Brittle

Brittle
Bohong



...••••••••••••••••...


...Setegar apapun tampilan luar seorang wanita, Enggak menutup kemungkinan kalau di dalamnya dia sangat rapuh......


...••••••••••••••••...


...***...


...Area of 17+...


Reagan menekan tengkuk Arinta. Memperdalam ciumannya. Tak memberikan istrinya itu waktu untuk protes. Emosinya membuncah saat Arinta mengatakan ingin bercerai. Satu kata yang sangat di benci oleh Reagan.


Arinta hendak melayangkan tangannya kearah wajah Reagan saat cowok itu melepaskan ciumannya. Namun belum sempat tangan Arinta menyentuh kulit putih Reagan, cowok itu lebih dulu memegang tangannya. Lalu mencium punggung tangan Arinta dengan lama. Membuat Arinta tertegun dengan jantung yang kembali berdisko ria di dalam sana.


"Dosa loh aniaya suami sendiri", ujar Reagan pelan dengan senyuman miring menghiasi wajahnya.


Arinta mendengus dan memalingkan wajahnya, "Bereng-"


Cup


Reagan kembali mencium Arinta saat cewek itu ingin mengatakan kata-kata kasar. Entah dari siapa istrinya itu mulai belajar menyebutkan kata-kata mutiara seperti itu. Sepertinya Reagan harus menseleksi setiap orang yang ingin berdekatan dengan Arinta.


Arinta menghirup rakus oksigen di sekitarnya setelah Reagan melepaskan bibirnya. Mulai sekarang Arinta akan memoleskan bibirnya dengan lipstik sebanyak mungkin. Agar Reagan tidak lagi menciumnya dengan sembarangan.


"Kalau mau cepat-cepat nikah sama cewek lain, kamu enggak harus bunuh aku kayak gini", ketus Arinta dengan menatap tajam Reagan. Kalau saja tadi dirinya kehabisan nafas dan langsung pergi ke rahmatullah gimana.


Reagan menghembuskan nafas pendek. Jika saja tidak mengingat kalau yang ada di pangkuannya itu seorang wanita sekaligus istrinya. Mungkin Arinta sudah Reagan ajak baku hantam sedari tadi. Cowok itu tidak terlalu suka menjelaskan banyak hal. Prinsipnya, jika omongannya sudah tak lagi di dengar, maka bogeman nya lah yang akan memberikan penjelasan.


"Siapa suruh kamu nahan nafas", sahut Reagan santai.


"Kamu itu-", Arinta menggantung kalimatnya saat merasakan tangan Reagan mengelus pahanya. Bulu kuduknya merasa naik seketika.


Reagan yang menyadari itu lantas tersenyum tipis, "Aku apa?, hm?", bisiknya sambil melayangkan kecupan-kecupan singkat di leher wanitanya. Jari jemarinya dengan aktif mengelus pelan paha putih Arinta. Sebelum menyusup masuk ke dalam gaun berwarna navy yang dikenakan cewek itu.


Arinta melotot kan matanya lalu menatap tajam Reagan, "Aku mau turun, lepas. Aw-, Ah", Arinta membekap mulutnya dan memandang dengan tatapan yang ingin membunuh kearah Reagan yang ber-smirk melihatnya.


"Kenapa Bunda?, kok suaranya kayak gitu?", tanya Reagan lirih di telinga Arinta. Membuat Arinta ingin sekali memukul wajah tanpa dosa itu dengan kuali penggorengan milik Sinta.


"Reagan, ber-", Arinta memejamkan matanya, "Henti", lanjutnya dengan nafas yang tersengal-sengal.


Dengan senyuman miring yang masih menghiasi wajahnya, Reagan memandang Arinta yang masih memejamkan mata. Lalu cowok itu mengeluarkan tangannya dari dalam gaun Arinta.


Lantas Arinta membuka matanya dan menatap garang Reagan, "Kamu itu emang bajing-"


Cup


"Enggak boleh ngumpat sayang, nanti anak kita dengar loh."


Arinta mendengus dan berniat turun dari pangkuan Reagan. Jika Arinta tetap duduk diatasnya, entah apa yang akan terjadi setelah itu.


"Mau kemana?, hm?", Reagan mencegah Arinta turun. Dan langsung membaringkan tubuh istrinya itu keatas kasur. Mendekatkan wajahnya kearah leher Arinta. Menghisap pelan kulit putih itu hingga meninggalkan bekas.


Arinta yang sadar jika mereka masih berada di dalam rumah orang tuanya ditambah pintu kamarnya yang tidak tertutup. Langsung mendorong jauh Reagan dengan sekuat tenaganya.


"Reagan, awas ih."


Reagan menegakkan badannya. Menatap sayu Arinta yang berkeringat dibawahnya. Lalu Reagan melihat mata Arinta yang melirik kearah pintu yang terbuka. Merasa paham Reagan pun lantas turun dan berjalan hendak menutup pintu.


Arinta yang melihat kesempatan itu refleks langsung berdiri. Namun gerakannya kalah cepat dengan Reagan yang langsung mengunci tangannya di kedua sisi.


