kasih anak gue keluarga yang lengkap."


"Lengkap?, Kamu Ayah nya, aku Ibu nya. Lengkap bukan", ujar Laily mencoba meyakinkan Reagan. Namun cowok itu menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Laily. Ia baru melihat jika Laily bisa se-egois itu.


"Tapi lo bukan Ibu kandung nya Laily", sahut Reagan dengan nada yang sedikit meninggi.


Laily terhenyak, namun sedetik kemudian cewek itu kembali berujar, "Banyak anak diluar sana yang punya Ibu tiri. Aku akan menyayangi, merawat dan memperlakukan dia seperti anak aku sendiri. Apa yang kamu takutkan?, atau kamu udah enggak cinta sama aku lagi Reagan?", tanya Laily membuat Reagan terdiam. Ia pun sering bertanya kepada dirinya. Apakah cinta itu masih ada untuk Laily. Cinta pertamanya. Perempuan pertama yang mampu memporak-porandakan hatinya. Tapi selalu jawaban abu-abu yang didapatnya.


Awalnya Reagan masih yakin jika cinta itu masih utuh untuk Laily. Tapi setelah memikirkan kembali anaknya dan Arinta. Reagan menjadi ragu akan jawabannya.


Sementara itu, Laily tertawa miris melihat keterdiaman Reagan. Dari situ Laily sudah dapat menyimpulkan, kalau perasaan itu tidak seutuhnya lagi untuk dirinya. Cowok itu sudah tidak mencintainya lagi. Atau selama ini ia yang telah salah paham, mungkin saja perasaan itu hanyalah sebatas cinta monyet.


Miris sekali ya Tuhan.


"Kamu yakin Reagan?", tanya Laily memastikan.


Reagan menatap Laily lalu sedetik kemudian cowok itu mengangguk dengan mantap, "Gue cowok. Kalau gue enggak bisa yakin dengan keputusan gue, maka hidup gue bakal berantakan", ujarnya seraya bangkit dari duduknya. Meletakkan dua lembar uang berwarna merah diatas meja. Lalu Menghampiri Laily yang senantiasa menatap dirinya. Kemudian tanpa diduga-duga cowok itu mendaratkan tangannya diatas kepala Laily. Mengelus lembut rambut panjang cewek tersebut.


Sedangkan Laily, cewek itu memejamkan matanya. Menikmati hangatnya elusan Reagan. Rasanya masih sama seperti dulu. Hangat dan nyaman. Mungkin ini adalah sentuhan terakhir dari Reagan Zarvio Allandra untuknya.


"Lo pasti bahagia", ujar Reagan. Lalu setelah itu Reagan berlalu. Meninggalkan Laily sendirian didalam harapan yang telah pupus.


Dulu hubungan mereka diawali dengan tiga kata, dan sekarang diakhiri dengan tiga kata pula. Skenario semesta memang terlalu apik bukan. Memainkan nya secara rapi, tidak memikirkan hati yang berdarah karena itu.


Tuhan, jika memang benar ini takdir-Mu. Maka bantulah aku untuk merelakan nya. Tetapi mengapa takdir-Mu sekejam ini. Ini terlalu sakit ya Tuhan.


Laily membuka matanya. Menyentuh kepalanya, merasakan kembali hangatnya tangan besar Reagan yang mengelus lembut rambutnya barusan.


Lalu ia memandang kesamping jendela. Menertawakan dirinya setelah melihat hujan yang turun diluar sana. Dirinya sekarang sudah sangat cocok untuk menjadi pemeran didalam video clip sebuah lagu galau. Hujan, hati yang sakit, dan ditemani dengan musik pengiring yang ada di kafe. Benar-benar sangat melankolis bukan.


Sementara itu didalam mobil, Reagan menghela nafas panjang. Benar kata orang, setelah kita beranjak dewasa. Kita baru bisa melihat kalau dunia itu benar-benar kejam.


Dunia orang dewasa dengan segala kerumitannya.


Tapi Reagan bisa menghela nafas lega nya sekarang. Setidaknya beban itu sudah sedikit berkurang dipundaknya.


Mungkin ini adalah akhir hubungan nya dengan Lailydynia Saira Kundari. Tetapi ini adalah awal untuk hubungannya dengan Arinta Zarvisya Deltava. Ibu dari anak nya.


Ya, Reagan sudah memutuskan untuk masa depannya kelak. Anaknya itu memerlukan sebuah status yang jelas. Dan Reagan akan memberikannya.


...~Rilansun🖤...


Jangan salfok sama judulnya ya🤣🙏