
...••••••••••••••...
...Di dalam kapal ini ada kita berdua yang siap mengarungi samudera, jadi aku mohon jangan egois......
...••••••••••••••...
...***...
"Malam, Pak."
Reagan mengangguk singkat seraya melirik satpam berperawakan besar tersebut. Lalu setelah itu Reagan kembali menjalankan mobilnya memasuki sebuah pekarangan rumah. Membuat Arinta mengernyitkan dahinya. Sebab rumah ini bukan rumah seperti kediaman keluarga Allandra dan Deltava. Atau mertuanya itu membeli sebuah rumah baru.
"Rumah siapa?", Arinta menatap Reagan dengan penuh tanda tanya. Cowok itu mengajaknya untuk keluar malam ini dan tidak mengatakan kemana tujuan Reagan membawanya. Asal Arinta tanya, suaminya itu akan selalu menjawab: kamu bakal tau nanti. Itu terus, hingga Arinta jengah mendengarnya.
Reagan menoleh dengan senyuman manisnya, "Kamu bakal tau sen-"
"Enggak usah jawab kalau gak niat", potong Arinta seraya menatap tajam Reagan. Lalu cewek itu kembali menoleh kesamping jendela mobil. Mengamati pohon-pohon yang menjulang tinggi sepanjang jalan hingga mobil Reagan mengitari sebuah air mancur yang tinggi dengan hiasan cahaya lampu di tepi-tepi kolamnya. Membuat Arinta berdecak kagum. Bahkan air mancur itu lebih besar dan cantik dari yang pernah ia lihat.
"Mau lihat dari dekat gak?", celetuk Reagan yang membuat Arinta refleks menoleh kearahnya.
"Emang boleh?", tanya Arinta dengan menatap polos Reagan membuat cowok itu terkekeh pelan.
"Apa yang gak boleh buat kamu", balasnya sambil menghentikan mobilnya di halaman utama rumah. Reagan lebih dulu keluar dari mobil lalu mengitari mobilnya buat membantu Arinta untuk dari mobil.
Setelah itu Arinta menatap menyeluruh kearah sekelilingnya. Fokus utamanya adalah air mancur yang sangat besar tadi. Lalu tiba-tiba matanya dibuat melebar saat air mancur itu berubah warna menjadi ungu, biru dan kuning. Ini rumah apa taman hiburan.
Kemudian mata Arinta menggulir ke sisi kanan rumah yang terdapat garasi yang juga besar. Tapi tunggu, motor berwarna biru metalik itu sepertinya Arinta mengenalinya. Namun sedetik kemudian cewek itu langsung menggelengkan kepalanya, bukan hanya Reagan yang memiliki motor sport seperti itu.
Tak sampai disitu, Arinta lantas menoleh kearah lapangan golf yang terdapat di sisi kiri rumah. Juga sebuah taman bunga dengan gazebo ditengah-tengahnya. Benar-benar seperti surga.
Arinta yakin yang memiliki kediaman besar ini pastilah seseorang yang sangat kaya raya.
"Reagan, seriusan kamu bawa aku ke rumah siapa ini?", seru Arinta dengan menatap was-was suaminya itu. Entah siapa orang besar yang sudah disinggung oleh Reagan.
"Rumah kamu lah", jawab Reagan santai seraya tersenyum geli melihat Arinta yang melongo menganggumi keadaan sekitar.
"Oh", sahut Arinta singkat membuat Reagan mendengus. Respon Arinta itu tidak seperti yang Reagan duga. Ia menduga Arinta akan menangis haru dan memeluknya seraya mengucapkan terima kasih. Tapi cewek itu hanya mengucapkan oh?, respon seperti apa itu.
"Udah ayo masuk", Reagan menarik tangan Arinta untuk memasuki rumah bergaya Amerika klasik tersebut.
"Tunggu dulu", Arinta menahan tangan Reagan, "Ma-maksud kamu ini ru-rumah kita?", tambahnya dengan gagap. Apa Arinta tidak salah mendengar?. Apakah telinganya masih berfungsi dengan baik?.
Reagan memutar bola matanya jengah, "Enggak, rumah Bi Ina."
"Serius!", Arinta menatap tajam suaminya itu.
"Iya lah rumah kita, pakai nanya", sahut Reagan dengan kesal. Suprise nya sudah berantakan hanya karena kata 'Oh'.
"APA?", Arinta berteriak dengan sangat kencang yang membuat Reagan refleks langsung menutupi kedua telinganya. Apakah cowok itu sedang bercanda sekarang?, kalau iya sungguh itu tidak lah lucu. Rumah sebesar ini adalah miliknya?. What the hell.
"Reagan bank mana yang habis kamu rampok?."
