
...••••••••••••••••...
...Aku larut dalam telaga bening mu yang terlihat lembut......
...•••••••••••••••...
...WARNING!, sebelum melangkah lebih jauh. Sebaiknya kita perjelas disini lebih dulu, bahwa chapter ini mengandung sedikit hal yang hanya bisa dibaca oleh usia 17+. Karena itu yang masih berusia dibawah 17 harap bijak dalam memilih bacaan. Kalau enggak mau dosa, cukup sampai disini. Kalau enggak takut, teruskan. Dosa masing" ya bund. Udah diingetin ini loh ya. Terutama untuk yg brnm Alya Novira, jgn dbc ya beb kn umurnya blm cukup. knp gak dksih tnda 21+ aja?, itu krna aku takut nnti mama aku cek hp, entr krna ada tnda itu dia tiba" pnsrn dan mlh bc😭. Kalau gitu sekian terima kasih....
...***...
Arinta menatap kearah pintu apartemennya yang terbuka. Menampilkan Reagan yang berdiri dengan balutan jas nya serta dasi yang sudah lepas dari leher. Membuat dada cowok itu sedikit terlihat karena dua kancing teratasnya terbuka.
Sangat tampan dan mempesona. Juga sedikit err, Arinta malu untuk mengatakannya.
"Udah makan?."
Arinta tersentak melihat Reagan yang sudah berdiri di depannya sambil menggulung lengan bajunya ke siku. Kapan cowok itu berjalan kearahnya. Arinta tidak menyadarinya.
"Udah!", ketus Arinta dengan menatap tak suka Reagan. Lalu Arinta bangkit dari duduknya dan berjalan kearah kamarnya. Meninggalkan Reagan yang bingung atas sikap Arinta barusan.
Ada apa dengan istrinya itu. Mereka baik-baik saja kan, mereka tidak sedang berkelahi kok. Ya, Reagan pun tidak yakin dengan itu. Sebab pemikiran Arinta itu sangat sulit untuk dipahami. Cewek itu sangat tertutup dengan perasaannya.
"Arin-"
Drrt drrt
Reagan yang ingin mengejar Arinta pun terhenti dengan ponsel yang berada di dalam sakunya terasa bergetar. Lantas Reagan merogoh saku celananya dan mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat nama si pemanggil terlebih dulu.
"Halo."
"Reagan emang anak setan ya kamu!."
Reagan refleks menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar suara nyaring dari Renata.
"Kenapa sih Bun?", tanya Reagan setelah menghela nafas panjang. Cowok itu menjatuhkan dirinya ke sofa seraya memejamkan mata lelah.
"Kamu berani-beraninya selingkuh dari menantu Bunda yang cantiknya tiada tara. Udah banyak duit kamu hah?, kamu merasa kalau kamu itu ganteng banget?, sampai satu istri aja gak cukup?!", cerocos Renata dengan suara yang meledak-ledak. Jika saja tidak mengingat kalau wanita itu adalah Bunda nya, sudah dari tadi Reagan mematikan sepihak panggilan tersebut.
"Ngomong apaan sih?, jangan karena Ayah sering keluar kota, Bunda jadi dua belas kurang lima", sahut Reagan santai.
"Heh anak kurang ajar, Bunda sendiri dikatain gila", balas Renata tak terima.
Reagan mendengus, "Itu tau kalau aku anak Bunda, terus kenapa tadi dikatain anak setan."
"Jangan alihkan topik!. Kamu itu selingkuh kan?, benar-benar ya kamu Reagan. Bunda enggak nyangka kalau kamu adalah cowok yang gak bisa menghargai wanitanya sendiri", tukas Renata membuat Reagan mengernyitkan dahinya. Apa yang dibilang Bunda nya itu. Selingkuh?, siapa yang sedang selingkuh sih, astaga.
"Selingkuh apaan sih Bun?!, ngawur", ujar Reagan lalu berjalan kearah dapur. Mengambil satu kaleng minuman dari kulkas dan membukanya dengan satu jari. Meminumnya hingga tandas.
"Kata Arinta kamu udah jarang pulang. Selain selingkuh emangnya apa lagi?. Lebih baik kamu ngomong baik-baik sama dia. Jangan buat dia nangis apalagi terluka. Bunda pecat kamu jadi anak kalau sampai terjadi. Awas aja ya Reagan, kalau menantu Bunda minta cerai. Bunda gak mau ganti menantu. Pokoknya cuma Arinta, titik enggak pakai tawar-menawar", ujar Renata panjang lebar. Bahkan Bunda nya itu lupa bagaimana cara menarik nafas.
Reagan menyeringai, berarti itu penyebab Arinta bersikap seperti itu kepadanya tadi. Apakah istri kecilnya itu tengah cemburu?.
