
...••••••••••••••...
...Mungkin itu azab buat lo, tapi itu anugerah buat gue, karena Tuhan udah beri perasaan itu ke gue......
...••••••••••••••...
...***...
"Ogah!"
"Alhamdulillah."
Jawaban kompak yang diberikan oleh Gina dan Zidan setelah Reagan mengatakan ngidam nyeleneh Arinta. Ternyata inilah semua jawaban dari kegelisahan Gina kemarin. Tadi malam Reagan menelponnya, meminta dirinya untuk datang esok hari ke apartemen sepupunya itu. Awalnya Gina ragu untuk hadir, ia pun tidak tau apa yang sedang di gelisahkan oleh hatinya. Tapi setelah menimbang jika Arinta adalah sahabat yang paling ia sayangi. Gina memutuskan untuk menepis kegelisahannya dan datang pada pagi buta ke apartemen pasangan muda itu.
Sial, jika saja Reagan mengatakan kalau Arinta mengidamkan hal gila tersebut, maka Gina tidak akan setuju untuk datang.
"Gue enggak mau!", tolak Gina yang membuat senyuman lebar yang menghiasi wajah Arinta perlahan sirna. Bumil satu itu mencebikkan bibir bawahnya dan mendekat kearah Reagan yang duduk di sofa seberang.
Reagan yang melihat itu lantas merentangkan tangannya, menyambut Arinta yang menjatuhkan diri keatas pangkuannya.
"Gi-gina udah gak sayang aku lagi. Huwaaa", Arinta menangis dalam cerukan leher Reagan. Ia merasa kecil hati saat Gina dengan tegas menolak keinginannya. Padahal simpel, tinggal satuin bibir dan cium. Mudah kan. Tapi kenapa Gina tidak ingin melakukannya.
"Bunda jangan nangis dong, nanti twins nya juga ikutan nangis", sahut Reagan sambil mengelus sayang rambut serta punggung istrinya yang bergetar.
"Bu-bukan gak sayang, tapi itu gak bisa dilakuin gitu aja", ujar Gina gelagapan melihat Arinta yang menangis. Bahkan calon ibu itu menangis dengan sesenggukan. Ini kedua kalinya Gina melihat sahabatnya itu menangis seperti itu. Yang pertama ketika Arinta mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung.
"Kenapa?", tanya Arinta polos seraya mendongak menatap Gina.
"Ya itu...", Gina menggantung kalimatnya seraya menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Bingung apa yang mau dijawabnya.
"Udah turutin aja, daripada anaknya lahir ngences entar", celetuk Zidan yang dari tadi diam mengamati. Mimpi apa Zidan malam tadi, sampai mendapatkan rezeki yang sangat tak terduga ini.
"Ngences-ngences, mata lo!", ketus Gina menatap galak Zidan yang duduk disampingnya.
"Jangan galak-galak sayang, nanti-"
"Lo mau dikubur dimana?", sela Gina dengan wajah datarnya.
Zidan cengengesan, "Sans cantik. Kalau marah tambah cantik deh, tambah suka."
"Suatu azab bagi gue lo suka dengan gue", ujar Gina yang membuat Zidan menipiskan bibirnya.
"Mungkin itu azab buat lo, tapi itu anugerah buat gue, karena Tuhan udah beri perasaan itu ke gue. Dari sekian banyak cewek yang gue pacari, gak ada yang bisa kayak lo. Lo berdosa Gin udah buat gue gak bisa tidur setiap malam karena mikirin rencana esok hari untuk buat lo luluh. Walau gue yakin itu hal mustahil. Gue gonta-ganti cewek tiap minggunya berharap kalau hati gue bisa kecantol di salah satunya. Tapi sayang, hati gue keras kepala banget, maunya cuma sama lo. Bandel emang", ujar Zidan seraya terkekeh pelan di akhir kalimatnya, "Tapi tenang aja, setelah ini gue gak bakal lagi gangguin lo. Hidup lo bakal damai kalau gue udah pergi", tambahnya dengan menatap miris lantai granat yang dipijaknya. Mungkin ini adalah pertemuan terakhirnya dengan gadis yang sudah ditaksirnya sejak lama itu.
Reagan, Arinta dan Gina yang mendengar itu lantas terperangah tak percaya. Mereka tidak mengira seorang Zidan Avarel Artharwa yang terkenal urakan dan tidak punya rasa malu, bisa memiliki sisi melankolis seperti itu.
