Blindsight

Blindsight
Ingin Menang



"Seranglah aku duluan, aku ingin melihat bagaimana perkembanganmu setelah ku latih dengan tegas."


Aku mengangguk. Aku kemudian merilekskan tubuhku agar nyaman untuk bergerak.


Aku memposisikan kaki selebar bahu. Posisi kaki selebar bahu ditujukan agar tubuh tetap seimbang.


Kemudian, aku mengenggam pedangnya dengan merapatkan jadi-jari tanganku.


Jari-jari harus rapat dan jari telunjuk tidak keluar dari genggaman.


Kalau keluar dari genggaman, jari telunjukku bisa remuk.


Lalu, aku mengangkat pedang ke atas hingga lenganku lurus segaris dengan pedang, mata pedang sekarang berada di belakang.


Aku mengayunkan pedangku dan melakukan serangan secara tiba-tiba.


*TRING*


Aamod menangkisnya tapi posisinya agak mundur sedikit, aku merasakan bahwa dia agak terkejut lalu melakukan serangan balik.


Aku menangkis serangan Aamod, rasanya lebih mudah daripada beberapa hari yang lalu. Posisi pedangku berada di dekat tubuhku sekarang.


*SRET*


Aku menggeser kakiku dan menjaga tubuhku tetap lurus dengan dada dan tubuh mengarah ke depan lalu mengayunkan pedang ke arah Aamod.


*TAK*


Aamod mengelakkan seranganku ke samping. Aamod secara cepat menghunuskan pedangnya dengan tenaga yang agak kuat.


Aku kemudian juga menghunuskan pedangku dari bagian bawah tubuh ke arah atas kepala mengarah Aamod.


*TRING*


Tanganku agak gemetaran karena pedang Aamod perlahan seperti mendorong pedangku.


Aku menggeser kaki ke samping dan berusaha untuk memberi jarak padanya.


Syukurlah aku bisa menjauhkan diriku dari serangannya yang tadi.


Kalau aku tidak menjauhkan diri, bisa berakibat fatal bagi tubuhku.


Tubuhku kemungkinan akan terkena serangannya dan terluka parah, karena dia menambah tenaganya, tidak seperti sebelumnya.


Meskipun dia hanya menambah tenaganya pada pedangnya sedikit, itu akan sangat mempengaruhi pertarungan karena bobot tubuh kami memiliki selisih berat yang jauh.


Bobot tubuh bisa sangat mempengaruhi pertarungan. Petarung dengan tubuh yang cenderung tinggi dan besar biasanya akan lebih mempunyai tenaga yang lebih besar daripada petarung yang pendek dan kecil sepertiku.


Apalagi jika petarung tersebut rajin berolahraga dan selalu berlatih setiap hari, pasti staminanya tinggi dan tidak akan cepat lelah dalam bertarung menghadapi lawan.


Stamina ya… Sepertinya aku harus rajin berolahraga mulai sekarang.


Tubuhku tidaklah besar dan terlalu cepat lelah. Kalau terlalu cepat lelah, petarung tidak dapat menyelesaikan pertarungan dan tidak dapat mengalahkan lawan dengan benar.


'Tidak dapat mengalahkan lawan dengan benar' maksudnya adalah memaksakan diri untuk mengeluarkan kekuatan yang lebih besar untuk mengalahkan lawan, namun tubuh akan merasa terbebani karena petarung mengeluarkan kekuatan sampai melebihi ambang batas kekuatan yang dimilikinya.


Memang dapat mengalahkan lawan dengan menggunakan kekuatan melebihi ambang batas, tetapi kurasa lebih baik tidak sering-sering melakukan itu karena tubuh akan terbebani dan akhirnya hancur karena terus-menerus 'dipaksa' untuk mengeluarkan kekuatan yang daya serangnya belum kita kuasai.


Lebih baik melatih tubuh sesering mungkin sampai tubuh dapat mengeluarkan daya serang yang kuat, dengan begitu tubuh tidak akan terbebani karena tubuh telah dilatih secara perlahan untuk mencapai kekuatan yang kuat.


Biasanya setelah mengeluarkan kekuatan yang melebihi ambang batas tubuh, petarung akan tertidur paling lama selama 2 hari, paling cepat sehari seperti aku sebelumnya.


Sepertinya beberapa hari yang lalu, saat menyalurkan elemen anginku ke pedang, aku mengeluarkan kekuatanku sampai melebihi ambang batas, sehingga tubuhku terbebani dan aku tertidur selama sehari.


Mungkinkah inti kekuatanku juga terbebani? Saat aku bangun, tubuhku tidak bisa digerakkan selama beberapa menit.


Kemudian, bagian perutku juga terkadang sakit seperti akan menghancurkan tubuhku.


Aku rasa aku tidak berhak menyalahkan Nenek, pasti aku yang membuat tubuhku menjadi seperti sekarang.


Sebenarnya aku menyesali perbuatanku yang gegabah, tetapi menyesal pun sekarang tidak ada gunanya.


Lebih baik aku memperbaiki sikapku agar tidak gegabah mengeluarkan kekuatan yang bahkan tubuhku belum dapat beradaptasi.


*TRING*


Aku reflkes bertahan saat Aamod mengayunkan pedangnya secara mendadak.


Tidak mau kalah, aku kemudian menghunuskan pedang secara cepat ke arah Aamod.


Aamod dengan sigap mundur saat aku menghunuskan pedangku untuk menyerangnya.


Aku berusaha bergerak mendekat agar bisa menjangkau area pertahanan Aamod.


Aamod kemudian mundur lebih jauh lagi agar aku tidak dapat menyerangnya.


