
...•••••••••••••••...
...Maaf kan aku yang pernah ingin membuat mu tiada.......
...••••••••••••••...
...***...
Reagan mematikan mesin mobilnya setelah memasuki pekarangan apartemennya. Seperti waktu pergi tadi, mereka juga tidak berbicara sama sekali dalam perjalanan menuju pulang. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
Arinta dengan perasaan bimbang nya dan Reagan dengan kebahagiaan nya yang membuncah.
Ia bahagia, sangat-sangat bahagia. Beribu syukur Reagan ucapkan kepada Tuhan yang telah sangat bermurah hati padanya.
"Kenapa?", Reagan bertanya kepada Arinta yang tidak bergeming sama sekali disampingnya. Cewek itu terlihat seperti orang yang tengah dilanda kebingungan.
Reagan menghela nafasnya melihat Arinta yang tidak merespon. Lalu Reagan sedikit mengguncang tubuh cewek itu, "Arinta."
"Hah?", Arinta tersentak dan menatap bingung Reagan.
"Kamu kenapa?", tanya Reagan lembut.
Arinta melepaskan tangan Reagan yang masih memegang kedua pundaknya. Lalu memalingkan wajahnya seraya menjawab, "Enggak kenapa-kenapa."
"Kamu gak bahagia setelah lihat dia?", celetuk Reagan yang membuat Arinta refleks mendongak.
Arinta menatap lurus kearah netra coklat terang tersebut. Arinta merasa mata itu memancarkan kesedihan yang mendalam. Kenapa?, apakah Reagan tidak bahagia dengan anak mereka?.
Sedetik, dua detik mata mereka terpaut dalam satu dimensi yang sama. Saling larut ke dalam sepasang telaga bening tersebut. Sebelum Arinta memutuskan lebih dulu pandangannya.
Reagan tersenyum miris melihat Arinta yang hanya diam tak bergeming.
Sementara Arinta yang merasa ditatap pun menoleh kearah Reagan. Lalu ia kembali memalingkan wajahnya kearah jendela mobil. Ia ingin turun, tapi entah kapan mobil itu telah dikunci dari dalam oleh Reagan terlebih dahulu.
Sekali lagi Arinta menatap kearah Reagan yang masih menatapnya dengan lekat. Untuk beberapa saat Arinta terus menatap antara Reagan dan pemandangan luar mobil secara bergantian.
"Kenapa liatin aku kay-"
Tanpa aba-aba Reagan menarik kepala Arinta untuk mendekat kearahnya. Dan langsung membungkam bibir Arinta dengan bibirnya. Menyela ucapan Arinta yang belum rampung dilontarkannya.
Arinta membelalakkan matanya tak percaya. Mengapa Reagan itu selalu suka bertindak secara mendadak.
"Hmph", Arinta memukuli dada Reagan saat dirinya kehabisan nafas. Namun bukannya melepaskan, Reagan justru lebih memperdalam ciumannya. Seperti orang yang tengah kehausan. Reagan mencium Arinta dengan membabi buta, tapi penuh dengan kelembutan dan kasih sayang.
Menyalurkan rasa rindunya yang membuncah. Selama mereka perang dingin, Reagan tidak lagi pernah mencuri ciuman Arinta secara diam-diam. Dan itu membuat rindunya semakin menumpuk.
"Reagan", Arinta memandang kesal Reagan yang telah melepaskan ciumannya. Lalu cewek itu menghirup oksigen dengan rakus.
Reagan tersenyum tipis dan mengelus bibir bawah Arinta. Menarik kepala Arinta dan menyatukan kedua kening mereka. Arinta yang mengira Reagan akan kembali menciumnya pun lantas berniat mendorong Reagan.
Namun Reagan lebih dulu menahan tangan Arinta, "Ssst, dengerin dulu", lirihnya dengan memandang mata Arinta yang sangat dekat dengannya.
Arinta mengerjapkan matanya dan mengurung kan niatnya yang ingin protes dengan jarak kedekatan mereka. Mengapa cowok itu harus sedekat ini dengannya.
"Maafin aku", ujar Reagan dengan tulus membuat Arinta tertegun.
