Blindsight

Blindsight
Merasakan Pergerakan Orang Lain



"Apa kamu berasal dari keluarga yang sangat berpengaruh?"


Kenapa dia menanyakan hal ini?


Apa dia menanyakan hal ini karena Tuan Mahajana menjadikanku sebagai muridnya?


Kalau dia bertanya soal hal begini, berarti Tuan Mahajana menjadikan seseorang sebagai muridnya bisa juga karena seseorang itu berasal dari keluarga yang terpandang, seperti Gulinear.


Ternyata Tuan Mahajana tidak sebijak yang aku kira…


Tapi, mungkin ini hanya perkiraan Jaleed? Dia masihlah anak-anak yang melihat satu sisi dan langsung menyimpulkan, seperti saat dia melihat Gulinear.


Dia menyuruhku bersikap sopan pada Gulinear karena Gulinear berasal dari keluarga terpandang.


Bukankah, kita tidak seharusnya pilih-pilih dalam bersikap sopan?


Lebih bagus kalau kita bersikap sopan pada semua orang, tanpa melihat kedudukannya, kan?


Mungkin perkiraanku ini salah, tapi… Dia seperti tipe orang yang akan bersikap baik hanya pada seseorang yang kedudukannya tinggi.


Kalau dia bersikap baik pada semua orang, tanpa melihat kedudukan orang lain, seharusnya dia memberitahukan padaku kalau aku harus bersikap sopan pada dirinya, Kamaniai, Gulinear, dan pada semua orang termasuk para pelayan, bukan hanya Gulinear saja.


Hah, sudahlah… Sikap orang kan berbeda-beda, seharusnya aku maklum pada jalan pikirnya yang berbeda denganku.


Mungkin dia dididik oleh seseorang untuk bersikap sopan hanya pada orang yang kedudukannya tinggi?


Aku tidak bisa menyalahkan dia sepenuhnya karena dia hanyalah anak kecil yang tidak mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, dia hanya menuruti perkataan orang lain yang dia anggap benar.


Dan aku tidak pantas menghakiminya. Aku juga melakukan segala sesuatu sesuai dengan nasihat Kakak, karena menurutku perkataan Kakak selalu benar daripada perkataan orang lain.


Kalau begitu…


"Aku hanya tinggal di pedesaan bersama Kakakku."


Aku bisa merasakan kalau dia sangat terkejut sekarang.


Dan hawa yang terasa sedikit meremehkan itu, aku juga merasakannya.


Entah mengapa dia juga sedikit tidak percaya dengan perkataanku barusan.


"Lalu, apa kelebihanmu?"


Kelebihanku, ya… Kelebihan yang membuat Tuan Mahajana menjadikanku sebagai muridnya…


Saat pertama kali kami bertemu, Tuan Mahajana sepertinya tertarik padaku karena aku seorang tunanetra yang tidak kelihatan seperti tunanetra?


Tuan Mahajana bilang bola mataku tampak seperti orang yang tidak buta karena memiliki warna abu-abu, tidak seperti orang buta pada umumnya.


Selain itu, aku yang tunanetra ini bisa merasakan pergerakan orang lain, Tuan Mahajana mengatakan bahwa itu adalah hal yang menarik.


Oh, Tuan Mahajana juga mengatakan bahwa aku bisa merasakan auranya, padahal orang biasa tidak akan bisa merasakan aura master berperingkat tinggi…


Kalau kuingat-ingat, hanya orang-orang yang kuat atau yang terpilih saja yang bisa merasakan aura master peringkat 10 besar di dunia.


Jadi aku, termasuk yang 'terpilih'? Tapi, aku masih tidak mengerti apa maksud dari 'terpilih' itu.


Jadi, Tuan Mahajana menawarkan agar aku menjadi muridnya, karena…


"Aku adalah seorang tunanetra yang berbeda dari tunanetra lain. Walaupun aku tidak bisa melihat, aku bisa menyadari setiap pergerakan yang ada di sekitarku. Aku juga bisa merasakan aura Tuan Mahajana, sang master peringkat 10 besar di dunia."


Jaleed… Dia semakin terkejut. Aku bingung bagaimana harus menanggapinya sekarang.


Apa aku seharusnya bilang 'tidak tahu'? Tapi kalau aku bilang begitu, dia mungkin akan menganggapku tidak pantas menjadi murid Tuan Mahajana.


Tentu saja aku bukan orang yang suka diremehkan oleh orang lain, jadi aku mengatakan yang sejujurnya saja. Toh, Tuan Mahajana memang mengatakan kalau aku adalah anak yang menarik.


"Tunanetra itu… Aku pernah membacanya dibuku, jadi kamu benar-benar tidak bisa melihatku?"


Aku mengangguk.