Reagan tidak pernah menyangka jika Zidan mengutarakan perasaannya secara gamblang kepada mereka. Sebab setiap mereka menanyakan masalah apa yang tengah dialami cowok itu, Zidan tidak pernah mau menjawab. Selalu pergi dengan beribu alasan nyeleneh nya.
Zidan mendongak, menatap Arinta dengan pandangan bersalah, "Maaf Rin, gue gak bisa penuhin ngidam lo itu. Tapi lain dari itu gue bisa sanggupin. Apa?, lo minta apa?, tas Herm*s?, berapa?, selusin gue beliin", ujarnya.
Arinta menggelengkan kepalanya. Jika ia mau itu, dirinya tidak usah susah-susah meminta kepada orang lain. Reagan bisa membelikan nya bukan.
"Aku gak mau-"
"Ah, si nyonya udah nelpon. Kalau gitu gue pulang dulu ya. Nanti kalau lo mau apa-apa, bilang aja ke gue", potong Zidan seraya bangkit dari duduknya.
"Gak perlu bilang ke lo. Suaminya masih hidup", celetuk Reagan dengan menatap datar temannya itu.
Zidan tertawa pelan, "Tenang, gue gak bakal ambil milik kawan sendiri. Tapi enggak tau kalau lo udah meninggal nantinya", balasnya.
Reagan menatap tajam Zidan, "Mulut sialan", umpatnya yang membuat Arinta langsung mencubit perut kotak-kotak Reagan.
Zidan tertawa, "Jangan perutnya aja yang dicubit. Mulutnya juga, entah ngidam apa Bunda Nata sampai mulut anaknya kayak neraka", serunya sambil melirik ponselnya.
"Udah ya, gue pulang dulu. Ibu negara dari tadi berisik banget", Zidan melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen Reagan.
Sementara Reagan yang melihat itu hanya bisa menghela nafas panjang. Selalu itu alasan yang digunakan Zidan jika ingin melarikan diri. Entah kawan nya itu bodoh atau memang tidak memiliki alasan lain.
"Lo cowok berengs*k dan gak peka. Gimana gue mau sama cowok kayak lo, yang mudah nyerah", ujar Gina dengan tiba-tiba membuat Zidan mengentikan langkahnya serta Reagan dan Arinta yang menatap bingung cewek tersebut.
"Lo mau buat keponakan gue ngences?", tambah Gina dengan makna yang tersirat. Mata nya menatap kearah punggung Zidan yang masih berdiri membelakangi mereka.
Zidan refleks memutar tubuhnya setelah mendengar penuturan Gina.
"Ma-maksud lo?", tanya Zidan dengan terbata-bata. Sungguh ia tidak paham dengan kalimat yang cewek itu sampaikan.
"L-lo gak lagi ngigau kan?", Zidan menatap Gina dengan wajah bodoh nya. Membuat Reagan ingin memukul wajah sok tampan tersebut.
"Gak. Gue lagi jungkir balik", ketus Gina dengan memandang flat Zidan.
"I-ini seriusan?. Apa gue lagi mim-"
"Zidan!, cepat kemari. Jangan banyak omong", sela Arinta dengan tangan yang berkacak di pinggang.
Zidan menurutinya. Berjalan dengan langkah yang pelan. Masih memikirkan apa penyebab Gina mau memenuhi ngidam Arinta. Padahal tadi jelas-jelas cewek itu sangat menolaknya. Lalu apa yang bisa membuat gadis dingin serta tomboy itu mengubah pandangan nya.
"Zidan cepetan ih, cowok kok jalannya lenggak-lenggok", sarkas Arinta saat melihat Zidan yang berjalan sangat pelan. Seperti siput. Padahal ngidamnya udah sampai di puncak ini. Enggak sabar melihat bagaimana dua anak cucu Adam itu berciuman.
"Iya-iya kanjeng ratu", sahut Zidan dan berjalan cepat kearah Gina yang masih duduk di sofa ruang tamu.
"Yeay!, cepat-cepat ciuman. Ayok, udah gak sabar ini. Buat bumil gak sabaran itu dosanya besar loh", ujar Arinta sambil menepuk tangannya girang. Bahkan cewek itu melompat dari pangkuan Reagan, saking senangnya.
"Bini lo kok gitu amat", celetuk Zidan yang dijawab Reagan oleh gelengan kepalanya singkat.
"Lo pasti yang ngajarin", tuding Gina membuat Reagan mendengus. Tidak tau saja mereka kalau ide tersebut terinspirasi dari drama Korea yang ditonton oleh Arinta kemarin. Sepertinya Reagan harus membatasi Arinta untuk menonton film seperti itu. Untung saja itu ciuman. Jika cewek itu menonton orang yang melakukan hal yang lebih. Dan Arinta meminta untuk melihatnya secara langsung, kan gawat. Sebenarnya film nya tidak masalah. Tapi yang menjadi masalahnya adalah istrinya itu terlalu polos.
