
...••••••••••••••••••••...
...Kita berawal dari kata asing, lalu berakhir dengan luka yang ber-iring.........
...••••••••••••••••••••...
...***...
Arinta menghela nafas melihat hujan yang tak kunjung reda. Bel pulang sekolah telah berbunyi sedari sepuluh menit tadi, namun karena terkendala dengan hujan, Arinta memilih menunggu hujan reda terlebih dahulu.
Tapi sepertinya hujan tak ingin mengalah dan membiarkan ia pulang terlebih dulu. Jika hujan seperti ini Arinta jadi mengingat dengan kejadian na'as yang menimpanya. Namun jika Arinta selalu terpaku dengan masa lalu, bagaimana ia bisa menjalani hidup dimasa depan. Waktu terus berjalan dan tidak mungkin Arinta terus berputar disatu titik.
Arinta melirik kepenjuru kelasnya. Ruangan ini sudah sepi, hanya empat orang termasuk dirinya yang tersisa. Gina sudah pulang duluan, sebab ia mendapat telpon dari rumah jika Mama nya jatuh sakit.
Gina yang pada dasarnya sangat mencintai keluarga, langsung bergegas pulang tanpa memikirkan jika hujan masih deras diluar sana. Sedangkan Laily, entahlah Arinta pun tidak tau dimana gadis itu berada sekarang. Sebab tadi Laily pamit kepadanya untuk ketoilet, tapi sampai sekarang pun belum juga kembali.
"Arinta lo enggak pulang?."
Arinta menoleh kearah gadis berpipi chubby yang duduk didepannya, "Tunggu hujan reda dulu Al", selain kedua sahabatnya, Alya memang salah satu teman di kelas yang cukup akrab dengan Arinta.
"Yaudah, gue duluan ya", Alya melambaikan tangannya yang dibalas Arinta dengan anggukan singkat.
Satu persatu temannya sudah pulang, kini tinggal Arinta sendirian. Sebenarnya bisa saja Arinta menerobos hujan tersebut, tapi ia tak ingin menggemparkan satu rumahnya jika ia jatuh sakit.
Arinta melirik tas Laily yang tergeletak diatas meja. Lalu ia mengambil ponselnya yang ada di laci meja dan mencoba menelpon sang pemilik tas tersebut.
Toilet mana yang sebenarnya dikunjungi Laily hingga bisa sampai selama ini. Perasaan, toilet cewek dilantai tiga berada tak jauh dari kelas mereka, tepat diujung koridor. Apa mungkin gadis itu ketoilet kelas sepuluh yang berada dilantai satu. Memang sih, dibanding toilet kelas dua belas, toilet dilantai satu itu jauh lebih bersih.
Drrrt
Arinta mengerutkan keningnya ketika mendengar deringan telepon dari dalam tas Laily. Arinta membuka tas tersebut dan menghela nafas ketika mendapatkan ponsel gadis tersebut berada didalam tas. Laily itu memang ceroboh, ponselnya ditaruh dimana-mana. Bahkan Lailt pernah meninggalkan ponselnya satu malam didalam kelas. Untung saja tidak dicuri.
"Udah reda", gumam Arinta sambil melihat ke jendela yang tepat berada disampingnya.
Dengan menghela nafas Arinta keluar dari dalam kelasnya bersama tas Laily yang dijinjing. Untung saja tas Laily tidaklah berat, karena gadis itu yang menaruh semua buku paketnya didalam laci. Laily dan segala kepraktisan dalam hidupnya, memang sulit dilepaskan.
"Wauw, omaygat gue baper parah gila"
"Kak Reagan gue mau jadi bini kedua lo"
"Reagan lo selingkuh dibelakang gue ya"
Arinta mengerutkan keningnya ketika ia baru saja turun kelantai satu mendapati lapangan sekolahnya yang banyak dikerumuni oleh penghuni Allandra.
"Masa iya ada turnamen pas hujan?", tanya Arinta pada dirinya sendiri. Ingin bertanya kepada orang lain, tapi ia takut bukan jawaban yang didapat, tapi malah hinaan yang menggores mental.
Arinta berjinjit, berusaha untuk melihat apa yang ada dilapangan sehingga membuat mereka rela berkerumun begini, padahal hujan masih turun setetes-tetes.
Arinta mencebikkan bibirnya ketika ia tetap tidak bisa melihat apa yang terjadi ditengah lapangan. Entah mereka yang terlalu tinggi, atau memang kalsium ditubuhnya yang kurang.
"Laily."
Deg
Jantung Arinta terasa berhenti berdetak saat panggilan itu disebutkan. Arinta kenal suara siapa itu dan Arinta juga kenal siapa yang dipanggil.
"Will you to be my girlfriend?"
