Brittle

Brittle
I'm not a bitch



...••••••••••••••••...


...Teman itu adalah alasan kita untuk tertawa, bukan penyebab kita berurai air mata...........


...••••••••••••••••...


...***...


Ke-empat cowok itu berjalan beriringan dengan gagah ditengah-tengah koridor. Menjadi pusat perhatian sudah menjadi menu sehari-hari mereka. Dikejar secara terang-terangan oleh kaum hawa juga sudah menjadi hal biasa untuk mereka. Seperti halnya saat ini.


Seorang gadis manis dengan lesung pipi yang menghiasi pipi chubby nya sedang berdiri malu dihadapan Zidan yang tersenyum miring menatapnya. Reagan, Revo, Ardean dan Zidan kompak berhenti ketika Viona Putri Pratama, berdiri tepat dihadapan Zidan. Menghalangi jalan mereka tiba-tiba.


Dilihat dari seragam dan penampilannya. Sepertinya siswi itu adalah adik kelas mereka. Tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya, melainkan Viona yang berdiri malu dihadapan Zidan.


Sepertinya akan ada satu lagi korban dari ketampanan seorang Zidan Avarel Artharwa.


Itulah pemikiran yang ada didalam benak semua orang yang tengah menatap para most wanted Allandra itu.


Zidan tersenyum miring dan menatap penuh nilai kearah cewek yang menunduk malu dihadapannya. Membuat tiga orang kawannya memutar bola mata malas. Sok kegantengan emang.


"Kenapa nunduk, hm?", Zidan berbisik ditelinga Viona yang kontan membuat cewek itu mendongak dengan pipi yang memerah.


"Aku–"


"ZIDAN!, BERHENTI LO SAT!"


Teriakan nyaring seseorang dari belakang membuat mereka semua mengalihkan atensinya kearah Riko yang ngos-ngosan. Membuat Reagan dan yang lainnya mengernyit bingung.


Riko menetralkan nafasnya dan menatap nyalang kearah cewek yang ada dihadapan Zidan.


"HUWAAA JAHAT LO JADI TEMAN", teriak Riko lagi membuat Zidan menghampirinya yang diikuti dengan Revo, Reagan dan Ardean.


"Kenapa sih lo?", tanya Zidan heran.


Riko tak menggubris. Cowok itu malah memukul dada Zidan layaknya seorang cewek yang sedang kesal dengan cowoknya.


"Lo jahat!, kenapa lo ngambil gebetan gue?!", ujar Riko dengan nada yang memelas.


Zidan mengernyit dan menatap ketiga temannya yang lain secara bergantian. Tetapi mereka bertiga dengan kompak malah membuang pandangan kesembarang arah. Membuat Zidan mendengus kasar. Dasar kawan laknat.


"Apasih lo!", Zidan memegang kedua tangan Riko yang masih terus memukuli dadanya. Walau tak seberapa, tetapi sakit juga jika diteruskan.


"Tadi malam gue nembak dia", Riko menunjuk Viona yang berdiri dibelakang Zidan yang diikuti oleh Zidan dan yang lainnya, "Tapi dia nolak gue, dan bilang kalau dia udah suka sama lo. Gue benci lo. Huwaaa, gue aduin ke mama lo!, Enggak boleh lagi minta makan kerumah gue!, Huwaaa mama, Zidan jahat", tanpa diduga cowok itu berjongkok sambil menelungkup kan kepalanya disana, seperti seorang anak umur lima tahun yang tengah merajuk.


Reagan, Zidan, Revo dan Ardean menatap secara bergantian kearah Viona dan Riko. Adik kelas yang ditatap begitu intens oleh para kakak kelasnya, langsung kikuk. Dengan langkah yang ragu-ragu Viona berjalan kearah Riko yang masih berjongkok sambil mengumpati Zidan.


"Zidan bangs*t. Gue kutuk lo jadi babu Sofia, baru tau rasa. Emang teman jahat lo!. Gue doain mati muda, Aamiin", racau Riko membuat keempat temannya yang lain dengan kompak menggelengkan kepala. Masih sempat-sempatnya bahas tentang Sofia. Mereka curiga kalau sebenarnya Riko itu perempuan. Mana ada cowok yang fanatik sekali dengan sesuatu yang berbau perempuan seperti itu.


Sementara itu, Viona meringis mendengarnya. Cewek itu merasa jika dirinya yang bersalah disini. Tidak seharusnya ia menolak Riko dengan alasan kalau ia sudah menyukai temannya. Bagaimanapun Zidan dan Riko itu berteman. Kalau begini jadinya, Viona merasa ia menjadi penghancur pertemanan mereka.


Tetapi hati siapa yang bisa atur?.


Menyukai siapa yang menarik baginya dan membenci sesuatu yang buruk untuknya.


Viona menghela nafas dan ikut berjongkok dihadapan Zidan. Dengan tangan yang bergetar cewek itu menyentuh lengan Riko yang masih menelungkup kan kepalanya. Membuat cowok itu menepis kasar tangan Viona.


"Sana lo!, gue udah enggak mau jadi temen lo lagi!", sarkas Riko yang mengira jika itu adalah Zidan.


