Blindsight

Blindsight
Murid Akademi



"Silahkan masuk, Tuan."


Salah satu penjaga membukakan pintu kepada Tuan Mahajana untuk memasuki suatu ruangan yang berada di depan kami.


Aku bersama Gulinear kemudian mengikuti Tuan Mahajana untuk masuk ke dalam.


Saat sudah berada di dalam, aku bisa merasakan sekelilingku dipenuhi oleh benda-benda yang cukup banyak dan antik.


Sepertinya akademi di pusat kota memang cukup bagus.


Benda-benda di sini cukup terawat dan bahannya juga bagus.


"Oh, siapa ini?"


Tuan Mahajana menundukkan badannya kepada seorang wanita yang baru saja berbicara.


Emosiku memuncak sejenak, kemudian perlahan menurun hingga tidak merasakannya lagi.


Aku juga tidak tahu mengapa perasaanku begini setiap bertemu dengan orang lain yang belum pernah kutemui.


Tapi, tidak semuanya aku begitu kepada orang lain yang baru kukenal. Seingatku, aku hanya merasa emosiku memuncak sejenak saat pertama kali bertemu Kakak dan saat ini, saat mendengar suara wanita itu untuk pertama kalinya…


Wanita itu punya aura yang sangat kuat, tingkatannya… Sebentar, biar lebih kurasakan.


Aku perlahan memfokuskan pikiran dan jiwaku ke auranya dengan merasakan auranya melalui permukaan kulitku.


Sebenarnya, aura yang dipancarkan wanita ini sangat kuat.


Tetapi, kalau dibandingkan dengan aura milik Tuan Mahajana, tentu saja aura yang dipancarkan oleh Tuan Mahajana jauh lebih kuat daripada aura yang dipancarkan oleh wanita ini.


Yang kulihat dimataku juga begitu. Aura yang dimiliki oleh Tuan Mahajana terlihat terang, sedangkan aura milik wanita ini juga terang, tetapi agak redup sedikit.


Mungkin wanita ini sedang menekan auranya agar tidak terasa mencolok.


Perlahan, aku menyudahi untuk merasakan auranya, kurasa ini sudah lebih dari cukup.


Setelah kulihat dan kurasakan dengan benar, kurasa tingkat kekuatannya adalah Kontras, sama seperti Tuan Mahajana.


Sepertinya mereka juga berteman dengan akrab, hawa mereka terasa seperti seorang teman, terasa nyaman dan tulus?


"Oke… Gulinear, ya… Tahun depan, kamu sudah bisa memasuki akademi ini. Jadi, persiapkan dirimu dengan baik, ya?"


Gulinear terasa senang, dia lalu berloncat-loncat dan memeluk wanita itu.


Dia itu, selalu saja bersemangat. Ha ha ha…


Setelah itu, dia berlari ke belakang menuju pintu(?). Sepertinya dia ingin bermain di luar sebentar.


"Kamu yang di sana, siapa namamu?"


Wanita itu tiba-tiba mengajakku bicara. Aku yang awalnya agak canggung, kemudian langsung menjawab pertanyaannya dengan formal.


"Nama saya Laalit."


"Coba sebutkan per hurufnya."


"L-A-A-L-I-T"


Wanita itu sepertinya sedang menulis sesuatu, mungkin dia sedang menulis namaku sekarang.


Dia kemudian mewawancaraiku, seperti menanyakan umur atau di mana tempat tinggalku.


Aku menjawabnya dengan jujur. Aku takut dimusnahkan kalau ketahuan berbohong.


Wanita itu menatapku, kemudian menanyakan hal lain yang tidak kuduga.


"Apa elemenmu?"


Aku agak bingung kenapa dia menanyakan hal ini kepadaku, namun kemudian aku menjawabnya dengan sopan.


"Elemen saya adalah angin."


Aku bisa merasakan bahwa wanita itu sedikit terkejut, tapi dia seperti mengalihkan rasa terkejut dan menanyaiku lebih lanjut.


"Umur berapa kamu bangkit?"


Umur… berapa…? Sebenarnya, aku juga tidak tahu umur berapa aku dibangkitkan.


Tapi soal itu, kurasa Aamod pernah mengira-ngira dan mengatakannya padaku.


Aku mencoba mengingat-ingat apa yang pernah dikatakan Aamod sebelumnya.


Aamod pernah mengatakan, kemungkinan aku bangkit saat umur…


"Mungkin saat umur 7 tahun?"


Hawa milik Tuan Mahajana terasa agak kaget, sementara wanita itu… Aku tidak tahu dia sedang apa sekarang…


"Guru! Bisa-bisanya anda tidak memberitahukan hal ini padaku! Anda… Anda sudah menemukan suatu harta karun, tapi anda tidak membagikannya kepada orang lain, bahkan padaku? Aku, muridmu yang paling setia, ternyata sekarang hanyalah orang asing. Anda sudah melupakan aku, ya…?"


