Brittle

Brittle
My angel



...••••••••••••••...


...Makanya bidadari jangan nangis, nanti bumi sedih.......


...••••••••••••••...


...***...


"Pacaran terus sama orang korengan", celetuk Reagan.


Lantas Arinta mendongak dan menatap Reagan yang tengah fokus dengan laptop di atas pangkuannya, "Mulut kamu mau aku santet", ketus Arinta dan kembali melanjutkan kegiatannya menonton drama Korea. Satu kegiatan yang tidak boleh diganggu gugat.


Reagan mendengus. Bagaimana ia tidak dibuat kesal, bayangkan saja ia sudah dicueki oleh istrinya itu selama lima jam. Lima jam. Itu bukan waktu yang sedikit. Dalam tiga ratus menit, apapun bisa dilakukannya.


"Kamu itu udah cuekin aku selama tiga ratus menit, delapan ratus ribu detik", ujar Reagan sambil menatap Arinta yang langsung melirik kearahnya.


"Jadi gimana dengan kamu yang kerja dari pagi sampai sore?. Kamu itu udah tinggalin aku selama sepuluh jam, enam ratus menit, dan tiga puluh enam ribu detik. Ditambah dengan kamu yang sibuk selingkuh dengan laptop itu setiap malam", sahut Arinta.


"Kan itu aku kerja", protes Reagan.


"Lah kan sama, aku ini juga lagi kerja", balas Arinta seraya memakan buah-buahan yang telah dipotong kan oleh Reagan. Jika ia berhenti sekarang dan melanjutkan kembali besok, maka Arinta tidak akan bisa tidur dengan tenang malam ini. Pikirannya akan terus tertuju pada episode selanjutnya. Dan membunuh rasa penasaran itu sangatlah sulit.


"Oh ya, kerja apaan emangnya kamu?", tanya Reagan lagi.


"Ngelihat cogan itu juga kerjaan tau. Selain mencuci mata juga meningkatkan kemampuan daya khayal kita. Lebih bermanfaat daripada kamu yang terus pacaran dengan kerjaan", jawab Arinta sambil tersenyum menatap adegan yang ada dilayar laptopnya.


"Daripada kamu ngelihat yang enggak pasti. Mending lihat aku aja, real dan plus lebih ganteng dari pada oppa-oppa kamu itu."


Arinta berdecak, "Ck, bosen nengokkin kamu terus", sahutnya santai. Membuat Reagan melotot kan matanya. Apa istrinya itu mau mati sekarang.


"Bun", panggil Reagan dengan suara yang ditahan.


Arinta mendongak dan menyengir saat melihat tatapan maut yang Reagan berikan untuknya, "Canda, Papi", cengirnya membuat Reagan mendengus. Mana bisa ia marah terlalu lama jika Marsha saja kalah imut dengan Arinta. Dimatanya hanya Arinta seorang lah yang paling cantik, imut, comel, dan manis. Pokoknya cuma Arinta wanita yang sempurna, yang lainnya pada palsu.


"Enggak lucu", sahut Reagan datar lalu matanya beralih menatap kearah ponselnya yang bergetar. Menampilkan satu nama yang selalu menghantuinya belakangan ini.


Kemudian Reagan menutup laptopnya. Menggeser panel hijau pada layar ponselnya dan mendekatkan nya ke telinga.


"Halo?", sapa Reagan.


Arinta yang mendengar itu lantas mendongak menatap Reagan yang berjalan keluar kearah balkon kamar. Lantas Arinta menyipitkan matanya. Merasa curiga dengan gerak-gerik suaminya itu. Lalu Arinta melirik kearah layar laptopnya yang masih menyala. Dilema antara drakor nya yang belum selesai atau rumah tangga nya yang mungkin akan usai jika Arinta tidak bertindak.


"Demi baby twins, ayo kita basmi virus", gumam Arinta sambil menutup laptopnya dengan perasaan yang tak rela. Setelah itu Arinta bangkit dan berjalan mengendap-endap kearah balkon.