"Maafin aku yang udah ngebentak kamu, maafin aku yang udah kasarin kamu. Seharusnya aku enggak perlakuin kamu kayak gitu. Seharusnya aku lebih bisa sabar dan dewasa. Aku minta maaf. Minta maaf Bunda", lirih Reagan menatap dengan memelas kearah Arinta sambil mengecup sekilas bibir Arinta yang sudah menjadi candunya.
Arinta mendengus saat Reagan kembali menciumnya. Cowok itu selalu saja bisa mengambil kesempatan di dalam kesempitan.
"Aku udah maafin kamu", sahut Arinta dan berniat untuk menjauhkan wajahnya. Pipinya terasa memanas sekarang, sial.
"Belum, kamu belum maafin aku. Mana ada orang yang maafin tapi enggak senyum", Reagan menghentikan pergerakan Arinta dengan memeluk erat tubuh wanitanya itu. Menyusupkan kepalanya ke arah leher Arinta yang telah menjadi tempat favoritnya saat hendak tidur. Sambil mencium tangan Arinta yang digenggamnya.
Arinta terperangah, Reagan itu emang ngelunjak ya. Udah dikasih hati malah minta jantung. Namun tak urung seulas senyum terbit di bibir Arinta.
Reagan yang melihat itu lantas menambah memeluk Arinta dengan erat sambil tersenyum sumringah. Mengapa ia menggunakan emosinya kemarin, kalau tidak mungkin Reagan sudah lama bisa begini dengan Arinta. Namun karena kejadian semalam juga lah Arinta berani mengungkapkan perasaannya bukan. Jadi menurut Reagan pertengkaran mereka kemarin tidak terlalu buruk.
Reagan benar-benar sangat bahagia hari ini.
...***...
Bukankah Reagan berjanji akan membuat calon Bunda itu dapat menerima anak mereka dengan ikhlas. Dan Reagan rasa inilah saat yang tepat.
Arinta menatap Reagan yang berbaring disampingnya dengan pandangan ragu. Lalu Reagan mengangguk dan membuat Arinta menggerakkan tangannya dengan pelan. Mengelus ragu-ragu perutnya.
Untuk beberapa detik Arinta tidak merasakan apa-apa. Tapi di detik berikutnya mata Arinta terbuka lebar saat merasakan gerakan di dalam perutnya. Apakah itu anaknya. Darah dagingnya. Apakah itu yang selalu membuat Arinta kesulitan saat hendak tidur malam.
Dengan tak sabar Arinta kembali mengelus perutnya. Gerakannya yang semulanya ragu-ragu menjadi sangat lembut dan penuh kasih.
Kemudian Arinta memejamkan matanya saat gerakan itu kembali di rasanya. Anaknya seperti menyapa balik dirinya. Untuk pertama kalinya Arinta merasa sangat senang mengelus perutnya sendiri. Pertama kalinya Arinta menyapa anaknya.
Reagan menghapus air mata Arinta yang luruh. Lalu mencium lembut kelopak mata yang tertutup itu. Arinta itu sangat perasa, tapi karena Reagan lah cewek itu bisa segitu kejam nya terhadap anaknya sendiri.
"Jangan nangis Bunda", bisik Reagan di telinga Arinta. Membuatnya membuka mata dan memandang Reagan. Kemudian Arinta segera membenamkan wajahnya di dada bidang Reagan sambil menangis terisak.
"Aku jahat kan Reagan. Enggak ada ibu yang membenci anaknya, tapi aku justru membenci anak aku sendiri. Bahkan pernah ingin melenyapkan nya. Dia enggak bakal benci aku kan Reagan", cerocos Arinta sambil menangis. Betapa berdosa nya Arinta telah mengabaikan anaknya untuk beberapa waktu yang lama.
Reagan tersenyum seraya mengelus sayang punggung Arinta yang bergetar, "Enggak ada anak yang benci ibu nya. Aku yakin dia pasti bangga dan bahagia punya seorang ibu kayak kamu", balasnya.
"Tapi aku benci dia dulu."
"Sekarang kamu sayang dia kan?", tanya Reagan yang dibalas anggukan lemah dari Arinta. Membuat Reagan gemas dan mencium puncak kepala istrinya beberapa kali, "Sebenarnya dari dulu itu kamu udah sayang sama dia. Tapi rasa sayang kamu ke dia tertutup dengan rasa benci kamu dengan bagaimana cara dia hadir", tambah Reagan.
