Brittle

Brittle
Pesta untuk twins



...••••••••••••••...


...Seperti ini saja sudah membuat ku bahagia, lebih dari apapun di dunia ini.......


...•••••••••••••...


...***...


Arinta menatap aktivitas yang ada dibawah sana dari jendela kamar. Sepertinya sangat gembira dan menyenangkan. Setelah Reagan memberitahu seluruh keluarga kalau Arinta mengandung anak kembar. Semuanya sangat kaget dan bersyukur. Terlebih Renata, wanita itu pingsan setelah mendengarnya.


Alhasil dengan keputusan semua orang tua, mereka mengadakan pesta kecil-kecilan yang hanya dihadiri oleh keluarga dan sahabat di halaman belakang kediaman keluarga Allandra. Setelah siang hari nya mereka pergi ke panti asuhan untuk memberikan beberapa kepada anak-anak yang ada disana. Sebagai wujud rasa syukur mereka karena telah diberi cucu kembar. Lebih-lebih itu adalah cucu pertama. Tentu saja mereka harus menyiapkan seluruhnya dengan sempurna.


Hitung-hitung pesta malam ini sebagai refreshing untuk mereka sebelum ujian yang akan dihadapi tiga hari kedepan.


"Seneng banget kayaknya mereka."


Arinta tersentak ketika Reagan dengan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Ia masih belum terbiasa dengan kedekatan diantara mereka. Apalagi Reagan yang suka menciumnya dengan mendadak. Membuat Arinta merinding sekaligus malu.


"Bunda seneng enggak?", tanya Reagan sambil mencium beberapa kali leher putih jenjang milik Arinta. Dengan tangan yang aktif mengelus perut istrinya tersebut.


"Papi seneng enggak?", tanya Arinta balik seraya menatap Reagan tanpa membalikkan badannya.


Reagan menatap kaget Arinta. Ada apa dengan cewek itu. Namun tak urung hal itu membuat Reagan tersenyum dengan lebar nya. Setidaknya Arinta sudah sedikit ada kemajuan.


"Seneng banget", sahut Reagan dan langsung menyosor bibir Arinta yang sedari tadi sudah memanggilnya untuk hinggap.


"Reagan ih", Arinta mendorong paksa Reagan dan menghapus kasar bibirnya. Cowok itu selalu saja mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Tanpa menghiraukan Arinta yang masih misuh-misuh. Reagan menjatuhkan tubuhnya tepat di depan perut buncit Arinta. Mengelus sayang anaknya serta melayangkan beberapa kecupan penuh kasih dari seorang Ayah.


"Twins seneng enggak?", gumam Reagan lalu cowok itu tertawa saat mendapatkan tendangan kecil dari anaknya, "Kayaknya seneng banget. Bagus lah. Sehat-sehat terus ya sayang. Jangan rewel, kasihan Bunda nya. Papi enggak sabar buat jumpa kalian. We love you my baby", tambah Reagan membuat Arinta tersenyum dengan tangan mengelus rambut coklat gelap milik Reagan.


"Aku mau keluar Reagan", ujar Arinta dengan pandangan mata yang memelas. Dari pesta sudah dimulai sampai kini pun Arinta tidak diberikan izin untuk keluar oleh Reagan. Padahal Arinta sudah sangat ingin memakan daging yang dibakar oleh Sinta. Air liurnya sudah meleleh dari tadi.


Entah kenapa cowok itu menahannya dikamar, padahal mereka tidak melakukan apapun, eh. Jangan salah paham, maksud Arinta daripada ia berdiam diri di kamar lebih baik ia turun kebawah dan membantu disana. Lebih bermanfaat daripada berduaan dengan macan yang kapan pun siap menerkamnya.


Reagan berdiri dan menatap datar Arinta. Lalu di detik berikutnya, cowok itu langsung menggendong Arinta ala bridal style dan membaringkan tubuh Arinta keatas kasur dengan sangat pelan. Memperlakukan wanitanya bak porselen yang rapuh dan mudah pecah.


"Reagan", cicit Arinta pelan melihat Reagan yang mengukung tubuhnya diatas.


