Brittle

Brittle
This is difficult



...••••••••••••••••...


...Aku bisa menutup mata dari hal-hal yang tak ingin ku lihat, namun aku tetap takkan bisa menutup hati dari hal yang tak ingin kurasakan. Oh Tuhan, mengapa harus begitu........


...•••••••••••••••••...


...***...


Brakk


Arinta membuka pintu toilet dengan sedikit kasar. Entah itu kekuatan fisik atau kekuatan luka yang telah bersemayam lama didalam tubuh rapuhnya. Cewek itu menghela nafas lega ketika melihat keadaan toilet yang tidak ada orang sama sekali. Tentu saja tidak ada orang, mana ada yang mau ke toilet pagi-pagi begini. Toilet akan penuh setelah jam istirahat tiba dan isinya semuanya adalah siswi-siswi Allandra yang sibuk memperbaiki penampilan nya.


Arinta memandang miris dirinya yang ada di cermin dekat wastafel. Ia terlihat bodoh dan kotor. *Su*ngguh miris.


"Huh, lihat kamu yang disana Rinta. Sangat menyedihkan", gumam Rinta dan terkekeh pelan, "Kamu yang dihancurkan, kamu juga yang menangis sendirian. Hiks, kamu bodoh Rinta. Bahkan binatang saja bisa mempertahankan dirinya jika dalam bahaya. Tapi kamu?", Arinta tertawa sambil menangis. Semenjak kejadian itu ia selalu bertanya, Apakah Tuhan benaran adil padanya?. Apakah garis takdirnya memang semuram ini?.


Dengan uraian air mata, Arinta luruh perlahan kelantai. Memeluk kedua kakinya yang ditekuk dan menenggelamkan kepalanya disana, "Ayah......", panggilnya dengan lirih. Entah mengapa pada saat ini hanya Ayah yang sangat ia butuhkan dan hanya pelukan lembut pria itu yang ia inginkan.


"Hiks, Ayah. Peluk Rinta Ayah, jangan tinggalin Rinta", Arinta menjambak rambutnya dengan frustasi. Seharusnya bukan hari ini ia berangkat sekolah. Jika ia tidak pergi, pasti hatinya yang tinggal sedikit itu tidak akan hancur lebur. Tidak apa jika ia mendengar dilain waktu, setidaknya ia sudah mempersiapkan benteng yang kuat. Tapi sekarang pondasi benteng itu pun bahkan sudah porak-poranda. Hanya tinggal puing-puing yang sudah tak bertuan.


"Jangan benci. Ennggak boleh ada yang ninggalin Rinta. Enggak boleh", Arinta memukul kepalanya dan meracau tak jelas. Pukulan Arinta dikepalanya berhenti ketika sepasang tangan menahan gerakannya.


"Lo ngapain sih Rin!", bentak Gina. Ia memilih menyusul Arinta ketika melihat ada hal yang aneh pada gadis polos tersebut. Dan betul saja, ia menemukan Arinta yang tengah merintih sambil menyakiti dirinya sendiri dilantai toilet. Suara tangisan itu sungguh mampu menyayat hati setiap orang yang mendengarnya.


"Ayah......jangan pergi, jangan. Tetap disitu, jangan tinggalin Rinta. Jangan!", Arinta berteriak dengan suara yang keras sambil memejamkan matanya.


Gina yang melihat itu tanpa sadar meneteskan air matanya. Tapi dengan gerakan cepat ia menghapusnya. Percaya tidak percaya, didasar lubuk hatinya Gina sudah menganggap Arinta seperti adiknya. Sikap polosnya, kepribadian nya yang ramah dan menggemaskan membuat Gina teringat dengan adiknya yang telah tiada. Maka dari itu Gina ingin sekali menjaga dan melindungi Arinta. Cewek itu tidak lagi ingin kehilangan adiknya. Tidak untuk yang kedua kalinya.


Melihat Arinta yang semakin brutal dan frustasi, lantas Gina memeluk Arinta agar gadis itu tidak lagi memukuli kepalanya sendiri.


"Jangan gini Rin, jangan sakitin diri lo", ujar Gina sambil mengelus lembut kepala Arinta. Sepenakut apa pun Arinta, Gina tidak pernah sekali pun melihat Arinta menangis sampai terpuruk begini, "Ceritain sama gue. Kita selesaikan sama-sama", lanjutnya.


Arinta menggeleng didalam pelukan Gina, "Ini sulit Gin, ini sulit. Aku enggak sanggup", balas Arinta sesenggukan.


"Sesulit apa pun itu, kita pasti bisa laluinya bersama-sama kan?. Lo nggak sendiri, ada gue, Laily sama keluarga lo", Gina ingin tahu apa yang bisa membuat Arinta seperti ini. Tidak boleh ada yang membully dan mengganggu Arinta. Jika orang itu berani, siap-siap saja Gina hancurkan. Sahabatnya adalah keluarga, dan keluarga adalah segalanya.


"Enggak Gin. Aku enggak mau nyusahin kalian lagi."


Gina yang mendengar itu langsung melepaskan pelukannya dan memandang tajam kearah Arinta, "Lo anggap gue itu apa, hah?", tanya Gina dengan datar membuat Arinta menunduk tak berani menatap, "Jawab!", bentak Gina ketika melihat Arinta yang bergeming.


