Blindsight

Blindsight
Kembali Dengan Selamat



Aku.. aku baru saja tinggal dengan Laalit kurang dari 2 hari.


Kupikir aku akan mengajaknya berkeliling ke pasar hingga akhir pekan.


Kupikir aku akan memasakkan makanan untuknya setiap hari.


Kupikir aku akan melihatnya belajar hal baru dan kagum pada hal-hal lain.


Kupikir aku akan membelikan sesuatu dihari ulang tahunnya.


Kupikir aku akan membuatkannya syal dan melihat saat dia memakainya.


Kupikir aku akan mendampinginya dikala terpuruk.


Kupikir aku bisa melihat tatapan matanya setiap hari.


Kupikir aku bisa mengelus rambut hitam kebiruannya lebih sering.


Kupikir aku akan melihat tumbuh kembangnya menjadi pria yang dewasa.


Kupikir.. kupikir..


Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Seharusnya aku tidak boleh begini.


Suatu kehormatan bila Laalit bisa menjadi murid seorang yang terhormat seperti Tuan Mahajana.


Masa depannya mungkin akan terjamin. Tidak.. bukan 'mungkin', tapi 'sudah pasti' akan terjamin.


Kemampuan Laalit sudah sangat bagus diusianya yang masih 11 tahun, aku rasa ia akan menjadi sangat kuat saat dewasa nanti.


Aku harus mendukungnya, aku tidak boleh mencegah hal yang akan membuatnya sukses di masa depan.


Kenapa aku bimbang? Kenapa aku serakah? Kenapa aku egois?


Kenapa mengatakan 'Ya, saya setuju Laalit menjadi murid Tuan Mahajana' tidak bisa?


Buka mulutmu Fakeehah, buka mulutmu sekarang!


Ayo katakan 'Saya setuju'. Kumohon, katakan dengan penuh keyakinan..


Jangan hambat Laalit, jangan hambat masa depannya yang cemerlang.


"9 hari lagi.."


Aku mengangkat wajahku yang sedari tadi menunduk sambil menahan tangis.


"9 hari lagi saya akan kembali kesini. Saya tidak akan memaksa Nona ataupun memaksa Laalit untuk menerima persetujuan, saya akan menerima apapun keputusan yang kalian berdua buat."


Tuan Mahajana berdiri sigap dan berjalan menuju pintu depan.


Aku menyusul untuk mengantar Tuan Mahajana hingga ke depan rumah.


Ternyata kami mengobrol sampai langit menjadi gelap dan dipenuhi oleh bintang-bintang, benar-benar tidak terasa.


Gulinear hanya sedang duduk-duduk di depan rumah sambil memperhatikan kupu-kupu berwarna biru yang hinggap di jari telunjuknya.


Gulinear yang awalnya menatap Tuan Mahajana, sedang mencari-cari keberadaanku diantara gelapnya malam.


Gulinear kemudian berlari ke arahku dan memelukku.


"Kakak! Kenapa lama sekali~ Gulinear kan ingin ngobrol sama Kakak~"


Aku memeluk kemudian mengangkat Gulinear, sekarang aku sedang menggendongnya.


*Tuk.. Tak.. Tuk.. Tak.. Tuk.. Tak..*


Aku mendengar suara langkah kaki kuda dan aku melihat ada seorang pemuda yang sedang menuju kemari.


Sesampainya di depan rumahku, pemuda itu turun sambil membawa seorang anak lalu menggendongnya seperti membawa karung.


Rambutnya yang berwarna pirang dan rahangnya yang tajam, bola matanya yang berwarna ungu, dengan setelan pakaian yang cukup formal, dia tampak lumayan tampan.


"Selamat siang. Ah, maksudku.. selamat malam, cantik."


Pria ini genit sekali, kukira dia akan lebih berwibawa.


"Ah, ternyata sudah punya anak.. Hai nak, siapa namamu?"


Dan cukup ramah terhadap anak-anak.


Gulinear tampak takut dan memelukku semakin erat.


"Ada apa ya, Tuan pirang?"


Pria itu senyam-senyum menatapku,


"Jadi begini, apakah ini daerah Legian?"


Aku mengangguk.


"Kalau begitu.."


Aku mendengar suara anak kecil yang digendongnya.


"Aamod, tidak bisakah kau menggendongku dengan benar?"


Jadi namanya Aamod..


Pria itu lalu menggaruk-garuk kepalanya sambil tertawa,


"Hehehe.. Kau mau kugendong ala bridal? Ayo, mari kita lakuka- ADUH."