"Saya baik."


Arinta melebarkan matanya saat mendengar suara Reagan yang entah mengapa terdengar sangat lembut di telinganya. Lalu Arinta menghampiri Reagan dan berdiri dibelakang cowok itu.


"Saya-"


"Heh, jala*g. Kamu gak laku apa gimana, kok suami orang yang dipepet. Kalau enggak laku, mending pakai pelet aja sana. Pasti banyak yang ngantri. Tapi ingat jangan pernah rebut suami orang. Kamu juga cewek kan, pasti tau gimana perasaan istri yang suaminya di ambil. Dan saya mau bilang ya sama kamu, bentar lagi Reagan bakal punya anak. Jadi jangan coba-coba ambil Papi dari anak-anak saya. Kalau kamu enggak mau lihat rumah kamu di amuk masa. Cewek kok gak ada malu", cerocos Arinta setelah merebut paksa ponsel Reagan. Membuat cowok itu kaget. Tidak menyangka jika istrinya itu menguping pembicaraannya.


"Kamu juga, kenapa diangkat?, kamu mau sama dia?", sarkas Arinta setelah mematikan sepihak panggilan tersebut. Cewek gila yang sangat meresahkan. Mantan sekretaris Reagan itu sering menelepon suaminya setalah Reagan memecatnya. Sebelum-sebelumnya Reagan akan memberikan ponselnya pada Arinta jika Kaylampir itu menelpon. Namun kali ini Reagan tidak melakukannya. Membuat darah Arinta naik seketika.


Reagan tersenyum miring, "Kata kamu kalau lihat cogan itu mampu meningkatkan daya khayal. Terus kenapa aku gak boleh ningkatin daya khayal juga", ujarnya.


Arinta melotot kan matanya. Menatap tajam Reagan yang sedang tersenyum menyebalkan.


"Kamu emang mau cer-"


Cup


Lantas Arinta mencebikkan bibir bawahnya, "Kamu nya yang buat aku emosi", cicit Arinta dengan mata yang berkaca-kaca.


Reagan menghela nafasnya. Meletakkan kedua tangannya pada besi pembatas. Mengurung Arinta dalam kukungan lengan kekarnya.


"Aku mau bilang sama kamu, tapi kamu lagi asik dengan oppa-oppa yang sama sekali gak ganteng itu. Aku gak mau ganggu quality time kamu. Dan aku lebih enggak mau emosi bumil satu ini naik. Bahaya nanti", Reagan memegang dagu Arinta. Mengarahkan wajah istrinya itu untuk menatap padanya.


"Apalagi buat air mata bidadari jatuh. Mubadzir banget rasanya. Makanya bidadari jangan nangis, nanti bumi sedih", tambah Reagan membuat pipi Arinta terasa memanas seketika. Sial. Itu mulut apa gula, manis banget.


"Kamu masih kontek-kontekan sama dia?", tanya Arinta mengalihkan perhatian Reagan yang sepertinya akan kembali menggodanya. Jika itu terus berlanjut, maka jantungnya akan terancam dirawat ke UGD.


"Tadi yang terakhir", lirih Reagan dengan mendekatkan wajahnya kearah Arinta. Merasakan hembusan nafas cewek itu yang menerpa permukaan kulitnya.


"Janji?", Arinta menatap Reagan dengan puppy eyes andalannya.


Reagan tersenyum, "Janji, Bunda", balasnya sambil mengecup sekilas bibir Arinta yang terbuka. Lalu Reagan segera menggendong Arinta untuk kembali masuk ke dalam kamar. Angin luar terlalu dingin untuk tubuh bidadari nya. Dan tidak baik untuk kedua malaikat kecilnya.


"Mau ngapain?", tanya Reagan saat melihat Arinta yang ingin membuka laptopnya lagi.


"Mau ngelanjut-"


"Gak. Enggak ada", Reagan langsung mengambil alih laptop Arinta. Membuat cewek itu cemberut.


"Ish, belum selesai padahal", cemberut Arinta.