"Berarti Bunda tuduh Ayah yang sering pergi keluar kota sedang selingkuh?", tanya Reagan sambil berjalan menaiki undakan anak tangga. Menuju kamarnya dimana istrinya yang tengah cemburu itu berada.
"A-ayah sama kamu itu beda. Pokoknya Bunda enggak mau kehilangan menantu kayak Arinta. Kalau kamu bener mau selingkuh, mending Arinta Bunda angkat jadi anak Bunda aja", balas Renata lalu setelah itu memutuskan sepihak panggilan tersebut.
Reagan mendengus melihat layar ponselnya yang telah mati, "Kalau gitu dia jadi adek gue dong. Bunda seenaknya aja. Lagian siapa yang mau ganti istri", gumamnya.
...***...
Arinta menutupi wajahnya dengan bantal saat pikirannya tentang Reagan kembali melintas. Padahal beberapa waktu lalu Arinta lah yang menenangkan Renata dan meyakinkan ibu mertuanya itu kalau Xavier tidak akan berbuat hal yang tidak-tidak di luaran sana. Namun sekarang malah Arinta yang mencurigai Reagan.
Benar kata orang, berbicara itu mudah, tetapi melakukannya itu sangat sulit.
Reagan yang sering pulang pada larut malam dan pergi begitu awal di pagi hari membuat prasangka buruk Arinta semakin menjadi-jadi. Setelah mengikuti ujian kelulusan seminggu yang lalu. Reagan langsung ikut bergabung dengan perusahaan keluarganya. Bahkan belum lama ini cowok itu mengikuti Xavier keluar kota selama dua hari.
Setelah ikut ujian Reagan tidak pernah lagi pergi ke sekolah. Hanya menunggu pengumuman hasil ujian nanti. Membuat Arinta berangkat dan pulang sekolah bersama Gina atau tidak dengan teman-teman cowok tersebut.
Ceklik
Arinta menoleh saat mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka. Lalu ia mendengus dan membelakangi Reagan yang berjalan masuk.
Reagan yang melihat itu pun lantas tak bisa menahan untuk tersenyum. Mengapa Arinta terlihat begitu menggemaskan disaat cemburu seperti itu.
"Kamu kenapa?", tanya Reagan seraya menghampiri Arinta yang tidur membelakanginya.
Arinta tidak menjawab, cewek itu fokus dengan memandang pintu kaca balkon kamarnya. Yang memperlihatkan pemandangan diluar sana.
Reagan menghela nafas panjang. Selain keras kepala Arinta pencemburu akut ternyata. Dan
itu adalah satu hal yang Reagan syukuri.
Mengapa?, cemburu itu tanda cinta bukan. Berarti Arinta cinta dengannya. Satu fakta yang membuat Reagan bahagia bukan kepalang.
"Bunda kenapa?", Reagan membaringkan tubuhnya di samping Arinta tanpa mengganti baju kerjanya terlebih dahulu. Memeluk Arinta dari belakang membuat cewek itu protes minta dilepas.
"Enggak", tolak Reagan sambil mempererat pelukannya dengan wajah yang ia benamkan di pundak Arinta. Menghirup rakus aroma istrinya itu.
"Lepas Reagan!."
"Enggak Bunda", sahut Reagan santai.
Arinta memutar bola matanya jengah, "Lep-"
"Aku enggak pernah selingkuh sama siapapun", sela Reagan.
Arinta terdiam sejenak sebelum berujar dengan ketus, "Enggak nanya."
Reagan terkekeh pelan membuat Arinta mengernyit heran. Apakah suaminya itu sudah gila?. Dimarahi malah ketawa. Seperti yang Arinta bilang, Reagan itu antara penyabar dan bodoh.
"Jangan-"
"Dia anak aku juga loh ya", ujar Reagan sambil mengelus perut Arinta.
"Yang bilang anak tetangga siapa?", ketus Arinta membuat Reagan lagi-lagi terkekeh.
"Mana ada tetangga yang punya istri cantik kayak kamu", balas Reagan.
Blush
Pipi Arinta terasa memanas seketika. Perguruan mana yang diikuti Reagan sehingga menghasilkan didikan seperti itu.
Reagan tersenyum ketika melihat Arinta yang merona. Dasar cewek, gengsian. Lalu Reagan dengan pelan menyingkap baju Arinta. Menyusupkan tangannya kedalam dan mengelus pelan perut cewek tersebut. Sebenarnya ketika kulit mereka berdua bersentuhan secara langsung itu berdampak buat Reagan. Sangat berdampak, tubuhnya seperti tersengat oleh listrik. Ada perasaan aneh sekaligus senang yang dirasakannya.
"Tangan nya tolong dijaga", Arinta menepis tangan Reagan yang tiba-tiba merambat naik kearah area terlarang nya.
