
...•••••••••••••••...
...Dari miliaran orang di dunia mengapa Tuhan harus memilih aku untuk menghadapi semua ini........
...•••••••••••••••...
...***...
Arinta menatap kosong kearah tirai jendelanya yang bergerak seiring dengan tiupan angin yang menerpanya. Diluar sangat gelap. Tidak ada satupun bintang yang menghiasi langit diluar sana. Angin terus bertiup dengan kencang nya sedari tadi. Sepertinya sebentar lagi langit akan menuangkan tangisan nya.
Mungkin saat ini diluar dingin. Namun Arinta merasa hangat dengan Reagan yang memeluknya dari belakang. Arinta sudah mencoba menjauhi cowok tersebut. Tapi dengan alasan 'anak', Arinta bungkam.
Arinta sadar jika dirinya belum mampu untuk memberikan kasih sayang untuk si kecil. Jadi Arinta membiarkan Reagan untuk lebih dekat dengan anaknya. Lagipula Reagan harus membangun hubungan dengan anaknya mulai dini bukan, sebab cowok itu lah yang akan membesarkannya kelak.
Asal Reagan tidak melewati batasnya, maka Arinta masih membiarkannya.
Kemudian Arinta memejamkan matanya ketika merasa kan tangan besar Reagan mulai menyentuh lembut perutnya. Cowok itu memang benar-benar sesuatu. Arinta sudah berulang kali mencoba menciptakan jarak yang besar antara dirinya dan Reagan. Tapi Reagan selalu saja memiliki alasan untuk mengikis jarak tersebut.
Arinta hanya takut jika ia tidak bisa mengontrol hatinya. Ia takut jatuh kedalam pesona seorang Reagan Zarvio Allandra.
"Kenapa, hm?."
Arinta membuka matanya saat merasakan hembusan nafas di pundaknya. Cewek itu terdiam sejenak sebelum berujar, "Aku masih enggak percaya kalau aku memulai karierku menjadi seorang istri....dan ibu."
Reagan terhenyak. Elusannya diperut Arinta perlahan berhenti. Reagan tidak percaya jika itu adalah alasan yang membuat Arinta terlihat sangat sepi dan kesedihan. Apakah seburuk itu menikah dengan dirinya?.
"Maaf", gumam Reagan sambil mencium rambut Arinta.
Arinta menghela nafas panjang, "Aku udah berulang kali meyakinkan diri aku sendiri, kalau aku menerima semua ini. Aku bisa menerima takdir yang udah Tuhan berikan. Aku bisa memaafkan semuanya. Tapi aku selalu gagal. Masih ada rasa kesal dan benci jika mengingat kembali malam itu. Aku kesal, mengapa dari miliaran orang di dunia Tuhan harus memilih aku untuk menghadapi semua ini. Aku benci dengan diri aku yang enggak bisa buat apa-apa waktu itu. Aku juga manusia biasa, dan aku bukan lah seorang yang berhati besar. Aku enggak bisa memaafkan itu begitu saja", Arinta memejamkan matanya membuat mutiara yang menumpuk di pelupuk mata turun begitu saja.
Ya, Arinta masih marah bila mengingat semuanya. Bayangkan saja, kehidupan Arinta normal-normal saja sebelumnya. Menjadi remaja normal seperti lainnya, walau terhalang sulit komunikasi. Namun selebihnya bahagia, Arinta sangat mensyukuri hidupnya. Tapi sebelum satu malam itu merenggut segala yang Arinta punya. Dari impian, kehormatan, hingga martabat. Semuanya telah direnggut. Direnggut paksa oleh cowok yang tengah berbaring disampingnya kini.
Anggap saja lah Arinta lebay, karena terlalu membesar-besarkan masalah. Tapi bagi seorang perempuan seperti Arinta. Kehormatan itu adalah segala-galanya. Jika perempuan sudah tidak memiliki kehormatannya. Maka ia hanya akan dipandang rendah oleh laki-laki yang melihatnya.