"Mau kabur?. Enggak semudah itu cantik", ujar Reagan dan kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda.


"Eungh, Reagan", erang Arinta saat Reagan memegang dua aset berharganya. Sedikit meremasnya yang membuat sekujur tubuh Arinta terasa memanas seketika.


Namun Arinta langsung sadar dan mengingat jika mereka saat ini masih bertengkar. Ada diskusi yang belum mereka selesaikan.


"Reagan jangan sentuh aku, sebelum kamu jelasin dengan detail!", sentak Arinta berusaha sebisa mungkin menahan erangannya. Mengapa Arinta tidak percaya dengan penjelasan yang Reagan berikan padanya tadi, itu karena Arinta tau jika Reagan sedang berbohong kepadanya. Cowok itu mengatakan dengan sebelah alisnya yang selalu terangkat. Arinta memperhatikan itu, dan hal itu adalah kebiasaan Reagan saat dirinya berbohong. Arinta tau dari Renata saat mereka berdua tidur bersama waktu itu.


Reagan menghembuskan nafasnya dan menegakkan badannya. Mencium kening Arinta sekilas sebelum berujar, "Sebenarnya dia jatuhin diri ke aku."


Arinta melotot kan matanya, "Kan kamu udah-"


"Ssst, dengerin dulu Bunda", gemas Reagan sambil menggesekkan hidungnya dengan hidung Arinta.


Arinta mendengus, "Ya udah, buruan!."


"Tadi aku udah berusaha dorong dia. Tapi dia malah nekat mau buka bajunya. Dan pas aku mau ngelempar dia, kamu datang waktu itu. Aku kaget, takut kamu salah paham", ujar Reagan menjelaskan lalu turun menciumi anaknya saat melihat mata Arinta yang sangat mengerikan.


Arinta memejamkan matanya. Mengapa Reagan harus memiliki wajah yang begitu paripurna sehingga membuat Arinta pusing tujuh keliling untuk menyembunyikan suaminya itu. Harus kah Arinta mengunci Reagan di dalam rumah selamanya.


"Tapi kamu tetap bohong sama aku", sahut Arinta setelah kembali membuka matanya. Memalingkan wajahnya kesamping. Kenapa Reagan harus berbohong kepadanya.


Reagan mendongak, "Maaf", gumamnya.


"Sana!, aku enggak mau ngomong sama kamu", Arinta mendorong wajah Reagan yang hendak menciumnya kembali.


"Berbohong itu kayak narkoba kamu tau. Sekali kamu melakukannya, kamu pasti akan ketagihan untuk melakukannya terus-menerus. Dan aku gak mau hidup dengan orang yang kayak gitu. Mending kita pisah untuk-"


Cup


Reagan kembali membungkam Arinta saat istrinya itu kembali membahas hal yang sangat sensitif tersebut.


"Enggak akan pernah ada kata pisah, kamu camkan itu", gumam Reagan tegas seraya menyingkap paksa gaun Arinta. Mengelus dan mencium anaknya terlebih dahulu. Meminta izin sebelum berkunjung.


Lalu Reagan langsung memberikan hukuman untuk istrinya itu. Karena sudah berani memiliki niat untuk meninggalkan nya. Sebuah pelajaran yang akan selalu diingat oleh Arinta.


...***...


Arinta membuka matanya saat merasakan hembusan nafas menerpa kulitnya. Lalu ia menoleh kebawah. Menatap Reagan yang membenamkan wajah di dadanya. Membuat Arinta risih sekaligus hangat.


Kemudian Arinta menoleh kearah jam di dinding ketika melihat cahaya jingga yang memasuki celah-celah kamarnya.


"Reagan", panggil Arinta pelan dengan tangan yang aktif mengelus rambut Reagan.


"Hmm", gumam Reagan menyahuti.


"Aku mau bilang sama kamu, jangan pernah bohongin aku lagi ya. Setegar apapun tampilan luar seorang wanita, tapi gak menutup kemungkinan kalau di dalamnya dia sangat rapuh. Dan aku juga enggak mentolerir seorang pembohong. Itu juga demi kebaikan kamu. Apapun kondisinya, jangan pernah berbohong", ujar Arinta memberitahu. Ia tidak ingin Reagan menjadi seorang pembohong ulung.


"Iya, janji enggak lagi. Maaf Bunda", balas Reagan tanpa membuka matanya.


Arinta tersenyum lalu berniat menggeser kan tangan Reagan yang memeluk posesif pinggangnya.


"Eum, mau kemana?", gumam Reagan sambil mempererat pelukannya. Tak mengizinkan Arinta untuk meninggalkannya.


"Mau bantuin Ibu masak", jawab Arinta dengan mengelus alis tebal milik Reagan seraya mencabuti nya sesekali.


"Enggak boleh."


"Ih, gak boleh gitu", Arinta mencoba memberikan sedikit penjelasan pada bayi besarnya itu.


"Enggak mau", keras kepala Reagan yang membuat Arinta memutar bola matanya jengah.


