
...•••••••••••••...
...Bukannya aku sedang bermain tarik ulur, hanya saja aku terlalu takut untuk menghadapi kenyataan.......
...••••••••••••...
...***...
Arinta menatap lekat setiap kegiatan yang ada didepannya. Mengamati orang-orang yang baru turun dari bus, dan orang-orang yang akan segera pergi dengan menggunakan transportasi tersebut.
Kemudian Arinta mengalihkan atensinya kearah jam tangan berwarna hitam dipergelangan tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul 05:00 pagi. Sudah lebih dari tiga jam Arinta duduk sendirian di terminal bus. Disaat orang-orang dirumahnya tengah tertidur pulas untuk menyambut pernikahannya esok pagi. Arinta malah memilih menyelinap pergi keluar rumah.
Niat awalnya yang ingin menenangkan diri keluar rumah malah membawanya sampai ke terminal bus. Entah pikiran gila apa yang merasuki Arinta hingga ia nekat pergi di dini hari. Mungkin baby yang ada diperutnya ingin melihat bus?.
Lalu Arinta menatap kearah perutnya ketika merasakan bagian itu sedikit kram. Arinta mendongakkan kepalanya seraya memejamkan mata. Tidak ada tangan yang bisa ia mintai tolong untuk mengelus anaknya yang tengah rewel.
"Capek ya sayang habis dibawa Bunda jalan jauh."
Deg
Arinta membelalakkan matanya ketika merasakan sebuah telapak tangan besar yang mengusap lembut perutnya.
"Ka-kamu."
Reagan menatap Arinta, "Kenapa?, mau kabur?", tanyanya yang membuat Arinta bungkam. Perempuan satu itu memang selalu bisa membuat Reagan uring-uringan. Sudah dua jam dia berkeliling, ketempat-tempat yang mungkin Arinta kunjungi. Namun nihil, sosok mungil itu tidak ditemukannya. Dan sekali lagi cewek itu mengejutkan Reagan dengan duduk sendirian di terminal bus yang asing. Apakah Arinta tidak takut diangkut dengan penculik.
Benar-benar ceroboh, dan tidak waspada.
"Aku enggak tau kalau kamu suka main tarik ulur", Reagan menatap lurus kearah Arinta yang gugup menatapnya.
Arinta mengalihkan pandangannya. Ia tidak ingin khilaf mengumpati wajah Reagan yang sialnya kelewatan tampan.
"Si-siapa yang main tarik ulur", sahut Arinta gagap. Sebenarnya Arinta masih takut. Ia belum siap.
"Kamu", Reagan berhenti mengelus perut Arinta lalu menyandarkan punggungnya ke kursi, "Kenapa kamu pergi malam-malam dari rumah tanpa kasih tau orang-orang. Kamu enggak tau kalau kesalahan kamu itu bisa berakibat fatal?. Sekarang dimana-mana banyak kejahatan yang mengintai. Kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana?. Kalau kamu lupa, sekarang kamu itu lagi hamil Arinta", omel Reagan yang terdengar marah namun anehnya tidak ada guratan amarah diwajah cowok itu. Tampangnya lempeng, seperti triplek.
"Aku cuma mau nyari angin", balas Arinta dengan pandangan lurus menatap depan.
"Dirumah kan ada kipas."
Arinta menoleh cepat kearah Reagan. Apa maksudnya itu. Apakah cowok itu tengah berusaha melawak.
Lalu beberapa menit kemudian mereka terdiam. Hening. Dengan pandangan yang menatap lamat kegiatan diterminal bus.
Reagan menatap Arinta dari samping. Mencoba mengetahui apa yang tengah dipikirkan oleh cewek yang tengah mengandung anaknya tersebut. Tetapi sekeras apapun Reagan berusaha, tetap saja ia tidak bisa mengetahuinya. Sebab Reagan hanyalah orang asing yang memaksa masuk kedalam kehidupan Arinta.
"Ayo pulang, jangan buat yang lain cemas lagi", Reagan berdiri sambil melihat jam tangannya.