Zidan yang mendengar itu lantas memutar bola matanya dan menendang pelan kaki Riko, "Apasih lo!, childish banget tau enggak!", sahut Zidan.


Viona melirik Zidan lalu kembali menatap Riko, "Kak", panggilnya membuat Riko mendongak menatap cewek yang tengah berjongkok dihadapannya.


"Kenapa lo?, mau ngejek gue ya?, enggak usah sok kecantikan deh lo!", sinis Riko dan berdiri kembali dengan gaya yang sok cool. Membuat Reagan, Revo, Zidan dan Ardean menahan tawa. Mulut Riko itu lebih pedas daripada netizen julit diluaran sana.


Viona kicep ditempat. Ia melirik sekitar yang masih dipenuhi oleh murid-murid yang masih setia menonton mereka. Berbisik-bisik dengan segala asumsi yang mereka punya.


Viona berdiri dan menatap takut-takut kearah Riko yang juga tengah menatapnya.


"Ma-maafin aku. Bukan maksud aku untuk kayak gitu", Viona menunduk sambil memilin-milin jarinya, "Tapi mau gimana lagi, aku sukanya sama kak Zidan. Bukan sama kakak", cicit Viona jujur. Membuat Revo dan Zidan dengan kurang ajarnya tertawa terbahak-bahak. Riko memandang sinis kearah dua teman laknatnya itu. Dosa enggak sih kalau santet teman sendiri.


"Gue enggak suka lo!, Jadi jangan sok cantik deh, hidung kayak Squidward aja bangga!", ketus Riko.


Semua orang yang menyaksikan tertawa dengan keras. Membahana seluruh koridor kelas sepuluh. Sedangkan Viona, cewek itu dengan refleks memegang hidungnya. Membuat semua orang semakin tertawa dengan tingkah polos siswi tersebut.


"Riko", tegur Ardean ketika melihat air mata Viona yang jatuh.


"Apa lo!", sinis Riko


Pletak


Revo memukul kepala Riko membuat siempunya meringis kesakitan, "Dikasih tau malah nyolot!, dasar bocah"


"Jangan jadi merasa lo yang paling cantik ya. Cewek kayak lo disimpang jalan juga banyak!", ujar Riko ketus dengan air muka yang serius. Membuat mereka yang tadi masih tertawa langsung mendadak diam.


Benar kata orang.


Seseorang yang terlihat sangat bahagia itu adalah seseorang yang memiliki jiwa dendam yang sangat kuat.


Jadi jangan coba mengusik ranah seorang Riko Surya Ibram. Karena ia bisa menjadi orang lain dalam sewaktu-waktu.


Reagan menggelengkan kepalanya. Riko memang tidak pernah berubah. Membenci seseorang jika orang itu tidak menyukainya, egois memang. Tetapi itulah Riko.


"Udahlah. Cewek masih banyak diluaran sana", Reagan merangkul Riko dan membawa temannya itu untuk pergi dari sana. Zidan, Revo dan Ardean sontak mengikuti langkah Reagan dan Riko. Tapi sebelum itu Ardean terlebih dahulu memberikan sapu tangan nya kepada Viona. Kemudian menyusul keempat temannya dan saling merangkul satu sama lain. Meninggalkan Viona yang masih menangis ditengah-tengah kerumunan orang yang masih memperhatikan gadis itu.


"KALAU ENGGAK BISA DAPETIN APA YANG LO MAU, JANGAN AMBIL APA YANG ORANG PUNYA!"


Teriakan nyaring tersebut menjadi penyambut bagi Reagan, Revo, Riko, Zidan dan Ardean yang baru saja menginjakkan kakinya dilantai koridor kelas dua belas.


Reagan terdiam ditempatnya. Ia menatap seorang gadis yang tengah berdiri membelakanginya dengan kerumunan orang-orang yang mengelilinginya. Suasana ini persis seperti dikoridor bawah tadi.


"Laily", gumam Reagan. Cowok itu mengenali suara dan sosok orang tersebut. Seseorang yang telah Reagan lukai hatinya tanpa sengaja. Dan seseorang yang juga membuat Reagan merasa terpuruk untuk kedua kalinya. Mantan tunangannya, Lailydynia Saira Kundari. Cewek yang masih mengisi penuh relung hatinya.


Reagan rindu sosok tersebut, sosok yang telah menghilang dari pandangan nya selama tiga hari. Dan mungkin juga akan menghilang dari dalam hidupnya.


Revo dan Riko menepuk pundak Reagan mencoba memberikan semangat. Sedangkan Ardean, cowok itu ingin sekali menghampiri seorang gadis yang berada dalam dekapan Gina. Namun, Zidan sudah lebih dulu mencekal tangannya.


"Jangan nambahin bensin dalam api bro. Entar kebakaran", ujar Zidan pelan sambil merangkul Ardean yang masih menatap kepergian dua gadis tersebut.


" Mau kemana lo?", tanya Riko melihat Reagan yang berbalik hendak pergi. Revo, Zidan dan Ardean sontak mengikuti arah pandang Riko kearah Reagan yang menuruni anak tangga tanpa menghiraukan mereka.