Hanya wanita bodoh yang mau merelakan kesuciannya begitu saja.
"Lupain malam itu ya. Lupain segalanya. Anggap aja itu semua mimpi buruk yang enggak mau kamu ingat lagi", ujar Reagan pelan. Ia merasa sangat berdosa dengan istrinya tersebut. Reagan berjanji, sekuat tenaganya ia tidak akan membuat wanitanya terluka untuk yang kedua kalinya.
Arinta tersenyum miris, "Sekeras apapun aku berusaha untuk melupakan malam itu. Aku tetap enggak bisa menyangkal, kalau malam itu udah menjadi bagian dari kisah hidup aku."
Reagan membenamkan wajahnya dipundak Arinta seraya menggumamkan kata maaf.
Arinta menghapus air mata di pipinya, "Sudah adilkah Tuhan terhadap aku?", celetuknya yang membuat Reagan mendongakkan kepalanya.
Reagan memeluk erat tubuh Arinta yang terlihat sangat rapuh dan menyedihkan, "Mungkin Tuhan enggak adil sama kamu. Tapi bagi aku, Tuhan cukup adil terhadap aku. Karena Dia udah memberikan kamu dan baby kedalam hidup aku", ujarnya seraya mengelus perut Arinta.
"Biarin dia lihat dunia ini, biarin dia lihat wajah papi nya. Walau kamu enggak mau dia ada. Jika kamu pergi nantinya, dia ada sebagai pengganti kamu", Reagan mengucapkan kalimat terakhirnya dengan berat. Walau pernikahan ini karena suatu masalah. Namun Reagan tidak ingin mengakhirinya begitu saja. Setidaknya biarkan maut yang menjadi pemisah antara mereka berdua.
"Jaga dia sebisa kamu. Aku yakin kamu udah sayang sama dia, tanpa kamu sadari. Buktinya udah berulang kali kamu mencoba untuk menghilangkan nya. Berulang kali juga kamu enggak berani untuk melakukannya. Sebenarnya kamu enggak benci dia. Tapi kamu benci dengan bagaimana cara dia bisa hadir. Aku paham, semua ini berat untuk kamu. Tapi sekarang kamu punya aku. Kalau kamu capek, berbaliklah kebelakang. Lihatlah, ada aku disana untuk memeluk kamu", tambah Reagan dengan mencium sekilas pundak Arinta.
Arinta tertegun. Ia tidak menyangka jika Reagan akan mengucapkan hal seperti itu. Apakah cowok itu sadar dengan ucapannya.
"Enggak secepat itu juga. Bahkan sampai sekarang pun perasaan itu masih ada. Walau enggak sekuat dulu. Aku enggak mau jadi munafik Rin. Aku juga manusia, terlebih aku sama Laily itu udah dari SMP. Perasaan itu tentu aja enggak bisa aku hilangin gitu aja. Terlalu banyak kenangan yang membuat aku enggan melupakannya", Reagan menerawang kemasa dimana ia dan Laily masih berpacaran dulu.
"Tapi aku cowok sejati Rin. Disaat aku menjabat tangan Daddy kamu waktu itu. Aku udah berjanji dengan diri aku sendiri untuk melupakan semua masa lalu aku. Dan menjalankan masa depan yang udah ada didepan mata. Laily hanya masa lalu. Kamu dan anak kita adalah masa depan aku. Aku percaya, cinta bisa hadir seiring waktu", tambah Reagan.
Arinta memejamkan matanya. Jika begini bisakah Arinta meninggalkan segalanya.
Tidak, Arinta tidak boleh berubah pikiran. Cita-citanya adalah suatu hal yang sangat penting. Walau Arinta masih bisa mengejar cita-cita sambil menjadi ibu rumah tangga. Tetapi Arinta tidak mau melakukan itu. Bila ia harus menjadi ibu rumah tangga, maka Arinta hanya mau mendedikasikan dirinya untuk keluarganya.