"Dia enggak salah, seharusnya aku gak benci dengan dia. Kenapa aku bodoh waktu itu", gerutu Arinta.
Reagan terkekeh pelan, "Kamu baru sadar kalau kamu itu bodoh."
"Reagannn", rengek Arinta yang membuat Reagan tertawa.
"Udah jangan nangis lagi, nanti mata nya tambah sipit", ujar Reagan sambil menangkup wajah Arinta dengan kedua tangannya. Menghapus lembut air mata yang turun bagai bendungan yang bocor itu.
"Kamu tunggu disini dulu ya, aku buatin susu."
Arinta mengangguk.
"Bunda pintar", ujar Reagan sambil mencium sekilas bibir Arinta sebelum keluar dari dalam kamar.
Setelah pintu kamar tertutup kembali. Arinta langsung menyentuh perutnya lagi dan bergumam, "H-hai ini Bu-bunda."
Arinta tersenyum ketika anaknya menyahuti ucapannya. Apakah mereka mengerti apa yang Arinta ucapkan.
"I-ini Bunda sayang. Bunda kalian. Maafin Bunda yang pernah benci kalian. Bunda jahat banget, iya kan. Bunda bahkan pernah mau bunuh kalian yang pada waktu itu masih sangat kecil. Maafin Bunda yang baru sadar. Bu-bunda adalah ibu yang terburuk kan", Arinta menangis sekuat-kuatnya. Betapa malang nasib anaknya memiliki Bunda seperti Arinta yang hanya memikirkan diri sendiri.
"Ta-tapi Bunda mohon, jangan benci Bunda kalau udah lahir nanti ya. Bunda janji bakal lebih sayang dengan kalian. Bunda akan berusaha menjadi ibu yang baik. Kalian juga sayang Bunda kan. Jangan benci Bunda nak, Bunda mohon", gumam Arinta merasa takut anaknya akan membenci dirinya kelak. Jika saja itu benar terjadi, maka Arinta tidak tau lagi harus bagaimana menjalani hidupnya.
Semoga saja Arinta tidak merasakan apa yang di namakan penyesalan selalu datang di akhir.
"Sehat selalu ya malaikat kecil Bunda sampai kita ketemu nanti di dunia yang sama. Bunda akan selalu menemani kalian. Bantu Bunda juga ya sayang."
Arinta memejamkan matanya. Membayangkan tangan kecil yang menggenggam erat jarinya. Suara yang lembut dan imut memanggilnya dengan sebutan Bunda. Tubuh kecil yang akan terlelap dalam gendongannya. Dan sosok mungil yang akan menyayangi nya.
Bagaimana bisa dulu Arinta memikirkan akan menyerahkan kebahagiaan itu kepada orang lain. Bahkan memikirkan ia akan menjadi seorang ibu saja rasanya lebih membahagiakan daripada Deri membelikan nya hadiah. Lebih hangat daripada apapun yang ada di dunia.
"Bunda sa-sayang kalian", gumam Arinta dan terlelap begitu saja. Begitu terlena dengan sapuan tangannya diatas perut.
Untuk pertama kalinya Arinta merasa sedang memeluk dengan erat anaknya. Baby twins nya.
Reagan yang berdiri diambang pintu dengan segelas susu ditangannya tersenyum lebar. Bahkan dengan tak tau malu nya air mata itu jatuh setitik. Ia ikut terharu sekaligus senang dengan Arinta yang sudah bisa menerima anak mereka. Tidak ada hubungan yang paling sempurna dibandingkan dengan hubungan Ibu dan anaknya.
Wanita yang akan selalu menyayangi mu selama hidupnya. Wanita yang rela mengorbankan nyawanya hanya untuk membuatmu bisa melihat dunia. Wanita yang akan selalu mencintaimu dengan tulus dan mendukung mu, walau pun kamu telah membunuh orang sekalipun.
Sungguh sangat dahsyat kasih sayang seorang Ibu. Dan Reagan yakin jika Arinta bisa menyayangi anak mereka kelak dengan segenap jiwa dan raganya.
"Papi sayang kalian bertiga", gumam Reagan sambil menatap Arinta yang sepertinya telah terlelap di atas kasur. Semoga saja Tuhan selalu melindungi keluarga kecilnya ini.
...~Rilansun🖤....
#prayforindramayu