"Kasih dia waktu", ujar Revo dan mengajak mereka untuk segera masuk kedalam kelas.


Ardean masih berdiri ditempatnya sambil menatap sinis Reagan yang telah hilang dari pandangan, "Pengecut banget sih kawan lo!, Lari gitu aja. Banci!", sinis Ardean membuat Zidan meneguk salivanya. Ternyata aura orang pendiam itu lebih mengerikan kalau marah. Seperti Gina pada waktu tempo lalu. Memukul Reagan membabi buta dirumah Riko.


Zidan jadi takut suka kepada Gina. Kalau saja ia dan cewek itu berpacaran, dan ia kepergok selingkuh. Tamatlah sudah riwayatnya ditangan Gina. Membayangkannya saja membuat Zidan bergidik ngeri.


"Udahlah, mending kita mas–", Zidan melirik ke sampingnya yang sudah tidak ada Ardean. Lalu ia menoleh kearah kelasnya dan mendapati Ardean yang berjalan masuk menyusul Riko dan Revo, "******. Punya kawan enggak ada yang bener satu pun. Dosa apa hamba mu ini ya Allah", cerocos Zidan dan berjalan kearah kelasnya. Tanpa menghiraukan kekacauan yang ada. Untung saja kelasnya berada jauh dari kekacauan tersebut.


...***...


"Aku bukan penggoda. Rinta bukan cewek penggoda", racau Arinta sambil menatap dirinya dicermin.


Gina yang melihat dan mendengar itu lantas tersenyum miris, betapa terpuruknya sahabatnya itu. Mereka memilih ke toilet saat Arinta merasa mual diperjalanan menuju kelas. Beruntungnya suasana toilet sepi pagi ini.


"Ssstt.....udah-udah", Gina mengelus punggung Arinta yang bergetar. Entah berapa banyak beban yang sudah ditanggung punggung rapuh itu.


"Maafin aku Gin", Arinta tiba-tiba berbalik dan memeluk Gina erat.


"Kenapa?", tanya Gina bingung


"Aku emang enggak tau diri banget. Seharusnya aku bersyukur karena udah ada yang mau berteman sama aku. Tapi aku malah nuduh kamu yang enggak-enggak. Maafin aku", ujar Arinta merasa bersalah.


Gina tersenyum tipis, "Udahlah enggak apa-apa. Gue juga salah, padahal gue tau lo itu bukan orang yang suka dikasihani. Tapi maksud gue bukan kesitu, Rin", ujarnya sambil mengelus punggung Arinta.


Arinta mengangguk. Lalu melepaskan pelukannya ketika merasa perutnya bergejolak. Arinta kembali memuntahkan cairan bening di wastafel.


"Lo belum sarapan?", tanya Gina sambil mengusap tengkuk Arinta.


Arinta menggeleng, "Belum", jawabnya pelan. Entah mengapa tubuhnya terasa lemah sekarang.


"Astaga Arinta. Lo tau enggak kalau sekarang lo itu hidup bukan untuk diri lo sendiri. Ada si kecil didalam sini", Gina mengelus lembut perut Arinta, "Egois banget sih lo", tambah Gina yang terdengar marah. Namun, Arinta langsung menepis tangan Gina yang berada diperutnya. Cewek itu menunduk dan menjatuhkan dirinya kelantai.


"Laily", gumam Arinta. Ia kembali teringat kepada Laily ketika Gina membahas soal anak yang ada didalam kandungannya. Ia merasa bersalah kini. Merasa jijik terhadap dirinya sendiri.


"Aku enggak pernah mau jadi musuh orang", gumam Arinta dengan pandangan yang kosong menatap lantai.


Gina berjongkok dan memeluk Arinta, "Teman itu adalah alasan kita untuk tertawa, bukan penyebab kita berurai air mata", ujarnya sambil mengelus punggung Arinta, "Biarin aja dia dengan segala asumsinya. Yang penting lo harus tetap kuat. Ada gue disamping lo, yang bakal temenin lo hadapi semua ini", lanjutnya.


"Jangan suka putus asa, Tuhan enggak suka. Paham?"


Gina mengernyitkan keningnya ketika merasa tidak ada pergerakan dari Arinta. Lantas cewek itu melepas pelukannya dan melihat Arinta yang telah terkulai lemas. Gina membelalakan matanya dan berteriak histeris, "Astaga Rinta!. Rin, bangun. Rinta. Jangan buat gue takut Rin", Gina menepuk-nepuk pelan pipi Arinta. Tetapi gadis itu tetap menutup matanya rapat.


"Rinta!"


Brak


Bersamaan dengan itu pintu toilet ditendang dari luar. Tampak sosok cowok tampan yang terlihat terkejut menatap Arinta yang pingsan dalam dekapan Gina. Lalu tanpa aba-aba cowok itu langsung merebut Arinta dari Gina. Kemudian cowok itu membopong tubuh Arinta keluar dari toilet menuju UKS Allandra. Dengan diikuti Gina dari belakang.


...~Rilansun🖤....