Masih tidak menyerah, aku tetap berusaha mendekat untuk menghunuskan pedang ke arah Aamod.


Aamod tiba-tiba menghentikan langkahnya, dia hanya diam saja di tempat.


Aku tidak mengerti kenapa, tetapi Aamod telah membuka peluang agar aku bisa menyerangnya sekarang.


Aku memanfaatkan kesempatan tersebut dengan menghunuskan pedangku sekuat tenaga ke arah Aamod.


Aamod berusaha mengayunkan pedangnya sebagai pertahanan.


Sayangnya, dia gagal melakukan pertahanan karena pedangku sudah siap mendarat di wajahnya.


*SRET*


Aamod sepertinya terasa terkejut dan lengannya menyentuh bagian yang kugores.


Tunggu… Aku mengerti kenapa Aamod tiba-tiba menghentikan langkahnya tadi.


Kakak… Kakak tepat berada di belakangnya. Dia tidak ingin menghindar karena takut aku malah menyerang Kakak dan mengira Kakak adalah dirinya.


Aku bisa melihatnya, Kakak tampak terkejut lalu berusaha agar tidak mengganggu latihan bertanding kami.


Sial, kenapa aku tidak sadar kalau Kakak tepat di belakangnya?


Aku harus mundur dari sini agar Kakak tidak terkena dampak pertarungan kami.


Meskipun aku sudah memberikan pelindung, aku ragu pelindung itu benar-benar bisa melindungi Kakak dengan benar.


Aku baru pertama kali menggunakan mantra pelindung, jadi aku merasa bahwa pelindung itu masih belum cukup kuat untuk melindungi Kakak dari serangan pedang dengan kekuatan penuh ataupun kekuatan lainnya yang jauh lebih kuat.


Kurasa pelindung itu hanya bisa melindungi hal-hal yang daya serangnya lemah, misalnya pukulan tanganku.


Entahlah, sebenarnya saat menggunakan pelindung, aku belum pernah diserang oleh siapapun, karena itulah aku tidak tahu bahwa pelindung tersebut cukup kuat atau tidak untuk melindungi Kakak.


Aku hanya tidak mau mengambil resiko dengan menjadikan Kakak sebagai bahan percobaan untuk melihat apakah pelindung tersebut cukup kuat atau tidak.


"Aamod…"


Aku rasa latihan bertanding ini tidak perlu dilanjutkan, karena aku sudah melukai wajah Aamod, lukanya perlu diobati sekarang.


"Ayo kita lanjutkan. Aku akan melawanmu dengan tenaga yang lebih besar sekarang, jadi persiapkan dirimu."


Aku mengangguk.


Aku kemudian memundurkan langkahku sambil melompat agar lebih cepat.


Dengan tenaga yang lebih besar daripada sebelumnya, Aamod kemudian menerjang ke arahku.


Aku menghindar ke samping dan langsung menyerang karena pertahanan Aamod sedang terbuka.


*SRET*


Aku berhasil melukai bagian samping perutnya, tidak kusangka akan semudah ini.


Sepertinya Aamod meremehkan diriku karena aku hanyalah anak kecil.


Kau seharusnya tidak seperti itu, Aamod. Walaupun aku belum pernah menghadapi pertarungan secara nyata, aku sudah mendengarkan teknik berpedang di tempat pelatihan lalu menyusun rencana dari situ.


Aamod tidak memedulikan lukanya dan langsung menghunuskan pedang ke arahku.


*TRING*


"Sial, ini kuat sekali!"


Kukira Aamod tidak akan menyerangku lagi. Sial, aku gegabah.


Aku hanya menahan serangannya dengan satu tangan.


Tanganku gemetaran saat menahan serangan Aamod dengan pedangku yang ukurannya jauh lebih kecil daripada pedang Aamod yang seperti raksasa.


Posisi kedua pedang sekarang di tengah-tengah kami. Pedang Aamod sekarang tepat berada di depanku.


Aku tetap berusaha menahannya dengan tangan gemetar sampai-sampai aku terdorong dan terduduk di tanah.


Ti-Tidak! Posisi ini sangat fatal! Aku… Aku tidak akan bisa menang sekarang…


*SRET*


"Sepertinya sudah selesai, ya?"


Aamod tertawa lalu semakin mendorong pedangku dengan tenaganya.


Aku tidak boleh kalah! Aku… Aku harus melakukan sesuatu…


Cara untuk keluar dari situasi ini. Ayo, pikirkan caranya, Laalit!


Lingkungan ini… Ini adalah halaman yang luas.


Pasti ada sesuatu… Pasti ada sesuatu yang bisa kugunakan untuk menyerang selain pedang ini.


Di lingkungan ini, ada Kakak, Aamod bersama pedangnya, dan… Tunggu, itu… tetangga?


Jadi kami sedang ditonton sekarang... Tidak, itu tidak penting sekarang.


Kemudian ada tanah, rumput, lalu…


Tunggu, tanah?


Begitu ya…


"Sepertinya begitu…"


Aamod mendekatkan tubuhnya lagi dan sekarang itu jadi sangat menguntungkan untukku.


Dengan perlahan tapi pasti, aku berusaha menggenggam tanah sebanyak-banyaknya.


Aamod, maaf tapi… Jarakmu semakin dekat dan aku akan menyerangmu sekarang~


Aku kemudian melempar tanah yang ke wajahnya, aku berharap tanahnya mengenai mata meskipun sedikit.


Aamod kemudian menjatuhkan pedangnya dan memegangi bagian wajahnya, sepertinya itu matanya.