"Udah-udah, cepat ciuman. Ayo, ayo!", Arinta duduk di dekat meja. Menopang dagunya menatap Zidan dan Gina yang duduk berdampingan dihadapannya.
"Ini serius kalian berdua ngeliatin?", tanya Zidan. Memalukan, pengalaman pertamanya harus di tonton oleh orang lain.
Arinta menganggukkn kepalanya dengan semangat. Sedangkan Reagan, cowok itu langsung memainkan ponselnya. Bukan hobinya untuk melihat orang lain berciuman. Malahan saat ini Reagan ingin sekali mencium istrinya itu.
Sebenarnya Reagan tak rela harus melepaskan sepupu perempuan satu-satunya itu. Terlebih untuk cowok seperti Zidan. Walau Reagan yakin kalau perasaan Zidan tak kan pernah berubah untuk Gina. Tapi cowok itu selalu mengganti pacarnya lima hari sekali. Reagan tau kalau itu adalah bentuk pelarian Zidan dari keputus-asaan nya terhadap Gina. Namun Reagan tidak menyukai caranya itu.
"Gak usah pakai intro segala, ayo cepetan", Arinta menatap berkaca-kaca mereka berdua. Rasa penasarannya sangat membuncah, tapi entah apa yang ditunggu oleh mereka.
Gina memejamkan matanya. Meyakinkan diri kalau harus melepaskan keperawanan bibirnya kepada laki-laki yang ada dihadapannya saat ini.
"Ayo-"
"Ah, Reagan. Lepasin", Arinta berusaha melepaskan tangan Reagan yang menutupi kedua matanya. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh suaminya itu. Kan Arinta mau menonton drama Korea secara langsung.
Reagan mendengus melihat Zidan yang langsung mencium Gina. Membuat cewek itu membelalakkan matanya. Emang si Zidan, kang gercep.
Lalu Reagan memutar tubuh Arinta menghadap kearahnya.
"Kenapa sih?", gerutu Arinta saat Reagan menjauhkan tangannya dari mata Arinta, "Orang mau lihat Gin-"
Cup
"Gak usah lihat, kamu langsung rasain aja", sela Reagan sambil mencium Arinta. Membuat cewek itu memberontak. Namun Reagan menahan kedua tangan Arinta. Tidak kehabisan akal, Arinta lantas berusaha menyentuh perut Reagan. Mencubitnya dengan pedas membuat Reagan langsung melepaskan ciumannya.
"Nanti malam tidur diluar pintu kamar", ujar Arinta dengan menatap tak bersahabat suaminya itu.
Reagan memandang cengo Arinta yang sudah kembali memutar tubuhnya kearah Gina dan Zidan.
Sial, Zidan sepertinya mencari kesempatan dalam kesempitan. Terbukti dengan mereka berdua yang masih berciuman. Ternodai sudah mata Arinta yang memang sudah ternodai karena oppa-oppa nya tersebut.
"Woah. Hahaha, mantap-mantap", Arinta bertepuk tangan dengan heboh saat melihat Gina dan Zidan berciuman.
Gina yang mendengar itu lantas membuka matanya. Dan langsung mendorong Zidan untuk melepaskan pagutan mereka. Ya Tuhan, kenapa Gina bisa terbuai oleh ciuman Zidan.
"Lo harus tanggung jawab dengan gue habis ini", ujar Gina lalu beranjak pergi ke dapur. Malu, ia sangat malu. Ditambah dengan Arinta yang kegirangan seperti habis melihat pertunjukan topeng monyet.
Zidan tersenyum lebar, "Sip, besok subuh kita langsung gas ke KUA!", teriaknya menyahuti. Membuat Gina mempercepat langkah kakinya.
"Hore!, nikah. Bagus, Zidan emang paling bagus", ujar Arinta seraya bertos ria dengan Zidan.
Tolong ingatkan Zidan untuk membelikan Arinta selusin tas Herm*s. Sebab tidak akan ada hari ini kalau Arinta tidak mengidamkan hal gila tersebut.
Sementara Reagan hanya bisa menghela nafasnya. Sepertinya yang dikatakan oleh Gina itu benar, jika Arinta adalah anak TK yang masuk SMA. Dan anak TK itu sebentar lagi bakal memiliki anaknya sendiri.
...~Rilansun🖤...
Ada yg ngintip😳~Zidan Avarel Artharwa