
Sudut pandang penguji kekuatan
Saat ini, aku sedang mendatangi kediaman Tuan Mahajana yang lain.
Kediaman yang satu ini benar-benar mengagumkan.
Bangunan yang menjulang tinggi, tangga yang dilapisi dengan marmer bernuansa putih, dan karpet merah yang menempel di sepanjang tapakan, semuanya tampak berkelas.
Bahkan rumah besar ini juga mempunyai luas yang tak main-main.
Dibandingkan dengan rumah milik Tuan Mahajana yang kutempati bersama murid-murid kecilnya, rumah mewah ini dua kali lipat lebih luas.
Ada beberapa orang yang berlalu lalang juga…
"Lantai 1 sudah kamu bereskan?"
"Hahaha! Benarkah?! Aku juga melihatnya kemarin!"
"Bagaimana menurutmu tentang ini? Ayo, baca dulu~ Aku tidak mau kamu menghindar lagi~"
"Nanti saja~ Aku sangat sibuk sekarang…"
Kalian ini… Kecilkan suara kalian, dong. Pakaian saja yang anggun, tapi suara lebih kuat dari aungan singa.
Terserah, deh.
Sudah kupelototi tetap tidak sadar-sadar juga! Aku lihat-lihat ornamen dinding yang indah ini saja.
Dilihat berapa kalipun, tetap saja goresannya terlihat artistik.
Kemegahan dan dekorasi elegan istana ini sudah seperti istana kekaisaran milik para raja dan ratu.
Haduh... Istana seluas ini saja sudah membuatku terkagum-kagum, bagaimana saat aku mengunjungi istana yang sebenarnya nanti?!
Aku bisa gila! Mungkin aku akan pingsan di tempat karena tidak terbiasa dengan kemewahan yang tiada tara.
Padahal bukan sekali dua kali aku mengunjungi istana ini dan istana milik Tuan Mahajana yang lainnya, tapi aku masih belum terbiasa.
Istana yang elok ini berhasil membuatku merasa kecil.
"Halo, Nona Norabel. Selamat pagi."
Ah! Itu teman lamaku!
Sudah lama aku tidak bertemu dengannya.
Dia masih tampak kurus dan kecil, sama seperti 7 tahun yang lalu…
Sifat kakunya itu juga masih sama dengan yang dulu…
Lalu…
Sudah berapa kali aku mengatakan kalau tidak perlu memanggilku dengan sebutan 'Nona', hm?
"Kita ini kan teman, tidak perlu berbicara seformal itu, kan?"
Dia cuma mengangguk dan malah pergi…
Si cuek yang bodoh, membuat moodku jadi jelek!
Sudahlah, aku kemari bukan hanya untuk beramah tamah dengannya.
Tujuanku kemari adalah untuk membahas perihal kekuatan Laalit.
Laalit ini, dia anak yang berbeda…
Setelah anak baru ini ku uji kekuatannya, aku langsung meneliti gioknya, kemudian mencocokkan dari segela sisi kemungkinan sampai akhirnya keluarlah hasil akhirnya.
Karena mendesak, selama 2 hari ini aku tidak tidur dan terus terjaga.
Aku sibuk mengumpulkan berbagai macam data, sampai semua datanya lengkap dan bisa digunakan untuk melengkapi bukti mengenai kebangkitan Laalit.
Ini dia datanya, berada tepat di tanganku. Saking banyaknya, tanganku sampai penuh memegangi berkas yang ku kumpulkan dari berbagai pusat informasi.
Berkas-berkas ini berisi mengenai statistik kekuatan anak remaja dari tahun ke tahun.
"Silahkan masuk."
Ternyata aku sudah sampai di pintu ini…
Penjaga pintu masuknya masih sama seperti 4 tahun yang lalu…
Aku masih merasa bersyukur karena Tuan Mahajana bisa menyempatkan diri untuk membicarakan kekuatan anak baru ini.
Kalau tidak, aku bisa ketar-ketir memikirkan sumber kekuatan, usia anak itu, sampai mencari tahu seluk beluk keluarganya.
Aku memasuki ruangan perjanjian kami, yang nuansa ruangannya tidak kalah mewahnya dengan bagian luarnya.
Tepat di depan, aku melihat Tuan Mahajana sedang menyeruput teh sambil memegang koran.
Begitu Tuan Mahajana menyadari kedatanganku, ia meletakkan korannya di atas meja.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Nerabel?"
Tuan Mahajana sudah melupakanku…
Tuan Mahajana sudah melupakan namaku…
"Nama saya Norabel, Tuan."
Tuan Mahajana hanya tertawa ringan lalu menawariku untuk duduk.
Semua berkas langsung ku tumpahkan pada meja di depanku.
Aku memilah satu persatu, menyusunnya hingga peletakannya rapi sempurna.
Setelahnya, aku menyodorkan beberapa lembaran kepada Tuan Mahajana.
"Anak yang bernama Laalit ini sangat kuat, Tuan. Saya kemarin menguji kekuatannya dan inilah hasilnya."
Tuan Mahajana memeriksa lembaran yang kuberikan, tatapan konsentrasinya tergambar jelas lewat mimik wajahnya.
Aku mengalihkan pandanganku ke meja. Tersedia 2 cangkir ternyata, berarti cangkir teh yang satunya lagi pastilah untukku.
Sesudah menyeruput teh tersebut, aku angkat bicara.
