
...•••••••••••••••...
...Terkadang membuka sesuatu yang telah tersimpan rapat, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab, masih ada luka yang akan kembali bernanah karena itu.......
...•••••••••••••••...
...***...
Arinta menghela nafasnya melihat kursi disebelahnya yang kosong tanpa tuan. Jam istirahat telah berbunyi barusan, dan selama pelajaran berlangsung tadi pun Gina belum juga kembali.
Sebenarnya tak pernah terbesit sekali pun dipikiran Arinta untuk bertengkar dengan Gina. Memang benar kata orang, jika emosi telah menguasai jiwa kita bisa lupa dengan siapa kita berbicara, bahkan ironisnya dapat membuat kita lupa karakter diri kita sendiri.
Pertama kali itu Arinta meluapkan emosinya sampai sebegitunya, dan untuk pertama kalinya juga Arinta melihat Gina semarah itu terhadap dirinya. Arinta berharap ini untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya. Gina yang seperti itu sungguh menyeramkan dan menakutkan.
"Maafin aku....", Arinta menjatuhkan kepalanya kelipatan tangan diatas meja sambil memandang tempat dimana sahabatnya itu biasa duduk. Arinta tidak tau dimana Gina berada sekarang. Karena baru pertama kali mereka bertengkar, jadi Arinta tidak tau harus melakukan apa agar sahabatnya itu luluh dan mau memaafkannya.
Laily yang duduk dibelakang Arinta pun tak tega melihat gadis polos itu terlalu meratapi kejadian barusan. Laily yakin jika baru kali ini Arinta mengalami yang namanya pertengkaran didalam persahabatan, ketika melihat dari begitu terpuruknya Arinta. Beda halnya dengan Laily, adu mulut itu sudah makanan sehari-harinya dari ia berseragam merah putih hingga kini.
"Udahlah, mendingan kita makan mie ayam. Gue traktir deh", Laily duduk disamping Arinta sambil mengelus punggungnya. Laily memang tidak handal dalam menenangkan hati seseorang yang kalut, tapi setidaknya ia ada ketika orang membutuhkannya untuk bersandar dan menjadi pendengar.
Arinta menghela nafas, "Aku barusan kasar banget ya Lai?", tanyanya dan kembali menegakkan tubuhnya.
"Enggak kok, Rinta gue ini mana bisa ngomong kasar. Semut yang keinjak aja lo langsung nangis. Mana mungkin lo bisa nyakitin hati orang", hibur Laily sambil memberikan senyuman termanisnya. Jika Reagan yang disuguhkan begitu, mungkin auto mimisan seketika.
"Tapi Gina sakit hati, buktinya dia langsung pergi dan enggak balik-balik", Arinta menunduk lesu.
Laily memutar bola matanya, "Mana mungkin gak balik, orang tasnya ada disini. Kan lo tau dia sayang banget sama ini", ujarnya sambil menunjuk mainan kunci yang berbentuk bunga mawar kecil rajut berwarna hitam.
"Terus sekarang gimana?, aku enggak tau minta maaf sama dia kayak mana. Kalau aku minta maaf terus dia enggak terima dan makin jauhin aku gimana?, nanti aku-"
"Nanti gue kasih tau. sekarang kita makan dulu", Laily memotong ucapan Arinta, sebab jika diteruskan itu bisa menjadi satu buku novel, "Eh lo mau oleh-oleh enggak. Gue bawain asam jawa Australi loh. Asam jawanya beda sama yang disini, limited edition", tambahnya ketika melihat Arinta yang ingin protes. Mendengar nama asam jawa disebut-sebut, Arinta langsung luluh seketika. Mana tau asam jawa Australia memang memiliki rasa yang berbeda.
...***...
"Enggak ada yang nyariin gue?, dasar emang kawan enggak guna. Udah lebih dua jam gue duduk disini jamuran. Tapi enggak ada yang dateng, apaan kawan kayak gitu. Sampah", omel Gina sambil mencabuti rumput-rumput yang berada didekatnya.
Setelah kejadian dimana ia dan Arinta sama-sama meluapkan emosi tadi. Gina lebih memilih taman belakang sekolah sebagai tempat untuk menenangkan diri, dan menunggu Arinta untuk membujuknya. Tapi setelah lama ia menunggu, tidak ada tanda-tanda jika kedua sahabatnya itu akan datang.
"Seharusnya mereka itu juga ikut bolos. Katanya sahabat, suka duka ditanggung. Eh, gue ngambek dikit aja langsung dilupain", jika saja orang tua Gina mendengar omelannya barusan. Mungkin mereka berpendapat jika anak gadisnya itu telah kerasukan sesuatu.
"Enggak waras?", suara bariton yang familiar itu membuat Gina mendongakkan kepalanya.