Calon Ayah itu menatap Arinta dengan mulut yang sedikit terbuka. Reagan sungguh tidak menyangka jika istrinya itu akan menanyakan hal seperti itu. Darimana pemikiran Arinta itu berasal. Apakah wajahnya tampak seperti perampok?
"Bank Indonesia", jawab Reagan datar. Pelukan dan ciuman yang ia harapkan dari Arinta, pupus sudah. Apa Arinta tidak pernah diberi oleh seseorang?. Reaksi Arinta itu jelas sekali seperti jomblowati dari lahir.
"Aku serius Reagan", desis Arinta seraya mencubit pelan perut kotak-kotak suaminya. Arinta masih tidak percaya dengan semua ini. Apakah Reagan ikut pesugihan, makanya akhir-akhir ini cowok itu pulang sangat larut. Bahkan Arinta nyaris tidak pernah melihat Reagan di apartemen.
"Aku juga serius Bunda. Pernah aku bohongin kamu emang?", Reagan mencium lembut kepala Arinta. Mencoba menjelaskan dengan pelan kepada istri kecilnya itu.
Arinta menatap tepat di manik cokelat terang milik suaminya. Mencoba mencari kebohongan yang ada. Namun nihil, sepertinya Reagan mengatakan yang sebenarnya.
"Dari mana kamu dapat duit?", tanya Arinta kemudian kontan membuat Reagan mendengus.
"Tabungan aku ditambah dengan uang gaji."
"Tapi gak mungkin sebanyak ini", setidaknya rumah ini pasti bernilai fantastis. Walaupun Reagan terlahir kaya, tapi Arinta yakin kalau tabungan Reagan tidak akan sebanyak itu. Dan cowok itu baru saja bekerja empat bulan. Palingan hanya bisa membeli sebuah rumah minimalis.
"Warisan Oma", jawab Reagan lagi seraya menyandarkan tubuhnya ke mobil. Kebetulan tabungannya sudah cukup dan ditambah warisan dari Oma nya yang ada di Sydney. Reagan yang tak ingin membuang waktu pun langsung membeli rumah itu sebulan yang lalu, tanpa sepengetahuan Arinta tentunya.
Arinta menghela nafasnya. Reagan sangat boros, "Kenapa kamu harus beli rumah sebesar ini kalau kita cuma hidup berdua?."
"Sebentar lagi kita bakal punya anak", sahut Reagan santai dengan pandangan lurus kearah pintu jati besar yang ada dihadapannya.
"Tapi gak perlu sampai sebesar ini. Uang itu bisa kamu investasikan untuk masa depan kita nanti. Untuk lahiran aku, dan kehidupan kita kedepannya", protes Arinta.
Reagan menatap dingin istrinya itu, "Kamu ngeraguin aku?."
"Aku bukan orang yang bodoh Rin, aku juga tau kita hidup gak untuk hari ini aja. Kamu gak usah khawatir tentang gimana masa depan kamu dengan aku nantinya. Dan untuk anak-anak, aku juga udah buat tabungan dan asuransi. Kamu tenang aja", sela Reagan.
"Tapi kamu bisa beli lebih kecil dari ini. Dan kenapa gak siap aku lahiran aja?", Arinta mencoba menjelaskan dengan pelan kepada Reagan. Arinta tidak butuh rumah sebesar ini kalau Reagan tidak pernah pulang. Cowok itu terlalu gila kerja. Sekecil apapun rumah itu, tapi kalau ada kehangatan dan cinta pasti akan terasa besar dan nyaman.
Mendengar itu Reagan lantas tersenyum miris, "Aku kira kamu bakal suka, rupanya gak", ujarnya menatap lantai keramik yang dipijaknya.
Arinta menghela nafasnya, "Kenapa kamu gak bicara sama aku dulu?. Dalam hidup ini kita berdua yang bakal jalanin kan Reagan, terus kenapa kamu enggak pernah nge-diskusiin ini dengan aku?."
"Salah aku mau nyenengin kamu?, salah kalau aku mau kasih kamu yang terbaik?. Kayaknya apapun yang aku lakuin bakal salah di mata kamu. Aku ini suami kamu Rin, bukan anak kamu. Aku kepala keluarga, apapun yang ada, butuh keputusan aku bukan?", cerocos Reagan dengan pandangan dingin menatap Arinta. Mengapa kejutannya berubah menjadi sebuah pertengkaran.