Reagan menyeringai dan mendekatkan bibirnya kearah telinga Arinta, "Jantung kamu gak nyantai Arin. Bunyinya sampai ke telinga aku", bisiknya membuat wajah Arinta merah padam. Tolong lenyapkan saja cowok yang berada diatas tubuhnya ini. Setiap ucapan dan tindakannya selalu berdampak terhadap kesehatan jantungnya.


...***...


Jreng


Zidan memetik senar gitar nya sebelum menyanyikan sebuah lagu.


🎶I found a love for me...


Oh darling, just dive right in and follow my lead


Well, I found a girl, beautiful and sweet


Oh, I never knew you were the someone waiting for me


'Cause we were just kids when we fell in love


Not knowing what it was


I will not give you up this time


But darling, just kiss me slow, your heart is all I own


And in your eyes, you're holding mine


Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms


Barefoot on the grass, listening to our favourite song


When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath


But you heard it, darling, you look perfect tonight....


Mata Zidan tak lepas memandang Gina yang tengah menyiapkan minuman dengan Vina dan Renata. Namun cewek itu sama sekali tidak melirik kearahnya. Padahal Zidan sudah bernyanyi dengan suara besar dan merdu. Tapi Gina tetap saja tidak terpikat olehnya. Cewek itu terlalu dingin dan sulit untuk di dapatkan. Ingin menyerah, namun Gina itu terlalu langka untuk disia-siakan.


"Uh langsung nusuk ke palung terdalam beb", seru Riko dengan mimik wajah yang mendramatisir.


"Usus dua belas jari ku langsung joget: saya masih ting-ting, dijamin masih ting-ting sama sekali belum berpengalaman. Asekk", tambah Raka sambil memperagakan joget yang dibilangnya.


"Pepet terus sampai jadi. Mumpung ada orang tua nya tuh, langsung aja sungkem minta restu. Mana tau besoknya langsung ke KUA", sahut Revo dengan berteriak ke arah Papa Zidan yang tengah membantu Rihanna dan Sinta membakar daging.


"Habis itu gas. Jangan kasih ampun, langsung punya anak kembar lima."


"Ho'oh, kalahin si setan. Eh Abang ipar maksudnya", cengir Raka saat mendapati pelototan tajam dari Ibu nya, "Abang ipar tokcer bener. Sekali tembak langsung dapat dua", lanjutnya yang mendapatkan sorakan heboh dari Riko, Revo dan Zidan. Perkumpulan para manusia yang otaknya setengah.


Ardean dan Saka yang duduk berdampingan. Lantas hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bukan nya takjub dengan kehebohan mereka, tapi karena telinga nya sudah tidak kuat lagi mendengarkan teriakan-teriakan orang utan tersebut.


"Kenapa lo bisa punya kembaran kayak dia", ujar Ardean dengan menatap datar Saka yang tengah fokus bermain ponsel.


Lantas Saka menoleh, "Kenapa juga lo bisa punya teman kayak mereka?", tanyanya balik sambil menunjuk Zidan, Revo dan Riko yang asik menghibahkan kehebatan Reagan bisa mendapatkan anak kembar.


Kalau ada mereka bertiga ditambah dengan Raka. Sepertinya ibu-ibu komplek akan pensiun berjamaah dari tugasnya menggosip.


"Terpaksa", jawab Ardean singkat.


"Sama", sahut Saka dan kembali memainkan ponselnya.


...***...


"Seharusnya kita ikut bergabung. Kan pesta nya buat twins, masa pemeran utamanya enggak ada", tambah Arinta mencoba membujuk suaminya yang sangat keras kepala itu.


Reagan mendongak, "Ya udah twins aja yang kesana. Kamu tetap disini", balasnya yang membuat Arinta langsung memukul pelan kepalanya.


"Bodoh jangan dipelihara."


"Kamu juga, telmi jangan dipelihara."


Arinta melotot tak terima, "Mana ada ya aku telmi."


"Jadi yang di ruang dokter kandungan semalam itu apa sayang", sahut Reagan sambil menggesekkan hidungnya ke hidung mancung Arinta dengan gemas.


"Reagannn", rengek Arinta saat tau Reagan mentertawakan dirinya.


Cup


Reagan tersenyum dan mencium kening Arinta dengan lembut.


"Aku mau nyanyi buat kamu", celetuk Reagan.