Suara bariton itu membuat Arinta meluruhkan dirinya duduk kelantai. Melalui celah yang ada Arinta melihat Laily yang bersemu merah, lalu mengangguk malu-malu menjawab pertanyaan yang disampaikan Reagan.
Arinta memejamkan matanya, ketika melihat Reagan yang memeluk Laily dengan eratnya dibawah rintik hujan. Sungguh drama picisan yang sangat romantis. Dengan kurang ajarnya, air mata Arinta lolos satu-persatu. Untuk pertama kalinya, ia mengingkari janji. padahal Arinta sudah antisipasi, karena ia tau jika suatu hari momen ini pasti akan terjadi. Tetapi lagi-lagi hatinya belum siap, nyatanya bentengnya itu terlalu rapuh untuk dirubuhkan.
Mengapa Arinta selalu menangis disaat hujan turun.
"Huwaaa mama, aku mau kayak gitu"
"Anjim hati gue kok sakit ya"
"Peluk aku Tuhan, aku enggak sanggup lihat keuwuan ini"
"Huuuuuuuuuu, akhirnya kita punya ibu ketos", teriak Riko menambahi.
Teriakan-teriakan itu seakan menjadi backsound untuk hati Arinta yang telah jatuh sejatuhnya didalam jurang yang dalam. Ia menekan dadanya yang sesak, seperti ada batu besar yang menghimpit sumber oksigennya.
"Sakit, Tuhan....", lirihnya sambil menatap Reagan yang mencium kening Laily penuh kasih. Arinta melihat Zidan yang memegang balon berbentuk hati, lalu disamping pemuda itu ada Riko yang membawa sebuket bunga besar, dan Ardean serta Revo yang berdiri disisi kanan-kiri Reagan. perfect, semuanya telah direncana dengan sempurna.
Belum cukupkah luka itu, sampai-sampai kamu menambahnya dengan mengiriskan pisau diatasnya. Bukan darah yang keluar, tapi nanah. Ini sakit ya Tuhan....
Arinta berdiri dan langsung bergegas berlari meninggalkan kerumunan yang membuat hatinya terbunuh secara perlahan. Tas Laily ia biarkan tergelatak begitu saja dilantai. Arinta yakin, jika ponsel Laily sudah retak saat ini. Karena dirinya yang menjatuhkan tas tersebut seenaknya. Biarlah, nanti ia akan minta maaf dan mengganti rugi.
Sekarang ada hati yang harus diselamatkannya terlebih dulu.
Langkah Arinta terhenti ketika melihat Raka yang sedang duduk diatas motornya dekat parkiran. Kemudian, tanpa aba-aba Arinta langsung menubruk tubuh Raka. Menangis didalam pelukan cowok yang tak akan pernah membuatnya menangis, walau terkadang sangat menyebalkan.
Raka yang dilanda kebingungan tak urung juga membalas pelukan kakaknya. Mengusap selembut bulu punggung Arinta dan memberikan kecupan berulang kali dipuncak kepala saudara perempuannya itu.
"Udah?, kenapa nangis?", tanya Raka ketika Arinta menguraikan pelukannya.
Arinta menggelengkan kepalanya dengan Raka yang menghapus air matanya.
"Dikejar kucing gila?", kelakar Raka yang dibalas anggukan polos Arinta.
Raka tertawa dan mencium kening Arinta, "Masih aja penakut, mau pulang sekarang?", tanyanya setelah memakaikan helm dan hoodie kepada Arinta.
Arinta mengangguk dan menaiki motor Raka dengan dibantu oleh cowok tersebut.
Lalu Raka menjalankan motornya dan meninggalkan pekarangan sekolah Allandra.
"Tadi aku ada dengar suara teriak-teriak, kenapa?, ada yang kesurupan?", celetuk Raka sambil mengelus lembut punggung tangan Arinta yang melingkar diperutnya.
"Ada yang jadian", jawab Arinta pelan. Raka menganggukkan kepalanya dan fokus kepada jalan yang ada didepannya. Raka tak ingin bertanya lebih banyak, sebab ia paham jika suasana hati Arinta saat ini sedang kacau. Entah apa sebabnya, ia pun tak tau. Hanya Ayah mereka yang bisa menenangkan dan mengorek masalah apa yang sedang dialami kakaknya itu.
Arinta memejamkan matanya kala kejadian tadi kembali melintas dipikirannya. Kini Arinta paham mengapa Reagan menatapnya bersalah pada hari itu. Meminta maaf terlebih dahulu, baru membuat kesalahan. Cowok itu memang sangat luar biasa bajing*n.
Reagan adalah bukti nyata jika iblis itu memang menyeramkan.
"Kamu adalah penyesalan terbesar yang ada dalam hidupku", lirih Arinta bersama angin.
...~Rilansun🖤....