Brittle

Brittle
Bersama twins



...••••••••••••••••••...


...Kamu tidak butuh banyak orang untuk membuatmu tersenyum, cukup satu orang saja jika ia mampu membuat tawa mu mengudara lepas......


...••••••••••••••••••...


...***...


Ketiga orang itu duduk ditepi jembatan yang dibawahnya mengalir air yang sangat deras. Tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara, semuanya menatap kosong kearah air sungai dengan pemikiran mereka masing-masing. Hujan yang telah reda pun, seakan mendukung kesunyian itu terjadi.


Bulan kembali menampakkan kilauan emasnya diatas sana, tetapi sepertinya bintang enggan untuk tampil. Entah bintang yang pemalu atau semesta yang tak mengizinkan. Sama halnya seperti Arinta, entah ia yang banyak dosa atau memang nasibnya yang terlalu muram durja.


"Semua itu ada jalannya kak. Lagipula kalau Kakak mau terjun ke sungai ini tadi enggak akan langsung mati. Kalau mau bunuh diri yang keren tuh diatas sana, " Raka menunjuk puncak gedung tertinggi yang berada ditengah-tengah kota, "sekali lompat langsung pergi ke alam baka", lanjutnya yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari Saka yang duduk disamping kanan Arinta.


"Ya Allah salah lagi gue", gumam Raka.


Saka tidak mempedulikan Raka yang mengoceh tak jelas disamping kiri Arinta. ia mengambil sebelah tangan Kakaknya lalu menggenggamnya. Saka yakin Arinta semakin merasa bersalah karena ucapan Raka barusan. Terlihat dari air matanya yang kembali mulai menetes satu-persatu.


Semuanya kembali diam, tapi tak berapa lama kicauan Raka kembali terdengar.


"Kak Rinta kalau diketawain pasti malu kan?", tanya Raka yang membuat Arinta mendongak kearahnya. Raka tersenyum lalu menghapus air mata yang jatuh dipipi pucat Kakaknya, "Malu Kan?", tanyanya sekali lagi. lantas membuat Arinta mengangguk dengan bingung.


Saka yang melihatnya pun juga turut mengerutkan dahinya, ia memang tak pernah paham dengan jalan pikir kembarannya itu. Walau Raka humoris dan humble, tetapi ia itu juga sangat tertutup. Jadi tidak ada yang pernah tau jika ia tengah bersedih atau tidak.


"Kalau gitu Kakak ketawa-in aja masalah yang Kakak punya sekarang. Entar dia juga malu terus hilang gitu aja", dengan masih tersenyum Raka mengelus sayang puncak kepala Arinta.


"Misalanya kayak gini. Woi masalah pergi kagak lo, gue tabok baru tau rasa",lanjutnya sambil tertawa sekeras-kerasnya, tak urung membuat sebuah lengkungan sabit perlahan muncul dibibir kakaknya yang telah pucat.


"Dari mana lo dapat?, palingan nyontek Instagram. Enggak kreatif", celetuk Saka membuat Raka tersulut emosi.


"Diam lo bangs*t!", sarkas Raka dan memberi pukulan yang cukup kuat dibahu Saka, yang malah dibalas Saka dengan mengangkat bahunya acuh tak acuh.


*La*h dia enggak marah?, batin Raka bertanya-tanya.


Sebab, Raka tau jika Saka itu terkenal sangat tempramen pada siapa saja orang yang berani mengusiknya. Terkecuali orang tuanya dan satu gadis yang bisa membuat Saka menjadi sosok yang lemah lembut, Arinta. Kakak perempuan satu-satunya yang paling disayang dan dilindungi oleh Saka.


"Ayo dong Kak coba, mana tau masalahnya langsung hilang dan balik lagi ke asalnya", ujar Raka.


Arinta tersenyum lalu mengambil masing-masing sebelah tangan adik-adiknya, "Enggak usah. Kalau Kakak punya kalian berdua, masalahnya pasti takut untuk ganggu Kakak."


*t*api sayang nya masalahnya udah terlanjur datang dan mustahil untuk pergi kalau aku masih ada disini, lanjut Arinta dalam hatinya.


"Ck, si Liberty berjalan itu mana ada gunanya", Raka memandang sinis kearah Saka yang sedang mengelus kepala Arinta.


"Daripada lo, terompet rusak", balas Saka tak kalah sengit.


Raka mencebikkan bibirnya kesal lalu ia tersentak ketika melihat tangan Saka yang tersampir dibahu Arinta mengepal dengan kuat sampai buku-buku jarinya berubah menjadi putih. Raka tau jika setelah ini pasti ada peperangan. Ia juga tidak akan tinggal diam. Raka juga baru tahu apa masalahnya setelah Saka memberinya kode untuk melihat kearah leher Arinta yang terdapat banyak bercak-bercak merah keunguan. Dan Raka berjanji, ia akan membalaskan semua air mata Kakaknya yang telah keluar banyak malam ini.