"Awalnya, saya hanya mengujinya dengan batu giok tahap pemula dan tahap menengah. Karena 2 batu giok tersebut hancur, saya menguji Laalit menggunakan giok kuat untuk orang yang baru memasuki ranking 500 besar, Tuan."
Sembari mengangguk, mata Tuan Mahajana masih tertuju pada lembaran itu, membaca tiap bagiannya.
Tuan Mahajana mengoper kertas yang satunya dan membaca lembaran yang lainnya.
Sebenarnya, aku tidak ingin mengganggu Tuan Mahajana yang sedang berkonsentrasi, tapi mulutku sudah tidak tahan ingin mengatakan segalanya.
Aku sudah menahan diri selama 2 hari karena sibuk mengumpulkan berbagai macam informasi, jadi aku ingin meluapkan semuanya sekarang.
"Sejujurnya, saya sempat mengorek informasi mengenai keluarga Laalit. Laalit tinggal bersama Kakaknya di pedesaan yang jauh dari sini. Umurnya masihlah 11 tahun tetapi kekuatannya melebihi batas wajar. Setelah membandingkan kekuatan Laalit dengan kebanyakan anak remaja, saya membandingkan kekuatan Laalit dengan anak seumurannya yang sudah bangkit, yaitu putra kekaisaran yang kekuatannya sedang naik daun."
Aku berdiri, memposisikan diriku di samping Tuan Mahajana.
Tanganku menunjuk ke salah satu kertas, tepatnya pada keterangan mengenai kekuatan Laalit.
"Ketika dibandingkan dengan kekuatan pangeran dari keluarga kekaisaran utama, mereka mempunyai tingkatan kekuatan yang jauh. Kekuatan Laalit sudah melampaui anak seumurannya, bahkan sudah melampaui mayoritas anak yang bangkit saat umur 14 tahun. Kekuatannya terlalu besar untuk anak seumurannya. Bagaimana bisa, anak dari keluarga kurang mampu malah…"
Keluarga kurang mampu?!
Tidak, kenapa aku malah memikirkan tentang itu sekarang?
Kedudukan seseorang tidak berpengaruh pada kekuatan yang dihasilkan.
Tuan Mahajana juga berasal dari keluarga yang kurang mampu.
Dulu orang-orang sering mengejek Tuan Mahajana dengan julukan 'Si Miskin Penjual Roti' karena orang tuanya hanyalah penjual roti keliling.
Lihatlah sekarang, betapa suksesnya Tuan Mahajana.
Tuan Mahajana yang bukan anggota keluarga terpandang, kekuatannya bahkan diakui pada peringkat 10 besar di dunia.
Kemungkinan anak yang bernama Laalit ini akan bernasib sama dengan Tuan Mahajana.
Pangeran lalu anak ini…
Kekuatan mereka sudah sangat meningkat pesat untuk anak seumurannya.
Masa depan negara ini akan cerah…
"17.027 dengan 53.193… Selisih yang terlampau jauh…"
Ia mengatakan hal itu tanpa menampakkan keterkejutannya sedikitpun.
Bahkan perkataannya menunjukkan ketenangan seperti bulan yang mengitari bumi.
Tuan Mahajana sangat pandai membawakan diri layaknya seseorang yang berkelas.
"Benar, Tuan. Perkiraan kekuatan untuk anak seusia Laalit seharusnya di bawah 14.000, pangeran kekaisaran melampaui batasan tersebut tetapi dengan jarak kekuatan yang tidak terlalu drastis untuk anak seumurannya, yaitu 17.027. Sedangkan Laalit ini, kekuatannya setara dengan pria dewasa dengan dampak kekuatan yang dapat menghancurkan 28 ruangan dalam rumah ini sekaligus-"
"Berapa kali kamu menguji kekuatannya?"
Aneh…
Tuan Mahajana tidak biasanya menanyakan hal yang jawabannya sudah ia ketahui.
Untuk apa Tuan Mahajana memastikan hal yang sama sebanyak 2 kali?
"Saya baru mengujinya sekali, Tuan."
Barangkali, Tuan Mahajana ingin aku menguji kekuatan Laalit sekali lagi?
Tuan Mahajana meragukan hasilnya…
Bukan hanya Tuan Mahajana sendiri yang meragukan kekuatan Laalit, aku awalnya juga menaruh tanda tanya besar pada kekuatan anak ini.
Laalit, anak yang usianya baru 11 tahun, mempunyai kekuatan melebihi batas usianya.
Wajar saja bagi Tuan Mahajana untuk meragukan hasilnya, apalagi angka sebesar itu muncul dari anak yang belum genap 20 tahun.
Hal ini bahkan belum pernah terjadi dalam sejarah.
Bisa dibilang, ini adalah kali pertama ada anak yang kekuatannya berkali-kali lipat lebih besar melampaui orang dewasa amatiran.
"Lusa, kita akan melakukan pengujian sekali lagi. Pastikan tidak ada siapapun yang berada di ruang pengujian. Agar hasilnya lebih akurat, lakukanlah pengujian dengan lebih terperinci. Aku akan mendampingi Laalit supaya bisa melihat hasilnya dengan mata kepalaku sendiri."
Tuan Mahajana ingin menghilangkan keraguan sepenuhnya…
"Baik, Tuan."
Mata Tuan Mahajana yang sehijau zamrud menatapku dengan serius.
"Ingat, jangan katakan kepada seorang pun mengenai kekuatan Laalit."