
Sudut pandang Laalit
Emm…
"Laalit kenapa?"
Aku… Badanku sedang tidak enak…
Setelah menahan biola menggunakan rahang dan tulang selangka, tubuhku terasa berat, terutama tubuh di bagian kiri.
Rasa pegal yang timbul di bahu, punggung, dan lengan ini tidak kunjung hilang.
Aku tidak menyangka tanganku yang bagian kiri ini juga akan terasa sangat kaku walaupun sudah beristirahat dengan cukup…
Kemarin, setelah seharian menahan biola dari pagi sampai malam hari, Guru meminta Kakak pelayan untuk membawakan es batu yang dibungkus dengan kain.
Guru menyuruhku membuka baju dan terkejut dengan luka yang terdapat di tubuhku.
Aku menjelaskan kalau luka ini disebabkan karena terkena ledakan dari Gulinear yang kekuatannya baru bangkit.
Guru menasehatiku agar lain kali mengatakan kondisi tubuhku terlebih dahulu supaya aku fokus dengan pemulihan tubuh terlebih dahulu.
Dengan hati-hati, Guru mengompres bagian tubuhku yang terasa nyeri, mulai dari bagian rahang, tulang selangka, lalu turun ke bahu, lengan, hingga punggung.
Ia melakukannya berulang kali, mengompres bagian tubuhku yang terasa pegal dan nyeri selama 20 menit.
Terima kasih, Guru. Berkat kompresan itu, rasa sakit di tubuhku menjadi agak berkurang.
Aku memakai bajuku kembali kemudian menuju ke kamar untuk mengistirahatkan badanku, yaitu dengan tidur.
Saat aku sudah memejamkan mataku, Kakak Pelayan mengetuk pintu, lalu memberikan es batu yang dibungkus dengan handuk kecil.
Ternyata, Guru yang menyuruh Kakak Pelayan untuk membawakannya padaku.
Katanya, aku harus mengompres tubuhku beberapa kali agar rasa nyerinya hilang sepenuhnya.
Kakak Pelayan yang berniat membantuku, kutolak dengan halus.
Karena tadi Guru sudah mengompres tubuhku, aku jadi tahu bagian tubuh mana saja yang perlu dikompres.
Aku sudah tahu tata cara mengompres juga, jadi aku tidak perlu merepotkan orang lain untuk hal yang tidak perlu.
Lagi pula, kemarin itu sudah jamnya istirahat, pasti Kakak pelayan juga lelah.
Kakak Pelayan undur diri dengan hawa yang terasa tidak enak karena tidak membantuku.
Aku tidak terlalu menggubrisnya. Wajar saja Kakak Pelayan merasa tidak enak, kewajibannya kan mengurus segala sesuatu yang ada di sini.
Kakak Pelayan yang merasa kewajibannya juga mengurusku, merasa tidak tenang saat tidak melakukan kewajibannya.
Yah, kalau orang lain sih pasti akan merasa kegirangan karena bisa langsung istirahat tanpa mengerjakan kewajiban.
Berarti Kakak Pelayan adalah orang yang bertanggung jawab.
Orang yang bertanggung jawab biasanya akan merasa gundah bila meninggalkan kewajibannya.
Mereka merasa, meninggalkan kewajiban berarti sedang kabur dari kewajiban itu sendiri.
Tapi tidak apa-apa, aku kan yang menyuruh Kakak Pelayan untuk tidak membantuku.
Jadi, Kakak Pelayan tidak perlu merasa bersalah. Toh, aku yang menolak, berarti kewajiban Kakak Pelayan bukanlah mengompresku, tapi menuruti penolakanku.
Sesudahnya, aku mengompres tubuhku secara mandiri.
Walaupun cuaca malam lumayan dingin, aku tetap mengompres tubuhku menggunakan es batu yang lebih dingin dari angin malam.
Terserah dengan tubuh yang menggigil ini, aku hanya ingin rasa pegal di tubuhku berkurang sedikit.
"Aku ingin berbicara denganmu."
Suara itu membuatku tersadar dari pemikiranku sendiri.
Tapi, suaranya agak berbeda dengan suara Gulinear…
Bukan, ini bukan Gulinear!
Suara siapa ini?
"Kamu mengacuhkanku?!"
Tunggu sebentar…
Suara yang agak berat ini…
Ternyata ini adalah suara Jaleed!
Tapi… Dari tadi kan aku hanya bersama dengan Gulinear…
Jadi…
Sejak kapan Jaleed ada di sini? Seingatku, dia ada di suatu ruangan dan sedang berkonsentrasi terhadap sesuatu.
Karena tidak ingin menganggunya, aku tidak menyapanya tadi…
Kenapa dia kemari?
Apa dia kemari karena aku tidak menyapanya?
Apa dia marah karena aku tidak menyapanya?
Sepertinya begitu, hawanya terasa agak kesal…
Oke, yang penting, aku harus menjawabnya sekarang!
Aku tidak boleh membuatnya semakin kesal.
"Tidak. Ada apa?"
Apa ini… Kenapa dia terasa terganggu?
Apa aku salah bicara?
Kurasa aku sudah mengatakan hal yang benar.
"Mari berbicara berdua saja."