Arinta sudah merencanakan segalanya, namun sayang itu semua telah hancur karena masalah satu malam.
Reagan membalikkan dengan pelan tubuh Arinta menghadapnya. Mengusap jejak air mata yang ada di pipi istrinya "Kamu dengar kan, kamu itu masa depan aku", ujar Reagan pelan membuat Arinta menatap tepat dimanik coklat terang tersebut.
Arinta tidak menghiraukannya, "Sejak kapan kamu sayang sama dia?", tanyanya.
Reagan tersenyum tipis, "Aku juga enggak tau kapan aku mulai sayang sama dia. Lucu aja enggak sih, seorang remaja yang bahkan belum lulus dari sekolah, tapi sebentar lagi bakal punya anak sendiri", ujarnya terkekeh pelan, "Mungkin itu ikatan antara anak dan Ayah?. Aku enggak tau pasti kapan aku mulai sayang, dan peduli sama dia. Tapi satu yang aku tau, dia bakal lahir dan panggil aku Papi", Reagan tersenyum menatap Arinta, yang membuat cewek itu mendengus dan membuang pandangannya.
Reagan tersenyum miris. Mengapa membuat hati istrinya itu untuk luluh sangat sulit. Jika Arinta adalah orang yang sangat keras kepala, maka Reagan adalah orang yang pantang menyerah. Ia akan berusaha sampai Arinta mau menerima dirinya dan anak mereka dengan lapang dada.
"Tidur. Aku tau kamu capek", Reagan membenamkan wajah Arinta ke dada bidangnya. Membuat Arinta memberontak, namun Reagan menambah memeluk Arinta dengan erat.
"Gila!, kamu mau bunuh aku", Arinta menjauhkan wajahnya setelah ia berhasil mencubit pinggang Reagan. Membuat cowok itu melepaskan pelukannya.
Kemudian Arinta membalikkan badannya membelakangi Reagan. Jika Arinta tidur menghadap Reagan, maka jantungnya akan berdetak dengan kencang. Lalu bagaimana bisa ia tidur dengan degup jantung yang sangat cepat seperti itu.
Reagan tersenyum dan memeluk Arinta dari belakang, "Sayangnya aku belum siap untuk jadi duda. Kalau aku jadi duda, pasti ceritanya ganti judul menjadi Duda keren beranak satu."
"Berisik!", ketus Arinta membuat Reagan tertawa.
Kemudian mereka berdua memejamkan mata, bersiap-siap untuk terbang menuju alam mimpi. Namun itu harus terurung karena teriakan heboh Raka dari luar kamar.
"KAK RINTA!"
Tok tok tok
"HUWAA KAK RINTA, SAKA NYEREMIN!, MAU TIDUR SAMA KAK RINTA AJA. ENGGAK MAU SAMA RAKA, ENGGAK SUKA, GELAY. KAK RINTA!", Raka berteriak dengan kencang sambil menggedor-gedor pintu dengan tak kalah kuat nya.
Reagan menghela nafas panjang. Ia lupa jika masih ada makhluk aneh itu dirumahnya. Karena mengingat hari sudah malam, Arinta yang notabenenya sangat menyayangi twins, menyuruh untuk Saka dan Raka menginap disini. Walau mereka harus tidur diruang keluarga. Karena dua kunci kamar yang lainnya entah hilang kemana.
Ketika Arinta hendak beranjak membukakan pintu. Reagan memeluk posessive Arinta, tidak mengizinkan istrinya itu untuk pergi, "Dia udah besar", kini Arinta miliknya, Reagan tidak akan membiarkan laki-laki manapun untuk mendekati wanitanya. Tak terkecuali Raka dan Saka. Dan apa kata cowok itu tadi?, mau tidur bersama. Enak saja, Reagan aja terkadang masih dipukul jika memeluk Arinta dengan sembarangan.
Ingin memonopoli istrinya?, tidak semudah itu ferguso.
...~Rilansun🖤....
Sebuah jari manis untuk Raka😪