Blindsight

Blindsight
Gelap



Di mana… aku…? Kenapa semuanya tampak gelap? Kenapa… aku tidak melihat… apapun?


Aku berulang kali melihat sekeliling, tetapi tidak ada apapun yang terlihat di sekitar sini.


Aku berusaha menarik napas, tetapi rasanya seperti tidak ada oksigen di sekelilingku.


Aku mengangkat telapak tanganku hingga sejajar dengan mataku, tetapi aku bahkan tidak bisa melihat bagian tubuhku sendiri…


Aku kemudian mencoba mengucapkan sesuatu, mungkin saja akan ada yang menjawabku?


"Halo…"


Seperti ada yang mengikuti suaraku, namun perlahan-lahan suaraku menghilang dan tidak terdengar lagi.


"Apa ada orang di sini…?"


Lagi-lagi yang kudengar hanyalah suaraku, namun dengan kekuatan bunyi yang lebih lemah dan menghilang secara perlahan-lahan.


Aku menghela napas, tetapi rasanya seperti tidak ada napas yang keluar dari mulutku.


"Di mana ini…?"


Masih sama, aku hanya mendengar pantulan suaraku yang dapat terdengar jelas.


Di sini sangat sepi dan hampa, aku tidak tahu mengapa aku ada di sini, di tempat yang gelap ini…


Aku kemudian duduk dan memainkan jariku sendiri karena bosan.


"1… 3… 5… 1… 3… 5…"


Karena nadanya hanya sampai do, jadi do, mi, sol, kemudian ke nada yang lebih tinggi, yaitu do, mi, sol…


Kalau dari C major, berarti bunyinya adalah C, E, G, C, E, G…


Biasanya kalau di akhir lagu, pemain piano akan memainkan nada akhirnya menjadi lebih memanjang.


Misalnya… chord atau nada akhir yang dipencet adalah G. Berarti…


G, B D, G, B, D, dan seterusnya sampai ke not yang tinggi lagi…


Aku sudah mengetahui hal itu… Entah mengapa ini…


Ini membosankan… Kalau main tebak-tebakan yang lebih sulit, mungkin aku tidak akan bosan…?


Kalau begitu, aku akan bermain angka. Pertama-tama dikali, kemudian ditambah, setelah itu baru ketemu hasil akhirnya…


"2… 5…11… 23… 47… 95… 191… 383…"


Sebentar… Dikali…


Yah, Jadi 766…


Berarti…


"767… 2 kali 7 sama dengan 14…"


14, berarti 4… 6 kali 2…12… Sebentar, aku lupa menambah 1… 3… 14 tambah 1… Berarti 1535…


"1535… 3071… 6143… 12287… Apa, ya…"


Aku butuh suatu alat… Hitung menghitung ini semakin rumit saja…


Tenang… Aku tidak perlu cemas… Berpikir secara tenang, pasti ada solusinya.


Kalau aku cemas dan khawatir begini, aku tidak akan bisa berkonsentrasi…


Sedikit lagi… Ayo, pikirkan sesuatu…


Aku bolak-balik melihat sekeliling, tetapi yang kulihat hanyalah kegelapan.


Di sekitar sini tidak ada alat apapun, jadi aku akan menuliskan hitungannya di tanganku saja…


Aku mengarahkan jari telunjukku ke lengan bawah, menganggap jariku sebagai pena dan lengan sebagai kertas.


12287… Berarti 4, 2 kali 8 sama dengan 16… Berarti 17… aku akan tulis 7, simpan 1… 4 ditambah 1… 5… Hmm…


Perkaliannya masih sama, yaitu 2 dikali dengan 2. Tetapi tidak ada angka yang disimpan, berarti aku akan menuliskan 4 di sini…


Yang ini hasilnya tetap 2, berarti… 24574…


"24574… Sepertinya aku melupakan sesuatu…"


Aku kemudian memeriksa ulang hasil perkalianku. Angka awalnya adalah 12287, dikali dengan 2.


4… 16 berarti 17… Tulis 7… Angka selanjutnya 2 dikali dengan 2… Tambah 1… 5…


Setelah menuliskannya ulang menggunakan telunjuk, aku merasa bahwa hasil perkalianku tidaklah salah…


Apa, ya… Sebentar… Coba ingat-ingat lagi…


"Kamu lupa menambahkan 1…"


Oh, iya! Pantas saja rasanya ada yang kurang… Berarti 24575.


Bisa-bisanya aku melupakan hal remeh seperti ini… Lain kali aku tidak boleh begini.


Kalau Kakak tahu kalau aku lupa menambah 1 pada angka, pasti Kakak akan menganggap aku bodoh…


Kurasa aku harus belajar lebih giat lagi, karena perkalian sederhana seperti ini saja, aku sampai harus menuliskannya dengan perkalian bersusun…


Aku kemudian mencoba mengingat-ingat angka yang sudah kuhitung dari awal.


"2… 5…11… 23… 47… 95… 191… 383… 767…1535… 3071… 6143… 12287… 24575…"


Aku menghela napas lega, bersyukur karena masih mengingat semua angka dengan tepat.


Tapi aku tidak boleh senang dulu! Aku bisa mendapatkan hasil yang benar dihitungan 24575 bukan karena usahaku sendiri, tetapi karena suara misterius yang membantuku mengingatkan kalau angkanya lupa ditambah 1.


"Benar! Kamu memang anak yang pintar!"


Suara itu memujiku, membuatku tersanjung sesaat.


"Terima kasih sudah membantuku, suara misterius…"


Suara itu hanya tertawa mendengar pernyataanku. Aku tersenyum karena senang akhirnya ada seseorang yang menemaniku di tempat gelap ini.


Seseorang yang menemaniku…


Tunggu sebentar… Bukankah tadi… Tadi… Tidak ada suara seperti ini…


Bulu kudukku berdiri mendadak. Saking takutnya, aku sampai tidak bisa menggerakkan kakiku yang ingin segera berlari dan meninggalkan tempat ini.


Keringat dingin perlahan keluar dari tubuhku, menyentuh permukaan wajah dan mengalir di sekitar badanku.


Aku… Telat sekali aku menyadarinya… Bagaimana bisa aku baru menyadari, kalau suara yang berat itu sedari tadi tidak ada di sini.


Suara itu… Saat aku sedang berhitung, dia tiba-tiba saja muncul.


Kenapa tidak dari tadi saja dia muncul, saat aku menanyakan sesuatu?


Kenapa dia baru bersuara sekarang, saat aku sedang asyik dengan permainanku sendiri?


Entahlah, lebih baik aku tidak memikirkan hal yang sudah lewat dan mencoba mengajaknya berbicara…


"Ini di mana?"


Setelah aku berbicara, suaraku yang barusan pun terdengar jelas seperti sedang menyahutku.


Ruangan gelap ini seketika hening karena suara tersebut tidak menjawabku.


"Jawab pertanyaanku!"


Aku hanya mendengar suaraku terpantul beberapa saat setelah itu perlahan menghilang.


Suara misterius tersebut tetap mengacuhkanku, sama sekali tidak mau menjawab pertanyaanku.


Masih duduk, aku kemudian bangkit dan perlahan berjalan untuk mengetahui ruangan apakah ini sebenarnya.


Selama berjalan, yang kudengar hanyalah langkah kakiku seorang.


Walaupun aku sudah mempercepat langkah kakiku, aku masih belum melihat apapun.


Aku menyilangkan tanganku, berusaha membuat tubuhku tetap hangat dan tidak menggigil.


Udara yang sedingin es… Padahal aku sudah memakai baju yang cukup tebal, tetapi udaranya masih terasa menusuk di antara permukaan kulitku.


Karena penasaran, aku menutup hidung dan mulutku, mencoba menahan napas beberapa kali.


Tetapi berapa kali pun aku menahan napas, aku sepertinya tidak akan mati ataupun sekarat di sini.


Memang aneh, tetapi inilah yang ku alami saat ini, kuharap ini hanyalah mimpi dan besok aku akan bangun dari tidur seperti biasanya.


Masih berjalan, aku pun mencoba melihat sekeliling, tetapi aku tidak melihat apapun.


Aku lalu mencoba merasakan apakah ada sesuatu di sekitar sini, kuharap ada lilin atau obor agar aku bisa terbebas dari penglihatan yang super gelap ini.


Rasanya di sini tidak ada benda apapun, seperti kehampaan yang abadi dan tidak berujung.