
"Yeaayy!"
Senangnya…
Anak-anak tetaplah anak-anak. Pembelajaran cepat selesai, yang dipikirkan cuma…
"Gulinear mau bermain!"
Sudah kuduga.
Aku bahkan harus memikirkan banyak hal. Inti kekuatan, istirahat, meditasi, dan makan.
"Tapi… ini terlalu cepat…"
Aku setuju.
Kami baru berlatih sebentar, belum satu jam. Namun, Tuan Mahajana mengatakan bahwa ini sudah selesai.
Memangnya sepenting apa isi pembicaraan Tuan Mahajana dengan Guru?
Lebih pentingkah daripada mengajari kami meditasi?
Kami semua kan muridnya. Bukankah kami berada di sini untuk menerima ilmu dari ajaran Tuan Mahajana?
Orang lain mungkin senang karena jam pembelajarannya selesai lebih cepat.
Tapi aku tidak begitu. Aku di sini untuk belajar, bukan untuk bermain seharian.
Aku bahkan rela meninggalkan Kakak demi meraih ilmu hingga ke puncak tertinggi.
Kalau tahu akan begini, mending aku tinggal bersama Kakak di desa.
Hmm…
Kesampingkan dulu perasaan pribadinya.
Dipikirkan berulang kali juga, tetap saja aneh.
Memang benar Tuan Mahajana tidak mengatakan kurun waktu pembelajarannya. Aku tahu itu.
Aku hanya… menyayangkan sifat Tuan Mahajana.
Bagaimana pun, seharusnya Tuan Mahajana mengatakan alasannya, alasan mengapa pembelajarannya diselesaikan secara mendadak!
Tidak adil meninggalkan kami yang tidak mengetahui apa-apa tanpa pemberitahuan lebih lanjut.
Master seharusnya bertindak profesional. Penjabaran alasan itu diperlukan agar kami bisa memaklumi penyelesaian yang mendadak ini.
Hanya mengatakan sudah selesai dan pergi begitu saja. Sifatnya tidak mencerminkan seorang master.
Sudahlah, lebih baik aku ke kamar dan tidur.
"Laalit!"
Suara cempreng ini…
"Ya?"
Gulinear menghampiri diriku dan melingkarkan tangannya di lenganku. Dia masih belum bicara…
Kalau begitu, aku akan mencoba merasakan hawa keberadaan orang lain untuk mengetahui seberapa kritis keadaan tubuhku sekarang.
Kamaniai masih menetap dan tidak bergerak sama sekali.
Oh, sekarang dia sedang berjalan mendekat ke arah kami.
Jaleed, aku tidak bisa merasakan keberadaannya.
Kemungkinan dia berada pada jarak yang cukup jauh dari sini, karena aku belum bisa merasakan hawa keberadaan yang berjarak sedikit jauh dariku. Aku juga tidak peduli dia ada di mana!
Kembali lagi ke bocah yang memegang lenganku…
Aku tidak tahu apa yang Gulinear inginkan sekarang.
Dia cuma memberikan tatapan yang cukup lama dan mengayun-ayunkan tanganku.
Mengayunkan tangan ini, aku jadi teringat saat pertama kali kami bertemu.
Dia menyalamiku dan memainkan tanganku dengan mengayunkannya seperti saat ini.
Haha. Lucu juga, pertemuan dengan teman pertamaku yang tidak kukira sifatnya lebih merepotkan dari bayi rusa.
Untung dia tidak bisa membaca pikiranku, kemampuan Neneknya tidak menurun padanya.
"Gulinear penasaran dengan kamar Laalit. Ayo kita ke sana!"
Akhirnya bicara…
Sudah jelas, waktu tidurku akan tertunda.
Tapi apa boleh buat, kalau tidak menurutinya, Gulinear pasti akan marah.
Aku mengangguk, berjalan secara perlahan. Mengangkat kakiku menuju kamar-
Tunggu…
Aku tidak tahu arah kamarku…
Ini tempat asing dan aku tidak bisa merasakan keberadaan suatu benda yang berjarak jauh.
Gulinear dan Kamaniai belum pernah ke kamarku. Aku hampir melupakan Jaleed, dia juga belum pernah ke kamarku.
Tuan Mahajana dan Guru sepertinya tidak tahu letak kamarku. Lagipula, mereka tidak ada di sini.
Pasti ada cara lain.
Pasti!
Pikirkan, Laalit. Jalankan otakmu walau tubuhmu tidak menginginkannya.
Tidak bisa ke kamar berarti tidak bisa beristirahat. Tubuh, tolong mengertilah.