"Awas Reagan, anaknya kejepit loh ini", tegur Arinta ketika Reagan memeluknya semakin erat.


Reagan membuka matanya lalu mendongak kearah Arinta. Menatap kesal istrinya itu sebelum berbalik membelakangi Arinta.


Arinta yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bangkit sudah sifat kekanak-kanakan Reagan. Dasar Big baby.


Lalu Arinta turun dari kasur. Mengambil gaun nya yang dilempar secara asal oleh Reagan. Memakainya dengan cepat, sadar jika Reagan masih menatapnya.


"Arin", panggil Reagan seraya melihat Arinta yang sedang mencepolkan rambutnya keatas.


"Apa?", sahut Arinta dan membalikkan badannya menghadap suaminya itu.


"Masih mau cerai sama aku?", tanya Reagan dengan senyuman om-om pedofil ciri khasnya. Membuat Arinta mendengus namun tak urung pipinya terasa memanas juga.


"Menurut kamu?!", ketus Arinta.


Reagan tertawa, "Bunda, nanti lagi ya", tambahnya dengan ambigu.


Lantas Arinta memandang cengo Reagan yang sudah kembali membalikkan badannya membelakangi Arinta. Apa cowok itu ingin membunuh anaknya sendiri. Ya Tuhan mengapa Reagan bisa senafsu itu.


"Sama sekretaris kamu aja sana!", tukas Arinta lalu keluar dari dalam kamarnya dengan sedikit membanting pintu. Meninggalkan Reagan yang sepertinya berniat untuk melanjutkan tidurnya. Emang dasar kebo.


Kemudian Arinta berjalan kearah dapur rumahnya. Menghampiri Sinta yang sedang memasak sesuatu dengan Raka yang membantunya.


"Masak apa, Bu?", tanya Arinta seraya melihat kearah kentang yang dipotong oleh Raka.


"Masak ayam hitam", Raka yang menyahut dengan asal.


"Ayam kecap, Saka kepengen katanya", jawab Sinta membenarkan ucapan Raka.


"Jangan-jangan anak cowok Ibu satu itu sedang hamil lagi?."


Tuk


"Sekali lagi kamu ngomong, mulut kamu yang Ibu masak hitam", sarkas Sinta sambil memukul kepala Raka dengan spatula yang ada ditangannya.


"Maaf kanjeng ratu", ujar Raka mendramatisir.


Lalu Raka menoleh menatap kearah Arinta yang sedang mengupas buah apel. Matanya tak sengaja menatap satu yang hal ganjil pada bumil satu itu. Kemudian Raka tersenyum miring dan berseru dengan heboh, "Woah, kayaknya tadi ada nyamuk yang habis gigit leher kak Rinta. Ganas juga kayaknya tuh nyamuk. Mana merah-merah nya banyak lagi."


Arinta tersentak. Menatap sebentar Raka dan Sinta yang juga tengah menatapnya. Lalu pandangannya beralih ke area tulang selangka nya yang terdapat sedikit tanda kemerah-merahan. Lantas Arinta dengan refleks menutupi lehernya. Reagan sialan.


"Habis main kuda-kudaan ya?", tanya Raka sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


Arinta mengangguk lalu sedetik kemudian ia langsung menggeleng dengan cepat. Membuat Raka tertawa terbahak-bahak, dan Sinta yang tersenyum kearahnya. Argh, Arinta ingin mati saja rasanya.


"Ri-rinta ke kamar dulu, Bu", ujar Arinta dan segera berlari cepat meninggalkan dapur tanpa menghiraukan Raka yang masih tertawa.


"Jangan buat Upin dan Ipin nya goyang-goyang. Kasihan, masih kecil!", teriak Raka yang membuat Arinta langsung menutupi wajahnya malu.


Brak


Arinta membuka pintu dengan kasar. Membuat Reagan yang tengah memakai kembali bajunya menoleh kearah Arinta yang tampak murka.


Perempuan berperut buncit langsung berjalan menghampiri Reagan.


"Kenapa?", tanya Reagan setelah Arinta berdiri dihadapannya.


Tanpa menjawab, Arinta langsung mencubiti tubuh Reagan. Membuat cowok itu mengaduh dengan bingung.


"Kenapa sih Bun?", Reagan mengernyitkan keningnya.


Arinta mencebikkan bibirnya lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas pangkuan Reagan. Memeluk erat leher suaminya seraya menyembunyikan wajahnya disana.


"Kenapa kamu buat tandanya di leher. Raka ngejekkin aku tau", sebal Arinta membuat Reagan tertawa.


"Kamu juga, kenapa keluar gak ngaca dulu", sahut Reagan tanpa menghentikan tawanya. Jarang-jarang melihat Arinta yang kesal seperti itu. Apalagi bertingkah manja seperti saat ini. Kecuali jika cewek itu sedang sakit.


"Lupa", cicit Arinta pelan yang semakin membuat tawa Reagan menggelegar.


"Reagan, ih!."


...~Rilansun🖤....