Arinta terkesiap.
Pulang?, tapi ia belum siap untuk pulang.
"Eum, Reagan", panggil Arinta yang membuat Reagan menatapnya.
"Apa?"
"Boleh beliin aku air mineral dulu enggak?."
Reagan terdiam sejenak, sebelum mengangguk, "Tunggu disini", ujarnya dan berjalan menjauh.
Arinta berdiri menatap sebentar punggung Reagan. Memastikan jika cowok itu tidak akan berbalik. Lalu tanpa aba-aba Arinta berlari. Bukan niat awalnya untuk bermain kabur-kaburan seperti ini. Hanya saja Arinta belum bisa menerima kenyataan bahwa beberapa jam lagi ia akan menjadi seorang istri.
Mengapa keluarganya selalu merencanakan sesuatu dengan mendadak. Dari pertemuan, hingga pernikahan. Semuanya terlalu terburu-buru.
Sementara itu Reagan yang ingin memastikan kalau Arinta tetap duduk diam disitu. Terkejut mendapati bangku panjang itu kosong, dan orang yang tadi menempatinya telah berlari kencang dari sana.
Reagan menggelengkan kepalanya. Mencoba sabar menghadapi tingkah kekanak-kanakan dan keras kepalanya Arinta. Kemudian dengan langkah lebarnya Reagan menyusul Arinta.
"Arin!, berhenti disana!", teriak Reagan membuat Arinta menoleh. Bukannya berhenti, cewek itu malah menambah kecepatan laju larinya.
"Arin!, awas ada kecoak!", Reagan mencoba menakut-nakuti Arinta seperti beberapa waktu lalu. Tapi sepertinya trik itu tidak berhasil kali ini. Buktinya cewek itu sama sekali tidak menoleh.
Merasa putus asa, Reagan berhenti dan bersembunyi dibalik bus. Hell, mengapa adegan ini terlihat seperti drama India saja.
Kemudian Reagan mengintip. Melihat Arinta yang berhenti berlari seraya memegang kedua lututnya. Sepertinya cewek itu sangat kelelahan.
Lalu Reagan mengitari bus tersebut. Mengintip sekali lagi kalau Arinta tetap berada disana. Memastikan jika cewek itu tidak berlari lagi. Sepertinya Arinta memang memiliki bakat terpendam sebagai atlet.
Dan dengan mengendap-ngendap Reagan mendekati Arinta yang masih berusaha menetralkan nafasnya. Berdiri dibelakang Arinta yang tengah mengumpati dirinya.
"Reagan sialan, mentang-mentang kakinya panjang mau mamerin kalau dia punya bakat untuk menjadi atlet", umpat Arinta dengan nafas yang ngos-ngosan.
Arinta refleks menegakkan badannya seraya membelalakkan matanya. Dengan takut-takut ia menoleh kebelakang. Menatap Reagan yang tersenyum menyeramkan disana.
Arinta menyengir kaku, "Ka-kamu yang lebih cocok", balasnya dan mengambil aba-aba untuk berlari kembali. Namun Reagan lebih dulu menggendong Arinta ala bridal style. Membuat cewek itu menjerit tertahan. Tanpa menggubris teriakan menyakitkan telinga itu Reagan berjalan. Melangkahkan kakinya untuk keluar dari terminal bus tersebut.
"Kamu apa-apaan!, lepasin ih!", Arinta berontak ingin turun. Namun Reagan mengeratkan gendongannya.
Reagan berhenti karena Arinta yang tidak bisa diam, "Kalau kamu mau jatuh, aku lepasin", ujarnya dengan pandangan yang datar.
Arinta menatap sinis Reagan lalu mengalihkan pandangannya seraya mencebikkan sebal bibir bawahnya.
Reagan tersenyum tipis dan segera kembali melanjutkan langkahnya. Dengan bisik-bisik orang sekitar yang mengiringi.
"Kenapa?", tanya Reagan kepada Arinta yang membenamkan wajahnya ke dada bidang milik cowok tersebut.