"Aku juga baru tahu kalau anak ini bangkit saat umur 7 tahun, dia tidak pernah mengatakannya padaku."


Ternyata mereka adalah guru dan murid. Astaga, aku benar-benar tidak menduga hal itu…


Suara wanita itu terdengar sangat dewasa, lebih dewasa daripada Kakak, jadi kukira mereka adalah teman dekat yang seumuran…


Mereka masih ribut soal kebangkitanku. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku, berharap perdebatan mereka segera berakhir.


"Hah… Baiklah, kamu diterima. Besok kamu boleh langsung masuk ke akademi ini. Kemarilah dan duduk di sini sebentar."


Ternyata perdebatan mereka sudah selesai. Baguslah… kukira akan memakan waktu sampai berjam-jam.


Langsung masuk, ya…? Apa wanita ini serius? Aku ini kan masih belum cukup umur…


Oh… Apa masuk ke akademi dengan umur yang lebih muda juga diperbolehkan, ya?


Hmm…


"Maaf, tapi saya ingin masuk ke akademi 2 tahun lagi. Apakah boleh?"


"Tidak apa-apa. Alasannya?"


"Saya tidak ingin memasuki akademi dengan rentang usia yang jauh dibandingkan dengan teman-teman sekelas saya nantinya."


Wanita itu mengiyakan pernyataanku, kemudian menulis kembali di tempat yang sama.


Aku menuju ke tempat wanita itu kemudian duduk di kursi yang telah tersedia.


"Tanda tangan di sini."


Wanita itu menunjuk sesuatu yang ternyata adalah kertas.


Aku kemudian menerima pemberiannya, ternyata sebuah pena yang cukup kokoh.


Tunggu… Tanda tangan? Aku… Aku tidak bisa… Nanti aku malah akan mencoret ke tempat lain…


"Maaf, saya tidak bisa."


Wanita itu sepertinya bingung…


"Kenapa?"


Kukira Tuan Mahajana sudah mengatakan tentang aku yang penyandang tunanetra, ternyata Tuan Mahajana belum mengatakan soal itu.


Kalau begitu, aku harus mengatakan hal ini pada orang di depanku ini yang sepertinya adalah sang pemilik akademi.


Aku mengira wanita itu adalah pemilik akademi ini karena dia adalah murid Tuan Mahajana.


Kudengar, Tuan Mahajana menerima murid yang menurutnya memiliki bakat atau kemampuan yang unik.


Selain itu, auranya yang kuat juga membuatku berpikir bahwa dia adalah pemilik akademi ini.


Aku menarik napas dan memasang ekspresi serius agar tidak dikira sedang bercanda.


"Saya tunanetra."


Nah… Wanita itu kaget, seperti dugaanku. Aku harap dia tidak menganggap pernyataanku barusan adalah sebuah candaan.


Oh, sepertinya Tuan Mahajana mengangguk saat wanita itu melihatnya.


"Aku harap anda tidak menyembunyikan hal lain dariku, guru…"


Suaranya terdengar lesu, apa dia lelah karena banyak berkas yang bertumpuk di mejanya?


"Buat tanda tangan yang sederhana saja, seperti satu huruf pada bagian namamu."


Sang pemilik akademi berjalan mendekat kemudian membelakangiku, tetapi agak sedikit ke samping.


Dia memegang punggung tanganku, kemudian mengarahkan tanganku secara perlahan pada kertas yang sedari tadi terletak di atas meja.


Wanita ini membentuk sesuatu seperti 'L', tetapi pada bagian bawah hurufnya, dibuat sedikit bergelombang.


"Tanda tanganmu berbentuk 'L', apakah kamu suka?"


Aku mengangguk dan merasa puas dengan tanda tangan pertamaku.


"Eh… Kamu…"


"Ya?"


Yang awalnya hanya di sampingku, perlahan wajahnya mendekati ke wajahku.


"Mirip sekali… Wajahmu sangat mirip dengan temanku…"


Kenapa orang-orang di akademi ini selalu memperhatikan wajahku dengan tatapan serius, sih?


Memangnya wajahku ini sangat luar biasa, ya? Sampai diperhatikan dengan tatapan yang… Entahlah…


"Jangan-jangan… Kamu anaknya?!"


Siapa yang anak siapa? Aku bahkan tidak mengenal temanmu itu…


"Tidak mungkin… Dia itu kan tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Mungkin hanya kebetulan saja…"


Akhirnya, wanita itu menjauhkan wajahnya dariku, kemudian berdeham.


"Kapan-kapan aku akan menguji kekuatanmu saat kamu telah memasuki akademi ini. Persiapkan dirimu, oke?"


Aku mengangguk. Kami kemudian mengundurkan diri dan melanjutkan perjalanan untuk sampai ke tempat pelatihan Tuan Mahajana yang lain.