Gina langsung menatap horor seseorang yang berdiri menjulang didepannya. Lalu tanpa aba-aba Gina langsung melempar rumput yang berada digenggamannya, "Sana pergi lo setan", usirnya. Gina kesal, jika mengingat orang tersebut adalah akar dari pertengkaran dirinya dan Arinta.
"Sialan", umpat Reagan sambil membersihkan sisa tanah dan rumput yang mengenai bajunya.
Reagan mengangkat bahunya acuh,"Gila", sinisnya dan kembali melanjutkan langkahnya.
Reagan tadi kebetulan lewat dan melihat sepupunya itu duduk dibawah pohon ditempat yang sunyi begitu. Makanya dengan penasaran Reagan menghampiri Gina, siapa tau sepupunya itu sedang putus cinta dan ia ingin menambah suasana hatinya dengan mengejek kesengsaraan itu. Tapi tidak disangka, karma ternya memang ada. Niat buruknya langsung dibalas Tuhan dengan instan melalui rumput dan tanah tersebut.
"Reagan!, pas pagi-pagi lo nelpon gue itu, pasti ada sesuatu yang terjadikan?!", tanya Gina membuat Reagan menghentikan langkahnya seketika.
Sebenarnya Gina sudah curiga terhadap sepupunya itu. Karena baru itulah Reagan menghubunginya pagi-pagi buta begitu. Jika pun ada masalah darurat tentang keluarganya, pasti kedua orang tuanya lah yang dihubungi terlebih dahulu. Terlebih, prasangka Gina itu dikuatkan dengan waktu dimana Arinta mendapat musibah yang mengerikan tersebut. Namun, Gina berharap jika kesimpulannya itu adalah salah.
"Bukan urusan lo!", ujar Reagan dingin tanpa membalikkan badannya. Kemudian cowok itu pergi begitu saja.
Gina menatap tajam kearah punggung Reagan sambil menyeringai, "Semuanya bungkam dan gue yang bakal buat mereka bicara. let's see when the time comes", gumamnya.
"Woi nyet", teriak seseorang dari belakang punggung Gina.
Gina membalikkan badannya dan memutar kedua bola matanya malas, "Ngapain lo pada kesini?, mau adu emosi lagi sama gue", Gina menatap Arinta ketika kalimat terakhir itu disebut.
Arinta yang merasa tersindir pun langsung menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Elah, galak amat. Entar enggak ada yang suka baru tau rasa lo, jadi perawan tua mampus", sarkas Laily sambil duduk dibawah pohon dan memejamkan matanya merasakan hembusan angin.
"Gue enggak butuh siapapun dalam hidup gue. Karena gue enggak suka jadi beban orang lain", sahut Gina datar dengan pandangan yang masih terfokus pada Arinta.
Arinta mendongak dengan mata yang berkaca-kaca. Kemudian tanpa aba-aba Arinta langsung berlari kearah Gina dan menubruk tubuh cewek tersebut, membuat Gina hampir terjungkal kebelakang jika saja ia tak bisa menjaga keseimbangan.
"Hiks, Gina maaf. Aku tau, aku salah. Aku enggak akan marah-marah kayak tadi lagi. Kamu jangan takut sama aku ya", ujar Arinta sambil terisak.
Gina memutar bola matanya mendengar kalimat terakhir Arinta. Tidak ada yang membuatnya takut didunia ini, selain Tuhan, kedua orang tuanya, dan Ayah nya Reagan, "lo yang takut sama gue kali."
"Iya aku takut. Habisnya kamu nyeramin, kayak Limbat", Laily yang sedari tadi menjadi pengamat pun, sontak terbahak mendengar Gina yang dibilang Limbat oleh Arinta. Jika saja Laily yang mengatakan itu, pasti sepatu yang dikenakan Gina sudah melayang cantik kearah wajahnya. Tapi untung saja orang itu Arinta, mana berani Gina melukai Arinta walau seujung kuku pun.
Gina menoleh kearah Laily, "Diam lo bangs*t", sinisnya membuat Laily menjulurkan lidahnya.
"Gin, kamu maafin aku enggak?. Aku kasih asam jawa Australia yang dikasih Laily deh", Arinta menunjuk paper bag kecil yang ada disamping Laily.
Gina menghela nafasnya dan membalas pelukan Arinta, "Iya gue maafin. Ini untuk pertama dan terakhir kalinya", jawabnya membuat Arinta menganggukkan kepala semangat.
"Iya. Ini yang pertama dan terakhir", sahut Arinta.
Maafin aku Gina. Bukannya tak ingin memberitahu, hanya saja aku takut tersakiti lagi disaat luka itu kembali dibuka.
Mungkin ada waktunya cerita itu terbuka, atau akan tersimpan rapat selamanya bersama dirinya sampai ajal menjemput. Tetapi Arinta tidak yakin, jika ada bangkai yang tak akan tercium.
...~Rilansun🖤....