"Enggak ada", Arinta mengeratkan tangannya yang ia kalungkan dileher Reagan. Malu, ia malu mendengar bisikan orang-orang yang menatapnya dan Reagan.
"Malu?", bisik Reagan yang gencar menggoda Arinta.
"Diam", Arinta mencubit kecil leher Reagan yang membuat cowok itu tertawa pelan.
Setelah sampai didepan mobil nya, Reagan menurunkan Arinta. Membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Arinta untuk segera masuk.
Dengan mencebikkan bibirnya Arinta masuk dan membanting pintu mobil yang masih ada Reagan disampingnya.
Melihat itu Reagan hanya menggelengkan kepalanya lalu mengitari mobil dan duduk dikursi kemudi.
Setelah memasang sealt-belt Arinta. Reagan menghidupkan mesin mobilnya dan segera melaju membelah jalanan.
"Kenapa kabur?, hm?", Reagan menyodorkan sebotol air mineral kearah Arinta.
Arinta mengambilnya, "Siapa yang kabur?, kamu lihat aku ada tiket?, aku bawa baju enggak?", sarkasnya yang membuat Reagan bungkam. Benar sih, kalau Arinta mau kabur tentu saja cewek itu akan membawa koper. Tapi Arinta tidak membawa apa-apa bersamanya selain baju yang ada ditubuh.
"Terus kenapa kamu lari tadi?, selalu enggak mikir kalau udah bunting", sindir Reagan sembari mengelus perut Arinta dengan sebelah tangannya. Dan sebelahnya lagi memegang setir mobil.
Arinta mendengus dan membuang pandangannya kesamping jendela, "Aku enggak mau nikah sama kamu", to the point Arinta yang membuat Reagan terhenyak. Nge-jleb banget bro.
"Yaudah, enggak usah nikah", balas Reagan yang membuat Arinta menatap kaget dirinya, "Kawin aja mau?", lanjutnya dengan smirk andalannya.
Arinta menatap flat Reagan, "Gila!", ketusnya dan memandangi jalanan yang ada didepannya.
Reagan mengangkat kedua bahunya, "That's me."
"Sialan!", umpat Arinta lagi.
"Jangan ngumpat sayang, nanti anak kita dengar", goda Reagan yang membuat pipi Arinta merona.
"Anak kamu", balas Arinta sebisa mungkin normal. Padahal jantungnya yang tak tau malu tengah berdegup kencang didalam sana.
Reagan menyeringai, "Anak kamu juga. Kamu enggak ingat kita buatnya berdua."
Arinta menatap horor Reagan, "Shut up Reagan!, jangan banyak bacot!", ujarnya dan mengalihkan pandangannya ketika melihat Reagan yang malah tertawa. Apa cowok itu ada kelainan selera humor.
Entah mengapa Reagan suka ketika melihat pipi Arinta merona dan cewek itu menahan senyuman nya. Menutupi rasa malunya dengan amarah. Mengapa Arinta bisa terlihat menggemaskan seperti itu.
Ketika lampu merah, Reagan menatap Arinta yang tengah menatap jendela. Lalu cowok itu mengambil tangan Arinta yang ada diatas paha. Menyatukan tangannya dengan tangan Arinta yang terasa pas didalam genggamannya.
"Jangan kabur lagi."
Arinta menoleh kearah Reagan yang menatap lekat dirinya.
Lalu sedetik kemudian....
Cup
Arinta membelalakkan matanya saat Reagan mengecup kilat bibirnya.
"Sialan!", Arinta melotot kearah Reagan yang kembali melajukan mobilnya setelah lampu hijau.
"Tiga kali loh, tiga kali kamu udah ngumpat dalam pagi ini", ujar Reagan seraya menoleh sekilas kearah Arinta, "Tunggu hukumannya nanti malam", Reagan mengedipkan sebelah matanya.
Arinta melotot, "Gila, gila, gila. Reagan gila!", teriaknya dengan gencar mencubiti badan Reagan. Membuat cowok itu tertawa.
...~Rilansun🖤....
Ya Allah mas, tawamu menyegarkan mataku😭😍