"Tapi-"
"Kalau kamu gak suka, besok kita pindah", ujar Reagan menyela ucapan Arinta. Lalu tak ingin berdebat lebih jauh, Reagan lantas melarikan diri dengan memasuki rumah barunya itu. Mengapa Reagan beli rumah sebesar itu, karena ia sudah mengatakan bukan kalau Reagan menginginkan anak yang banyak dengan Arinta. Makanya ia butuh rumah yang besar untuk keluarganya yang besar pula nantinya. Tapi sepertinya Arinta tidak menyukai hadiahnya itu.
Arinta hanya bisa mengulum senyumnya dengan menatap nanar punggung Reagan. Bukannya Arinta tidak suka dengan kediaman ini, bahkan ia sangat suka. Siapa yang tidak ingin tinggal di rumah bak surga ini. Namun Arinta tak suka dengan cara Reagan yang tidak berdiskusi dengannya terlebih dulu.
Arinta adalah istrinya Reagan, bukan pembantu yang akan ikut kemana pun majikannya pergi.
"Keras kepala banget Papi kamu", gumam Arinta sambil mengelus perutnya yang buncit. Lalu bumil satu itu berjalan masuk kedalam rumah. Melewati ruangan yang seperti sebuah ballroom, namun berukuran lebih kecil dari kayak biasanya. Terdapat banyak hiasan dan pigura-pigura. Satu buah pigura besar yang paling menarik perhatiannya, yaitu foto pernikahannya dan Reagan.
Arinta terus berjalan pelan dengan mata yang menatap hiasan-hiasan di dinding. Hingga suara seseorang yang memanggilnya membuat Arinta sontak mendongak.
"Rin, yaelah lama banget lo jalannya."
Arinta mendengus lalu ia menunjuk kearah perutnya, "Berat", ujarnya.
Gina menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Lupa kalau sahabatnya itu sedang hamil sekarang, "Ya udah ayo, yang lain udah nungguin", ajaknya sambil menggandeng tangan Arinta.
"Semuanya datang?", tanya Arinta. Apakah Reagan ingin membuat pesta?.
Gina menggelengkan kepalanya, "Keluarga doang", jawabnya singkat.
Arinta menganggukkan kepalanya paham lalu mereka terdiam untuk beberapa saat sebelum Gina bertanya, "Berantem?."
Pertanyaan Gina yang membuat Arinta kontan langsung mendongak menatap cewek itu, "Cekcok dikit", jawab Arinta singkat. Betapa peka nya Gina terhadap sekitarnya. Sampai sahabatnya itu tau kalau mereka berdua sedang beradu argumen.
Gina lantas menganggukkan kepalanya paham. Tidak ingin bertanya lebih lanjut, sebab ia pun sadar diri kalau statusnya hanya sebatas sahabat.
"Kamu sama Zidan gimana?", tanya Arinta mencoba mengalihkan topik. Ia penasaran kelanjutan dari cerita Zidan dan Gina. Setelah berciuman apakah ada perkembangan?.
"Huh?", Gina terlihat terdiam sejenak sebelum memalingkan wajahnya yang tampak merona. Membuat Arinta terkekeh pelan.
"Zidan udah nembak belum?", tanya Arinta lagi dengan seringaian jahil nya.
"Apaan sih lo. Gue-"
"Rinta!, lama banget sih jalannya. Gak boleh berdiri lama-lama", Renata datang menghampiri mereka berdua lalu menuntun Arinta untuk duduk di sebuah sofa besar yang melingkar di ruangan yang sepertinya ruang tamu.
"Enggak lama kok Bun", sahut Arinta sambil duduk dengan dibantu oleh ibu mertuanya itu.
"Kalau Bunda, Ibu dan Mommy kamu udah tinggal disini, kamu gak boleh seenaknya lagi", ujar Renata yang membuat Arinta menatap wanita tersebut.
"Kalian mau tinggal disini?."
"Enggak boleh?."
"Bu-bukan gitu, Bun. Emangnya mau tidur dimana?", tanya Arinta dengan menatap polos Renata. Membuat semua orang yang ada disana tertawa.
"Ya, dikamar lah sayang", sahut Sinta gemas, apa gunanya rumah sebesar ini kalau tidak memiliki banyak kamar.
Arinta refleks langsung menatap menyeluruh ke setiap sudut rumah. Banyak pintu-pintu yang sepertinya kamar. Tidak hanya dilantai atas, tapi juga di lantai bawah.
"Emang kamarnya ada berapa?", tanya Arinta lagi.
"Berapa Reagan?", Renata menatap kearah putranya yang sibuk dengan ponsel.
"Dua belas", jawab Reagan singkat tanpa menoleh kearah Bunda nya.
Mendengar penuturan Reagan, rahang Arinta terasa ingin copot seketika. Apa kata suaminya itu, dua belas?. Reagan ingin membangun hotel apa gimana?.
...~Rilansun🖤....
Kurleb seperti ini👇