"Udah jangan pada berantem. Ayok, kakak mau pulang. Capek", ujar Arinta dengan lirihan pelan diakhir kalimatnya. Iya, ia capek, baik fisik maupun hatinya. Semuanya hancur, dan itu butuh pemulihan atau peleburan tanpa sisa.


Arinta mencoba berdiri dari duduknya,


Saka yang melihat itu pun langsung mengambil inisiatif untuk menggendong Arinta ala bridal, "Aku gendong ya kak", ujarnya dengan mengangkat tubuh rapuh Arinta perlahan-lahan. Cowok itu memperlakukan Arinta seperti sebuah porselen yang mudah retak dan pecah.


"Bawa tuh", Saka melirik Raka dan menyuruhnya untuk membawa tas dan sepatu Arinta yang tergeletak diaspal.


Dengan mendengus dan memandang sinis Saka. Raka mengambil dengan kesal sepatu dan tas tersebut, "Selalu gue yang jadi kacung", omelnya dibelakang Saka yang menggendong Arinta.


"Udah takdir, terima aja" ejek Saka dengan nada datar yang masih sama seperti sebelum-sebelumnya.


"Sini kakak aja yang bawa Rak", Arinta menatap Raka dari balik bahu lebar Saka. Walau masih duduk di kelas satu SMA, kedua adik kembarnya itu memiliki badan yang bisa dibilang cukup ideal.


"Eh, enggak usah. Biar aku aja yang bawain", sergah Raka sambil menyandang tas dan menenteng sepatu milik Arinta.


"Beneran?", tanya Arinta memastikan. Sebab, ia sudah tak ingin lagi menyusahkan orang-orang disekitarnya. Walau Arinta tau sampai detik ini pun, ia masih menyusahi kedua adiknya.


"Beneran. enggak apa-apa", Raka berjalan sedikit mendekat lalu mencium kening Arinta sekilas. Untuk membuktikan jika ia ada, dan bahunya cukup lebar jika Kakaknya itu ingin berbagi beban.


Arinta tersenyum seraya mengeratkan pelukannya dileher Saka. lantas ia memejamkan matanya, ia ingin menikmati kebahagiaan ini sebentar saja. Jika setelah itu Tuhan mengambil dirinya, maka ia tak akan perlu merasa sendirian lagi.


"Jangan buat hal gila kayak tadi lagi ya kak", ujar Saka dengan nada yang sedikit lembut.


Arinta yang mendengar itu sontak membuka matanya terkejut. Ia selalu merasa curiga jika Saka itu cenayang yang bisa membaca pikiran orang lain. Sehingga Arinta sedikit takut untuk berada didekat Saka, ia takut jika semua pikirannya dapat dibaca.


"Kamu cenayang ya?", terlontar sudah pertanyaan yang selalu menghantui pikiran Arinta.


Saka menaikkan sebelah alisnya, "Enggak. Aku adik kakak yang paling ganteng", ujarnya membanggakan diri membuat Raka yang berada dibelakangnya merasa ilfeel seketika.


"Cih najis", remeh Raka.


"Berarti muka lo najis juga", balas Saka dengan santai.


"Mana bisa gitu. Muka gue itu yang paling ganteng."


"Muka kita sama bambank."


"Eh, iya juga ya. Kok gue baru ngeh", gumam Raka kepada dirinya sendiri, tapi sayangnya dapat didengar oleh Saka yang memiliki telinga seperti kalelewar. Tajam banget pendengarannya.


"Kan lo gobl*k, mana bisa mikir", sahut Saka membuat Raka tersulut emosi.


"lo........"


"Udah-udah, kakak pusing nih dengarnya", sela Arinta. Jika tidak dalam situasi seperti ini, maka ia orang pertama yang sangat suka mendengar pertikaian kedua adik kembarnya itu.


Baginya ada kesenangan tersendiri melihat Saka yang cuek tapi masih mau meladeni Raka yang cerewet. Begitupula dengan Raka yang mudah terpancing emosi akan sebal dengan Saka yang tidak menghiraukan perlawanannya. Raka seperti berbicara dengan tembok jika berhadapan dengan Saka. Karena sekeras apapun Raka berteriak, Saka tetap tidak menghiraukannya. Semenyebalkan apapun sikapnya, Saka hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. Dan Raka ingin sekali menabok wajah sok cool nya itu.


Dimalam yang sebentar lagi habis dan menerbitkan matahari yang terang benderang, Arinta bimbang akan keputusannya untuk hilang dari kehidupan orang-orang disekitarnya. Sebab, Arinta masih mau berada dalam dekapan kedua adiknya. Ia masih ingin melihat senyuman ayahnya. Ia masih ingin merasakan kecupan hangat ibunya, dan ia masih ingin menggenggam kedua tangan sahabatnya. Tapi Arinta tidak ingin merasakan rasa sakit ini. Dirinya sudah tidak sanggup lagi menyusahkan orang-orang yang disayanginya. Tidak lagi.


...~Rilansun🖤....