Arinta terkekeh pelan, "Emang kamu bisa nyanyi."


"Remeh", Reagan menarik hidung Arinta membuat istrinya itu mengap-mengap. Lucu, kayak ikan.


Lalu setelah itu mereka diam untuk beberapa saat sebelum Reagan bernyanyi dengan suara yang lembut dan sangat merdu. Membuat Arinta terperangah tak percaya. Tidak menyangka kalau orang sedingin Reagan bisa memiliki sisi melankolis.


🎶Memenangkan hatimu bukanlah


Satu hal yang mudah


Kau berhasil membuat


Ku tak bisa hidup tanpamu


Menjaga cinta itu bukanlah


Satu hal yang mudah


Namun sedetik pun tak pernah aku


Berpaling darimu


Beruntungnya aku


Memiliki kamu


Kamu adalah bukti


Dari cantiknya paras dan hati


Kau jadi harmoni saat kubernyanyi


Tentang terang dan gelapnya hidup ini


Kaulah bentuk terindah


Dari baiknya Tuhan padaku


Waktu tak mengusaikan cantikmu


Kau wanita terhebat bagiku


Tolong kamu camkan itu....


Setelah selesai bernyanyi dengan beberapa lirik yang digantinya, Reagan lalu menatap lamat wajah cantik Arinta yang juga menatapnya.


Benar, mendapatkan Arinta itu sangat sulit bukan. Sampai membuatnya pernah ingin menyerah. Untung saja Reagan tidak jadi melakukan itu, jika tidak mungkin mereka masih berperang dingin sampai saat ini. Dan cewek itu tidak akan berada di dalam pelukannya kini.


"Maaf udah pernah mau nyerah sama kamu", ujar Reagan dengan menatap lurus mata Arinta.


"Aku juga minta maaf karena udah buat kamu sulit dengan semua sikap aku", balas Arinta dengan meneteskan setitik air matanya. Setelah mendengar suara Reagan yang bernyanyi dengan sangat merdunya ditambah permintaan maaf tulus cowok itu. Membuat Arinta tidak bisa mengeluarkan air mata bahagianya.


Arinta merasa menjadi wanita yang paling bahagia di muka bumi ini.


"Jangan suka nangis Bunda, nanti anaknya cengeng. Aku enggak mau ya, kalau anak kita laki-laki dan dia cengeng kayak kamu", Reagan menghapus jejak air mata di pipi Arinta dengan jempol tangannya.


"Laki-laki juga manusia. Aku enggak mau ya anak aku dingin dan keras kepala kayak kamu", tambah Arinta.


Reagan menyeringai dan lebih mendekatkan wajahnya kearah Arinta, "Masa iya. Enggak dingin kok, anget ini."


"Reagan ih", Arinta mendorong wajah Reagan saat cowok itu kembali menggodanya, "Aku lapar", lanjutnya dengan nada memohon. Mau sampai kapan Reagan akan mengurungnya di dalam kamar.


Reagan menghela nafas berat. Masih mau berduaan padahal. Tapi jika keinginan bumil satu itu tidak dituruti, akan gawat dampaknya.


"Ya udah ayo kita keluar", ujar Reagan dan bangkit dari kasurnya. Mendengar itu Arinta langsung bersorak girang dan merapikan penampilan nya sebelum keluar.


Hal pertama yang menyambut ketika mereka telah sampai di halaman belakang adalah suara cempreng Raka yang mengadu kepada Bagas Atmaja, Papa nya Gina.


"Om!, anak gadisnya di godain ini. Buruan nikahin Om."


"Widih, si Abang ipar tokcer disini. Lama banget di dalamnya, habis ngapain aja?", celetuk Raka saat melihat Reagan dan Arinta yang berjalan mendekat.


Arinta menggelengkan kepalanya. Penasaran, apa sebenarnya isi yang ada di dalam kepala adik nya itu. Namun tak urung sebuah lengkungan sabit terbit di bibir Arinta. Semuanya sangat bergembira malam ini. Dimana-mana penuh dengan suara gelak tawa. Sangat ricuh tapi sekaligus hangat. Hanya satu kurangnya, Laily tidak berada diantara kehangatan mereka tersebut.


"Aku rindu Lai", gumam Arinta pelan.


...~Rilansun🖤....