Arinta terjengit kaget, sebab tidak pernah sekalipun ia mendapatkan bentakan dari sahabatnya itu. Jangankan bentakan, berbicara dengan suara keras saja tidak pernah Gina lakukan terhadapnya. Walau Gina itu terlihat dingin dan cuek. Tapi Arinta paling tau jika hati seorang Gina itu lebih lembut dari sutra.


Karena sekeras apapun Gina, ia tetaplah perempuan lemah seperti Arinta. Tapi bedanya Gina bisa menutupi kelemahannya sebagai perempuan, sedangkan Arinta tak mampu melakukan itu. Menjaga dirinya sendiri saja ia tak mampu.


Gina menghela nafasnya, tau jika dirinya sedikit berlebihan tadi, "Kita ini sahabat Rin. Suka duka kita tanggung bersama. Tangisan lo juga tangisan gue, bahagia lo juga bahagia gue Rin dan masalah lo juga masalah gue. Apa mungkin lo udah enggak percaya lagi sama gue?, iya Rin?", tanyanya dengan nada yang lebih sedikit lembut daripada yang tadi.


Arinta mendongak dan menggelengkan kepalanya tegas, "Aku percaya sama kamu. Tapi aku takut kamu ninggalin aku. Hidup itu kejam, dan aku enggak mau sendirian Gin", tangis Arinta sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Gina kembali memeluk Arinta, "Udah jangan nangis lagi. Lo tambah jelek. Kalau lo enggak mau cerita, udah enggak apa-apa. Telinga gue akan selalu siap untuk mendengarkan keluh kesah lo, dan gue enggak akan tinggalin lo Rin. Kalau lo mau, gue enggak usah kawin-kawin deh. Gue akan terus nemanin lo", ujar Gina panjang lebar membuat Arinta melepaskan pelukannya.


"Jangan, nanti kamu jadi perawan tua", Arinta menghapus air matanya dan menghentikan tangisannya.


Gina tersenyum, "Enggak apa, asalkan Arinta bahagia", godanya membuat Arinta perlahan tersenyum.


"Makasih", ujar Arinta tulus.


Gina memutar kedua bola matanya, lalu berdiri dan berjalan kearah pintu toilet, "Gue enggak ada hadiah yang bisa ditukarkan sama ucapan terima kasih lo", sahutnya dan berlalu dari toilet.


Arinta tersenyum memandang punggung Gina yang sudah menghilang. Ia sangat bersyukur memiliki orang-orang yang sayang dengannya tanpa syarat dan siasat. Lalu Arinta bangkit dan mengejar Gina yang berjalan tak jauh darinya. Bel masuk sudah berbunyi tadi dan Arinta berharap semoga guru pertama yang mengajar dikelasnya belum datang.


***


Arinta dan Gina menghela nafas lega ketika tau guru belum memasuki kelas mereka. Lantas mereka berjalan kearah ketempat duduk mereka yang berada dipojok.


"Kalian kemana aja sih?, di toilet lagi ada arisan?, lama banget. Untung si genit belum datang", omel Laily ketika mereka baru saja duduk.


"Tadi kami kekantin dulu, aku belum sarapan", alibi Arinta yang langsung dipercaya oleh Laily. Untung saja matanya tidak bengkak, sehingga tidak akan menimbulkan kecurigaan apa-apa.


"Jadi kamu nikahnya kapan Lai?", tanya Arinta sebisa mungkin tenang.


"Baru tunangan sih. Nikahnya habis kita lulus dan semoga itu gue siap. Soalnya gila banget nikah muda. Gue masih mau ngejar almamater putih gue kali", jawab Laily membuat Arinta tersenyum miris. Ia juga masih punya impian yang ingin dikejar, entah itu bisa atau tidak.


Gina yang dari tadi menjadi pendengar lantas berujar, "Lai, sebenarnya—", Arinta menggenggam tangan Gina yang berada dibawah meja, memberi isyarat jika masalah tadi tidak usah dibahas lagi. Untuk sementara waktu, itu bukanlah hal yang tepat.


Laily melihat gelagat aneh kedua sahabatnya itu lantas mengerutkan keningnya, "Sebenarnya apa?", tanyanya penasaran.


Gina menoleh sekilas kearah Arinta dan melihat mata Arinta yang terpejam dan itu sudah cukup untuk menjelaskannya, "Sebenarnya gue malas banget ikut campur urusan kalian berdua", jawab Gina dan menjatuhkan kepalanya dilipatan tangan diatas meja dengan malas.


"Yee, jahat banget lo emang", cemberut Laily dan memutar tubuhnya menghadap kedepan.


Karena pak Adi yang dijuluki si genit oleh Laily tadi sudah datang. Guru laki-laki satu itu memang terkenal sedikit lebih lembut dengan murid perempuan nya. Dan itu sudah menjadi rahasia umum di Allandra.


Arinta memandang Gina yang juga tengah memandangnya, "Nanti aja ya", ujarnya sambil memusatkan perhatiannya keguru yang sedang mengabsen. Arinta tau jika kini diotak Gina sudah begitu banyak pertanyaan untuknya. Tapi untuk saat ini, mulutnya masih enggan untuk menjawab. Pasti ada waktunya untuk Arinta menjawab semua itu. Seperti halnya kebahagiaan, semoga saja ada waktu dimana Arinta bisa kembali tertawa lepas tanpa diiringi tangisan pilu. Semoga saja......


...~Rilansun🖤....