
"Kalian akan belajar di sini?"
Seseorang menepuk bahuku, aku langsung mengarahkan wajahku padanya agar bisa menanggapi pertanyaannya dengan sopan.
Kalau aku mengarahkan wajahku ke tempat lain, orang lain akan melihatnya seperti aku tidak mau berbicara dengannya atau sifatku sombong sehingga tidak mau menanggapinya.
Tapi, aku tidak begitu. Sopan santun adalah hal utama yang sudah aku tanamkan ke dalam otak dan sifatku, aku ingin menjadi pribadi yang mampu bersikap sopan kepada siapa saja.
Kecuali orang tersebut sudah memberi kesan yang buruk padaku sejak awal, aku tak akan ragu-ragu untuk mengacuhkannya, menganggapnya seolah-olah hanya sebutir debu.
Tapi… Belajar? Apa kami sudah di… Akademi?!
Jadi, kami sudah berada di pusat kota? Cepat sekali… Padahal awalnya, aku khawatir apakah kami dapat sampai dalam waktu sebulan atau tidak…
Ternyata kami sampai di pusat kota lebih cepat daripada yang kuduga.
Tidak, tidak! Bukan begitu! Sebenarnya, perjalanan ke pusat kota tidak secepat itu.
Yang membuat perjalanannya terasa cepat adalah… Aku ketiduran selama seminggu…
Tuan Mahajana pasti sudah merasakannya, merasakan bahwa perjalanannya sangat lama dan melelahkan, apalagi sampai merawatku dan menggantikan baju untukku yang malah tidur dengan santai selama seminggu tanpa terbangun.
Dan Gulinear… Tuan Mahajana juga mengurus anak yang rewel itu…
Aku berhadapan sebentar dengan kerewelannya saja sudah seperti berlari selama sehari tanpa beristirahat.
Rasanya tenagaku langsung tersedot kalau berhadapan dengannya saat rewel, apalagi saat marah.
Anak itu mudah tersinggung dan emosinya cepat berubah, mungkin karena umurnya.
Tapi, Tuan Mahajana juga mampu menjaga anak itu. Tuan Mahajana merawat kami berdua dengan baik. Jadi…
Apakah mental Tuan Mahajana masih baik-baik saja? Mungkin aku harus membawanya berobat setelah ini, bisa saja Tuan Mahajana sudah stres dan mengalami sindrom parental burnout.
Aku mengalihkan pikiranku dan menjawab pertanyaan orang ini.
"Bukan saya, tapi anak ini."
Aku menunjuk Gulinear yang masih memegang tanganku sambil menatap orang itu… maksudku gadis itu.
Gulinear rasanya langsung bersemangat, tetapi juga agak takut dengan gadis itu. Mungkin karena belum akrab?
Semoga mereka bisa berteman dengan baik. Dengan begitu, Gulinear akhirnya mempunyai teman lain di akademi yang akan selalu bersamanya, bukan hanya berteman denganku saja.
Mereka juga sama-sama perempuan, sepertinya akan lebih cocok kalau mengobrol bersama.
"Salam kenal, senang bertemu denganmu!"
Gadis itu mengulurkan tangannya kepada Gulinear. Masih agak takut, Gulinear menerima tangannya. Mereka sepertinya sedang berjabat tangan sekarang.
Aku menundukkan kepalaku untuk menyembunyikan ekspresi wajahku, lalu tersenyum. Merasakan hawa Gulinear dan gadis itu yang sama-sama senang, aku jadi ikut senang untuk mereka.
"Kenapa kamu tidak belajar di sini juga bersama temanmu?"
Gadis itu menundukkan badannya ke bawah, kemudian memperhatikan wajahku yang sedang tersenyum.
Merasa kelabakan, aku kemudian menutup separuh wajahku karena malu.
"Saya belum cukup umur."
Gadis itu semakin memperhatikanku. Aku merasakan bahwa dia sedang memperhatikan tubuhku dari bawah sampai atas.
Gadis ini seperti sedang menatap lekat-lekat setiap bagian tubuhku dan menilainya satu-persatu.
Perlahan keringat dingin keluar dari tubuhku. Diperhatikan dengan tatapan yang tajam dan mendalam seperti ini, membuat perasaanku tidak nyaman.
Kalau bisa, aku ingin menutupi tubuhku dengan selimut sekarang.
"Memangnya kamu umur berapa sekarang?"
Masih dengan perasaan yang tidak nyaman, aku menjawabnya.
"11 tahun."
Walaupun hanya sebentar, hawa gadis itu terasa sedikit kaget.
Dia kemudian mengiyakan pernyataanku dan menatap wajahku agak lama.
Tindakan yang dia lakukan sedari tadi membuatku risih.
Karena tindakannya sungguh membuatku terganggu, aku berinisiatif mulai menanyakan padanya agar dia berhenti berbuat hal yang menggangguku.
"Ada apa, ya?"
