
Angin semilir yang sejuk, udara yang sama teriknya seperti biasa.
Kami turun dari kereta kuda dan mampir sebentar ke taman karena Gulinear ingin melihat bunga-bunga yang 'cantik'?
"Jadi, bukankah Tuan akan mengatakan cerita lengkapnya hari ini?"
"Benar juga… Terima kasih sudah mengingatkanku. Entah mengapa semakin lama, aku semakin pelupa."
Itu karena kau sudah hidup selama setengah abad, pria tua. Lagipula, sepertinya kau juga sudah usia senja.
"5 hari yang lalu, aku memeriksa inti kekuatanmu dan menyadari bahwa kekuatanmu terasa aneh dari biasanya. Kekuatanmu memiliki aliran dan energi yang berbeda dibandingkan saat pertama kali kita bertemu."
Apa maksudnya aneh? Kenapa kekuatanku terasa berbeda saat Tuan Mahajana memeriksanya?
"Inti kekuatanmu seperti sedang memberontak dan ingin menghancurkan tubuhmu. Itu dikarenakan kekuatanmu terlalu besar untuk anak seumuranmu, sehingga tubuhmu tidak mampu menerima kekuatan tersebut dan secara perlahan, tubuhmu akan hancur karena kekuatan tersebut membebani tubuhmu."
Kekuatanku… Memberontak?
Kekuatanku… Akan membuat tubuhku hancur secara perlahan?!
Bagaimana bisa… Bagaimana mungkin…
Bagaimana mungkin itu terjadi padaku…
Sebenarnya kenapa? Sebenarnya… Ada apa? Kenapa hal ini terjadi… padaku?
Apa karena aku berlebihan menggunakan elemen angin? Atau karena Neneknya Gulinear…
Dasar bodoh… Seharusnya aku tidak menyalahkan orang lain karena kesalahan yang telah kuperbuat.
Ini karena aku memaksakan diri untuk menggunakan kekuatan yang melebihi batas tubuhku, hal ini terjadi karena kesalahanku, bukan karena orang lain.
Aku tidak berhak menyalahkan Nenek yang telah memberikan petunjuk arah untuk pulang.
Sebenarnya…
Sejak awal… Sejak awal aku terlalu menyepelekan rasa sakit yang kurasakan pada tubuhku.
Aku kira sakitnya akan berkurang dan akan sembuh dengan sendirinya, ternyata…
Ternyata tidak begitu…
Rasa sakit yang sering kurasakan pada bagian perutku, ternyata rasa sakit itu berasal dari kekuatanku sendiri…
Aku hanya mengira bahwa aku belum terbiasa dengan makanan yang Kakak masak atau iklim cuaca di desa, karena itulah perutku terus sangat sakit.
Bagaimana bisa aku berpikir bahwa perutku yang rasa sakitnya seperti 'akan mematahkan setiap tulang tubuhku' hanya karena tidak terbiasa dengan iklim cuaca di desa?
Aku sangat bodoh. Ternyata selama ini, aku tidak menggunakan otakku dengan benar.
Aku ternyata bukan pemikir yang baik. Aku hanya seorang bocah yang konyol dan kurang wawasan.
Bahkan aku tidak tahu bahwa kekuatanku akan terus menghancurkan tubuhku secara perlahan.
Aku akan mati dan meninggalkan Kakak…
Kakak… Akan… Sendirian lagi… Akan menangis lagi… Karena aku…
Tidak… Kakak tidak sendirian sekarang.
Kakak sudah punya seseorang, orang itu akan menjaga Kakak untuk seterusnya…
Orang itu akan menghibur Kakak, akan menemani Kakak…
Kakak juga… perlahan pasti akan melupakan aku dan tidak akan sedih lagi.
Kalau begitu…
Aku bisa pergi dengan tenang tanpa mengkhawatirkan Kakak…
"Nak?"
Seperti biasa, aku hanyut dalam pemikiranku yang sama sekali tidak berguna.
Aku terkejut dan hanya mengangguk dengan pelan.
"Aku bisa menanganinya, aku bisa membantumu agar kekuatanmu tidak lagi menghancurkan tubuhmu."
Tuan Mahajana bisa membuat tubuhku tidak hancur karena kekuatanku?
Aku bisa tetap hidup dan bertemu dengan Kakak lagi?
Tunggu… Kenapa aku meremehkan master berperingkat tinggi sekarang?
"Aku menyerap sebagian energinya agar rasa sakit yang kamu alami semakin berkurang, aku menyerapnya setiap 2 jam sekali. Aku melakukannya secara terus-menerus selama 4 hari berturut-turut dan kamu siuman sehari setelahnya."
Aku tertidur selama 4 hari? Itu… Itu sangat gila.
Berarti yang kemarin itu, aku baru saja terbangun dari tidur yang berlangsung selama 4 hari?
"Untunglah aku berhasil menyelamatkan nyawamu. Kalau tidak…"
'Tubuhmu akan hancur secara mendadak dan kamu akan mati.'
Kurasa itu yang akan keluar dari mulut Tuan Mahajana, kalau pria tua melanjutkan perkataannya.
"Kemarin, aku mengujinya di tempat yang biasanya aku kunjungi saat perjalanan. Setelah menyerap sebagian energinya, daya serang kekuatanku meningkat sebanyak 2 kali lipat daripada biasanya."
Itu cukup mengejutkan bahwa energi kekuatanku bisa meningkatkan daya serang kekuatan orang lain.
Kemampuan Tuan Mahajana yang bisa menyerap energi orang lain semudah itu…
Yah… Master berperingkat tinggi memang tidak bisa diduga-duga, mereka pasti mempunyai kekuatan yang cukup mengejutkan bagi orang awam sepertiku.
Tingkatannya saja sudah Kontras, tentu saja kemampuan yang mereka kuasai juga cukup unik dan mempunyai ciri khas tersendiri.
Sejauh ini, aku hanya mengetahui bahwa kemampuan yang Tuan Mahajana kuasai adalah dapat memeriksa tubuh orang lain dan menyerap energi kekuatan orang lain secara mudah.
Dan aku tidak bisa memahami bagaimana cara pria tua itu menggunakan kedua kemampuannya tersebut secara efisien…
Entahlah, pemikiran para master sepertinya memang sulit dimengerti.
"Siapa yang mewariskan seluruh kekuatannya kepadamu? Siapa yang kamu temui?"
Tidak ada yang memberikan kekuatan padaku, lagipula…
Mana ada manusia di dunia ini yang memberikan kekuatannya secara cuma-cuma kepada orang lain.
Tentu saja tidak ada! Sudah bersusah payah berlatih dan meningkatkan kekuatan, malah memberikan kekuatannya kepada orang lain.
Tidak ada orang yang senaif itu, kecuali orang tersebut sudah muak dengan kekuatannya atau sudah bau tanah.
Soal bau tanah, Tuan Mahajana saja tidak memberikan kekuatannya secara cuma-cuma kepada orang lain.
Kalau Tuan Mahajana memberikan kekuatannya kepada orang lain, pasti kabar tersebut sudah sampai hingga ke pelosok.
Berarti, jawabannya adalah…
"Tidak ada!"
Aku malah mengatakannya secara langsung, padahal tadi ingin mengatakannya di dalam hati saja.
"Maksudku, tidak ada seorang pun yang memberikan kekuatannya padaku secara sukarela, Tuan."
Tuan Mahajana kemudian menatapku dengan serius.
"Lalu, kenapa pria pirang itu mengatakan bahwa kamu menemui seseorang dan orang tersebut melakukan hal yang menyakitkan padamu?"
Menemui seseorang?
Pria pirang… Itu pasti Aamod.
Para tetangga selalu mengatakan bahwa rambut Aamod berwarna pirang.
Yang pernah kutemui sebelumnya adalah Kakak, Tuan Mahajana, Gulinear, Aamod, Nenek…
Di antara mereka, yang melakukan sesuatu dengan menyakiti diriku, lebih tepatnya tubuhku, adalah Neneknya Gulinear.
Kurasa, Neneknya Gulinear adalah orang yang sedang Tuan Mahajana bicarakan sekarang?
"Itu… Aku memang bertemu dengan Neneknya Gulinear waktu itu. Tapi, Nenek hanya membantuku dengan memberikan penunjuk arah agar aku tahu arah pulang. Nenek juga memberikan kekuatan pelindungnya agar aku selamat dan tidak terluka saat dalam perjalanan pulang."
Hawa yang kurasakan dari Tuan Mahajana sekarang adalah 'kebingungan'.
"Bukankah setelah orang itu memberikan kekuatan pelindungnya, kamu bisa menggunakan kekuatan pelindung yang mantranya belum pernah kamu pelajari sebelumnya?"
Pasti Aamod yang menceritakan hal itu pada Tuan Mahajana.
Benar juga… Itu sangat aneh dan janggal. Aku langsung bisa menggunakan mantra pelindung tanpa mempelajarinya terlebih dahulu.
Nenek memang mengatakan bahwa aku bisa langsung menggunakan mantra pelindung karena Nenek sudah 'memberi tahu' caranya saat menyalurkan kekuatannya waktu itu, tapi aku tetap tidak mengerti bagaimana cara Nenek 'memberi tahu' kan hal itu padaku.
"Apa kamu tahu apa kemampuannya? Keahlian yang bisa dia lakukan?"
Kemampuan Nenek, ya…
"Sepertinya Nenek bisa meramal dan membaca pikiran orang lain?"
"Ceritakan secara detail."
Aku mengangguk lalu menceritakan secara detail,
"Nenek mengatakan padaku bahwa dia bisa melihat masa depan. Selain itu, ketika aku sedang bergumam dalam hati, Nenek selalu menjawab pertanyaan yang hanya kukatakan di dalam hati dengan tepat. Salah satunya, saat aku mengatakan bahwa 'aku harus berhati-hati karena Nenek ini bisa membaca pikiranku sekarang', Nenek langsung menjawab 'Kemampuanku memang membaca pikiran orang lain'."
Tuan Mahajana lalu mengatakan sesuatu padaku,
"Orang tersebut memberi tahukan arah pulangnya lewat punggungmu, kan?"
Aku mengangguk lagi.
"Nenek menyalurkan kekuatannya melalui punggungku, kemudian aku melihat sebuah tali yang kata Nenek adalah penunjuk arah agar aku bisa mengetahui arah pulang. Nenek juga menyalurkan mantra pelindung padaku, Nenek berkata bahwa aku bisa langsung menggunakan mantra pelindungnya karena Nenek sudah memberi tahu cara menggunakannya saat sedang menyalurkan kekuatannya padaku."
Tuan Mahajana mengalihkan pandangannya ke atas, seperti sedang memikirkan yang kukatakan barusan.
"Sepertinya kamu salah paham akan sesuatu…"
"Ya?"
"Orang tersebut telah menurunkan salah satu kemampuannya padamu. Kamu bisa langsung menggunakan mantra pelindung karena orang tersebut sudah mewariskan kekuatannya padamu."
Aku tertegun dan hampir terjatuh dari posisiku yang sedari tadi sedang duduk.
"Laalit! Tuan! Aku menemukan bunga yang cantik!"
Gulinear sedang menuju kemari, sepertinya kami harus menunda percakapan kami sampai besok.