Aku memfokuskan diriku untuk merasakan hawa orang lain.
Tentunya, aku juga mempertajam pendengaranku agar dapat menemukan seseorang yang sanggup menolongku.
Dan… ketemu!
Dalam jarak 7 meter, terdapat seseorang yang membawa suatu benda.
Hawanya mirip dengan para pelayan yang bekerja di sini. Jadi…
"Permisi"
Aku mendekatinya, seseorang yang tadi berada sejauh 7 meter.
Orang tersebut menghentikan langkahnya, menatapku yang selisih tinggi tidak jauh dengannya.
Aku penasaran, perasaan apa yang dia tunjukkan saat melihatku mendekatinya.
Nah, lagi-lagi karena tubuhku terbebani oleh kekuatan, aku menjadi tidak leluasa untuk merasakan perasaan orang lain.
"Laalit?"
Aku tidak pernah mendengar suara seperti ini sebelumnya.
Berarti, aku baru pertama kali berpapasan dengan orang ini.
Tapi orang ini mengetahui namaku. Nada bicaranya menyiratkan bahwa ia terkejut dengan kehadiranku.
"Anda Laalit, kan?"
Dia bahkan menyebut namaku lagi…
'Anda' itu tidak pantas untukku.
Lalu…
Apa aku yang melupakannya?
Tidak, aku biasanya langsung hapal dengan suara yang baru sekali kudengar.
Aku juga tidak cepat lupa dengan suara yang kudengar, apalagi aku baru 9 hari di sini.
Lebih baik aku mengiyakan pertanyaannya dulu.
Aku mengangguk.
"Wah… Ternyata yang mereka katakan benar!"
Siapa 'mereka'?
Itu tidak penting sekarang.
"Bisa Kakak antarkan aku ke tangga yang berada di pintu utama?"
Dia cuma menatapku…
Apa dia tidak tahu letak tangga yang ada di pintu masuk rumah ini?
Harusnya dia tahu, kan?
Aku yakin dia salah satu pelayan di sini…
"Ma-Mari… Pangeran."
Pangeran?!
Jaleed ada di sini, ya?
Aneh… Aku masih tidak bisa merasakan hawa keberadaannya.
Sambil berjalan mengikuti Kakak ini, aku mencoba mencari keberadaan Jaleed.
Mungkin Jaleed ada di sekitar sini. Kalau tidak, mengapa Kakak ini memanggil 'Pangeran'?
Entahlah, itu bukan urusanku.
Hmm…
Kata Tuan Mahajana, tubuhku merasa sakit karena terbebani oleh energi yang diberikan Guru.
Tubuhku sensitif dengan itu. Bukan tanpa alasan, inti kekuatanku hampir hancur karena Neneknya Gulinear menurunkan seluruh kekuatannya padaku, tubuhku yang masih anak-anak belum sanggup menanggung kekuatan yang besar.
Guru menyalurkan energi ke dalam tubuhku, berarti…
Energi (dari telapak tangan Guru) - memasuki diriku - menyatu dengan energi dan kekuatanku - inti kekuatan (kuat) \=> inti kekuatan (terlalu kuat)
Cara kerjanya adalah (+) menjadi (++) atau lebih (memperkuat kekuatan).
Dengan begitu, Tuan Mahajana melakukan pengurangan agar kekuatanku tidak meluap yaitu, (++) menjadi (±) atau tinggal (+).
Hah… mudah sekali. Aku bahkan langsung mengerti tanpa mendengar penjelasan dari Tuan Mahajana.
Biar kuperjelas.
Ibaratkan menuang air ke dalam gelas. Jika gelas menampung air berlebih, air akan tumpah di atas meja, kan?
Maka, air yang berlebih di gelas perlu dihilangkan sedikit, yaitu dengan mengambil sendok dan meminum airnya secara perlahan.
Seperti itulah yang Tuan Mahajana lakukan. Cara Tuan Mahajana membuat kekuatanku menjadi netral adalah dengan menyerap sebagian energi di tubuhku agar tubuhku dapat kembali stabil.
Tentu saja penyerapan itu dilakukan dengan mengambil energinya-
Jika dibayangkan, gerakannya seperti manusia yang terhisap dari angin tornado.
Benar, tapi…
Sebentar…
Menyalurkan energi ke orang lain sama dengan membuat orang lain tersebut menjadi semakin kuat.
Ketika menyerap energi dari orang lain…
Apa itu berarti, setelah menyerap energinya, kekuatan Tuan Mahajana jadi meningkat?
Kalau cara kerjanya juga seperti itu, seberapa kuat dampak yang dihasilkan?