Gadis itu masih menatapku, tetapi tatapannya tidak terlalu membuatku risih seperti sebelumnya.
"Oh, itu… Wajahmu, bentuknya sempurna."
Jarinya menyentuh telingaku, kemudian berpindah ke hidungku.
Kemudian jarinya berpindah ke bagian dekat mataku.
"Lebar mata juga sama dengan lebar jarak antara kedua mata."
Jarinya lalu berpindah ke rahangku dan seperti 'menampung' wajahku.
"Bentuk rahangmu juga sempurna, lebarnya sangat sesuai. Luar biasa! Bentuk mata, hidung, alis, dagu, dan rahang, sejujurnya semuanya sempurna!"
Dia menarik wajahku sehingga wajah kami saling berdekatan sekarang.
"Aku penasaran bagaimana wajahmu saat dewasa nanti."
Memangnya bentuk wajah sempurna itu kenapa? Apakah itu adalah sesuatu yang aneh? Memangnya wajahku kenapa saat dewasa nanti?
Karena aku agak penasaran, aku juga bertanya padanya.
"Memangnya wajah saya kenapa?"
Perlahan, aku memegang tangannya, kemudian memindahkan tangannya agar tidak terus menerus menarik wajahku.
Sekarang gadis itu sedang memegang lengan atasku. Aku heran, kenapa dia memegangi tubuhku terus dari tadi?
Apa dia tidak merasa bahwa perbuatannya akan membuat orang lain menjadi tidak nyaman padanya?
"Kamu… Kamu bertanya begitu karena memang tidak tahu atau sedang mengajakku bercanda sekarang?"
Bercanda? Untuk apa aku mengajak orang asing bercanda?
Itu… Mengajak orang asing membuat suatu guyonan kemudian tertawa bersama, terdengar sangat aneh.
Saking anehnya, hal tersebut belum pernah terlintas dipikiranku sebelumnya.
Iya, aku tidak pernah membayangkan akan membuat lelucon dengan orang asing secara tiba-tiba dan menganggapnya sebagai hal yang wajar.
Saat mengobrol dengan orang yang baru dikenal, pasti rasanya aneh dan agak canggung.
Nah, bukankah mengobrol dengan santai hanya bisa dilakukan saat orang yang berkaitan sudah cukup akrab?
Dia ini… Aku tidak bisa mengerti pola pikirnya. Saat dia menatap seluruh tubuhku seperti menilainya satu persatu atau saat dia mengatakan bahwa sesuatu diwajahku 'sempurna', aku benar-benar tidak mengerti.
Sebenarnya, apa yang sedang dia pikirkan sekarang? Kenapa dia berpikiran begitu? Kenapa dia mengatakan hal-hal yang tidak ku mengerti?
Kurasa aku tidak perlu penasaran tentang hal itu. Sepertinya tidak terlalu penting juga.
Aku langsung memasang ekspresi wajah serius agar dia mengerti bahwa aku sedang tidak bercanda sekarang.
"Saya memang tidak tahu."
Gulinear malah ikut-ikutan, seperti memeluk kami berdua dengan masing-masing tangannya yang memegang punggung kami, lalu merangkul dengan erat.
Gadis itu melepaskan genggamannya pada lenganku kemudian sedikit menjaga jarak, sepertinya dia juga tidak nyaman dipeluk, sama sepertiku.
"Wajahmu itu sangat tampan. Astaga, mengatakannya langsung seperti ini membuatku sangat malu…"
Oh, jadi karena itu saja. Kakak mengatakan sesuatu tentang 'tampan' juga padaku.
Tapi, gadis itu hawanya terasa malu… Aneh…
Memangnya mengatakan 'tampan' sememalukan itu? Apa 'tampan' memiliki arti yang aneh?
Tapi kurasa tidak begitu, gadis itu mengatakan wajahku sempurna kemudian tampan.
Sempurna kalau untuk wajah artinya tanpa cela, kan?
Berarti…
Maknanya positif, bukan negatif. Gadis itu sedang memujiku, tapi dia malu.
"Tampan? Laalit memang tampan, kok! Rambutnya juga lucu! Lihat, Kak! Rambutnya selalu naik seperti itu!"
Gulinear… Aku tidak tahu dia sedang memuji atau mengejek rambutku.
Tapi biarkan saja, deh. Toh, rambutku memang begini adanya.
"Iya, rambutmu juga cukup unik. Emm…"
Gadis itu… Tangannya mendekat lagi… Kenapa dia suka pegang-pegang, ya?
"Kalian kenapa masih di sini?"
Tuan Mahajana, terima kasih sudah menyelamatkanku dari gadis yang suka memegang-megang itu.
Gadis itu langsung mengurungkan niatnya untuk memegang rambutku, lalu sepertinya menunduk saat Tuan Mahajana menuju kemari.
Gulinear langsung berlari ke arah Tuan Mahajana, aku lalu mengucapkan selamat tinggal pada gadis itu dan mengikuti Tuan Mahajana.