Hanya berdua??
Meskipun bingung, aku hanya mengangguk dan langsung berdiri untuk mengikuti dirinya.
Jaleed melangkahkan kakinya ke samping, sementara aku menyusul di belakang.
Hmm… Ini membuatku agak kepikiran, tidak biasanya dia begini.
Jaleed ingin berbicara empat mata saja denganku. Berarti, dia ingin membicarakan hal yang benar-benar privasi, ya…?
Apa itu berarti…
Jaleed merasa terusik karena tadi ada Gulinear, kan?
"Ada yang ingin kutanyakan."
Jaleed menghentikan langkahnya secara mendadak, aku juga harus menghentikan langkahku.
Setelah menghentikan langkah, aku memegang benda di sekitar dan menemukan kursi. Aku kemudian duduk di kursi tersebut.
Kami sekarang berada di suatu ruangan yang keadaannya sangat tenang dan sunyi.
Saking tenangnya, tidak ada makhluk hidup lain yang bernapas kecuali kami.
Jaleed sampai membawaku ke tempat yang sunyi seperti ini…
Apa yang sebenarnya ingin dia tanyakan?
"Capek…"
Aku mendengar suara seseorang…
Ada orang lain di sini!
"Bagaimana cara untuk-"
Tunggu dulu! Kamu tidak boleh mengatakan apapun.
Orang lain itu bisa mendengar pembicaraan kita dan menyebarluaskan privasimu, Jaleed.
Maaf, tapi dengan sangat terpaksa, aku akan memotong perkataanmu.
"Siapa di sana?!"
Tidak ada jawaban…
Aku yakin kalau aku tidak salah dengar. Memang ada orang lain di sekitar sini.
Ah…
Dia ingin berpura-pura, ya?
Apa dia pikir aku ini bisa dibohongi walaupun dia hanya diam saja dan bersembunyi?
"Ada apa?"
Jaleed tidak mendengarnya?
Suaranya jelas begitu…
Masa sih, itu hanya khayalanku saja?
"Ada seseorang…"
Sial, aku mengatakannya sambil ragu-ragu…
Kalau ragu-ragu begitu, Jaleed juga pasti akan meragukan perkataanku.
"Sebentar…"
Sudah kuduga Jaleed meragukan perkataanku. Hawanya tadi, sejenak seperti meragukanku.
Dia bahkan sampai memastikan perkataanku dengan memeriksa ruangan ini.
"Aku sudah melihat sekeliling, hanya ada kita berdua di sini."
Dia mengatakannya dengan penuh keyakinan, tidak sepertiku yang mengatakannya dengan nada bicara yang tidak meyakinkan.
Mungkin suara yang barusan kudengar itu cuma khayalanku saja…
Tapi perasaanku masih tidak enak. Lebih baik aku memeriksanya dengan lebih menyeluruh.
Aku berdiri dan berjalan secara perlahan, berkonsentrasi dengan mempertajam pendengaranku, mencari asal suara misterius yang telah kudengar.
Aku meneruskan langkahku menuju pintu keluar. Dan benar saja, ternyata aku merasakan hawa seseorang-
"MAAF!"
Kamaniai…
Telingaku hampir budeg karena teriakanmu…
Tidak perlu sekaget itu karena sudah tertangkap basah olehku.
Aku juga akan menangkap basah orang lain kalau berani menguping pembicaraan pribadi kami.
"Kamu kenapa di sini?!"
Kecilkan suaramu juga, Jaleed…
Kenapa akhir-akhir ini suara kalian semakin membesar, sih?
"Maaf, aku tidak bermaksud menguping…"
Kalau tidak bermaksud, kenapa kamu tetap bersembunyi di sini, bukannya langsung pergi dari sini?
Berarti kamu memang berniat untuk menguping, kan?!
Tidak peduli manusia atau orang utan, menguping pembicaraan orang lain itu tidak bisa kubenarkan.
Beda lagi kalau sudah mendapat persetujuan dari orang yang bersangkutan, kamu boleh mendengarkan pembicaraan kami selama yang kamu mau.
"Maafkan aku… Hal yang tidak terhormat ini, aku tidak akan mengulanginya lagi lain kali."
Hmm…
Karena kamu sudah meminta maaf dan mengakui kesalahanmu, aku akan melupakan ini.
Lagipula, orang yang bersangkutan sepertinya tidak masalah.
Hawa Jaleed tidak menunjukkan kebencian, tidak marah ataupun kesal dengan perbuatanmu, dia malah senang dengan kedatanganmu.
Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi perilaku Jaleed memang agak berbeda saat bersama Kamaniai.
Yah… Walaupun dia tidak menunjukannya secara terang-terangan, tapi dia nyaman denganmu, Kamaniai.
Anak ini sulit merasa nyaman dengan orang lain. Saat bersama denganku, Jaleed selalu menunjukkan hawa waspada, saat bersama Gulinear menunjukkan hawa segan.
"Kalian… Ki-Kita harus berkumpul karena Tuan Mahajana menyuruh."
Pria Tua itu sudah selesai dengan urusannya ternyata…
Jadi…
Sekarang saatnya?
Hari pertamaku mengasah kekuatan, dimulai dari sekarang!