"Iya, iya.. Nih, aku turunin."


Anak yang digendongnya turun secara perlahan. Rambutnya yang berwarna hitam kebiruan, warna mata abu-abu yang tampak misterius, hidung yang lurus sempurna dengan lubang yang sempit, bibir yang tipis, diikuti dengan setelan berwarna gelap, dan aku baru menyadari bahwa anak itu adalah..


"Laalit!"


Gulinear turun lalu berlari memeluk Laalit.


"Kenapa kamu meninggalkanku di ruang pelatihan, Gulinear?"


Masih memeluk Laalit, Gulinear menjawab,


"Maafkan Gulinear, tadi Gulinear menyusul kemari karena Tuan Mahajana ada di sini. Sebenarnya tadi Gulinear mau mengajak Laalit, hanya saja, salah satu pengawalnya Tuan Mahajana langsung mengantar Gulinear ke sini."


Laalit hanya merespon berupa anggukan.


"Kak, sebenarnya ada apa ini?"


Aku menatap ke kereta kuda sebentar sebelum menjawab,


"Tidak apa-apa, hanya obrolan ringan saja. Kemarilah, ayo masuk dan istirahat."


Aku kemudian mengajak Aamod untuk masuk sebentar ke rumah.


"Eh, memangnya tidak apa-apa? Nona, seharusnya nona tidak mengajak pria asing masuk ke dalam rumah, apalagi malam-malam begini. Itu karena-"


Ternyata dia adalah pria yang cukup baik, kukira matanya akan jelalatan kegirangan, ternyata dia cukup mengkhawatirkanku.


Maaf karena sudah sempat berprasangka buruk padamu, Aamod.


"Aamod, kemari dan masuklah."


Laalit mengatakan itu dan Aamod langsung masuk ke rumahku tanpa ragu.


Laalit tidak kelihatan seperti seorang tunanetra, dia bahkan berjalan sendiri tanpa menggunakan tongkat dan tahu di mana pintu masuk.


Setelah kulihat-lihat, aku jadi mengerti alasan Tuan Mahajana menganggapnya sebagai 'anak yang menarik'.


Tanpa kusadari, aku menatap Laalit cukup lama.


Gulinear sepertinya sudah pamit pulang saat aku sedang melamun. Aku kemudian bergegas masuk ke rumah.


.......


.......


.......


Aku membuatkan teh dan menyiapkan makan malam untuk Aamod.


Tidak kusangka, pria itu makan sangat lahap seperti tidak makan selama seminggu.


Karena Aamod sudah mengantarkan Laalit dengan selamat, aku menyuruhnya untuk tinggal di sini selama beberapa hari.


Kurasa tidak apa-apa, dia pria yang baik dan tidak mungkin mencelakaiku.


"Makwan malhawnnya enyak sekwali, hmmm hmm."


Sepertinya Aamod menikmati makan malam yang kubuat, syukurlah..


Aku menahan tawa karena tidak mau tersedak. Aku berada di depannya sekarang, sedang menikmati makan malam juga.


Saat sedang meminum air, aku melihat Laalit sedang berlalu-lalang seperti mencari sesuatu.


"Ada apa, Laalit sayangku? Mau kubantu?"


Laalit seketika berhenti dan mengarahkan kepalanya ke arahku, posisinya lumayan jauh dari sini.


"Bajunya di mana ya, Kak?"


Aku kemudian menuntunnya menuju lemari bagian belakang.


Kuambilkan baju untuknya, aku khawatir dia tidak bisa mengambilnya sendiri.


Aku kembali ke ruang makan dan melanjutkan makan malam. Laalit kemudian menuju ke kamar mandi.


"Tunggu sebentar, kamu tidak mau makan malam dulu?"


Laalit hanya menggeleng dan masuk ke kamar mandi.


Aku berjalan menuju kamar mandi dan mengetuk pintu sebentar sebelum membuka pintunya.


"Kamu tidak mau di man-"


"KAKAKKK!"


Aku kaget dan refleks menutup pintu kamar mandi. Aku berada di luar kamar mandi sekarang.


"A-ada apa? Apa ada tikus atau kecoak di sana?"


"He-hey? Laalit?? ADA APA?!"


Laalit hanya diam saja, apa dia pingsan di sana? Ini membuatku khawatir.


Aku kemudian mencoba masuk, tetapi pintu kamar mandinya sudah dikunci.


Syukurlah dia tidak pingsan. Tapi ini hening sekali.


Kenapa dia berteriak seperti itu tadi?