Blindsight

Blindsight
Balkon



Udaranya sejuk sekali di atas sini. Aku bisa merasakan udara di sekelilingku yang seakan mencoba untuk mengangkat setiap ujung rambutku.


Sesekali, aku menarik napas kemudian mencoba merasakan setiap gerakannya di dalam paru-paruku.


Aku sedikit mengangkat tanganku lalu mengarahkan telapak tanganku di atas pegangan balkon.


Hei, angin.


Apa kalian tahu?


Sebenarnya, aku sangat ingin menyambut kedatangan kalian.


Tetapi, aku tidak diperbolehkan untuk menggunakan kekuatanku sementara ini.


Jadi, untuk saat ini, aku belum bisa menyambut kalian.


Walaupun begitu, aku akan dengan senang hati membiarkan kalian bermanja-manja pada rambutku.


Kalau mau, kalian juga boleh memasuki sela-sela bajuku. Aku sama sekali tidak keberatan.


Setelah cukup puas merasakan angin semilir, aku menurunkan tanganku. Meskipun tanganku sudah berada di samping tubuhku, aku masih bisa merasakan angin yang sewaktu-waktu terhuyung dan perlahan berputar mengelilingi tanganku.


Aku kemudian meletakkan tanganku di pegangan balkon, semakin menikmati kedatangan angin yang membuat tubuhku seketika merasakan kesejukan.


Mataku yang terkena oleh arusnya, terasa geli. Rasanya, angin sedang menari dan meniup bulu mataku.


Seluruh kulitku kini terasa dingin.


Air hangat yang ku gunakan untuk mandi, sekarang tidak ada gunanya lagi.


Padahal awalnya aku berniat untuk menghangatkan tubuhku, tapi sekarang aku malah mendinginkan tubuhku dengan berada di atas balkon.


"Halo."


Terdengar suara Jaleed yang menyapaku. Dengan cerah, aku menjawab sapaannya itu.


"Selamat pagi."


Jaleed kemudian mendekat dan berdiri di sampingku, aku bisa merasakan tangannya yang telah bersender pada balkon.


Dia sepertinya juga suka berada di sini. Hawanya terasa tenang, tidak seperti biasanya yang selalu tidak sabaran.


Aku bahkan bisa mendengar helaan napasnya yang lega.


Diibaratkan, anak ini habis memikul beban besar di punggungnya, kemudian bebannya itu terangkat saat sudah berdiam di balkon ini.


Sepertinya dia sedang mengalami sesuatu yang berat.


Haruskah aku menanyakan keadaannya?


"Aku…"


Eh, dia berbicara duluan…


"Aku tidak menyukai Madam."


Ternyata hal ini lah yang membuatnya gundah dari tadi…


Apa 'Madam' yang dia maksud adalah 'Nenek sihir' itu?


Aku juga tidak menyukainya. Dia seorang madam tapi sikapnya sama sekali tidak berkelas!


Oh iya, sejak kapan Nenek sihir mempunyai sikap yang sopan dan berkelas?


"Bagaimana menurutmu?"


Menurutku?


Tentu saja, jawabannya sudah pasti!


Mana mungkin ada orang yang menyukai Nenek sihir…


Ah… Hampir saja aku lupa… Suami dan anak-anaknya menyukainya.


"Sebisa mungkin, aku tidak ingin bertemu dengannya lagi."


Maksudku… Aku tidak menyukainya. Sama sekali tidak menyukai Nenek sihir itu!


Aku hanya berhati-hati saat sedang berbicara. Hanya untuk berjaga-jaga kalau di sekitar sini ada orang yang dekat dengan Nenek sihir dan sedang menguping pembicaraan kami.


Mereka masih mempunyai hubungan darah, tapi Kamaniai lebih tahu bagaimana caranya bersikap pada orang lain.


Benar-benar perbedaan sikap yang sulit dimengerti…


Berpapasan dengannya pun aku tidak mau!


Kalau memang tidak sengaja berpapasan dengan Nenek sihir itu, aku tidak akan memberi hormat padanya.


Mungkin mulutku akan gatal dan ingin mengatakan sumpah serapah yang ada di dunia ini.


Tapi bagaimana lagi. Posisiku adalah anak kecil yang seharusnya bersikap 'lebih tunduk' pada yang lebih tua…


"Madam selalu bersikap seenaknya pada semua orang."


Benarkah?!


Dasar tidak tahu malu!


"Saat pertama kali bertemu dengannya, Madam mengatur sikapku agar tidak terlalu sering membaca buku. Selain itu, Madam juga menyarankan agar aku memakai pakaian yang coraknya lebih tegas."


Apa-apaan?!


Membaca buku itu kan bagus, bisa menambah wawasan.


Kenapa Nenek sihir itu malah sok mengatur agar tidak terlalu sering membaca buku?!


Pemakaian baju itu juga…


Bukankah terserah kepada orang yang memakainya?