Jaleed kemudian mengubah posisinya, dia sepertinya tidak percaya dengan perkataanku dan sedang mengujiku sekarang.


"Sekarang aku sedang apa?"


Sudah kuduga, dia tidak percaya kalau aku memang seorang tunanetra.


Hmm… Kalau kata Aamod, aku tidak kelihatan seperti tunanetra. Apakah itu pujian atau hinaan?


Entahlah, aku akan menjawab pertanyaan Jaleed dulu.


"Kamu masih duduk tapi jaraknya lebih jauh dari sebelumnya."


Jaleed mengubah posisinya lagi. Aku hanya menghela napas karena aku tetap akan tahu dia sedang apa sekarang.


Berapa kali pun kamu mengubah posisimu, aku tetap bisa merasakan pergerakanmu.


"Sekarang?"


Padahal aku sudah bilang kalau aku bisa menyadari pergerakan di sekitarku… Sepertinya dia menghiraukannya…


"Kamu sedang berdiri di depanku."


Hawa Jaleed terasa tidak percaya. Mungkin aku harusnya menjawab asal saja tadi…


"Lebih baik kamu tidak membohongiku. Aku sering membaca buku, jadi pengetahuanku ini lumayan luas!"


Aku tidak membohongimu… Lagipula, untuk apa aku berbohong kalau aku adalah seorang tunanetra?


Tidak ada manfaatnya sama sekali… Yang ada malah dipandang rendah karena cacat…


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Aku bisa menjawab pertanyaan yang kamu ajukan dengan benar karena aku bisa merasakan pergerakanmu."


Dia menatapku dengan tajam seperti akan menerkamku, tapi aku tahu kalau dia hanya penasaran, aku bisa merasakan hawanya.


"Jadi, kamu bisa merasakan pergerakanku tetapi tidak bisa melihatku?"


Emm… Sebenarnya, aku melihat suatu 'garis tipis' yang agak terang ketika orang lain bergerak.


Bagaimana, ya, menjelaskannya? Aku juga tidak mengerti tentang ini.


Kurasa aku tidak akan mengatakan soal 'garis tipis' itu.


"Iya."


Kalau aku mengatakan soal garis itu, yang ada nanti dia akan bingung.


Aku saja bingung, apalagi dia. Dipikirkan berapa kali pun, aku tidak mendapatkan jawabannya.


Mungkin aku akan menanyakan hal ini pada Tuan Mahajana nanti. Sang master pasti mengetahui jawabannya.


"Aku pernah membaca buku tentang tunanetra, tapi tidak dijelaskan begitu. Bisa kamu jelaskan bagaimana caramu merasakan pergerakan orang lain?"


Nah, dia menanyakan hal yang tidak terlalu kupahami sekarang.


Kalau aku bilang 'tidak tahu', dia kemungkinan tidak percaya.


Mana mungkin punya kemampuan tapi tidak tahu apapun tentang kemampuan itu…


Kalau begitu, aku harus berusaha menjelaskannya walaupun akan terdengar membingungkan baginya.


Karena akan menjelaskan dengan panjang, aku menarik napas secukupnya.


"Aku menggunakan gelombang suara untuk menentukan lokasi suatu objek di sekitarku. Caranya, aku menghasilkan suaraku sendiri dengan berbisik atau menekan kakiku ke lantai sampai terdapat sedikit suara. Akan terdengar sedikit gema, dengan itu aku bisa menemukan objek di sekitarku."


Sebenarnya, yang aku jelaskan padanya adalah bagaimana caraku menyadari keberadaan benda di sekitarku, seperti kursi yang kududuki ini.


Karena kursi itu benda mati yang tidak bisa bergerak sendiri, aku tidak bisa langsung menyadari keberadaannya tanpa membuat suara terlebih dahulu.


Dengan berjalan, akan terdengar suara gema pada langkahku sehingga aku bisa merasakan kursi yang sedang kududuki sekarang.


"Pergerakan pada makhluk hidup selalu menghasilkan suara, sekecil apapun suara itu. Saat kamu menggeser tubuhmu untuk menjauh dariku, aku mendengar sedikit gelombang suara dari pergerakanmu, sehingga aku bisa mengetahui bagaimana posisimu. Intinya, yang berperan penting untuk mengetahui keberadaan orang lain adalah pendengaranku. Kalau aku tidak mendengar gelombang suara, aku tidak akan menyadari bahwa ada orang di sekitarku."


Setelah menjelaskan panjang lebar padanya, aku jadi mengerti bagaimana cara kerja tubuhku dalam menyadari keberadaan sekitar.


Berarti kalau aku di tempatkan pada ruangan yang kedap suara, aku akan merasakan keheningan yang abadi?


Apakah saat aku menghasilkan suara, aku akan mendengar gelombang suaraku sehingga bisa menyadari keberadaan di sekitarku?