Reagan menghela nafas pendek, "Kamu itu harus sering lihat-lihat aku. Supaya anak kita mirip aku", ujarnya seraya meletakkan laptop Arinta keatas nakas.


"Ngapain mirip kamu, kamu kan jelek", sahut Arinta judes dan membaringkan tubuhnya membelakangi Reagan.


Reagan menggelengkan kepalanya lalu ikut membaringkan tubuhnya di samping Arinta. Memeluk istrinya itu dari belakang dengan tangan yang aktif mengelus anak-anaknya.


"Lebih gantengan aku daripada Lee min ho, tau", celetuk Reagan seraya mencium lembut kepala Arinta.


"Lebih gantengan kamu dari Pak So lee hin, baru bener", sahut Arinta membawa-bawa guru agama Allandra itu.


Reagan mendengus, "Semerdeka bumil deh."


Lalu mereka berdua larut dalam lamunan masing-masing sebelum Arinta berujar, "Suatu saat nanti kalau kamu bosen dengan aku dan mau nyari yang baru. Sebelum itu kamu bilang dulu sama aku, kalau kamu udah bosen dengan aku. Maka aku dengan senang hati, melepaskan kamu pergi. Daripada nanti aku yang nangkep kamu lagi selingkuh. Itu hanya bakal buat aku tambah sedih. Laki-laki tukang selingkuh itu gak gentle. Sampah masyarakat!", Arinta tersenyum miris membayangkan jika suatu hari nanti Reagan benar-benar mengkhianatinya. Entah bagaimana hidup Arinta kelak.


Reagan tertegun, lalu cowok itu menciumi pundak Arinta yang terbalut gaun tidur, "Ngomong apaan sih. Aku itu bukan tipe cowok yang mudah bosan, apalagi tukang selingkuh. Karena aku paham gimana rasa sakitnya dikecewakan. Terlebih perempuan itu hatinya rapuh. Aku gak mungkin tega untuk mematahkannya. Karena aku juga gak akan ada di dunia ini kalau gak ada perempuan. Ayah selalu ngajarin aku untuk menghargai wanita. Ayah bilang jangan pernah membentaknya, membencinya, dan memukulnya. Apapun yang terjadi. Karena perempuan itu satu-satunya makhluk Tuhan yang sangat perasa. Makanya Ayah marah banget, pas tau aku nge-hamilin kamu", cerocos Reagan.


Arinta tersenyum lebar setelah mendengar penuturan Reagan. Beruntung Reagan memiliki seorang Ayah seperti Xavier. Yang mendidik keras anaknya untuk menghormati wanita.


Lalu merasa teringat sesuatu, Arinta lantas membalikkan badannya menghadap ke arah Reagan. Menatap berbinar suaminya itu sambil berujar, "Reagan aku lagi pingin sesuatu."


Reagan mengernyitkan keningnya. Tumbenan. Sebenarnya Reagan sempat bingung dengan istrinya itu. Dari yang Reagan tau, ibu hamil itu pasti banyak kemauannya. Tapi Arinta, jarang sekali meminta kepadanya untuk membelikan atau memenuhi keinginannya.


"Bunda mau apa?, hm?", tanya Reagan sambil menyingkirkan anak rambut Arinta yang menutupi wajah cantik wanitanya.


Arinta tersenyum lebar, "Aku mau lihat Gina sama Zidan kiss", jawabnya yang termotivasi dengan drama Korea yang tadi di tonton nya.


Reagan terbatuk-batuk mendengar keinginan Arinta. Tersedak air ludahnya sendiri. Apakah istrinya itu tengah bercanda saat ini. Kalau iya, sumpah itu tidak lah lucu.


Hell, semuanya tau bagaimana jijiknya seorang Gina Taniara Atmaja terhadap Zidan. Melihat wajahnya saja seperti ingin mengajak perang. Tapi Arinta malah meminta Gina untuk mencium Zidan. Tuhan, tolong hilangkan juga dirinya saat ini.


...~Rilansun🖤....


Bumil yang ngidam