Pakaian orang lain pun dia mempermasalahkannya.


Saudara juga bukan…


"Maaf, aku malah jadi curhat."


Sebagai tanggapan, aku hanya mengangguk.


Tidak apa-apa. Kamu bisa curhat kapan pun kamu mau.


Aku akan selalu mendengarkan keluh kesahmu, Jaleed.


"Kamu tidak menjenguk Gulinear? Saat menuju kemari, aku mendengar pembicaraan para pelayan kalau dari kemarin Gulinear demam."


Benarkah?! Pantas saja…


Biasanya Gulinear berlarian di mana saja dan saat melihatku, dia pasti langsung melompat ke dalam pelukanku.


Kemarin, setelah meninggalkan taman bunga dan menuju ke kamar, aku tidak mendengar suaranya yang cempreng itu memanggilku.


Dan bodohnya aku sama sekali tidak menyadari hal itu…


Bagaimana bisa dia sakit?


Saat perjalanan di dalam kereta kuda, dia malah tidak pernah demam.


Tidak ada tanda-tanda kalau dia akan sakit juga.


Oh… Apa dia kecapekan, ya?


Mungkin efek kecapekan karena perjalanan jarak jauh.


Jaleed bilang dia mendengar pembicaraan para pelayan saat berjalan menuju kemari, berarti dia mendengar percakapannya barusan, sebelum sampai di sini.


Akan lebih bagus kalau Jaleed juga ikut, kan?


"Ayo kita jenguk bersama."


Jaleed mengiyakan tawaranku. Kami kemudian berjalan ke dalam ruangan.


Aku berada di belakangnya, mengikuti setiap langkahnya karena sudah lupa di mana letak kamar Gulinear.


Biasanya aku tidak lupa letak suatu ruangan. Kurasa aku bisa lupa karena Kamaniai mengajakku berbicara dan menanyakan hal yang menurutku tidak perlu ditanyakan seperti,


"Kenapa kamu melepas kuncir rambutnya?"


Iya, aku terlalu syok saat itu. Kurasa karena itulah pikiranku mendadak menjadi kosong dan melupakan arah kamar Gulinear.


Tunggu… Tubuhku…


Tiba-tiba tubuhku terasa lemas.


Semakin lama, langkahku terasa semakin berat. Rasanya seperti ada suatu rantai yang menahan kedua kakiku.


"Bawakan… karang…"


"Baga… sa…"


"Be… tu… ya… mana…"


"Ha… ni…"


Suara orang lain terdengar semakin samar dan tidak jelas, bahkan aku tidak bisa mendengar suara langkahku sendiri.


"Laa…"


"Lit…"


Siapa itu?


Dari mana asal suaranya?


*TAP*


Ada yang menyentuh bahuku.


Siapa?


Kenapa aku tidak bisa merasakan keberadaan orang lain di sini?


*TAP*


Seseorang melakukannya lagi, ada tangan yang menyentuh bahuku lagi.


Kenapa aku tidak bisa merasakan apapun?


Hawa seseorang… Seperti menghilang dari ruangan ini.


*TAP*


Menyentuh bahuku lagi… Ini sudah yang ke 3 kalinya.


Aku masih tidak bisa merasakan apapun.


Kenapa hening sekali…


Sebenarnya, aku sedang apa sekarang?


Kenapa…


Aku juga tidak bisa merasakan tangan atau kakiku…


"Laalit!"


Eh…


"Hey!"


Suara ini…


"Jaleed?"


Ternyata Jaleed yang menepuk bahuku dari tadi… Sekarang dia mengguncang-guncang bahuku dengan sekuat tenaga.


"Akhirnya kamu menjawabku!"


Jadi, Jaleed dari tadi berusaha memanggilku, tapi aku tidak bisa menanggapinya?!


Ada apa dengan pendengaranku hari ini?


Bagaimana bisa aku tidak mendengar suaranya?!


Aku bahkan tidak bisa merasakan hawanya. Yang bisa aku rasakan sekarang adalah, dia masih berada di depanku.


"Kamu tiba-tiba terjatuh dan meneteskan air mata. Sebenarnya ada apa?"


Terjatuh?


Ah iya! Tadi kan aku sedang berjalan!


Aku menyentuh kakiku yang ternyata sedang dalam posisi terduduk dengan menekuk ke arah samping.


Ternyata benar, aku memang terjatuh barusan.


Tapi, mengapa aku tidak merasa sakit?


Karena aku terjatuh dengan posisi terduduk, harusnya bokong atau bagian kakiku yang lain terasa sakit walaupun sedikit.


Aneh…


Sebentar… Tadi Jaleed juga bilang kalau aku menangis.


Aku mengangkat tanganku kemudian memegangi pipiku.


Dan lagi-lagi benar, pipiku sudah basah sepenuhnya.


Ini membingungkan…


Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang…