Blindsight

Blindsight
Petir bukan Makanan



Telingaku...


Suara apa itu barusan?!


"Laalit! Laalit baik-baik saja?"


Telingaku kesakitan sekarang. Keadaanku sedang tidak baik-baik saja, Gulinear. Tapi, terima kasih sudah mengkhawatirkanku.


Aku masih bisa mendengar suara Gulinear, berarti bagian dalam telingaku masih aman.


Untung gendang telingaku tidak sampai pecah. Kalau pecah, aku tidak akan bisa apa-apa dan hanya akan merepotkan orang lain.


Masih memegangi telinga, aku menanyakan hal yang membuatku penasaran sedari tadi.


"Suara apa itu?"


Gulinear mendekat, mengarahkan tangannya hingga menggenggam telapak tanganku.


Tanpa kusadari, ada seseorang yang secara mendadak menyentuh bahuku.


"Kamu baik-baik saja?"


Sepertinya yang mengajakku bicara sekarang adalah salah satu Kakak pelayan yang awalnya hanya berdiri di sekitar sini.


Kakak ini menatapku cukup lama, menunggu jawaban yang akan kukatakan lewat mulutku.


Tentang keadaanku...


Sebenarnya, telingaku masih agak berdenging. Ini sudah tidak apa-apa, rasa sakitnya sudah lebih mendingan daripada yang barusan.


Lagipula, sebentar lagi pasti rasa sakitnya akan hilang dengan sendirinya.


Aku tidak perlu melebih-lebihkan tentang ini, aku juga tidak perlu membuat orang lain menjadi khawatir padaku.


"Iya."


Kakak pelayan mengundurkan diri. Sekarang, ada 3 orang yang sedang memperhatikanku, entah sejak kapan sudah berada di dekatku.


"Itu... Cuacanya mendung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan..."


Kamaniai yang unjuk diri untuk berbicara. Rupanya, suara kuat yang mengagetkan tersebut berasal dari cuaca mendung ini, ya.


Omong-omong, apa itu 'mendung'?


Apa mendung itu, seperti suatu bangunan yang dibangun untuk menghalangi hujan?


"Pfftt..."


Ada apa?


Kenapa kamu menahan tawa, Jaleed?


Apa ada yang lucu di sini?


"Kamu takut dengan petir?"


Petir? Apa itu sejenis makanan?


Sepertinya enak… Kuharap di sini terdapat makanan bernama 'petir' itu. Aku penasaran, apa rasanya seaneh namanya.


Mungkin Jaleed sudah pernah memakan 'petir' itu. Karena sangat penasaran, aku akan menanyakan bagaimana rasanya pada Jaleed.


"Apa enak?"


...………...


Kenapa Jaleed tidak merespon apapun? Yang lain juga hanya menatap dan tidak mengatakan sepatah katapun.


Hawa mereka semuanya terasa sama, terasa bingung dengan pertanyaan yang aku ajukan.


Oh… Begitu!


Mereka semua bingung mengatakan rasanya karena tidak pernah mencobanya.


Jaleed pasti belum pernah memakannya. Jadi, dia tidak merespon apapun karena itu…


"Apanya yang enak?"


Jaleed ini… Kenapa pura-pura tidak tahu begitu?


Katamu, kamu sering membaca buku. Kamu juga mengatakan bahwa wawasanmu luas.


Tidak mungkin kamu tidak mengerti maksudku yang sederhana ini.


Baiklah, aku akan menegaskan pernyataanku sekali lagi!


"Tentu saja petirnya."


......…......


Lagi-lagi mereka semua hanya terdiam. Hawa mereka terasa lebih aneh daripada sebelumnya.


"Apa kamu tahu suara yang kuat barusan berasal dari apa?"


Bukannya menjawab pertanyaanku, Jaleed malah mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain.


"Berasal dari langit"


Aku bisa mendengar suara helaan nafas berasal dari Jaleed, sedangkan Kamaniai hanya menatapku sambil menunjukkan hawa yang kebingungan.


Gulinear masih menggenggam tanganku, menatapku dengan menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Iya, tentu saja kita semua tahu kalau suara itu berasal dari langit."


Ya sudah… Kalau sudah tahu, seharusnya kamu tidak mengalihkan ke hal lain dan menjawab pertanyaanku, kan.


"Suara yang berasal dari langit, yang membuatmu berteriak itu adalah… suara petir."


"Oh…"


Jadi, suara ledakan yang membuat telingaku berdenging kesakitan itu namanya adalah petir… Kukira makanan…


Pantas saja semuanya merasa heran, bisa-bisanya aku menanyakan hal konyol seperti itu.


Ha ha ha… Memalukan juga~


"Percuma kuat tapi tidak tahu apa itu petir."


Seharusnya kamu berhenti meremehkan orang lain, Jaleed.


Itu perbuatan yang sia-sia. Seberapa sering pun kamu meremehkan orang lain, tidak akan membuatmu kekuatanmu bangkit sekarang juga.


Ah, soal kebangkitan!


Awalnya aku khawatir Jaleed akan rendah diri karena mengetahui bahwa dirinya adalah satu-satunya yang belum bangkit di sini.


Ternyata dia hanya sedikit terkejut setelah mengetahui bahwa aku sudah bangkit.


Untunglah… Kukira Jaleed akan menyalahkan dirinya sendiri dengan mengurung diri di kamar.


"He he he…"


Baru sebentar, aku sudah menyadari suara tawa tersebut berasal dari mana.


Anak yang bersandar di bahuku, sudah bisa tertawa kecil karena kekonyolan yang tidak sengaja kubuat.


Aku menarik bibirku ke atas, mengarahkan wajahku ke bahu yang menopang kepala seseorang.


"Selucu itu, ya?"


Gulinear mengalihkan pandangannya ke arah lain, lalu menunjukkan hawa yang agak kaget.


"Tidak! Gulinear masih marah ya sama Laalit!"


Aku hanya tertawa ringan. Meskipun nada bicara Gulinear seperti orang yang sedang marah, tetapi hawa perasaannya menunjukkan sebaliknya.


Bagaimana mungkin kamu marah padaku, tapi kamu malah semakin kuat menggenggam tanganku?


Umumnya, orang yang sedang terdapat perselisihan dengan orang lain, pasti tidak mau meskipun hanya berpapasan dengan orang tersebut.


Tapi Gulinear tiba-tiba menggenggam tanganku dan bersandar di bahuku…


Gulinear sudah tidak terlalu marah dan kecewa lagi padaku. Dia hanya malu untuk mengakuinya.


"Emmm… Itu… Kapan kita akan merayakan kebangkitan Gulinear?"


Iya, juga…


Sebelum suara petir menyerang, aku sempat kepikiran tentang merayakan kebangkitan Gulinear.


Masalahnya ada di waktunya. Kami semua belum menemukan waktu yang tepat untuk merayakan kekuatan yang telah bangkit dari dalam Gulinear.


Menurutku, bagaimana kalau…


"Bagaimana kalau malam ini?"


Tidak, tidak. Ini kan sudah malam hari. Kurasa perkataanku kurang tepat.


"Bagaimana kalau sekarang?"


Dari hawa yang mereka tunjukkan, sepertinya mereka semua menyetujuinya.


Baguslah kalau begitu. Lagipula, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukannya.


Kami, lebih tepatnya aku, hari ini aku tidak melakukan hal berat yang membuat tubuh kelelahan.


Jadi, tubuhku akan bisa diajak begadang untuk malam ini.


Kurasa yang lainnya juga bisa begadang malam ini.


Aku bisa merasakan bahwa mereka sama sekali tidak kelelahan. Tubuh mereka masih segar dan bugar sampai saat ini.


Gulinear melepaskan genggaman tangannya dari tanganku, kemudian berlari meninggalkan kami.


"Gulinear mau ke sana! Laalit, Jaleed, dan Kamaniai, ikuti Gulinear, ya!"


Kami serentak berjalan mengikuti Gulinear. Dari ruang makan, kami berjalan lurus hingga menuju tangga.


Aku menaiki tangga dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, supaya tidak terjatuh dan menimbulkan luka yang serius.


Sedangkan Gulinear, menaiki tangga dengan berlarian tanpa mengkhawatirkan kondisi tubuhnya sendiri.


Setelah menaiki tangga, kami berjalan hingga Gulinear berhenti di suatu tempat yang tidak kuketahui apa namanya.


"Tuan yang Tampan!"


Gulinear menghampiri orang yang sedang berdiri di dekat sini.


"Halo, Nona Gulinear! Saya sangat tersanjung dengan pujian yang anda berikan, Nona."


Hubungan mereka terasa dekat. Tapi, hawa 'Tuan yang Tampan' ini terasa agak… jahat?


Tidak! Itu pasti hanya perasaanku saja.


"Wah… Nona sampai membawa teman-teman Nona kemari. Ada apa ini?"


"Kekuatan Gulinear sudah bangkit dan Gulinear ingin merayakannya bersama Laalit, Jaleed, dan Kamaniai!"


Gulinear menunjuk kami sembari menyebutkan nama kami satu persatu.


Saat orang ini menatapku, badanku agak sedikit menunduk.


Hawanya sedikit membuatku terintimidasi…


"Murid baru?"


Dengan penuh keragu-raguan, aku menganggukkan wajahku.


"Sesuai dugaanku. Penampilan seperti ini tidak mungkin saya lupakan dalam sekali lihat."


Begitu, ya…


Aku tidak tahu harus bagaimana menanggapi perkataannya itu…


"Sayang sekali jadwal saya sedang padat sekarang. Padahal saya ingin menyambut murid baru dengan lebih lama lagi."


Hah…


Dia… Tiba-tiba… Menghilang?!


"Ayo kita rayakan kebangkitan Gulinear!"