"Kenapa?, kita udah halal", Reagan membalikkan tubuh Arinta untuk menghadapnya, "Lagipula aku belum pernah ngerasain itu setelah kita nikah", tambah Reagan yang terdengar frustasi. Bayangkan saja, sudah dua bulan lebih menikah, Reagan belum pernah sama sekali mengunjungi anaknya.
"A-aku rasa kita enggak sedekat itu untuk melakukannya", ujar Arinta gugup setelah melihat mata Reagan yang menatap intim dirinya.
"Udah dekat kok", Reagan tambah mendekatkan tubuhnya kearah Arinta. Tentu saja tanpa menyakiti baby twins nya.
"Kamu-"
Cup
Reagan langsung membungkam bibir Arinta yang ingin melontarkan protes-an. Menggerakkannya dengan pelan sebelum memperdalamnya. Mengabsen seluruh benda yang ada di dalam mulut Arinta secara menyeluruh. Rasanya sangat manis, membuat Reagan ingin melakukan hal yang lebih jauh lagi.
"Reagan", cicit Arinta menatap Reagan yang terengah-engah diatasnya. Sekelebat bayangan disaat kesuciannya direnggut kembali terngiang di kepalanya. Seperti kaset rusak yang menghantuinya. Jeritan memohon nya yang tak dihiraukan Reagan seperti kembali terdengar ditelinga nya. Suara derasnya hujan dan gemuruhnya petir membuat tubuhnya gemetar ketakutan.
Arinta belum bisa benar-benar melupakan semua itu.
"Boleh ya", ujar Reagan dengan suara berat seperti tengah menahan sesuatu. Cowok itu menggigit pelan telinga istrinya membuat Arinta merinding seketika.
"Hmph, Reagan", Arinta risih dengan Reagan yang seperti sedang menghisap kulit lehernya. Apakah cowok itu titisan vampir?.
Reagan menatap Arinta, "Boleh ya sayang. Janji bakal lembut", lirihnya seraya mencium lembut bibir Arinta yang sudah sedikit membengkak.
Arinta menatap mata Reagan yang penuh dengan kabut gairah. Terlihat sangat asing sekaligus dominan. Apakah sekarang adalah waktunya untuk Arinta melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dan memberikan hak untuk suaminya tersebut.
Ini adalah sesuatu yang ditakutinya. Tapi Arinta merasa kasihan dengan Reagan sekarang. Jika ditahan cowok itu akan sakit bukan?.
Lalu dengan memejamkan matanya, meyakinkan dirinya. Arinta menganggukkan kepalanya, memberanikan diri untuk menyerahkan seluruh tubuh dan hatinya kepada Reagan. Setelah ini, tidak ada lagi yang menjadi penghalang diantara mereka berdua.
Reagan tersenyum lebar dan kembali melayangkan ciuman-ciuman di seluruh permukaan wajah Arinta. Ia tau jika Arinta masih sangat trauma akan kejadian malam itu. Tapi kalau Arinta masih hidup dibawah bayang-bayang masa lalu kelam tersebut. Maka cewek itu tidak akan bisa melangkah maju dalam hidupnya.
"Makasih", gumam Reagan sambil menciumi kedua kelopak mata Arinta yang terpejam.
Lalu Reagan turun mengecup area dada Arinta hingga wajahnya berada tepat di depan perut Arinta yang sudah membuncit.
"Papi izin berkunjung sayang", ujar Reagan seraya mengelus dan mencium perut Arinta. Menenangkan anaknya terlebih dulu. Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nanti.
Setelah itu Reagan membuka satu persatu kancing piyama yang Arinta kenakan. Membuat cewek itu memalingkan wajahnya saat tahu apa yang tengah dilihat oleh suaminya itu.
Sementara Reagan, ia dibuat terpana oleh dua benda yang diakui sebagai aset para wanita. Benar-benar sangat indah. Tidak ada yang lebih indah dibandingkan wanita di dunia ini. Maka nya cowok akan takluk oleh tiga hal, harta, tahta dan wanita.
"Kalau mau teriak, teriak aja ya Bunda", bisik Reagan sebelum memulai aksinya. Malam ini mereka akan memainkan suatu permainan yang panjang.
Arinta merona, ya Tuhan semoga saja ia tidak pingsan di tengah-tengah permainan mereka.
Setelah itu Arinta ikut terhanyut dalam kelembutan yang Reagan berikan untuknya. Seperti kata cowok itu, ia benar-benar memperlakukan Arinta dengan lembut dan penuh kasih. Menyicipi setiap inci tubuh Arinta dengan pelan tanpa tergesa. Menjemput puncak kenikmatan bersama tanpa menyakiti dua malaikat kecilnya.
Menghabiskan malam yang panjang dengan penuh kehangatan.
"Reagannnn..."
...~Rilansun🖤....
Akhirnya Reagan, lu buka puasa setelah beribu purnama. Turut bersuka cita. Sorry kalo gak dpt feelny. Blom pengalaman bund, hrp maklum. masih ting"😉.